When they were little kids...
"Kak Kalim, Kak Kalim kalo udah gede ntal, mau jadi apa?" tanya Khaylila semangat sambil melirik Karim yang hampir merem. Posisi Karim sekarang menyandar di punggung sofa, kakinya berselonjor di badan sofa yang memang lebar, sama seperti Khaylila yang ada di samping Karim.
"Aku mau jadi pilot," jawab Karim kalem. Dia kembali menguap.
"Kenapa pilot?"
"Karena bisa keliling dunia."
Khaylila manggut-manggut. "Kalo Khay mau jadi yang nemenin pilot aja deh! Yang cantk-cantik di pesawat itu loh, Kak."
"Pramugari?"
"Namanya plamugali ya, Kak?"
Karim mengangguk, matanya sudah merem. "Kenapa pramugari?" Suara Karim semakin rendah.
"Biar bisa sama kak Kalim telus.... Hoahm," Khaylila ikut-ikutan menguap lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Karim. "Kalo udah gede, Khay mau sama kak Kalim telus. Kayak ayah sama bunda." Khaylila menguap lagi, matanya semakin berat dan akhirnya merem.
"Nanti kalo udah gede kita nikah ya, Kak?"
Dan keduanya pun sama-sama pulas.
***
Bunda menemukan mereka setengah jam kemudian, saat es sirup yang dibuatnya sudah berembun di atas nampan.
"Ratri, sini deh," panggilnya pelan ke arah teras. "Buruan, keburu bangun."
Ratri, mama Karim, masuk sambil menenteng sandal jepitnya. Dua ibu itu lalu berdiri berdampingan di depan sofa ruang tengah, sama-sama menekap mulut supaya tawa mereka tidak meledak dan membangunkan dua bocah di depan mereka.
Karim tidur dengan kepala terkulai ke samping, mulutnya sedikit terbuka. Di sebelahnya, Khaylila menempel seperti perangko. Pipinya penyet di lengan Karim, poninya berantakan menutupi sebelah mata, dan tangan kecilnya masih menggenggam ujung kaus Karim erat-erat, seolah takut cowok kecil itu kabur begitu genggamannya lepas.
"Dari kemarin nempel terus, Bun," bisik Ratri geli. "Karim mandi aja ditungguin di depan pintu kamar mandi."
"Namanya juga calon istri, harus siaga," balas Bunda santai sambil mengambil selimut tipis dari sandaran kursi.
Ratri langsung menoyor bahu Bunda. Mereka berdua tertawa tertahan sampai badan sama-sama berguncang.
Bunda membentangkan selimut itu pelan-pelan ke tubuh dua anak yang tidur pulas. Khaylila menggeliat sedikit, mengeratkan pegangannya di kaus Karim, lalu menggumam dengan mata masih terpejam rapat.
"Kak Kalim... jangan lupa ya... nikahnya...."
Ratri sampai harus membekap mulutnya sendiri dengan dua tangan. Bahunya naik turun menahan tawa.
"Dengar sendiri, kan, calon besan?" bisik Bunda sambil menaik-turunkan alis.
"Iya, dengar. Nanti aku catat di kalender," balas Ratri, lalu keduanya kembali cekikikan seperti anak SMA.
Satu hal yang tidak diketahui oleh siapa pun di ruangan itu—termasuk Khaylila sendiri sampai bertahun-tahun kemudian—adalah satu fakta kecil: Karim sudah lebih dulu tertidur sebelum pertanyaan itu selesai diucapkan. Dia tidak pernah menjawab. Tidak sepatah kata pun.
Tapi bagi Khaylila kecil yang ikut terlelap satu detik setelahnya, diam dan iya itu sama saja.
***
Enam tahun kemudian.
Lapangan komplek ramai sore itu. Karim dan teman-temannya main bola sampai kaus mereka berubah warna karena keringat dan debu. Karim baru saja menendang bola melewati kaki Rendi ketika terdengar suara cempreng yang sudah dia hapal luar kepala dari ujung lapangan.
"Kak Kariiim! Istirahat dulu!"
Seluruh pemain berhenti. Bola menggelinding sendirian ke pinggir lapangan.
