Rumah besar dan tua terlihat sepi. Tak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Rafael berjalan santai menyusuri jalanan di taman rumahnya. Tiga puluh tahun sudah menempati rumah ini, banyak kejadian aneh yang muncul disekitar sini. Rahasia demi rahasia menjadi bagian hidup nya.
"Tuan?" panggil salah satu pelayan yang mendampingi dirinya. Dua pelayan setia berjalan dibelakangnya.
Rafael diam saja. Ia tak punya banyak teman di wilayah kekuasaan keluarga Van de BLU. Ibunya atau nyonya besar sangat membatasi pergerakan dirinya.
"Ada apa?" tanya lirih tetapi mata menatap tajam kearah semak-semak di depan. Pelayan berpandangan tak sanggup mengatakan apa yang terjadi.
"Makan malam sudah siap tuan" salah satu pelayan sengaja mengalihkan perhatian. "Hah!" helaan nafas, Rafael bukan orang t***l yang tak tahu apa yang dimaksud.
Kaki berbalik menuju asal tadi ia berjalan. Pelayan dibelakangnya mengikuti tanpa kata-kata lagi. Malam ini terlalu tenang, ia tak suka ini. Kata orang, sesuatu yang tenang bisa berakibat fatal. Matanya menatap kearah atas dimana ibunya tinggal.
Gorden bergoyang-goyang pelan, siluet dua orang berbincang-bincang terlihat. Wajahnya tak terlihat sama sekali. Rafael berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran yang menganggu hari ini. Mungkin orang kepercayaannya sudah kembali dan ada di kamarnya, ia berjalan cepat ke arah kamarnya tapi mendadak ia melihat kepala pelayan berdiri dekat pintu masuk.
"Tuan, makan malam sudah disiapkan, nyonya besar sedang menunggu anda" ujarnya bersikap sopan. "Aku-- tidak ikut makan malam beritahu ibuku" katanya acuh tak acuh hendak melewati kepala pelayan.
"Saya sarankan anda datang ke ruang makan karena malam ini, banyak yang akan datang" ujarnya lagi tak mau mengalah untuk dilewati.
Kening Rafael mengerut tak mengerti. Biasanya jika ada yang datang akan diberitahukan satu minggu sebelum hari yang ditentukan.
"Tentang apa ini, kepala pelayan. Mengapa aku tak diberitahu sebelumnya?" tanyanya ingin tahu, dua pelayan dibelakang menundukan kepala tak berani melihat.
"Pertemuan keluarga Van de blu. Mengenai apa yang dibahas, saya juga kurang tahu dikarenakan mendadak, tuan" jawab pelan kepala pelayan.
Kepala pelayan tak suka direndahkan atau di buat menunduk tapi saat ini, ia akan membiarkan Rafael bertindak sesuka hati.
Rafael menghela nafas panjang, terpaksa menganguk-angguk kepalanya untuk menyetujui.
"Baiklah aku akan ke ruang makan tetapi aku akan bersihkan diri lebih dulu" ucapnya tenang. Mengetahui hal ini, kepala pelayan menyingkir dari hadapan Rafael, membiarkan masuk bersama dua pelayan setianya.
Malam belum terlalu larut namun di awal sudah muncul keributan kecil, kepala pelayan menarik nafas karena merindukan setan kecilnya dan sang ibu, kekasih hatinya.
Sayup-sayup di dengar suara nyonya besar memanggil namanya. Iapun segera bergerak ke lantai tiga rumah ini.
Pintu terbuka perlahan ketika ia masuk. Aroma percintaan yang pekat dan terselubung berada disekitarnya membuat sesak nafas.
Nyonya besar menepuk kepala James, kucing hitamnya pelan. Ia duduk dekat jendela melihat apa yang dapat dipandang olehnya.
"Nyonya? Anda memangil saya?" tanya kepala pelayan saat sudah di hadapannya. "Ya, dimana Rafael?" Nyonya besar melihat ke arah kepala pelayan dengan tatapan menimbang sesuatu sebelum dikatakan.
"Tuan muda ada di kamarnya, nyonya" jawab kepala pelayan mengeryitkan kening. Ini pertama kali nyonya besar bertanya dimana putranya setelah bertahun-tahun lampau.
