Fajar mulai naik. Matahari oranye kemerahan terang telah memancarkan sinarnya di langit biru. Bumi-bumi pun merangkak bangkit mencari kehidupan untuk hari ini. Serangga-serangga kecil dan berbentuk aneh mengeluarkan suara decit-decit nyaring, atau juga burung-burung berbagai ukuran dengan bulu-bulu indah mereka bertengger dan berkicau menyambut hangatnya mentari.
Tapi di desa penyihir barat, Noirciri, begitu suram dan kelabu akibat kabut pagi yang sering hadir setiap paginya. Cahaya mentari menyelinap di beberapa titik, memberi sedikit kehangatan untuk bumi di sana. Hampir tidak tampak penduduk yang sibuk di pagi hari seperti di tempat lain, di sini pada pagi hari lebih mirip kuburan atau desa yang ditinggal oleh penghuni mereka.
Beberapa jam kemudian, kiranya pukul 8 pagi barulah setelah kabut menipis dan perlahan menghilang, para penduduk desa mulai menampakan diri keluar dari kediaman masing-masing. Aroma segar begitu tipis di sana, kalah dengan bau-bau dari kubangan air yang ada. Namun, tanaman-tanaman yang tubuh di air dekat mereka, setiap paginya sering memancarkan aroma harum layaknya aroma musim dingin bertemu aroma musim gugur yang membuatnya begitu tidak biasa bagi para tamu itu. Para penduduk sibuk seperti sedia kala, melakukan berbagai macam aktivitas yang biasa mereka lakukan. Tapi ada yang berbeda, yang tidak disadari Lunastira dan kawan-kawan.
Di kediaman Ratu Penyihir. Sang Ratu sedang duduk tegap anggun dan penuh wibawa di atas singgasananya. Di hadapannya Kara bersama beberapa penyihir-penyihir berjubah hitam dengan penutup kepala dan wajah yang berwarna senada. Mereka menunduk dan berlutut memberi hormat pada sang Ratu.
“Nyonya!” kata Kara hormat. “Kami telah siap akan perintah Anda. Tinggal Anda katakan pada kami, dan akan segera kami laksanakan.”
“Bagus,” sahutnya senang. “Kara, persiapkan anak buahmu untuk berada di posisi strategis ketika tamu agung kita itu datang. Dan akan aku berikan tanda yang kau mengerti untuk bergerak.”
“Iya, siap, Nyonya.”
“Dan untuk gadis-gadis itu dan bocah buta, kau perintahkan mereka untuk tidak keluar sampai Arisia benar-benar datang menjemput mereka, mengerti? Aku tidak ingin semuanya berantakan karena mereka.”
Setelah memberi hormat, mereka dengan cepat menghilang bagai bayangan. Semua ke posisi yang sudah ditentukan. Sang Ratu menggenggam lengan kursi singgasananya yang nampak seperti kepala serigala, begitu kuat genggamannya membuat ekspresi pada wajahnya tidak dapat dihindarkan. Matanya meletot bagai api biru yang berkobar. Senyuman bibir bergincu hitam keunguan bagai lidah ular berbisa, menggertakkan gigi hingga senyuman menyeringai tidak kuasa ia tahan.
“Arisa, datanglah padaku,” desahnya pada diri sendiri.
Kara bagai kilat hadir begitu saja di depan pintu pondok kamar para tamu. Mengetuk tiga kali sampai salah satu dari mereka membukakan pintu. Xerline lah yang membuka pintu. Kara melempar senyum pada gadis itu, tetapi sama sekali tidak dibalasnya karena senyuman yang diberikan Kara tampak seperti senyuman tidak ikhlas dan mengejek.