Khaylila datang setengah berlari sambil membawa kantong plastik berisi es teh dan dua bungkus kue cubit. Rambutnya dikuncir dua, seragam SD-nya masih lengkap padahal jam pulang sudah lewat sejak siang tadi. Dia berhenti tepat di depan Karim, mengulurkan es teh yang paling penuh, lalu berkata dengan suara lantang, jelas, dan bangga sekali—cukup keras untuk didengar satu lapangan.
"Ini buat calon suami aku."
Hening.
Detik berikutnya lapangan meledak. Rendi ngakak sampai jongkok. Dua anak lain guling-guling di rumput. Bahkan bapak-bapak yang sedang menyapu halaman di seberang jalan ikut menoleh.
Wajah Karim merah padam sampai ke telinga. Dia menyambar es teh itu dan menarik lengan Khaylila menjauh dari lapangan.
"Jangan ngomong gitu lagi!" bisiknya galak setelah mereka sampai di bawah pohon mangga. "Malu, tau, nggak!"
"Kenapa malu? Kan bener," jawab Khaylila santai sambil membuka bungkus kue cubitnya. "Kakak udah janji mau nikahin Khay."
"Gue nggak pernah janji!"
"Janji, kok. Waktu kita masih kecil. Di sofa rumah Khay." Khaylila menggigit kue cubitnya, mengunyah sebentar, lalu melanjutkan dengan mulut penuh. "Khay tanya, nanti kalo udah gede kita nikah ya, Kak? Terus Kakak nggak bilang enggak."
Karim melotot. "GUE TIDUR!"
"Berarti Kakak mimpiin Khay." Khaylila mengangguk-angguk yakin, seperti baru saja membuktikan rumus matematika paling sulit sedunia. "Orang kalo tidur mimpiin siapa, berarti suka sama orang itu. Bunda yang bilang."
"Bunda lo ngaco!"
"Nanti Khay bilangin ke Bunda, ya, Kakak ngatain Bunda ngaco."
Karim membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Dia menatap cewek kecil di depannya yang sekarang balas menatapnya dengan mata berbinar-binar penuh harap sambil menyodorkan kue cubit yang sudah tinggal setengah. Ada semacam rasa putus asa yang belum punya nama di dada Karim sore itu.
Dia menghela napas panjang, merampas kue cubit itu, lalu berbalik kembali ke lapangan tanpa bilang apa-apa.
Khaylila tersenyum lebar-lebar sambil melambaikan tangan ke punggung Karim yang menjauh.
"Sama-sama, Kak!"
Sejak sore itu, seisi komplek tahu satu hal: Khaylila Karima Sindu Fatahillah punya calon suami, dan calon suaminya tidak pernah sekali pun berhasil membantah dengan sukses.
***
Masuk SMP, Karim mulai serius menghindar.
Dia berangkat lebih pagi, pulang lewat jalan memutar yang jaraknya dua kali lipat, dan mendadak ikut hampir semua ekstrakurikuler yang ada supaya bisa pulang paling akhir. Tapi entah bagaimana caranya, tiap kali Karim membuka gerbang rumahnya, Khaylila selalu sudah berdiri di sana. Kadang sambil membawa bekal. Kadang cuma berdiri saja sambil senyum-senyum.
"Lo ngapain lagi?" tanya Karim suatu sore, wajahnya lelah luar dalam.
"Nungguin Kakak."
"Buat apa?"
"Nggak buat apa-apa." Khaylila mengangkat bahu. "Cuma pengen lihat aja."
Karim memejamkan mata sebentar, menghitung sampai lima dalam hati, lalu masuk ke rumah dan membanting pintu.
Khaylila pulang dengan senyum lebar. Karim membanting pintu, artinya Karim salting. Begitu logikanya. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang berhasil membetulkan logika itu—tidak Bunda, tidak Ayah, tidak Ratri, apalagi Karim sendiri.
Di sekolah pun sama saja. Suatu siang hujan turun deras dan Karim sudah bersiap menerobos saja ke halte, sampai seseorang menyodorkan payung lipat berwarna kuning ke depan hidungnya, tepat di depan teman-teman satu angkatannya yang lagi berkumpul di lobi.
