Rhea tidak bermaksud memikirkannya malam ini.
Ia punya tiga tugas yang belum selesai, kulkas kos yang isinya hanya tahu dan minuman kemasan, dan alarm yang harus disetel ulang supaya tidak telat kelas pagi. Banyak hal yang lebih penting untuk dipikirkan.
Tapi kemudian ponselnya berbunyi... notifikasi dari grup lama, nama grup yang sudah lama ia biarkan saja tanpa ia baca dan tanpa sadar ia mengusap layarnya. Dan di sana, foto itu muncul.
Foto bertiga. Di kantin SMA. Felly monyong sambil megangin gorengan. Kirana tersenyum ke kamera dengan buku catatan masih di tangan. Dan Rhea... Rhea ketawa sampai keliatan semua giginya, tidak tahu bahwa di meja tidak jauh dari sana, seseorang sedang memperhatikan ke arah mereka.
Seseorang yang pada waktu itu belum ia kenal namanya dengan benar. Rhea meletakkan ponsel menghadap bawah.
Di luar jendela kamar kosnya, hujan turun pelan ... bukan deras, hanya cukup untuk membuat malam terasa lebih panjang dari biasanya. Secangkir teh yang sudah dingin duduk di meja kecil di sampingnya, terlupakan sejak tadi. Ia duduk diam, menatap langit-langit.
Dan pikiran itu datang juga, seperti selalu...meluncur ke belakang, menembus waktu, kembali ke koridor sekolah yang berbau kapur dan pel lantai basah, ke seragam putih abu-abu yang dulu terasa biasa saja tapi sekarang terasa seperti milik orang lain.
Ke pagi-pagi yang sederhana. Ke tawa yang mudah. Ke masa sebelum ia tahu bahwa beberapa hal tidak bisa dikembalikan ke tempat semula. Rhea memejamkan mata.
Ia ingat betul bagaimana semuanya dimulai. Dan ia ingin... hanya malam ini...membiarkan dirinya ingat.
~FLASCBACK MASA SMA~
Hari ini koridor sekolah masih sepi, menandakan bahwa hari baru saja dimulai. Jam-jam di dinding kelas-kelas berdetak memecahkan keheningan dan menimbulkan hawa-hawa yang mencekam disana.
Pagi ini Rhea berangkat lebih awal ke sekolah. Karena apa saudara-saudara? Yaps seperti kebanyakan siswa-siswi lainnya akan berangkat pagi jika pertama ada tugas mendadak yang belum dikerjakan dan harus segera dituntaskan. Ehh tapi kalau ini tidak mungkin karena kan Rhea siswi cerdas. Yang kedua ya karena bertugas piket. Nah ini baru bener alesannya.
"Pagii Bro!" tegur Rhea sambil melakukan tos tangan pada Adit rekan piket sekaligus rekan sebangkunya, yang ternyata berangkat lebih dulu dari Rhea
"Ehh pagi juga, wes teko tah, tumben (eh sudah datang, tumben)!" Jawab Adit sambil membalas tos dari Rhea.
“ya kan aku piket, mengko koe nanges yen aku ora mbantu ( nanti kamu nangis kalau aku tidak bantu)” Ucap Rhea Jika bicara dengan Adit Rhea memang sering menggunakan bahasa Jawa. Namun, bukan bahasa Jawa Halus (kromo) alias dengan kata-kata yang sering digunakan secara umum dikehidupan sehari-hari. Ya kebetulan juga Adit juga satu suku dengan Rhea.
“ya udah mana yang belum dipiket” ucap Rhea sambil memegang sapu ditangannya.
“ Itu tuh..” Jawab Adit sambil menunjukkan bagian mana yang belum dipiket.
Setelah itu, beberapa siswa yang bertugas piket bersama telah datang. Disusul dengan siswa lainnya yang mulai berdatangan satu persatu. Tidak lama kemudian sahabat Rhea yaitu kirana dan fellypun tiba. Mereka bertiga memang sekelas sejak kelas X sampai nanti kelas XII.