Kara masuk, suara sepatu bot dengan hak tinggi terdengar mendengur melangkah di atas lantai kayu tua. “Selamat pagi, gadis-gadis, Pangeran,” salamnya. “Bagaimana tidur kalian? Nyenyak? Semoga nyenyak ya, hehe.” Mereka menatap dan memandangi aneh pelayan dari tuan rumah itu. “Hmm, baiklah, tampaknya kalian tidak senang. Ah, aku tahu. Sarapan belum disediakan ya? Dasar gadis-gadis bodoh, membiarkan tamu kita kelaparan, hehe. Akan aku hidangkan makanan khas desa Noirciri untuk kalian.”
Kara memperhatikan tamu-tamu itu yang nampak menjaga jarak dan berhati-hati, seolah sesuatu telah diketahui. Ia berusaha tetap tenang, dan bersikap seperti biasanya. Kara segera memanggil para pekerja yang bertugas menghindangkan makanan untuk Ratu, yang juga ditugaskan untuk menyediakan segala kebutuhan, termasuk makanan, untuk para tamu-tamu spesial sang Ratu.
Beberapa waktu yang lalu, saat kabut masih pekat mengambang mengitari desa. Para gadis-gadis penyihir telah bangun, karena jadwal tidur mereka yang biasa membangunkan mereka pukul setengah 7 pagi tapi di sana ternyata belum ramai dan nampak sepi hanya ditemani kabut kelabu. Lunastira mengungkapkan sesuatu yang ada di pikirannya sejak malam, menyampaikannya dan meyakinkan yang lain untuk percaya akan sesuatu akan terjadi pada hari ini.
“Kau yakin begitu, Luna?” tanya Morgana, yang duduk menyilangkan kaki di ranjang.
“Iya, aku yakin akan hal itu. Yaaa memang tidak dapat dikatakan seratus persen, tetapi aku tidak percaya dengan semua omong kosong di desa ini,” ungkap Lunastira melanjutkan. “Segala keanehan dan kemisteriusan pada desa ini tidak bisa kita singkirkan. Entah dengan kalian, tapi dulu sekali aku pernah ingat membaca buku catatan mengenai setiap desa. Dan apa yang ditulis di buku itu mengenai desa ini bisa dibilang cukup akurat. Pada salah satu halaman juga mengatakan seperti ini: ‘Desa yang dipenuhi aura kegelapan tanpa dirasakan kegelapan. Aroma busuk berbau manis. Tingkah laku angkuh, senyum dingin menawan. Akar-akar tumbuhan mengisap sihir. Setan berbulu manusia mengenakan tengkorak rusa.’ Itu dengan jelas mendeskripsikan desa ini, bukan? Juga tentang sang ratu.”
Alyna dan Morgana duduk termenung berpikir. Xerline berdiri menghadap luar jendela memperhatikan keadaan sekitar. Sedang Dirna tampak melongo mendengar Luna hafal dengan isi buku yang sudah lama baca itu.
“Hmm, aku percaya dengan apa yang dikatakan Luna,” kata Alyna setelah beberapa saat merenung. Yang lain langsung memperhatikan. “Dari sisa tiga Ratu Penyihir yang ada, setelah Ratu Penyihir dari Timur gugur beberapa puluhan tahun lalu. Di antara Ratu Penyihir yang pernah kutemui, hanya Ratu Arisia lah yang nampak masih murni. Ratu Tirana—Ratu Penyihir dari Utara adalah ratu yang begitu kejam serta penindas, aku ... sangat merasakannya ketika aku hidup di bawah pengawasannya. Dan Ratu Arisa, jauh jauh lebih baik darinya. Sangat begitu berbeda yang kualami saat di desa utara. Sedang Ratu Penyihir di sini? Aku tidak tahu namanya, tapi jelas-jelas ia menyembunyikan sesuatu, bukan? Sejak awal kita menginjakan kaki di ruang singgasananya itu sudah begitu terasa aura kegelapan yang menyelimutinya.”
“Memang begitu, tapi kita tidak bisa sepenuhnya berpikir begitu, kan? Tidak bisa menilai seseorang dari luarnya?”
“Walaupun begitu, tetap saja, Xerline. Ratu ini tampak mengerikan,” balas Dirna. “Apalagi seperti kata Alyna dan Luna, semua yang ada di sini begitu kelam misterius. Benar-benar seperti mereka merahasiakan sesuatu pada kita.”