"Dipakai ya, Kak. Nanti Kakak sakit," kata Khaylila, adik kelas yang seragamnya masih terlalu longgar di bahu.
"Cieee!" Suara itu datang dari mana-mana sekaligus.
"Gue nggak butuh," tolak Karim datar.
"Ya udah, Khay tungguin di sini sampai Kakak butuh."
Dan cewek itu benar-benar berdiri di situ, memegang payung kuningnya, sampai hujan berhenti empat puluh menit kemudian. Karim akhirnya pulang dengan payung kuning itu di tangan, sambil mengumpat dalam hati sepanjang jalan.
Lalu tibalah hari pengumuman kelulusan SMP.
Khaylila sedang menjemur bantal di teras ketika melihat mobil Oom Gandhi berhenti di depan rumah sebelah. Karim keluar sambil menyeret koper besar dan dua kardus. Ada tas ransel di punggungnya dan raket badminton yang dijepit di ketiak.
Khaylila menjatuhkan bantalnya.
"Kakak mau kemana?" tanyanya panik sambil berlari ke pagar.
Karim tidak menoleh. Dia memasukkan kardus ke bagasi dengan gerakan cepat, seperti orang yang takut ketahuan kabur.
"Pindah. Numpang di rumah Oom," jawabnya pendek.
"Pindah?" Suara Khaylila naik satu oktaf. "Pindah kenapa?!"
"Rumah Oom lebih deket ke SMA. Hemat ongkos." Karim menutup bagasi. Kali ini dia menoleh sebentar, dan ada sesuatu yang mirip rasa bersalah lewat di wajahnya, cuma satu detik, sebelum ditutup lagi dengan wajah datar andalannya. "Udah, sana. Bantal lo jatoh, tuh."
Mobil itu pergi sepuluh menit kemudian.
Khaylila berdiri di depan pagar cukup lama, memandangi rumah sebelah yang mendadak terasa terlalu sepi. Bunda sempat mengintip dari jendela, siap-siap kalau anak sulungnya menangis.
Tapi Khaylila tidak menangis.
Cewek itu justru memungut bantalnya, menepuk-nepuknya sampai debunya beterbangan, lalu masuk ke rumah sambil bergumam pada dirinya sendiri.
"Nggak apa-apa. SMA-nya kan tetep sama."
***
Dan sekarang, Khaylila sudah SMA.
Sore itu dapur rumahnya berantakan luar biasa. Ada tepung tumpah di meja, dua butir telur yang gagal dipecahkan dengan anggun, dan sebuah kotak makan berwarna biru laut yang sudah dicuci bersih, menunggu di ujung meja seperti piala.
"Bunda, garemnya seberapa?" tanya Khaylila sambil mengangkat sendok teh.
"Seujung sendok aja, Mbak. Jangan dituang kayak nuang pasir." Bunda mengambil alih sendok dari tangan anaknya sebelum terjadi bencana. "Ini buat siapa, sih, sampai serius amat?"
"Buat kak Karim."
Bunda berhenti mengaduk. Dia melirik anaknya sebentar, lalu kembali mengaduk pelan-pelan.
"Kay," panggilnya, kali ini tidak pakai Mbak.
"Hm?"
"Kamu tuh udah gede." Bunda mematikan kompor. "Bunda nggak larang kamu suka sama Karim. Bunda malah seneng, keluarganya baik semua. Tapi Bunda pengen kamu paham satu hal."
Khaylila menoleh, keningnya berkerut. "Apa?"
"Suka sama orang itu boleh. Yang nggak boleh itu maksa orangnya buat suka balik." Bunda menepuk tangan Khaylila yang belepotan tepung. "Kalau nanti Karim nggak—"
"Nanti kak Karim juga suka, kok," potong Khaylila cepat, seperti sudah hapal ke mana arah kalimat itu. Dia menyendok adonan ke dalam cetakan dengan gerakan mantap. "Kakak cuma belum sadar aja, Bun. Cowok kan lemot."
Bunda menghela napas. Dia sudah pernah mencoba percakapan ini sebelumnya, kira-kira empat puluh tujuh kali, dan hasilnya selalu sama.
