Kean kembali ke rumah bersama Lean.
"Ada apa denganmu Lean?," tanya Kean heran melihat wajah kusut saudara kembarnya.
"Tidak apa-apa," jawab Lean datar, sebenarnya dia kesal karena diabaikan oleh Daisy. Seolah adiknya menganggapnya wujud yang tak terlihat.
Mungkinkah ini yang biasa adiknya rasakan? setiap kali dia mengabaikannya? Dia merasa tidak nyaman, tiba-tiba ada perasaan sesak di hatinya.
Kean mengangkat bahu dan melajukan mobil ke rumah.
Rumah mendiang orang tuanya tidak terlalu jauh dari royal court, setengah jam perjalanan dia sampai di rumah.
**
Daisy menuju kamarnya dan mandi, mengenakan pakaian kasual dengan celana panjang dan kaos yang dilapisi cardigan berwarna abu-abu.
Keluar kamar kemudian menuju kulkas di dapur untuk mengambil minum.
Daisy merasa lelah, menuju ruang santai menghidupkan televisi dan berbaring di sofa. Suasana ini mengingatkan dirinya saat berada di dunianya dulu. Setelah lelah bekerja dia akan berbaring dan menonton.
Menonton drama di televisi, lambat laun kedua mata Daisy terasa berat, sampai akhirnya ia tertidur.
Sementara Adam baru saja keluar dari ruang kerja, sedangkan Cody sudah kembali ke kamar.
Menuju ruang santai dia terkejut melihat Daisy.
Tanpa sadar, Adam mendekat, memperhatikan lekuk wajah daisy di hadapannya dengan seksama. Tak ada satupun yang luput dari pandangannya. Wajah tanpa riasan, terlihat damai, polos, dan juga tenang. Ini pertama kalinya Adam memperhatikan Daisy ketika tidur.
Daisy tidur cukup lama,
"Eeeergh...," erang Daisy, dia merasa kaki sebelah kirinya kaku.
Membuka kedua mata Daisy terlonjak kaget. Adam berada di sampingnya!
"Kau....," Daisy tidak bisa berkata-kata.
Adam juga terkejut Daisy membuka kedua matanya,
Daisy tidak peduli dengan wajah terkejut Adam, pasalnya, saat dia menggerakan kakinya dia merasa kaku dan pegal!
"Awwww!" Ringis Daisy, bukan hanya kaki kirinya yang pegal! Bahkan kedua lengannya juga!
"Huh," dengus Adam melihat istrinya yang dia pikir sedang memainkan trik, dia tidak menyangka Daisy sangat pintar berakting.
"Dasar laki-laki tidak punya perasaan!" Gerutu Daisy mendengar dengusan Adam.
Daisy merasa badannya pegal-pegal, dia mengingat perasaan ini, dia pernah terinfeksi virus chikungunya di dunianya dulu! Daisy akhirnya ingat ini pasti gara-gara dia yang terlalu bersemangat berkuda pagi tadi.
"Kau bilang apa?" Tanya Adam tiba-tiba lebih mendekat ke sampingnya.
Dengan pendengaran Adam yang tajam jelas dia mendengar kata-kata Daisy. Namun dia tidak yakin kalimat tersebut keluar dari mulut istrinya.
Daisy jengkel, dia ingin kembali ke kamar! namun saat akan menggerakan kakinya dia merasa kesakitan. Kaki sebelah kirinya terasa kaku dan nyeri saat digerakkan!
"Uh, kakiku sangat pegal," rintih Daisy,
Dia menggigit bibir bawahnya menahan sakit,
Adam menatap Daisy dengan datar,
"Jangan mendramatisir suasana! Aku tak akan menggendongmu ke atas! Cepat bangun!" Bentak Adam seakan dia memerintah pasukan tentara.
Air mata Daisy mengalir, bukan karena bentakkan Adam. Tapi kakinya sungguh terasa pegal! Dia jadi ingat saat terkena chikungunya di dunianya dulu. Rasanya tidak enak, dua bulan dia terus merasakan pegal bahkan dia bekerja menahan sakit sembari meminum obat bahkan jamu yang pahit.
Deg!
Adam terkejut melihat air mata Daisy, jika sebelumnya, dia melihat istrinya menangis dia akan mengabaikannya dan tidak peduli. Namun saat ini, Adam merasakan perasaan sesak samar muncul yang membuatnya tidak nyaman.
