Restoran Auriga berdiri di lantai paling atas sebuah gedung kaca di pusat kota. Galang harus naik lift yang lebih bersih daripada rumahnya, ditemani musik klasik lembut dan pantulan dirinya sendiri di dinding cermin—kaus polo terbaik yang ia punya, celana yang sudah disetrika dua kali, sepatu kets yang sudah ia bersihkan semalaman tapi tetap kelihatan tua.
Pintu lift terbuka, dan dunia berubah.
Lantainya marmer putih bersih, memantulkan cahaya lampu gantung kristal. Meja-meja berbalut linen seputih salju, dengan gelas-gelas kristal yang berbaris seperti tentara. Dari jendela kaca dari lantai ke langit-langit, seluruh kota terhampar di bawah seperti permadani lampu. Galang berdiri sejenak, merasa kecil. Sangat kecil.
"Kamu Galang?" Seorang wanita muda berseragam mendekat. Name tag-nya bertuliskan "Maya — Hostess". "Pak Ardiansyah sudah menunggu di dapur. Lewat sini."
Mereka melewati ruang makan yang masih kosong—belum jam buka—lalu menembus pintu ayun ganda. Dan Galang terpana lagi, kali ini dengan jenis ketakjuban yang berbeda.
Dapur Auriga adalah dunia logam dan api. Stainless steel mengkilap di setiap permukaan. Deretan kompor dengan nyala biru sempurna. Rak-rak pisau yang tertata berdasarkan ukuran. Belasan koki muda dengan seragam putih bersih bergerak cepat dan presisi, masing-masing di stasiunnya sendiri, seperti orkestra yang sedang menyetel alat. Aroma kaldu yang dimasak berjam-jam, mentega yang meleleh, herba segar—semuanya bercampur jadi wewangian yang membuat perut Galang melilit, bukan karena lapar, tapi karena kagum.
Gerobak ayahnya bisa muat di sudut dapur ini dan tak akan ada yang sadar.
"Itu dia," kata Ardiansyah, muncul dari sisi ruangan. "Selamat datang di dapur Auriga. Ikut saya."
Mereka berhenti di depan satu meja kerja di mana seorang pria berdiri membelakangi mereka, sedang mengiris bawang bombai setipis kertas dengan kecepatan yang nyaris menakutkan. Bahunya tegap. Seragamnya putih sempurna tanpa satu noda pun. Bahkan dari belakang, ada aura dingin yang memancar darinya.
"Chef Reza," panggil Ardiansyah. "Ini anak yang saya ceritakan."
Pria itu berbalik. Wajahnya tampan dengan cara yang keras—rahang tegas, mata tajam yang seperti menilai dan menghakimi dalam sekali pandang. Usianya mungkin tiga puluhan akhir. Ia memandang Galang dari ujung sepatu sampai ujung kepala, dan ekspresinya tidak menyembunyikan apa pun.
"Ini?" kata Chef Reza. Suaranya pelan tapi tajam seperti pisau yang baru diasah. "Tukang nasi goreng gerobak?"
"Dia berbakat," kata Ardiansyah. "Saya mencicipi masakannya sendiri."
"Bakat." Chef Reza mengulang kata itu seakan ia menemukan serangga di sup. "Pak Ardi, dengan segala hormat, ini dapur bintang lima. Kita memasak untuk menteri, untuk pebisnis kelas atas, untuk kritikus yang bisa menghancurkan reputasi kita dengan satu paragraf. Bukan untuk tukang ojek di pinggir jalan."
Sesuatu mengeras di rahang Galang. Ia ingin bicara, tapi ia tahu tempatnya. Ia diam.
"Saya tidak minta pendapatmu soal cocok atau tidak," kata Ardiansyah, suaranya tetap tenang tapi tegas. "Saya minta kamu menguji dia. Kalau dia tidak becus, kamu yang putuskan dia pulang. Itu adil, kan?"
Chef Reza menyipitkan mata. Lalu ia menatap Galang langsung. "Kamu. Kamu pikir karena bisa bikin nasi goreng enak, kamu pantas berdiri di dapur ini?"
Galang menelan ludah. Tapi suaranya keluar mantap. "Saya nggak mikir saya pantas, Chef. Saya cuma mau buktiin masakan saya enak. Soal pantas atau nggak, biar makanan saya yang ngomong."
Untuk sepersekian detik, sesuatu berkelebat di mata Chef Reza. Mungkin terkejut. Mungkin geli. Lalu hilang lagi, ditelan dingin.
"Bagus," kata Chef Reza. "Kamu suka masakanmu ngomong. Kita lihat besok pagi. Datang jam tujuh. Saya kasih kamu satu ujian. Kalau gagal, kamu balik ke gerobakmu dan jangan pernah kembali. Kalau lolos..." Ia berhenti, seakan tak yakin ada kemungkinan itu. "...kita bicara lagi."
"Saya datang, Chef."
Chef Reza sudah berbalik, kembali ke bawang bombainya, mengakhiri percakapan tanpa kata. Ardiansyah menepuk bahu Galang dan menuntunnya keluar.
Di lift, sendirian, Galang menatap pantulannya. Tangannya gemetar—bukan karena takut, tapi karena adrenalin. Ia mengeluarkan ponsel butut dan menatap foto ayahnya yang ia jadikan wallpaper: Pak Hadi tersenyum lebar di samping gerobak Sari Rasa, sutil di tangan.
"Pak," bisik Galang. "Doain anakmu, ya."