Bus dari Jakarta itu berhenti di terminal Tirtonadi pukul lima pagi, dan Bagas Permana turun dengan koper yang rodanya patah satu. Ia menyeretnya miring sepanjang peron, menimbulkan suara berderit yang membuat dua tukang ojek menengok. Bagas pura-pura tidak sadar. Ia membetulkan kerah kemejanya yang sudah lecek karena dipakai tidur dua belas jam, lalu memasang ekspresi orang yang sebenarnya tidak ingin ada di sini.
Dua tahun di ibu kota. Itu yang terus berputar di kepalanya selama perjalanan. Dua tahun melamar kerja, dua tahun memakai dasi ke wawancara yang berakhir dengan kalimat "kami akan menghubungi Anda kembali" yang tidak pernah jadi telepon. Dan sekarang, gara-gara kos di Tebet ditutup karena bangunannya mau dijadikan kafe, dan rekeningnya tinggal cukup buat tiket bus, Bagas pulang. Bukan pulang menang. Pulang karena kepepet.
Kampungnya di pinggiran Solo tidak berubah banyak. Gang masih sama sempitnya, masih dipenuhi motor yang diparkir sembarangan, masih ada speaker masjid yang menggumamkan murottal pelan-pelan. Bau got, bau gorengan, bau tanah basah karena semalam hujan. Bagas berjalan sambil menahan napas, lalu menyerah karena toh udara ini sudah masuk ke paru-parunya sejak ia kecil.
Di mulut gang, ia berpapasan dengan Bu RT yang sedang menyapu halaman warungnya. Perempuan itu langsung berhenti menyapu, menyipitkan mata, lalu melebarkannya seperti menemukan harta karun.
"Lho, ini Bagas to? Anaknya Bu Tini? Aduh, ganteng tenan sekarang. Sudah jadi orang Jakarta ya kamu. Kerja di mana, Nak? Kantoran?"
Bagas merasakan dadanya mengencang. "Eh, anu, Bu. Lagi cuti."
"Cuti? Wah, enak ya kerja kantoran ada cutinya. Anakku cuma jualan pulsa, nggak ada cuti-cutian." Bu RT tertawa, tapi matanya sudah memindai koper rodanya yang patah, kemeja yang lecek, dan ransel yang ritsletingnya melendung. Bagas tahu kalimat itu akan jadi materi obrolan di warung sampai sore. "Sampaikan salam ke ibumu ya. Kasihan, lagi repot dia."
Repot. Kata itu nyangkut di telinga Bagas. Ibunya selalu repot, sejak dulu, sejak ayahnya meninggal waktu Bagas masih SMP. Tapi ada nada lain di suara Bu RT, semacam kasihan yang dibungkus ramah, dan itu membuat Bagas mempercepat langkah.
Rumahnya berada di ujung gang, dan begitu sampai, Bagas berhenti. Ia mengerjap. Rumah masa kecilnya, rumah yang ia ingat sebagai tempat dengan ruang tamu berisi sofa hijau dan foto keluarga di dinding, kini tidak ada lagi. Atau tepatnya, ruang tamu itu sudah dimakan oleh sesuatu yang baru. Di depan rumah terpampang spanduk yang catnya mulai mengelupas: LAUNDRY BERKAH. Cuci Kiloan, Setrika, Bersih Wangi. Di bawahnya tertulis nomor telepon yang tinta angka delapannya sudah luntur jadi mirip angka tiga.
Ia mendorong pintu kaca yang tertempel stiker promo lama. Lonceng kecil berbunyi. Dan dunia di dalamnya menerjang seluruh inderanya sekaligus.
Uap. Bau melati deterjen yang manis menyengat. Tumpukan baju di mana-mana, sebagian di keranjang plastik warna-warni, sebagian menggunung di atas meja panjang. Jemuran indoor melintang dari dinding ke dinding seperti laba-laba raksasa, penuh kaus, daster, dan seragam sekolah yang menetes pelan ke lantai. Di sudut, satu mesin cuci tua bergetar dengan suara yang tidak wajar, seperti batuk orang tua perokok. Dan di tengah semua itu, membungkuk melipat handuk dengan tangan yang gerakannya hafal di luar kepala, berdiri ibunya.
Bu Tini menengadah. Wajahnya, yang kini ada kerut baru di sekitar mata, langsung pecah jadi senyum. "Bagas! Ya ampun, Le. Kamu nggak bilang mau pulang."