Dia berpikir istrinya sedang bermain trik, namun melihat raut wajah kesakitan dan mengingat bagaiman Daisy mengabaikan dirinya di arena berkuda tadi, dia merasa salah sekarang.
Daisy terkejut saat tiba-tiba Adam menggendongnya ala putri kerajaan, sebenarnya dia tidak mengharapkan ini. Tadinya dia berpikir akan meminta bantuan pelayan membantunya kembali ke kamar.
Ada apa dengan pria ini? Tiba-tiba peduli. Daisy berpikir, jika tiba-tiba Cody melihat hal ini. Pasti Cody akan sangat cemburu.
Daisy benar-benar kesal dan malu. Kesal karena Adam menggendongnya tanpa izin, dan juga malu karena beberapa pelayan melihat dirinya dalam gendongan Adam.
Sial, dia sangat malu, tanpa sadar Daisy membenamkan wajahnya pada d**a kokoh Adam, Daisy mencium aroma mint pada tubuh Adam. Tiba-tiba sadar kelakuannya, Daisy merasa lebih malu. Aliran darah banyak mengalir ke pipi menimbulkan semburat merah muncul.
Adam dengan mudah menggendong Daisy, menaiki tangga seakan tanpa beban, berjalan tetap tegap dan lurus.
Membaringkan istrinya di ranjang, Adam melihat pipi Daisy yang merona.
Adam mendengar ucapan terimakasih Daisy, tanpa berkata-kata dia keluar kamar istrinya dan menuju kamar utama miliknya yang berada tepat di samping kamar Daisy.
Adam merutuki dirinya sendiri. Dia yakin wajahnya juga memerah saat ini. Ia merasa hatinya bergetar.
Adam berpikir, istrinya berbeda jauh dari sebelumnya mengingat bagaimana istrinya yang sering menggoda, berputar-putar di sekelilingnya sangat membuatnya mual. Sekarang, perubahan istrinya tampaknya tidak sedang memainkan trik.
Mengingat wajah merona Daisy, Adam terkekeh, berpikir istrinya ini bak macan kertas.
Sebelumnya sangat berani menggodanya, namun hanya dia gendong wajahnya sudah memerah.
Dia ingat, istrinya tidak pernah dekat dengan pria lain dan selalu mengejarnya. Membandingan istrinya sekarang dengan sebelumnya dia bisa menilai.
Awalnya Adam berpikir Daisy sedang bermain trik pahit untuk mengejarnya.
Namun, memperhatikan bagaimana Daisy yang mengabaikanya di arena kuda dia merasa tidak yakin.
Terlebih saat melihat pandangan memuja istrinya yang selalu diarahkan kepadanya kini menghilang. Bahkan Daisy pernah memandang dia dengan tatapan iba yang entah mengapa membuatnya bergidig.
Adam tidak tau jika Daisy meragukan orientasi seksualnya.
Adam mengingat bagaimana tubuh Daisy dalam gendongannya. Tiba-tiba dia merasa ingin memiliki Daisy dan tidak ada orang lain yang boleh menyentuhnya.
Adam menghubungi pelayan untuk memberikan obat kepada istrinya.
Daisy tidak berniat makan malam di meja makan malam ini, kaki dan lengannya terasa nyeri, Daisy menghubungi pelayan dapur untuk membawakan makan malamnya ke kamar.
Setelah selesai menelepon tiba-tiba terdengar ketukan pintu, Daisy mempersilahkan masuk.
"Nyonya, Komandan memerintahkan untuk mengoleskan obat," ucap pelayan dan menyerahkan krim obat kepada Daisy.
"Baiklah, terima kasih," ucap Daisy setelah menerima obat tersebut.
Pelayan segera undur diri, dia diam-diam terkejut mendengar nyonyanya mengucapkan terima kasih kepadanya.
Daisy mengernyit heran memandang krim obat di tangannya.
Tumben Adam sangat baik, tapi baguslah, mengingat Adam yang seorang komandan militer dia memiliki akses untuk mendapatkan obat-obatan mahal yang pastinya manjur.
Daisy mengoleskan krim obat anti nyeri ke tubuhnya yang terasa pegal. Dia merasakan sensasi dingin saat mengoleskan obat pada kulit.
Tidak menunggu waktu lama, makan malamnya datang, Daisy segera menyelesaikan makan, setelah itu pelayan mengambil piring-piring kotor dari kamar.