Malam itu, kota seperti neraka yang baru saja dibuka pintunya. Hujan deras mengguyur Blok 7 tanpa henti, menyapu kotoran tapi tak sanggup membersihkan bau kematian yang menggantung di udara. Di tengah lingkaran manusia yang membentuk arena pertarungan ilegal, Drefsha D'Cenv berdiri diam seperti patung perunggu. Lampu sorot buatan dari mobil-mobil tua menyinari tubuh tegapnya yang penuh bekas luka. Rambut wolf cut-nya basah kuyup, menempel di wajah dinginnya.
Lawan di hadapannya, pria besar bertato dengan julukan “Kepalan Neraka,” mengaum sambil memutar bahu, memperlihatkan kekuatan dan kesombongannya. Tapi Drefsha tak memberi reaksi. Matanya kosong seperti lubang hitam, menelan segala ancaman.
Klakson mobil meraung. Pertarungan dimulai.
Pria itu menerjang. Pukulan keras meluncur ke arah d**a, tapi Drefsha hanya sedikit bergeser. Udara dihempas pukulan itu. Lututnya menghantam perut lawan, lalu siku menghantam pelipis. Pria itu ambruk.
Empat detik. Selesai.
Kerumunan bersorak. Sebagian tertawa. Sebagian terdiam ngeri. Drefsha melangkah keluar ring tanpa sepatah kata pun. Ia mengenakan kembali jaket kulitnya, menyelipkan kunci besi panjang di pinggang s*****a andalan dalam situasi mendesak. Bukan kekuatannya yang membuatnya ditakuti. Tapi cara bertarungnya: seperti hidupnya sudah mati.
Di g**g belakang arena, seorang gadis kecil berbalut mantel usang berdiri mematung. Wajahnya penuh kagum dan takut.
Drefsha mendekat dan menyerahkan sebagian uang taruhan.
"Belikan makan. Jangan pernah datang ke tempat ini lagi."
Gadis itu mengangguk cepat. Drefsha berlalu. Ia tak ingin mengingat wajah itu. Dunia ini tak layak untuk kelembutan. Belas kasih adalah kelemahan, dan kelemahan selalu dimanfaatkan.
Dia berjalan menembus g**g-g**g sempit penuh genangan air, minyak, dan darah lama. Sirine meraung dari kejauhan, dari distrik yang lebih “beradab.” Tapi di sini, hukum tidak berlaku. Yang kuat bertahan. Yang lemah lenyap.
Ia tiba di apartemen kecil bangunan tua tiga lantai dengan dinding penuh grafiti dan bau busuk dari makanan busuk. Begitu masuk, lampu menyala otomatis. Isinya minim: kasur tipis, meja kayu lapuk, dan lemari tua dengan tiga gembok.
Di dinding, tergantung foto kusam: dua remaja. Salah satunya Drefsha, masih polos, belum terluka. Satunya lagi, lelaki muda berambut rapi dengan senyum tipis Valen.
Drefsha menyentuh bingkai. Kemudian membuka lemari. Di dalam koper besi: s*****a api, pisau lipat, sarung tangan logam, dan sebuah chip transparan dengan lambang Proyek Sarka.
"Aku tak pernah minta jadi seperti ini," gumamnya.
Tiba-tiba, ketukan keras di pintu: tiga kali, lalu dua. Pola yang sangat ia kenal.
Tangannya mencengkeram gagang kunci besi. Pintu dibuka cepat.
Seorang perempuan muda berdiri di luar. Rambutnya panjang, kotor. Luka di pipi kirinya tampak baru. Nafasnya terengah.
“Drefsha… mereka tahu kau kembali. Mereka... mereka sudah membunuh Valen.”
“Valen?” Suara Drefsha nyaris tak terdengar.
“Dia mencoba memperingatkanmu. Tapi mereka lebih cepat…”
Wajah Drefsha menegang. Tidak hanya dingin kini gelap.
“Masuk,” katanya.
Pintu tertutup. Hujan deras di luar tak mampu menenggelamkan satu hal: peperangan yang selama ini ia hind
ari, akhirnya mengetuk pintu rumahnya sendiri.
Tirai malam masih menggantung rendah ketika Drefsha berdiri di atap apartemennya. Dari sana, Blok 7 terlihat seperti sarang lebah raksasa: padat, bising, kacau. Di tangannya, sebatang rokok menyala hal yang jarang ia lakukan, kecuali saat pikirannya dibanjiri bayang-bayang lama.
Valen bukan sekadar masa lalu. Ia adalah saksi. Satu-satunya yang tahu semua: eksperimen, siksaan, pelarian. Satu-satunya yang tidak pernah meninggalkannya, bahkan ketika tubuh Drefsha berubah menjadi s*****a.
Angin menerpa wajahnya. Hujan berubah menjadi gerimis yang menusuk. Di kejauhan, bangunan Sektor 9 lama berdiri bagai tulang raksasa terbakar. Lima tahun lalu, tempat itu adalah neraka.
Ia masih ingat rantai di pergelangan tangannya, lampu sorot putih menyilaukan, dan suara rekaman dingin:
"Proyek Sarka, gelombang ke-17. Subjek perempuan, kode DC-01."
Suara itu tetap membekas, bahkan saat wajah para ilmuwan telah ia lupakan.
Langkah kaki di atap membuyarkan lamunannya.
