Siang itu memang terasa damai dan sunyi, membuat diri Luna menurunkan penjagaannya. Tidak terpikirkan jika mereka akan terkejar atau dapat diikuti tanpa disadari.
Sebuah serangan bola api sihir seperti yang dimiliki Lunastira tiba-tiba jatuh dengan cepat dan mengakibatkan efek yang cukup hebat. Luna yang beberapa detik menyadari serangan itu sempat melompat mendorong Varel dan Fabio menjauh dari titik jatuh. Seandainya dirinya telat beberapa detik itu, mungkin akan lain ceritanya. Siapa gerangan yang begitu berani melontarkan serangan tanpa menahan kekuatannya? Lunastira melirik ke langit-langit. Ada sosok yang melayang turun di antara pepohonan.
Lunastira terbelalak saking terkejutnya melihat empat sosok di hadapannya yang telah turun menginjak tanah yang sedikit basah di sana.
“Halo, Luna....” Sosok bertubuh sedikit bongsor dengan familiar berwujud seperti rubah berdiri tegak di sampingnya.
Ketiga sosok lain berdiri beberapa langkah di belakangnya, ikut melambaikan tangan.
“Mo-Morgana!?” Air mukanya tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya. “Alyna ... Dirna ... Xerline? Kalian semua sedang apa??”
“Kami mengejarmu bodoh ...,” sahut Dirna kesal. “Kau tidak tahu betapa repotnya kami mengejarmu sampai sejauh ini....”
Morgana mengangkat tangannya ke samping, meminta Dirna menahan diri. “Justru kami yang harus bertanya padamu, Luna, kenapa kamu pergi jauh-jauh hingga ke sini?” tanyanya penasaran, dan terselip nada khawatir di sana. “Maksudku, apa yang kamu kejar sebenarnya?”
Lunastira bangkit, dan berdiri tegap dengan kedua kakinya yang terdapat beberapa goresan akibat lompatan yang ia lakukan tadi. Fabio memperhatikan punggung kecilnya, dan sesekali melirik ke empat gadis yang tampak cantik dan imut dengan cara mereka masing-masing. Sedang Varel terdiam, membisu dan hanya mendengarkan dengan saksama, apa yang terjadi di depan sana. Aivi melayang ke sisi kanan sang empunya, bersiap siaga seolah bentrokan akan terjadi.
“Ini tidak ada sangkut pautnya denganmu, Morgana, dan juga kalian,” jawab Luna datar. “Sebaiknya kalian pulang ke desa. Jangan mengikuti lagi!”
“Hmm ... kami inginnya sih seperti itu. Tapi....”
“Ibumu, Luna—Ratu Penyihir—ingin kami membawamu kembali ke desa,” sambung Morgana.
“Ratu mengkhawatirkanmu, Luna. Kembalilah,” Alyna berusaha membujuknya.
Luna menggeleng kepalanya, dia tahu itu tidak mungkin. Bagaimana mungkin seorang ibu yang tidak pernah ada untuk sang anak, akan khawatir ketidakhadirannya di sana. Tidak mungkin, tidak mungkin. Rasa gejolak dalam dirinya mengacaukan hati, membutakan kenyataan.
“Aku ... tidak percaya. Dia—Ratu, tidak akan khawatir sedikit pun denganku.”
“Kalau dia tidak khawatir, dia tidak mungkin menugaskan kami, bukan?” balas Alyna. “Ayolah, Luna. Kamu tahu sesungguhnya, kan. Kami di sini atas permintaan Ratu Arisia, membawamu kembali ke desa.”
“Dengan segala cara jika dibutuhkan, untuk membawamu Luna....” lontar Dirna.
“Diamlah, Dir,” kata Alyna sedikit kesal. “Iya, apa pun jika memang dibutuhkan untuk membawamu kembali, kami tidak akan segan melakukan segala cara. Jadi kembalilah, dengan cara baik-baik. Tidak perlu ada kekerasan.”
“k*******n?!” kata Luna geram. “Kalian lah yang lebih dulu menyerangku, melemparkan bola sihir ke arah kami—ke arah teman-temanku!”