“Widih, piket nii yee..pantes pagi bener datengnya” Colek felly pada Rhea disusul senyum anggun dari kirana akibat celoteh sahabatnya. Jam dinding menunjukkan pukul 07.15 artinya pembelajaran didalam kelas akan segera dimulai. Adit mengulurkan tangan kepada Rhea dengan sesuatu diatasnya tanpa mengatakan apapun.
“ehh... tau aja lo dit” sambut Rhea dengan senyum lebarnya menerima pemberian Adit yang ternyata 4 buah permen.
“Aku loh temen yang baik paham toh aku” tambah Adit sambil tersenyum bangga.
“ tapi jangan langsung di hab....bisin” ucapan Adit sedikit terjeda karena ternyata permen pemberiannya sudah ludes semua di mulut Rhea.
“Sorry, udah kukunyah kabeh (semua)” jawab Rhea sambil masih mengunyah permen dimulutnya.
“Oo...dasar Gilingan” Timpal Adit dengan nada sedikit kesal.
Begitulah keakraban Rhea dan Adit sebagai teman sebangku dan sudah menjadi rutinitas Adit setiap hari untuk membawakan Rhea permen.
Tapi, bukan karena Rhea yang meminta, Namun itu memang atas inisiatif Adit sendiri. Karena ia tahu kalau Rhea orang yang mudah bosan sehingga seringkali ia tidak fokus dalam belajar. Tapi herannya setiap kali ujian nilainya masih bisa lebih tinggi dari Adit.
Tak lama kemudian, bel pun berbunyi. Tanda bahwasanya jam istirahat telah datang. Anak-anak dikelas sudah mulai gaduh untuk merencanakan waktu istirahatnya akan dipakai untuk apa. termsuk Adit yang langsung bergegas bergabung bersama teman laki-lakinya yang lain.
“Ree yuk kekantin” ajak Felly disusul Kirana yang membawa sebuah buku catatan ditangannya.
“Gass” jawab Rhea singkat.
Sesampainya dikantin tiga serangkai itu langsung memesan makan dan minuman. Bak orang belum pernah makan sebelumnya, Rhea langsung menghabiskan 4 buah gorengan sekali duduk Maklum masa pertumbuhan.
Rhea memang memiliki nafsu makan yang tinggi namun badannya tidak pernah gemuk, mungkin dikarenakan setelah pulang sekolah ia banyak membantu neneknya dengan berbagai aktivitas yang cuku menguras tenaga.
“Buset Re..belum pernah makan lu” ucap Felly sambil memegang satu gorengan yang belum habis karena memperhatikan Rhea.
“Ah elah laperr aku, tadi pelajaran sejarah habis itu mtk” balas Rhea.
“Cepet habisin tu gorengan keburu ku samber entar” tambahnya.
“Oh tidak bisa” ucap felly sambil menutupi gorengan yang ada diwadahnya.
Diantara obrolan kedua orang itu yang saling memperebutkan gorengan, ada orang yang sangat tenang dan tetap fokus membaca buku catatan ditangannya sambil juga mengunyah makanan namun dengan perlahan dan anggun.
Siapa lagi kalau bukan seorang Kirana, sambil sesekali ia merapikan rambut sampingnya yang terurai kebelakang telinga agar tidak mengganggu.
“coba taruh dulu bukunya, ndak ndak kalau kau berhenti baca buku sebentar itu rumus-rumus langsung ilang dari kepala lo” tambah felly Kirana pun akhinya meletakkan sejenak buku catatannya.
Tidak berselang lama saat mereka sedang asik menikmati santap siangnya, tiba-tiba segerombolan cowok dari kelas sebelah pun melintasi mereka dan duduk tidak jauh dari Rhea dan teman-temannya.
Segerombolan pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah geng dari Arjuna Sektiya atau akrab dipanggil Juna. Dimana mereka berada pasti akan mengundang perhatian orang disekitar mereka. Termasuk Felly yang langsung memperhatikan mereka dengan tatapan kekaguman.
“Re…Ran liat ada Juna tuh” ucap Felly. “Ganteng banget ya Juna” ujarnya lagi.
“Yah namanya juga cowok Fel..kan nggak mungkin kalau cantik” celetuk Rhea.
