Lonceng yang digantungkan di pintu cafe tersebut berbunyi nyaring saat Sasti membuka pintu cafe lalu masuk ke dalam, senyuman dan ucapan selamat sore dari salah satu pelayan cafe menyambut dengan hangat kedatangannya.
Mata Sasti melihat ke sekeliling cafe hingga akhirnya ia menemukan sosok yang ia cari sedang duduk di sudut ruangan.
"Silahkan duduk." Satria berdiri dari kursinya lalu menarik kursi untuk Sasti duduk.
"Terima kasih." balas Sasti pelan sembari membenarkan posisi duduknya.
Baik Sasti dan Satria keduanya saling diam, hanya terdengar suara merdu Adele menyanyikan lagu All I Ask yang memang sedang diputar di cafe tersebut.
Sasti menarik nafas dalam, ia tampak tidak nyaman untuk terus duduk di depan Satria seperti ini.
"Apa yang ingin bapak bicarakan?" tanya Sasti tanpa basa-basi.
"Boleh saya minta satu hal?" Satria balik bertanya.
"Terkait?"
"Berhenti memanggil saya bapak, lama-lama saya risih dipanggil bapak sama kamu."
Kedua bola mata Sasti membulat saat mendengar ucapan Satria. "Jadi bapak minta saya kemari hanya untuk hal itu?" tanya Sasti dengan nada suara kesal. Ini sangat membuang waktunya pikir Sasti.
"Memang kamu mengharapkan apa dari saya?" Satria bertanya balik dengan tatapan yang tajam namun senyuman kecil tersungging dibibirnya.
"Permintaan maaf bapak karena berani mencium saya." Sasti menjawab pertanyaan Satria dengan menatap berani ke arah lelaki tersebut.
Satria terdiam sesaat,"Saya minta maaf karena telah mencium kamu, tapi sayangnya saya tidak menyesal telah mencium kamu." ucapan Satria tersebut sukses membuat Sasti membelakkan matanya.
Tanpa babibu lagi Sasti langsung mendorong kasar kursinya, ingin rasanya menyiram wajah menyebalkan itu dengan secangkir kopi panas namun ia menahannya. Sasti bangkit dari kursinya hendak meninggalkan Satria, namun tangan besar milik Satria mencekal pergelangan tangannya.
"Saya belum selesai berbicara." ucap Satria pelan namun dengan tatapan tajam.
"Buat saya pembicaraan ini sudah selesai." balas Sasti dengan begitu sengit, pembicaraan ini tidak penting.
"Sasti...." tiba-tiba suara berat terdengar dibalik punggung Sasti, membuat Sasti dan juga Satria menatap sumber suara tersebut.
Tubuh Sasti yang awalnya tegang tiba-tiba melemah, Satria dapat merasakannya karena tangan Sasti yang ia pegang lunglai seperti tidak ada tulangnya.
Sasti menatap nanar lelaki berkacamata yang ada didepannya, lelaki yang telah lama meninggalkannya, lelaki yang membuat ia hidup sendiri selama bertahun-tahun, lelaki yang menghancurkan hatinya namun ia juga lelaki yang tidak bisa Sasti lupakan. Setiap jengkal dari isi kepalanya masih ada kenangan tentang lelaki itu, bahkan disaat tertentu Sasti merasa mencium wangi tubuhnya.
"Kamu sibuk? Ada yang ingin aku bicarakan." Lelaki tersebut melirik ke arah Satria, lalu bergantian menatap Sasti.
Sasti diam tidak menjawab, lidahnya kelu.
Lelaki itu pun memegang pergelangan tangan kanan Sasti lalu menggandengnya, namun langkahnya terhenti karena Sasti tidak mengikutinya. Bagaimana Sasti bisa mengikutinya saat tangan kiri Sasti masih dipegang kuat oleh Satria.
"Bisa tolong lepaskan tangan anda?" ucap lelaki tersebut dengan menatap tajam ke arah Satria.
Satria pun berdiri dari kursinya, balas menatap tajam lelaki tersebut. "Anda yang lepaskan tangan anda, urusan saya belum selesai dengan Sasti."
"Pak, tolong lepaskan tangan saya." ucap Sasti pelan tanpa menatap Satria.
Satria menatap Sasti tidak percaya, "Tapi Sas.."
"Tolong lepas pak." Sasti pun memutar pergelangan tangannya agar pegangan Satria terlepas.
Lelaki berkacamata itu tersenyum penuh kemenangan ke arah Satria, dan ia menarik Sasti pergi dari tempat itu.