Morgana dan semua yang ada di sana terkejut Lunastira mengatakan kata “teman” itu. Mereka mengenal Luna sebagai penyendiri, dan tidak mengenal yang namanya pertemanan. Dan kini, tanpa diduga dirinya mengatakan itu.
Hal yang sama dirasakan Varel dan Fabio. Rasa senang yang menghangatkan hati mendadak mereka rasakan, ketika Luna mengatakan hal itu, seolah sesuatu pertanda baik terjadi pada mereka.
Tanah bekas yang menghitam akibat serangan sihir bola api mengeluarkan asap kelabu yang membumbung dan beraroma hangus. Udara di sana mulai berat semakin lama aura di antara dua kubu itu bersitegang.
Fabio berdiri dengan bertumpu pada kedua kakinya, sambil bersiap memegang pangkal pedangnya. Lunastira dan Aivi dengan siaga bersiap menyerang dan melindungi Fabio dan Varel di belakangnya.
“Kita tidak harus melakukan ini, Luna. Kami tidak ingin ada yang terluka.”
“Melakukan apa, Alyna? Melakukan ini?”
Lunastira mengambil langkah terlebih dahulu dari mereka, sehingga membuat Morgana dan kawan-kawan sedikit terkejut. Tapi Morgana yang cukup mengenal saingannya itu sejak kecil, tahu cara berpikirnya, dan membuat dia mampu menangkis serangan berelemen air yang dilayangkan kepadanya.
“Cih!” Luna kesal melihat Morgana menangkis sihirnya itu.
“Luna, kalau kamu memang melakukan ini, baiklah. Sepertinya tidak ada pilihan lain selain dengan cara paksa.”
Morgana melompat lari begitu cepat ke arahnya, tapi masih dihindari oleh Luna. Dalam seperkian detik, mereka saling memandangi. Fabio melempar Varel menjauh, dia melepaskan pedang pendeknya dari sarung kulit yang diikat di pinggang. Dirna dan Xerline ikut bergerak bersama familiar mereka, Alyna sedikit kecewa harus mengambil jalan paksa.
Dixy dan Locos menyergap Aivi dan memisahkannya dari Luna.
“Aivi~!” panggil Locos manja. “Ayolah ... menyerah saja. Jangan sampai aku dan Kina melukaimu. Kamu temen favorit kami Aivi.”
“Haha, maaf saja, Locos. Tapi itu tidak bisa. Tahu sendiri kan tugas kita sebagai familiar?” Mereka saling memandang sambil berputar menjaga jarak di antara mereka.
“Melindungi empunya walau itu berakhir tidak baik!” Seru mereka hampir bersamaan.
“Benar,” sahut Dixy. “Oleh karena itu, sebaiknya kita tidak usah ikut campur urusan mereka. Dan, aku yakin kamu tidak tahu apa yang empunyamu lakukan, Vi, iya kan?”
Aivi mengernyitkan alis. “A-Apa maksudmu?”
Di sisi lain, Morgana dan Dirna menyerang bergiliran ke arah Luna. Sihir elemen api dan sihir elemen tanah milik mereka saling melebur dan menyatu menciptakan sihir fusi antara dua elemen itu; hasil sihir itu menciptakan sihir magma yang menyemburkan lava yang mendidih disertai tanah-tanah yang mengeras, sehingga memberikan efek serangan yang begitu hebat kita diarahkan pada Luna. Dengan cepat, ia juga berpikir sambil terus menghindari serangan untuk menangkal dan menahan serangan dari teman kecilnya itu.
Xerline dan familiarnya Kina kebagian Fabio dan Varel yang dilindungi di belakangnya. Xerline yang memiliki postur tubuh ramping, membuatnya dapat bergerak ke sana kemari dengan cepat dan lihai bagai tupai seperti familiarnya itu. Serangan akar-akar tebal yang dia lontarkan masih bisa ditebas oleh Fabio dengan pedang berukuran pendek dan sudah berkarat yang dibawanya dari gerombolan bandit.
