Kepala pelayan mengetuk jarinya ke meja kerja, baru saja pulang dari bulan madu, muncul Gospar dengan wajah di tekuk minta di hajar. Matanya melirik ke seluruh ruangan kerjanya di rumah nyonya besar, sepertinya selama ia berbulan madu, tak ada perubahan di dalam ruangannya.
"Apa mau mu?" tanyanya tak sabar, pekerjaan menumpuk bahkan beberapa dokumen penting yang membutuhkan penanganan segera. "Istriku! kapan aku bisa membawanya?" tanya Gospar menghela nafasnya. Sulit baginya untuk datang kemari untuk meminta dari Kepala pelayan. "Ada apa dengan setan kecilku?" tanya kaget Kepala pelayan balik, ia bingung dengan pertanyaan Gospar, pulang melihat setan kecil saja belum, sebenarnya ada apa ini.
"Dia sudah menjadi istriku, harusnya dia tinggal bersamaku" keluhnya cepat. Kepala pelayan tertawa terbahak-bahak mendengar keluhan Gospar yang aneh. "Kamu nyakin dia istrimu. Setan kecil masih kecil, tak mungkin jadi istri orang" katanya mengelengkan kepalanya. "Kita sudah menikah, tentu saja dia harus pulang bersamaku" keluhnya lagi.
"Apa kamu sudah gila? dia anak keturunan jadi hukum yang berlaku juga berdasarkan dunia manusia dan iblis. Tak mungkin setan kecil pulang bersamamu." tolak Kepala pelayan sewot, anak masih kecil kenapa juga terkena masalah aneh dunia iblis. "Kalau begitu apa yang harus aku lakukan supaya aku bisa bawa pulang?" tanya Gospar bingung, ia tak sangka jika Kepala pelayan bakal bikin sulit dirinya.
"Buat jatuh cinta padamu, kalau kamu tak bisa membuatnya jatuh cinta, jangan salahkan kami jika ia menikah dengan orang lain" jawab Kepala pelayan santai. Gospar nyaris bereaksi keras jika tak diingatnya di depan ini adalah ayah mertuanya.
"Kamu sengaja menjauhkan dia dariku!" katanya mulai kesal. Apa ini, mengapa semua orang seperti mempersulit dirinya. Kerutan tak senang muncul di wajah Kepala pelayan mendengar nada yang digunakan Gospar. "Aku rasa kamu salah mengerti disini. Kamu hanya menikah dengannya secara hukum iblis. Kalau nantinya setan kecilku menikahi manusia, bukan salahku karena dia manusia juga" ujarnya sambil memiringkan kepalanya setengah mengejek.
"Jadi maksudnya, aku masih belum bisa mendapatkan istriku karena hukum manusia. Dimana posisimu saat itu?" tanya Gospar mulai waspada. "Tentu saja sebagai ayahnya. Aku bisa menolak atau menerima. Jangan lupa keputusan juga ada di tangan setan kecil" jawab Kepala pelayan mulai mengambil dokumen.
"Kamu! aku pastikan istriku akan menerimaku" katanya kesal luar biasa. "Jangan lupakan juga sang ibu bukan wanita yang mudah di hadapi jika tahu ternyata semua masalah ini ternyata kamu juga terlibat" tegur Kepala pelayan, ia tak mengerti mengapa Gospar sangat menginginkan setan kecilnya.
Gospar kaget lalu berjalan mondar-mandir di depan Kepala pelayan dengan bingung. "Tak bisakah kamu berhenti mondar-mandir, aku masih banyak pekerjaan" sekarang Kepala pelayan yang mengeluh. "Tapi, kamu tidak mengatakan hal ini bukan?" tanya Gospar berhenti. "Tentang apa?" tanya baliknya. Kepala pelayan benar-benar tak mengerti bagaimana bisa Gospar menjadi big bos perusahaan ternama jika urusan perempuan bisa kalah dengan anak umur 5tahun. "Sang ibu. Dia tak tahu jika aku yang buatnya berjanji" jawab Gospar panik. "Aku rasa tidak. Wanita diluar sana cukup banyak, mengapa harus setan kecil?" selidik Kepala pelayan membuat wajah Gospar merah padam.
Gospar tak mungkin mengatakan sesungguhnya, biar nanti jika waktu tiba saja baru akan di katakan. "Aku juga tidak tahu. Aku akan berusaha mendapatkan hatinya" ujarnya buru-buru keluar dari ruang kerja Kepala pelayan.
Kepala pelayan tersenyum sinis ke arah sudut ruangan kerjanya. "Sejak tadi berada di situ, apa yang anda inginkan tuan?" tanyanya tenang tapi waspada. "Kamu ingat perjanjian kita bukan? atau harus aku ingatkan lagi, dimana posisi sebenarnya kamu di dunia manusia" jawab Rafael melangkah dari balik lemari.
Tadi ia masuk kedalam ruangan ini hendak mencari bukti tentang pernikahan yang disembunyikan kepala pelayan tapi siapa sangka jika mendengar pembicaraan keduanya.