"Apa para tamu sudah datang?" Nyonya besar menghela nafas panjang mengingat perjamuan kali ini tidak hanya membahas perkembangan perusahaan Van de blu tapi juga tentang status Rafael.
"Sebentar lagi, sepertinya nyonya" jawab kepala pelayan halus. Ia bukan tak tahu apa yang menjadi ketakutan nyonya hanya saja ia tak ingin mencampuri yang bukan urusan pribadinya.
Nyonya besar mengangguk lalu berdiri, melihat melalui jendela supaya lebih jelas lagi. Iring-iringan mobil mulai nampak di ujung pintu masuk.
"Pergilah, atur semua dengan baik. Jangan biarkan tamu menunggu kita" perintahnya sambil melepaskan James ke bawah kakinya.
Kepala pelayan hanya mengangguk untuk berpamitan undur diri. Pintu kamar nyonya besar ditutup pelan, telinga iblis miliknya menangkap gesekan-gesekan yang tak ia sukai.
Kesal, mendengar teriakan yang tidak dapat didengar oleh orang biasa, dengan sekejap mata ia berada di tempat itu. Tempat dimana semua orang tidak ingin berada disitu. gerbang antara kematian dan kehidupan telah terbuka lebar. Black berdiri memandang kepala pelayan itu dengan tatapan bersungut-sungut. setelah menunggu berjam-jam, kepala pelayan akhirnya datang dengan tatapan tak penuh dosa.
Pada sisi kanan Black, terdapat seorang Bayu yang tersenyum meringis. "Apa kabar sepupuku tersayang?", sapa Bayu. Tatapan sebal kepala pelayan mengobati hati Balck.
"Berapa lama yang dibutuhkan hanya untuk menyenangkan hati manusia bodoh seperti mereka?"
Kepala pelayan menghela nafas sekali lagi. Gara-gara Black, rencananya berantakan. "Tak terlalu lama jika kamu tak menganggu terus kakak" jawabnya kesal.
"Apa kamu marah padaku? yang benar saja, ada nyawa yang harus aku ambil tapi kami tak di ijinkan hanya karena sibuk dengan mereka" katanya menaikan nada suaranya.
"Really! hanya karena itu kamu bikin kehebohan malam ini dengan sengaja" teriak kepala pelayan kesal.
"Yahh kamu tahu, tumbal tetap harus diambil demi kelancaran banyak kepentingan" kata Black menghampiri adiknya yang keliatan kesal tapi ia tahu ada yang menganggu pikirannya yaitu keluarga kecilnya.
Dirangkulnya adik kesayangannya itu. "Tenanglah. Ada Victoria yang berjaga, nikmati saja malam ini." Black mengajak kepala pelayan berjalan disisinya. "Tak bisa untuk kali ini aku absen tidak ikut acara perjamuan kali ini" pintanya.
Kepala pelayan sangat merindukan sang ibu hingga ke sumsum tulangnya. Tak berdaya bukan gayanya. "Jangan bertindak bodoh. Kita memerlukan banyak nyawa untuk mengantikan anak buah kita yang telah melanjutkan hidup" tegur Black pelan.
Bayu berjalan di belakang mereka berdua. Kebiasaan sulit dirubah oleh waktu. Manusia mengira umur mereka tak lebih dari 40 atau 50 tahun tapi sesungguhnya usia mereka semua melebihi itu.
Banyak macam manusia muncul di rumah keluarga Van de blu , tentunya golongan mereka tak ingin kehilangan apalagi kecolongan dari perjanjian yang sudah ditandatangani mengunakan darah.
Bau kematian selalu menyenangkan bagi kepala pelayan dan black terutama bau kematian bercampur ketakutan yang berasal dari orang setengah mati. Kaki mereka bertiga melesat cepat memasuki ruangan yang telah ditentukan jauh sebelum penguasa rumah di duduki oleh nyonya besar.
Tangan-tangan mulai mengambil gelas berisi wine padahal itu adalah darah. Malam ini akan ada perang tak kasat mata antara yang hidup dan mati. Bukan untuk harta melainkan meneruskan kehidupan keluarga Van de blu.
Sayangnya pusat segala masalah itu bernama Rafael yang sejak mula ia tahu, menolak melakukan dan melayani semua kebijakan keluarga Van de blu.