“Ah elah Re..elu mana tau ada cowok ganteng, taunya makan aja lu” balas felly
“nggak papa yang penting aku mah kenyang” balas Rhea lagi.
“Kalau menurut kamu gimana Ran, si Juna itu” tanya Felly antusias.
“Ehh..iya lumayan sih” jawab Kirana sedikit kaget dengan pertanyaan felly kepada dirinya.
“lumayan doang nih” tanya Felly lagi.
“ya tergantung, kalau sifat dia sama dengan wajahnya, ya berarti tampan beneran” jawab Kirana dengan yakin.
“Kelasss emang jawaban mu Ran, nggak salah memang aku berteman dengan kamu” jawab Rhea sambil memberikan dua jempol pada Kirana, tentu saja dengan mulut yang masih sambil mengunyah makanan.
“Kalau misalkan nih Ran, tiba-tiba si Juna nyamperin kamu terus ternyata dia suka sama kamu gimana?” tanya Felly penasaran
“Kalau aku sih bakal bilang no, karena aku tau pasti cowok macem Juna nih ndak mungkin ceweknya cuman satu” samber Rhea.
“bukan elu yang ditanya” sambil mencubit kecil pinggang Rhea.
“Sakit loo” balas Rhea
“Loh tau sakit juga ternyata, jadi gimana ran menurutmu. Soalnya menurutku dia cocok banget sama kamu. Udahlah sama-sama pinter, ganteng dan cantik, latar belakang keluarga setara apalagi coba yang nggak cocok antara kalian” timpal Felly.
“Jangan mau Ran, yakin aku mesti itu dia ceweknya banyak” balas Rhea.
“Jangan kamu seudzoon Re, jangan menilai orang dari covernya saja dong. Belum tentu semua pria tampan ceweknya banyak” jawab felly tidak mau kalah.
“Terus kalau begitu apa yang mesti kita nilai?” Balas rhea penasaran.
“Ya mungkin karakternya?” balas Felly.
“Jadi kalau menurutku, cara menilai orang itu bener kata Felly nggak boleh hanya berdasarkan penampilan, tapi juga karakter. Tapi bener juga kata Rhea kadang kewaspadaan itu penting supaya kita ndak salah jalan” pungkas kirana dengan nada tegas.
Kedua sahabatnya itu mengangguk-angguk setuju dengan ucapan kirana.
“Kalau misal nih, si Juna itu tiba-tiba menyatakan perasaannya ke aku. Ya mungkin bisa ku terima” tambah Kirana sambil menikmati makanannya yang sudah mau habis.
“Emang iya???” Ucap Felly dan Rhea berbarengan karena sangking kagetnya dengan pernyataan Kirana yang tiba-tiba.
~KEMBALI KE MASA KINI~
Rhea membuka matanya.
Hujan masih turun. Teh di mejanya sudah dingin sempurna.
Ia tertawa kecil sendiri, di kamar kos yang sepi ... karena baru sadar betapa konyolnya gadis itu dulu. Duduk di kantin dengan empat gorengan sekaligus di tangan, pede banget bilang nama orang salah sampai satu sekolah tahu, dan tidak sedikit pun curiga bahwa nama yang waktu itu ia anggap remeh akan menjadi nama yang paling susah ia lupakan.
Arjuna. Bukan Junaedi.
Ia mengambil cangkir tehnya. Meminumnya dingin-dingin saja.
Di luar, hujan mulai mereda. Jalanan basah memantulkan cahaya lampu jalan yang kekuningan.
Masih banyak yang terjadi sesudah hari itu di kantin....sesudah Felly yang cerewet dan Kirana yang tersenyum terlalu tenang untuk sebuah pertanyaan sederhana. Masih banyak yang belum Rhea ketahui waktu itu: tentang rahasia yang Kirana simpan rapi-rapi di buku hariannya, tentang tatapan Juna yang ternyata sudah mengamati sejak lama, dan tentang dirinya sendiri ... tentang hal-hal yang baru bisa ia pahami jauh sesudah semuanya terjadi.
Kenangan itu belum selesai.
Dan malam ini, Rhea membiarkan dirinya masuk sedikit lebih dalam pada kenangan itu.