“Apa pun yang terjadi bersiaplah,” ucap Morgana akhirnya. “Kita harus tetap siaga di sini, karena kita memang ada di sarang musuh. Jadi, tidak salah jika kita memang harus siap dengan segala kemungkinan yang akan menanti kita nanti.”
Semua mengangguk mengerti, begitu juga dengan familiar mereka yang duduk atau berbaring saling berdekatan. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi hari itu, yang pasti mereka harus mempersiapkan diri. Pangeran Varel yang sejak tadi masih berbaring dan dipikir masih terlelap tidur, ternyata mendengarkan pembicaraan mereka. Dan barulah setelah selesai, ia bangkit dari ranjangnya. Sampai pukul 8 pagi, mereka hanya membicarakan berbagai hal bak nostalgia pagi.
***
Sarapan sederhana yang disediakan telah habis oleh mereka. Roti kering serta sup sayuran hijau dengan kentang tumbuk. Untuk rasa tidak bisa dikatakan lezat dan mewah, tapi karena perut mereka yang kosong dan kelaparan membuat makanan tersebut dapat dinikmati. Awalnya, Morgana jujur saja kepada Kara ketika makanan tersebut dibawa ke hadapan mereka, mengenai apa makanan tersebut beracun atau tidaknya. Dan untung saja memang tidak ada racun di dalamnya seperti apa yang dikatakan Kara kepada mereka.
Tidak lama, Kara merasakan tingle yang merambat cepat dari pundak hingga ke ubun-ubunnya. Ada yang mendekat ke desa Noirciri, tampaknya para tamu-tamu istimewa sudah hampir sampai.
Ratu di singgasana, menyeringai lebar mengerikan. “Akhirnya, akhirnya engkau tiba juga Arisia.”
Lunastira dan Morgana serta yang lain dengan samar-samar merasakan energi dan aura yang begitu besar mendekat, sebuah sensasi yang tidak asing bagi mereka. Namun karena efek dari sihir yang menyelimuti desa ini, membuat mereka tidak menyadari sepenuhnya siapa gerangan tersebut.
Di luar area hutan dimana desa Noirciri berdiri, sebuah belasan hingga puluhan lesatan bagai kilat pelangi mengarah cepat. Di pimpin cahaya putih dengan pelindung layaknya jubah pelangi.
Hanya dalam hitungan detik, sebuah suara dentuman jatuh ke tengah tanah lapang desa penyihir itu. Diikuti beberapa dentuman lain yang turun di dekatnya. Selimut pelindung pelangi itu seketika hilang kembali menjadi pecahan energi alam. Sosok berjubah putih dengan gaun putih keemasan berdiri dengan gagah dan anggunnya. Dia adalah Ratu Arisia.
Lunastira dan yang lain langsung membuka pintu dan keluar, mata mereka silau dengan cahaya-cahaya dari selimut pelangi itu. Selimut pelangi adalah sihir transportasi para penyihir yang dulu sering digunakan, tapi karena sihir tersebut begitu mencolok mereka tidak lagi digunakan dan lebih memilih sapu sihir, walaupun sihir tersebut jauh lebih cepat dari sapu sihir itu.
Gadis-gadis penduduk desa melihat dan memandangi sosok agung serta anggun itu. Cahayanya begitu kemilauan ketika mendarat begitu memanjakan mata, tidak silau sakit tapi terasa adem ketika cahaya terpantul ke mata. Bahkan Kara pun sempat terpesona dengan apa yang dilihatnya itu, tapi suara langkah berat dari Nyonya-nya menyadarkannya.
