Ia terjatuh, duduk lemas di atas tanah yang sekarang tidak mengetahui akan keberadaan tubuh pemuda itu di atasnya. Dengan kedua tangannya mengepal diatas kedua kaki yang tertekuk, mencoba menahan tangis yang tadi keluar.
Suara teriakannya yang nyaring terdengar diantara kedua makhluk kasat mata itu, menegaskan kebenaran dari keberadaan mereka berdua. Terutama untuk makhluk berjubah hitam yang sedari tadi hanya mengamati pemuda itu. Kini ia merasa yakin, nyawa pemuda itu telah terpisah dari tubuhnya. Benar, manusia yang masih terikat di dunia ini tidak akan dapat melihat dirinya.
Ia tidak beranjak sedikitpun, ketika pemuda itu masih menangis, meskipun sudah semenjak tadi ia telah menangis. Nampak pada raut wajah pemuda itu akan kesedihan dan kemalangan atas kematiannya sendiri. Mata biru jernihnya kini kehilangan cahayanya, digantikan dengan bayangan kesengsaraan. Air mata yang mengalir tanpa henti, seakan-akan air mata itu dapat memenuhi segala aliran sungai di bumi.
Dari arah padang yang jauh disana, sosok itu melihat seorang pemuda dengan perawakan tinggi tegap. Rambut sebahu yang menutupi kepalanya, jenggot yang mulai menumbuhi wajah tegasnya. Dilihat sekilas saja, pemuda yang sedang berjalan ke arah mereka itu terlihat mirip dengan pemuda saat ini masih terisak. Meski wajah mereka sama-sama memberikan kesan tegas, seorang begitu terlihat bersemangat dengan kehidupannya. Sementara seorang lagi, raut wajahnya begitu gelap.
Ia mendengar seseorang berjalan cepat dengan langkah yang kuat dan tegas. Ia menoleh ke arah suara rerumputan dan ranting pohon yang terjatuh dari atas pohon, ketika kedua kaki kuatnya menginjak dedaunan yang mengering dari ranting pohon yang terjatuh tadi. "Kakak," suranya yang serak memanggil sosok yang tengah berjalan itu.
Dengan penuh amarah, si kakak berjalan terus, hingga ia melewati mereka. Setelah kira-kira delapan langkah ke depan dari mereka, ia berbelok kekanan. Dengan cepat, menahan kepedihan hatinya, pemuda itu bangkit berdiri, lalu mengejar kakaknya sebelum. Ia menghilang di balik pepohonan di sana.
"Kenapa kakak melakukanya?" Tanya pemuda itu, sembari berjalan di belakang kakaknya, mencoba menyusul langkah kaki kakaknya yang cepat.
"Apa kesalahanku?" Tanyanya lagi. Meski kini air matanya tidak mengalir lagi dari kedua matanya, namun suara bergetar menahan tangisnya dapat terdengar jelas.
"Apa aku berbuat kesalahan?" Ia masih mencoba bertanya, seakan saudaranya itu dapat mendengar. Disela pertanyaan yang keluar dari mulutnya, sesekali ia berusaha menahan tangis yang masih tak dapat ia bendung.
Setelah beberapa lama berjalan, saudara laki-laki pemuda itu berhenti. Ia memejamkan kedua matanya untuk beberapa saat. Tubuhnya terduduk diatas tanah berselimut rerumputan setinggi mata kaki, sementara nafasnya yang sesaat teratur, kini kembali memburu. Matanya yang mulai memerah dan berair menyertai helaan nafas dalam dan panjangnya, seakan ia ingin mengeluarkan semua beban tubuhnya keluar dalam satu kali helaan nafasnya.
Setelah satu helaan nafas panjang itu, ia terisak, menangisi sesuatu yang sudah tiada. Ia menyesali perbuatanya pada saudara laki-lakinya. Akan tetapi, saat kematian melihat lebih dekat ke arah wajah pemuda itu, kematian melihat ia menarik sedikit ujung bibirnya ke atas, mengukir sebuah senyuman yang tak kentara pada kedua ujung bibirnya, tersamarkan oleh suara isak tangisnya. Menegaskan kesan puas pada dirinya. Masih dengan senyuman yang semakin kentara itu, ia melihat ke kedua telapak tangannya yang kasar dan penuh garis-garis diatasnya. Ia mulai berkata pada dirinya sendiri dengan suara lirih, "ya...itu aku..."
Kematian melihat, bagaimana seorang manusia bersandiwara dengan sangat elok, meskipun tidak ada seorangpun melihat.
Kedua saudara itu kini saling berhadapan satu sama lain. Sementara saudara laki-laki yang telah meninggal itu masih menangis meraung dihadapannya, ia tidak dapat melihat,mauoun mendengar ratapan pedih adiknya. Ia masih menangis, mengeluarkan air mata, sementara mulutnya sesekali tertawa. Ia menengadahkan wajahnya yang masih basah oleh air mata, lalu berkata,"Ya!" katanya. "Aku yang menghilangkan nyawa adiku!" Lalu ia kembali menundukkan kepala dan menagis kembali.
Tangannya yang kini telah bersih dari darah sang adik, ia angkat kedepan wajahnya,ia pandangi dalam dan lekat, lalu meringkih tertawa. Terlihat wajah kepuasan terukir jelas di wakahnya. Raut wajjah yang sedari tadi ia coba untuk disembunyikan.
"Lalu?" tanyanya entah kepada siapa. ia masih memandangi tanganya yang telah berlumur darah saudaranya. "Apakah aku harus menebus nyawa saudaraku dengan nyawaku?" tanyanya lagi.
"Siapa yang akan menjadi hakim di antara kami? Apakah kini saudaraku sedang melihatku dan meraung meminta nyawaku ganti nyawanya?" Tanyanya sembari mengalihkan mata ke atas langit dari kedua tanganya.
Mendengar sang kakak menguvapkan hal itu, wajah adiknya semakin sendu. Ia menggelengkan kepalanya, memberikan tanda bahwa ia tidak menginginkan nyawa saudaranya itu.
"Jika Kau membela adiku, siapa yang akan jadi pembelaku? Adilkah satu orang memiliki pembela sementara yang seorang hanya seorang diri? Itu bukan pengadilan yang adil!"
"Hanya tanganku yang berlumur darah saudaraku, tapi kenapa seluruh nyawaku diinginkan sebagai ganti?" Tanyanya, masih menyangkal kesalahan atas perbuatannya. "Kini, apakah seluruh dunia ini akan menjadi hakim diantara kami?
"Apakah dunia ini akan menjadi pembela adikku yang sudah mati, sementara aku tidak memiliki satu pun dan Kau menginginkan nyawaku sebagai ganti?" Ia berteriak merasa tidak adil.
Kematian kini melihat ada hal baru terjadi pada manusia. Ia yakin manusia diciptakan bukan untuk hal-hal seperti ini. Namun baru saja beberapa tahun ia melihat manusia, ia harus membawa satu nyawa dari dunia ini, dimana nyawa yang akan ia antarkan ke dunia orang mati justru mati tidak dalam damai.
"Apa yang akan terjadi padaku sekarang?" kata sang adik.
Ia bertanya pada kematian dengan wajah sendunya. "Apakah kau datang untuk membawaku pergi?"
Kematian yakin, ia sekarang sudah menyadari mengapa ia muncul dihadapan pemuda itu.