Satria menatap kepergian Sasti dengan pandangan yang tidak bisa dimengerti. Hatinya berkecamuk antara tidak terima ditinggalkan Sasti dan juga penuh tanya dengan identitas lelaki itu.
Telepon genggam milik Satria berbunyi nyaring, saat matanya melihat nama penelpon niatnya untuk mengejar Sasti pun tertunda.
Sasti terus berjalan mengikuti lelaki yang terus menarik pergelangan tangannya, tanpa ia sadari air mata mulai mengalir dari kedua sudut matanya. Sesak, dadanya sangat sesak, ia tidak bisa bernafas dunia seolah runtuh menimpanya.
Langkah Sasti terhenti, ia menghempaskan tangannya dari pegangan lelaki itu. Membuat lelaki itu berbalik arah menatap Sasti.
"Apa yang kamu inginkan?" Tanya Sasti seraya menahan suara tangisnya agar tidak pecah histeris.
"Masuk dulu ke dalam mobil." Ucap lelaki itu sambil membukakan pintu mobil untuk Sasti.
Sasti menggelengkan kepalanya, "Engga mau."
"Sas, aku mohon sama kamu, masuk dulu ke dalam mobil." Pinta lelaki itu dengan nada memohon.
Hati Sasti tergerak untuk masuk ke dalam mobil, namun otaknya memerintahkan hal lain. Sasti membalikkan badannya berniat untuk pergi. Namun sepasang tangan kekar telah menariknya dan melingkar dipinggangnya, ia dapat merasakan hembusan nafas hangat lelaki itu menerpa pipinya.
Jantung Sasti berdetak tidak beraturan, dulu ia sangat menyukai hal ini namun sekarang terasa menyakitkan.
"Maafkan aku, maafkan aku Sas." ucap lelaki itu sambil mempererat pelukannya.
Membuat air mata Sasti terus mengalir, membuat d**a Sasti terasa hancur.
"Semunya..sudah..selesai Vit. Aku sudah... memaafkanmu..jauh sebelum kamu meminta maaf" ucapan Sasti terputus-putus karena ia berusaha menahan tangisannya.
"Kasih aku kesempatan Sas, sekali saja." ucapan Vito membuat Sasti seakan sedang terjun bebas dari gendung pencakar langit.
"Aku mohon, aku yang salah. Aku benar-benar menyesal Sas. Hidupku berantakan selama ini." suara Vito mulai bergetar.
Sasti menundukkan kepalanya, ia terus menangis tanpa suara. Kenapa baru sekarang kamu muncul? Kenapa baru sekarang? batin Sasti pilu.
Sasti menggelengkan kepalanya, "hikss..hikss..." Sasti pun tidak dapat lagi menangis dalam diam. Suara tangisan mulai keluar dari bibirnya.
"Aku mohon Sas, aku janji tidak akan menyia-nyiakanmu lagi."
Sasti terus menggelengkan kepalanya, lidahnya benar-benar kelu. Ia tidak dapat berbicara, hanya suara tangis yang terdengar.
Hatinya mulai goyah, benteng yang ia bangun bahkan runtuh sebelum digunakan. Waktu memang tidak bisa membunuh perasaannya, tiga tahun lebih memang tidak cukup untuk membuatnya membenci Vito. Ia merindukan lelaki ini, ia selalu merindukan lelaki yang sedang memeluknya ini.
"Hikss..lepaskan aku Vit..hikss..aku mohon lepaskan aku." Sasti bergerak pelan mencoba melepaskan diri dari pelukan Vito yang begitu kuat.
Namun vito bersikukuh, tidak sedikit pun ia melonggarkan pelukannya.
Sedangkan di dalam Café.
Satria yang baru selesai berbicara dengan Novanto melalui telepon genggamnya langsung berjalan keluar meninggalkan café tersebut. Langkahnya terhenti saat ia menuruni tangga café, matanya menangkap Sasti yang berdiri di parkiran mobil tidak jauh darinya.
Jantungnya berdegup saat melihat Sasti yang sedang dipeluk oleh lelaki berkaca mata itu. Satria kembali berjalan hendak menghampiri Sasti, namun terlambat. Sasti keburu masuk ke dalam taksi yang kebetulan melintas.
Lelaki itu pun mengetuk-ngetuk jendela mobil, sambil meneriaki nama Sasti. Namun Sasti tidak bergeming, taksi itu tetap melaju membawa Sasti pergi.
Satria terus menatap taksi yang semakin menjauh, dan tatapannya berganti ke arah lelaki berkacamata tersebut.
Siapa dia?