Bu Tini meletakkan handuk, lalu memeluk anaknya. Bagas mencium bau ibunya yang bercampur dengan bau deterjen, dan untuk sesaat ego dua tahunnya melemas. Tapi cuma sesaat. Karena matanya kembali menjelajah ruangan ini, ruangan yang dulu jadi ruang tamu tempat ia mengerjakan PR, dan sesuatu di dadanya mengeras.
"Bu," katanya, melepaskan pelukan, "ini... ini kenapa rumah jadi begini?"
Bu Tini mengusap tangannya ke celemek. "Ya laundry, Le. Ibu kan sudah cerita di telepon. Sudah dua tahun lebih ini. Lumayan buat ngebul dapur." Ia berkata itu seperti orang yang sudah lama berhenti menunggu anaknya betul-betul mendengarkan.
Bagas memang ingat samar-samar. Ibunya pernah cerita soal "buka usaha kecil". Tapi di kepala Bagas waktu itu, "usaha kecil" adalah sesuatu yang abstrak, latar belakang dari hidupnya yang sesungguhnya di Jakarta. Ia tidak pernah membayangkan rumahnya akan berubah jadi ini. Jadi pabrik kecil berisi cucian orang lain.
"Bu, ini cucian siapa semua?" Bagas menunjuk gunungan di meja.
"Macam-macam. Itu punya Bu Sumi, dua keranjang. Yang ini seragam anak-anak Pak Guru Hadi. Yang celana hitam-hitam itu punya tukang parkir pasar." Bu Tini menyebut nama-nama itu seakan menyebut anggota keluarga sendiri.
Bagas memandangi tumpukan celana hitam tukang parkir pasar itu, dan tanpa bisa ditahan, sebuah pikiran melintas di benaknya. Aku sarjana manajemen. Aku pernah magang di perusahaan distribusi. Dan sekarang aku berdiri di ruang tamu yang penuh celana dalam orang sekampung.
Lonceng pintu berbunyi lagi. Seorang ibu-ibu masuk sambil menjinjing keresek hitam yang gembung. "Bu Tini, ini ada noda di kerudung saya, tolong dibersihin sekalian ya. Eh, ini siapa? Anaknya yang di Jakarta to?" Matanya berbinar penuh rasa ingin tahu, dan Bagas merasa seperti hewan di kebun binatang.
"Iya, Bu Marni, ini Bagas. Baru pulang." Bu Tini menerima keresek itu, mengintip isinya, mengangguk.
"Wah, sudah kerja apa to sekarang, Mas? Pasti gaji gede ya di Jakarta." Bu Marni tersenyum lebar.
Bagas membuka mulut. Lalu menutupnya. Lalu, dengan suara yang ia harap terdengar santai, ia berkata, "Masih... eksplorasi peluang, Bu."
Bu Marni mengangguk-angguk sopan, tapi jelas tidak mengerti, dan Bu Tini menahan senyum. Setelah perempuan itu pergi, hening sejenak, hanya diisi suara batuk Si Bandel di sudut.
"Kamu capek, Le," kata Bu Tini lembut. "Mandi sana, terus tidur. Kamarmu masih ibu jaga. Cuma sekarang dipakai numpuk plastik laundry sedikit, nanti ibu beresin."
Bagas menyeret kopernya melewati labirin jemuran, menunduk supaya tidak kena daster basah yang menetes. Di kamarnya, kasur lamanya masih ada, tapi setengahnya tertutup tumpukan kantong plastik bening dan stok deterjen. Ia duduk di sisi yang kosong, memandangi langit-langit yang dulu ia tatap setiap malam saat bermimpi pergi dari kampung ini.
Dari balik pintu, ia mendengar suara mesin cuci tua itu berhenti mendadak, lalu Bu Tini menggumam, "Sabar ya, Ndel, jangan rewel dulu." Ibunya bicara pada mesin seperti pada makhluk hidup.
Bagas menutup mata. Cuma sampai dapat kerja beneran, batinnya. Aku cuma numpang. Sebentar saja. Dua minggu, sebulan paling lama. Aku ini calon manajer, bukan tukang cuci.
Di luar, lonceng pintu berbunyi sekali lagi, dan ibunya menyambut pelanggan dengan suara cerah yang sama, suara yang sudah dilakukannya ribuan kali tanpa Bagas pernah tahu.