Ratu Penyihir dari Barat melangkah turun dari kediamannya. Mengenakan pakaian serba hitam, yang menyerupai bulu-bulu gagak atau bahkan menyerupai mata pisau hitam yang mengkilap ketika terkena sinar matahari pagi menjelang siang itu. Mahkotanya yang nampak memberikan kesan angkuh dan tinggi tersebut, membuatnya seolah tidak mungkin dikalahkan begitu saja oleh para lawan-lawannya. Seperti halnya di daerah Barat dan sekitarnya, jika rusa dan tanduknya melambangkan sebuah kekuatan yang tinggi nan suci, tapi sebagian lainnya mengatakan mereka adalah sebuah pertanda keagungan yang mengharmonisasikan kegelapan dan kesucian dalam alam.
“Arisia! Kau terlihat cantik sekali,” sambutnya. “Sudah lama sekali kau tidak berkunjung kemari. Indah bukan tempat ini? Tidak berubah.”
Ratu Arisia memandangi sekitar, untuk melihat suasana desa namun sekaligus mencari Lunastira dan yang lainnya. Bola mata birunya yang sama seperti sang putri itu menangkap secercah harapan. Sang putri bersama di belakangnya Morgana, Xerline dan Dirna tampak hadir dengan lengkap, serta sosok bocah laki-laki muda yang berdiri di belakang Luna. Kemudian dengan cepat pandangannya kembali teralihkan oleh tuan rumah.
“Hmm, jiwa keibuanmu begitu kuat ya, Arisia.”
“Apa maumu sebenarnya mengundangku ke sini?” tandasnya.
“Sepertinya kamu tidak ingin basa-basi ya. Aku suka itu, Arisia. Kau selalu begitu sejak dulu, dan aku menyukainya,” ungkap Ratu Penyihir dari Barat. “Tapi, sayangnya sifatmu jugalah yang menjadi alasan ku membencimu.”
Mata mereka saling menatap, mengeluarkan aura berat menyertai diri mereka. Dalam hitungan detik, matanya melirik ke arah rombongan gadis penyihir yang dibawa oleh Ratu Arisia. Kemudian tangan kanannya diangkat cepat, melemparkan sihir kilat yang memancar dari titik pusat telapak tangannya. Namun masih dihentikan oleh salah satu pendamping Ratu Arisia, bahkan sang Ratu sendiri sama sekali tidak bergerak walau serangan itu persis mengarah ke arah wajahnya.
Ratu Penyihir Barat hanya menyeringai, dan langsung bergerak melompat maju. Gerak lengan kirinya diangkat, dan Kara serta yang lain mengerti. Para penyihir desa yang mampu “bertarung” bergerak siap, dan yang tidak mampu alias para gadis-gadis sahaya pergi menghindari benturan antara dua kubu tersebut.
Kara dan pasukan khususnya bergerak bagai bayangan seperti ciri khasnya. Lunastira dan yang lain begitu kaget terkejut dengan apa yang sedang terjadi di hadapan mereka, semua terjadi begitu cepat. Mereka pun menyadari keanehan-keanehan yang mereka bicarakan sebelumnya, ternyata adalah ini.
Tiga pendamping utama Ratu Arisia maju menghadapi tuan rumah yang bergerak langsung ke arah ratu. Mereka memberikan serangan sekaligus perlindungan untuk ratu. Sihir tanah, es dan bunga-bunga dikeluarkan oleh mereka. Ratu Penyihir Barat yang masih memusatkan energi petir dan kilat pada tangannya melontarkan serangan dengan cepat dan tepat. Namun tanpa diprediksi oleh gadis-gadis pendamping adalah serangan dari arah kiri, dimana tangan kirinya mengeluarkan sebuah sihir pembentuk berelemen petir yang membentuk pedang yang begitu tajam. Serangan tersebut menembus dinding perlindungan dan menghempaskan mereka.
Kemudian banyak lagi gadis-gadis penyihir yang melompat menyerangnya, tetapi para gadis dari pihaknya dengan tepat waktu berhasil menahan giliran serangan itu. Sehingga membuat Ratu Penyihir dari Barat itu dengan percaya dirinya melaju ke arah Ratu Arisia. Meski pakaiannya begitu tebal dan panjang, tidak menghalangi mereka untuk bergerak gesit dan sigap.