Mungkinkah dia suami Sasti? Jadi rumah tangga Sasti bermasalah? berbagai macam pertanyaan terus bermunculan di kepala Satria. Satria menimang telepon genggam yang ia pegang, hingga sebuah suara yang familiar memanggilnya.
"Bapak mau pulang sekarang?" Karyo telah berdiri di belakang Satria.
"Ahh..iya..iya saya pulang sekarang." balas Satria kemudian mengikuti Karyo menuju tempat mobilnya terparkir.
--
Sasti melangkah gontai memasuki halaman rumah ibunya, ia merasa sangat lelah.
Tok tok tok!
Sasti mengetuk pintu rumah Rukmini, namun tidak ada jawaban.
"Bu..." Sasti mencoba memanggil ibunya.
"Ayeshh..mami pulamg sayang." Sasti pun memanggil Naresh.
Baru Sasti sadari kalau rumah ibunya begitu sepi, pada kemana ya tanya Sasti dalam hati.
Sasti pun mengeluarkan telepon genggamnya mencoba menghubungi ibunya. Kening Sasti berkerut tatkala ibunya tidak kunjung mengangkat teleponnya.
Pikiran Sasti begerak liar, segera ia menepis pikirannya tersebut. Sasti menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan mencoba menenangkan pikirannya.
Sasti kembali menghubungi ibunya dengn penuh harap, angkat dong bu Sasti berbicara kepada dirinya sendiri.
Sasti terus berjalan mondar mandir di teras depan rumah ibunya, ia mengadahkan pandangannya ke langit tatkala terdengar bunyi gemuruh.
"Mamiiii......" suara Naresh terdengar kencang dari arah pagar.
Sasti menoleh ke arah suara, senyumnya seketika sirna saat melihat perempuan yang sedang menggendong Naresh. Jantungnya berdegup kencang, dadanya naik turun karena nafasnya yang tidak beraturan. Perempuan itu terus melangkah masuk dengan percaya diri.
"Mamiiii! Mamiiii!" Naresh terus berteriak dengan ceria memanggilnya.
Perempuan itu seperti dengan sengaja mencium pipi Naresh. Membuat hati Sasti ketar ketir saat melihatnya. Belum juga perempuan itu sampai di teras rumah, Sasti langsung berlari mengambil Naresh dari gendongannya. Mata Sasti menatap tajam perempuan yang tengah tersenyum kepadanya itu.
"Apa kabar?" suara perempuan itu membuat Sasti merinding.
Sasti membalikkan badannya ia membawa Naresh ke teras rumah, lalu mendudukkannya di kursi rotan.
"Ayesh duduk disini, jangan bergerak." ucap Sasti pelan sambil mencium kening Naresh.
Sasti pun berbalik, ia menarik nafas lalu berjalan dan menghentikan langkah perempuan tersebut yang hendak mendekat.
"Kenapa Naresh bisa sama kamu?" tanya Sasti mencoba untuk tenang.
Perempuan itu tidak menjawab pertanyaan Sasti, ia hanya tersenyum simpul dengan tatapan lurus kearah Sasti.
"Kamu tidak boleh lupa siapa diri kamu sebenarnya, dan siapa aku sebenarnya." kata-kata perempuan tersebut begitu penuh penekanan.
"Aku akan kembali lagi nanti." ucap perempuan itu sebelum melangkah pergi dari rumah Rukmini.
Tubuh Sasti luruh ke jalan bersamaan dengan hujan yang turun dengan derasnya, membuat Naresh teriak memanggilnya.
"Mamiii ujan tu.. mamiii kok main ujan?" teriak Naresh yang berdiri sambil memeluk tiang teras.
Namun suara Naresh kalah tertelan derai hujan dan juga tangisan Sasti.
"Kenapa mereka tiba-tiba muncul lagi ke dalam hidupku? Kenapa? Kenapa mereka semua tidak mati saja??!!!" Sasti menjerit seperti orang gila di bawah hujan. Melihat Sasti yang teriak-teriak dan memukul-mukul jalanan membuat Naresh menjadi ketakutan.
"Ma..mii..mami..." suara Naresh mulai terdengar mencicit.
"Duh Gusti...." Rukmini yang muncul dari balik pagar terkejut melihat anaknya duduk di aspal hujan-hujanan.
Ia berlari menghampiri Sasti dan memayunginya.
"Ya ampun ndok, cah ayu... kamu kenapa??" tanya Rukmini sambil membantu Sasti berdiri.
Sasti terus menangis dalam pelukan Rukmini. Rukmini pun semakin terkejut saat melihat Naresh yang sedang menangis di teras rumahnya.
Ada apa ini? batin Rukmini.
--