"Bukti?" tanya kepala pelayan mulai hati-hati. "Bukti jika pernikahan manusia belum kamu lakukan pada sang ibu. Hukum yang berlaku, ingat?" katanya mengejek. Rafael sangat tahu apa yang dimaksud, jika secara hukum sebenarnya belumlah bisa dikatakan terjadi pernikahan antara Kepala pelayan dan sang ibu, itu berarti Santanael mungkin anaknya.
"Ah, kita lakukan saja tes DNA. Jika Santanael putrimu maka aku bersedia mundur tapi jika tidak, enyah! dari hadapanku" bentaknya kesal. Sebenarnya apa yang diinginkan Rafael terhadap setan kecil. Bukankah Rafael ingin sang ibu tapi mengapa target berubah menjadi setan kecil pikirnya.
"Akan aku buktikan mereka berdua adalah istri dan anakku! Aku tak bisa mengambil sang ibu dalam dunia iblis tapi sekarang aku bisa mengambil dari dunia manusia. Hati-hati! kamu tak pernah tahu kapan dia akan menjadi milikku di bawah kakiku" ucapnya berjalan keluar dari ruangan kerja Kepala pelayan.
Bam!
Kepala pelayan memijit kepalanya yang mendadak sakit. Dua orang memperebutkan setan kecil dan sialnya setan kecil masih berumur 5tahun, sungguh sial dirinya memiliki anak yang luar biasa merepotkan.
Angin kencang dirasakan kepala pelayan saat tangannya belum sempat menulis sesuatu saat tiba-tiba muncul langkah kaki berlari senang di dekatnya. "Ayah!" teriaknya kencang membahana hingga di butuhkan ektra kekuatan karena melompat.
buk!
Kepala pelayan mengelus dadanya yang sakit. "Setan kecil, kamu mau membunuh ayahmu?" tanyanya sambil mengusap dadanya yang terasa sakit. "Tidak! aku hanya ingin ayah merasakan kalau kalian kejam pada Santana" jawab Santanael tak berdosa. "Bagaimana kamu bisa kemari? bersama siapa?" tanya kepala pelayan bingung memeluk Santanael, dalam hati bersyukur Gospar maupun Rafael tak melihat setan kecil. "Bibi peri" jawabnya pelan. "Dimana ibu, ayah? aku merindukannya" tanya celingukan mencari sang ibu. 14 hari tak bertemu dengan sang ibu, perasaan ditinggalkan mulai dirasakan. "Ada dirumah" jawab Kepala pelayan pelan. "Kalau begitu mengapa bibi peri membawaku kemari ayah?" tanya Santanael bingung. "Ayah tidak tahu. Ayo kita pulang" ajaknya cepat sebelum nanti Santanael memiliki ide lainnya.
"Ayah, Santana bingung, mengapa pak tua bilang Santana itu istrinya?" tanya Santanael memegang leher Kepala pelayan erat takut jatuh saat berjalan meninggalkan ruang kerjanya, percuma juga bekerja, terlalu banyak gangguan. "Tidak usah di dengarkan. Dia orang yang harus Santanael hindari, paham?" tanya kepala pelayan sedikit keras. Mana mau ia memiliki menantu tua seperti dirinya. Santanael melihat wajah ayahnya dengan tatapan bingung tak mengerti. "Apa kamu mau mempunyai suami tua yang umurnya tinggal lima langkah mati?" tanya Kepala pelayan berusaha menakuti Santanael. "Tidak! Santanael tidak mau punya suami tua" jawab Santanael spontan. "Bagus! jadi hindari siapapun yang berumur tua" katanya pelan kemudian mencium pipi Santanael lembut. "Kak Adam tidak tua" ujarnya ketika ingat siapa yang tidak tua. "Berteman saja dengannya" kata Kepala pelayan senang. Ia tahu siapa Adam. Pasti akan menarik jika Gospar dan Rafael harus bersaing dengan anak Victoria. Santanael menganguk-angguk kepalanya.
Kepala pelayan tersenyum senang, sebaiknya mulai sekarang ia mengawasi setan kecil, karena tidak menutup kemungkinan banyak manusia bercampur iblis yang akan memperebutkan setan kecilnya.
Pernikahan iblis sudah terjadi tapi dunia manusia juga punya aturannya sendiri, sama seperti ayah Rafael yang manusia 100% jadi nyonya besar memiliki dua suami yaitu dunia manusia dan dunia iblis, Mr James berdiri dekat jendela sebagai kucing hitam. Matanya tajam menatap ke bawah rumahnya.
"Apa yang kamu lihat James?" tanya nyonya besar melepaskan handuk yang melekat di badannya. Mr James hanya meliriknya sekilas, tak ada minat, karena ia mulai tertarik dengan Santanael. "Hanya kelinci putih. Ada apa?" tanya Mr James berbalik, saat itu ia kembali menjadi seperti manusia. "Aku membutuhkan dirimu" bisiknya lembut menjanjikan angin surga untuknya. Mr James tersenyum mendekat padanya dan melakukan apa yang diminta.
Mereka berdua segera pergi tinggalkan tempat ini. Mobil BMW milik kepala pelayan melaju menjauh dari rumah nyonya besar menuju rumah milik sang ibu.