Drefsha berbalik cepat. Sosok bertopeng muncul dari balik tangki air. Gerakannya cepat, tapi tidak cukup cepat. Satu hantaman, satu tendangan topeng pecah.
Lelaki muda dengan bekas luka bakar di pipi terjatuh. Matanya membelalak.
“Kenapa kau menyerang?” suara Drefsha tajam.
“Aku... hanya ingin menyampaikan pesan.”
“Penyusup di atap bukan penyampai pesan. Mereka mayat.”
Lelaki itu mengangkat tangannya. Di dalamnya, selembar foto: Valen, babak belur, terikat, dengan lambang Sektor 9 di belakangnya.
“Dia hidup… tapi tidak lama lagi,” gumamnya.
Drefsha menyipitkan mata. “Siapa namamu?”
“Tysh Velgarn. Mantan agen. Sekarang pelarian. Aku ingin balas dendam, sama sepertimu.”
Hening beberapa detik. Drefsha akhirnya mengangguk.
“Kau baru saja mengambil keputusan terbaik... dan mungkin yang terakhir.”
Ia berbalik.
“Turun. Kita bicara di bawah.”
Tysh mengikuti Drefsha menuruni tangga besi yang berderit. Setiap langkah mereka menggema, seolah bangunan tua itu menggerutu. Tapi Drefsha sudah tak peduli. Di dalam pikirannya, potongan-potongan lama mulai menyatu kembali pengkhianatan, p*********n, eksperimen.
Sudah cukup ia bersembunyi. Malam ini, satu hal pasti: jika Valen masih hidup, maka darah akan mengalir sampai dunia membayar semua yang telah direnggut darinya.
Tysh duduk di kursi tua yang bunyinya nyaris seperti raungan. Drefsha menuang air ke dalam dua cangkir logam, tidak karena peduli, tapi karena dia ingin jawaban.
“Aku butuh tahu semuanya. Secepatnya.”
Tysh mengangguk. “Satu minggu lalu, mereka aktifkan kembali Sektor 9. Tapi bukan sebagai fasilitas riset. Kini jadi markas militer bawah tanah. Mereka bangkitkan Proyek Sarka, gelombang baru. Lebih brutal.”
“Siapa yang memimpin?” tanya Drefsha cepat.
“Jenderal Morcai. Dia... dia bukan manusia sepenuhnya lagi.”
Nama itu membuat Drefsha mematung. Morcai adalah mimpi buruk masa latihannya. Sosok berseragam hitam yang memperlakukan subjek seperti barang. Morcai-lah yang pertama memanggilnya ‘Alat,’ bukan nama.
“Dan Valen?” tanyanya pelan.
“Dia tertangkap di daerah utara saat menyusup. Mereka tidak bunuh dia... belum. Mereka ingin memancingmu keluar.”
Drefsha menghela napas. Kuncinya berputar-putar di jarinya.
“Lalu kenapa kau bantu aku?”
Tysh menatapnya lurus. “Karena aku juga subjek. Gelombang ke-21. Aku kabur dua tahun lalu. Sejak itu, aku kumpulkan info, nama, lokasi. Tapi aku bukan kau. Aku tidak bisa masuk ke markas itu sendiri.”
“Dan kau pikir aku bisa?”
Tysh tersenyum getir. “Aku tahu kau bisa.”
Malam terus bergulir. Drefsha berdiri menatap peta hologram dari chip Tysh. Sektor 9 punya sistem pertahanan ganda, dengan tiga jalur utama dan satu jalur limbah bawah tanah yang nyaris tidak mungkin ditembus.
Namun, bukan tidak mungkin.
Ia membuka laci meja dan menarik selembar foto lain lebih tua, lebih rapuh. Seorang wanita tua berdiri di depan klinik kecil. Di belakangnya, dua anak kecil: Drefsha dan Valen, tertawa lepas.
Itu terakhir kalinya mereka merasa manusia.
Drefsha mengepalkan tangan.
"Kalau ini perang... aku akan jadi
ujungnya."
Drefsha menyimpan kembali foto tua ke dalam laci, lalu mengencangkan sarung tangan besi di tangannya. Setiap gerakan terasa seperti ritual sebelum perang. Tysh memperhatikannya dari sudut ruangan, matanya menyorot campuran kekaguman dan rasa takut. Ia tahu, di hadapannya bukan sekadar mantan subjek eksperimen tapi satu-satunya hasil yang berhasil. Dan hasil itu sekarang marah.
"Besok kita ke Blok 11," ucap Drefsha tanpa menoleh. "Aku butuh s*****a. Banyak."
"Blok 11 dikuasai Zerr Syndicate. Mereka nggak akan senang kalau lihat wajahmu."
"Aku nggak minta mereka senang. Aku minta mereka tetap hidup setelah berurusan denganku." Drefsha menoleh, matanya tajam. “Dan itu tergantung dari apa yang mereka tawarkan.”
Tysh mengangguk pelan. Ia tahu, rencana ini gila. Tapi gila adalah satu-satunya jalan keluar dari perang diam-diam yang sudah dimulai bahkan sebelum mereka sadar jadi pion.
Di luar, hujan sudah berhenti. Udara kota masih dipenuhi bau besi, oli, dan darah kering. Tapi Drefsha tak memedulikannya. Saat ia melangkah keluar menuju malam yang belum reda, hanya satu hal yang ada di pikirannya:
, .