"Ya sudah," katanya akhirnya sambil mengelus kepala anaknya. "Tapi kalau nanti kamu sakit hati, jangan nangisnya di kamar sendirian, ya. Nangisnya di depan Bunda."
"Nggak akan ada acara nangis-nangisan, Bun." Khaylila tersenyum lebar sambil memasukkan cetakan ke oven. "Nanti Bunda malah nangis waktu Khay nikah."
Bunda tertawa kecil, lalu keluar dari dapur sambil geleng-geleng kepala. Dari ambang pintu, Ayah yang sedari tadi pura-pura membaca koran ikut menoleh, lalu bertukar pandang dengan istrinya. Keduanya sama-sama tidak berkata apa-apa.
Malam itu, lewat jam sembilan, dia duduk bersila di lantai kamarnya dengan album foto lama terbuka di pangkuan. Halaman yang dipandanginya sudah menguning di pinggir: dua bocah tidur di sofa, satu terkulai ke samping, satu lagi menempel di lengannya dengan mulut sedikit terbuka. Bunda yang memotret sambil ngikik, katanya dulu.
Khaylila mengusap foto itu dengan ibu jari, lalu tersenyum sendiri seperti orang kurang waras.
"Bentar lagi ya, Kak," gumamnya.
"Mbak Khay ngomong sama foto."
Khaylila menoleh cepat. Ibram berdiri di ambang pintu kamarnya sambil menggigit biskuit, menatapnya dengan tampang mengasihani.
"Ngapain lo di situ?! Ketuk pintu dulu, kek!"
"Pintunya emang kebuka." Ibram mengunyah santai. "Mbak, seriusan, deh. Kak Karim tuh nggak suka sama mbak Khay. Kemarin Ibram papasan sama dia di depan minimarket, terus Ibram bilang, Kak, salam dari mbak Khay. Dia langsung jalan cepet gitu, kayak dikejar setan."
"Itu namanya salting."
"Itu namanya kabur."
"SALTING!"
"KA-BUR!"
Bantal melayang dari arah Khaylila dan mendarat sempurna di muka Ibram. Bocah itu ngakak sambil mundur ke luar kamar, lalu berteriak dari koridor, "Awas ya, Mbak! Besok Ibram balas!"
"Balas apa? Anak kecil sok ngancam!" balas Khaylila ketus, lalu membanting pintu kamarnya.
Dia kembali duduk di lantai, menutup album foto pelan-pelan, dan menyimpannya di laci paling bawah, di bawah tumpukan kertas ulangan yang nilainya tidak pantas dilihat siapa pun.
Setelah itu Khaylila naik ke ranjang, menarik selimut sampai dagu, dan meraih jam weker digital bergambar piyo-piyo di meja kecil di samping bantalnya. Diliriknya angka di layar kecil itu, lalu diaturnya alarm untuk besok pagi. Harus bangun lebih awal. Besok jadwalnya jaga gerbang, dan jaga gerbang berarti dia bisa jadi orang pertama yang melihat Karim datang.
Khaylila memeluk gulingnya, memejamkan mata, lalu berbisik pada langit-langit kamar yang gelap.
"Selamat malam, calon suamiku."
Sepuluh menit kemudian napasnya sudah teratur.
Pintu kamar terbuka sedikit, sangat pelan, tanpa suara. Sebuah kepala menyembul dari balik daun pintu. Ibram melirik ke ranjang, memastikan kakaknya benar-benar sudah pulas, lalu mengendap masuk dengan langkah kucing.
Tangannya terulur ke jam weker piyo-piyo di meja kecil itu. Jempolnya menekan tombol pengatur waktu berkali-kali, sabar, satu per satu, sampai angka di layar maju empat puluh lima menit dari waktu yang sebenarnya.
Ibram menyeringai lebar dalam gelap, meletakkan jam itu kembali persis di posisi semula, lalu keluar dan menutup pintu tanpa suara.
Di ranjang, Khaylila sama sekali tidak terganggu. Cewek itu malah tersenyum dalam tidurnya, karena di dalam mimpinya, lampu-lampu panggung baru saja dinyalakan satu per satu, dan ada suara pembawa acara yang mulai menyebut namanya dari balik tirai.