Varel di belakang sana terus mundur semakin mundur terdorong oleh tubuh Fabio yang menahan serangan di depannya. Mereka akhirnya terpojok ke sebuah batu berukuran besar.
“Kita sudah terpojok, Fabio. Apa yang harus kita lakukan?”
Fabio masih menebas akar-akar yang menyerangnya, dia menurunkan penjagaannya untuk melirik ke belakang. Namun sayang, itu adalah kesalahan. Kina memanfaatkan itu untuk melompat ke kepala Fabio dan menyakar mukanya.
“Sekarang!” Xerline melafalkan sihirnya, dan menepuk kedua tangannya kemudian ke tanah. Akar-akar dari balik batu besar itu merambat, dan semakin cepat hingga keluar makin banyak yang mampu mengangkat batu besar yang seukuran hampir dua bison liar.
“Ap--!” Fabio tubuhnya tidak mampu bergerak, kedua tangan dan kakinya terikat akar-akar yang merambat ke sekujur tubuhnya, membuatnya tidak mampu mengerakkan pedangnya yang ada di tangan kanan.
Kina melompat kembali ke arah sang empunya. Wajah fabio dipenuhi bekas cakaran di sana-sini.
“Hey, Nona!” panggilnya. “Apa-apaan ini?! Lepaskan kami! Tolong....” Xerline hanya diam sambil berjalan mendekati. “Setidaknya lepaskan dia, lepaskan Varel. Kesian dia.”
Varel juga tidak bisa bergerak sama sekali, tubuhnya perlahan mati rasa karena ikatan akar merambat itu kuat di beberapa bagian tubuhnya.
Alyan menghampiri. “Lepaskan dia, Xerline. Ada yang ingin kutanyakan pada bocah buta itu.” Xerline mengangguk mengerti.
Akar-akar tipis itu terlepas pada tubuh kecil Varel, dia jatuh tersungkur ke tanah. Akar-akar lain masih meliuk dan merambat di sekitar, bahkan batu besar masih terangkat cukup tinggi di belakangnya.
“Hey, hey, kau ... siapa kau sebenarnya?” tanya Alyna sambil mengangkat tubuh Varel.
Tapi karena tubuh Varel mengalami syok, membuatnya menyerang dengan belati yang selalu ia genggam sejak tadi. Belati itu hampir menyayat pergelangan tangan Alyna, tapi berhasil ia hindari. Untuk menghindari serangan yang tidak diinginkan, Alyna membekukan tangan yang memegang belati itu.
Fabio tampak terkejut melihat tiba-tiba ada es yang membeku di tangan Varel. “Ba-Bagaimana mungkin? Di sini kan tidak air?”
Alyna meliriknya. “Aku tidak punya waktu menjelaskannya, jadi diamlah sejenak.”
“Apa yang kau inginkan?” tanya Varel lirih. “Apa yang kau inginkan, hah?!”
Alyna menatap bocah berwajah polos di hadapannya. “Justru aku yang harus bertanya seperti itu. Apa yang kalian inginkan dengan Luna? Kenapa kalian bersama? Apa kamu pendonor yang dibutuhkannya?”
Fabio dan Varel jelas merasa bingung dan bertanya-tanya apa maksud gadis itu.
“Kalian pergi sejauh ini dan tidak tahu apa yang kalian lakukan?” celetuk Archie. “Ya ampun, apa kalian bodoh atau kalian terkena sihirnya Luna?”
“Ap-Apa maksud kalian sebenarnya?” Varel kembali bertanya.
Alyna dan Xerline saling menatap penuh kebingungan. Tampaknya dua pemuda itu tidak mengetahui rencana Lunastira.
Sementara itu, Lunastira mulai kewalahan menghindar dan menyerang di saat bersamaan. Apalagi energinya sejak awal tidaklah sepenuhnya baik, dan kini menghadapi dua penyihir sekaligus dengan kekuatan yang berada di atasnya.
Dan benar saja, dirinya karena kewalahan dia membuat salah gerakan hingga membuatnya tersungkur ke tanah.
“Menyerah sajalah, Luna!” Morgana dan Dirna menodongkan sihir mereka masing-masing.