Lunastira sendiri dan yang lain pun mengikuti alur bentrokan yang terjadi. Semuanya berbagi tugas. Morgana sendiri ikut membantu Ratu Arisia bersama dengan Lunastira yang di belakangnya Varel mengikuti. Namun Kara tiba-tiba melompat turun ke arah mereka setelah menghabisi empat gadis penyihir sekaligus.
“s****n!” ucap Morgana melihat para gadis yang dihabisi oleh Kara itu.
Kara tertawa mengejek. “Penyihir-penyihir Selatan memang lemah, sama seperti kalian,” ejeknya sambil melangkah pelan-pelan ke sana kemari. “Morgana, apa kau mau rematch denganku?”
Alisnya terangkat, dan dengan cepat juga menyipit. “Hehe, senang kau menawarkannya, Kara.” Lunastira menggenggam lengannya, ia menoleh. “Aku mengerti, Luna. Tapi biarkan aku berhadapan sebentar dengannya, biarkan aku selesaikan urusanku dengannya. Kau dan Pangeran pergi terlebih dulu. Lindungilah Ratu, lindungilah ibumu, Luna!”
Morgana mendorong Lunastira untuk bergegas. “Berhati-hatilah, Morgana!” ucap Lunastira. Morgana hanya tersenyum kecil, mendengar rivalnya mengucapkan hal macam itu.
Lunastira bergegas menuju sang ibu. Tangan kanannya menggengam lengan kiri Varel. Pada tangan kiri, ia melontarkan serangan juga perlindungan bagi mereka. Aivi pun ikut memberi bantuan.
Moona—familiar Ratu Arisia berhadapan dengan Dageon. Mereka beradu kekuatan fisik dan sihir mereka di sisi lain sang empunya yang juga bertarung bagai dua kilat yang saling beradu di langit mendung.
Ratu Arisia menangkis dan menghindari serangan cepat dari lawannya. Nampaknya Ratu Penyihir Barat begitu mulus melancarkan serangannya, seperti ia tahu gerak-gerik musuh yang dihadapinya. Mungkin karena mereka pernah saling mengenal dan (mungkin) akrab, membuat mereka dapat saling memberikan dan membalas serangan masing-masing.
Namun satu gerakan fatal dibuat Ratu Penyihir Barat ketika menghindari dari serangan balik yang diarahkan kepadanya. Sebuah sihir cahaya, yang dibentuk menjadi bentuk cakram pada kedua tangannya hampir mengenai kepalanya. Tetapi itu adalah siasat. Serangan balik tanpa diduga dilakukannya dengan sihir hitam yang menyerupai sihir milik Kara.
Sihir hitam itu ada di kedua tangannya bagai gumpalan hitam. Ratu Arisia terlihat terkejut dengan apa yang digunakan lawannya itu. Wajahnya seolah berkata, jika dia tahu kalau ini akan terjadi terhadapnya.
Serangan sihir hitam dan sihir cahaya kemudian beradu dengan cepat, keduanya adalah sihir serangan oleh karena itu membuat mereka tampak seimbang. Sebuah gelombang kekuatan hebat dari kekuatan sihir mereka mengembang bagai gumpalan cahaya dan kegelapan yang menyatu menciptakan keindahan yang mengerikan.
Lunastira yang berada beberapa meter dari posisi ibunya itu menyaksikan dan merasakan sebuah kekuatan yang begitu dahsyat. Baru kali ini ia menyadari jika kekuatan ibunya memang begitu besar.
Tidak disadari, gelombang sihir itu menjadi liar dan melompat ke sana kemari bagai kilat menyambar sekitarnya. Dan salah satunya mengenai Lunastira. Ratu Arisia sadar dengan itu menurunkan penjagaannya, hingga dirinya terdorong dan terhempaskan oleh sihir hitam itu.
Ibu dan anak terkapar di tanah akibat kekuatan gelombang sihir yang beradu tersebut.