Pagi itu, nama Alya mendadak menjadi bahan pembicaraan seluruh kota.
Tangannya gemetar saat membuka media sosial.
Foto dirinya bersama Arsen di rumah sakit tersebar di mana-mana.
Pria dingin itu menggenggam tangannya erat, sementara Alya terlihat seperti wanita yang baru saja menangis.
Dan judul berita yang muncul membuat darahnya membeku.
“CEO Mahardika Diam-Diam Menikahi Mantan Tunangan Rendra Wijaya?”
“Astaga…” lirih Alya.
Belum sempat ia mencerna semuanya, pintu kamar rumah sakit terbuka kasar.
BRAK!
Rendra masuk dengan wajah penuh amarah.
“Kamu sengaja, ya?!”
Alya menatap mantan tunangannya dingin.
“Aku nggak ngerti maksudmu.”
“Jangan pura-pura polos!” bentak Rendra. “Kamu pikir dengan mendekati Arsen Mahardika hidupmu langsung naik?”
Sakit.
Tapi kali ini Alya tidak ingin terlihat lemah lagi.
“Bukankah kamu yang lebih dulu menjual hubungan kita demi uang?”
Wajah Rendra menegang.
“Aku punya alasan!”
“Dan aku juga punya hak buat bahagia.”
Kalimat itu membuat Rendra terdiam beberapa detik.
Namun sebelum ia bicara lagi—
Seseorang masuk ke ruangan.
Arsen.
Aura pria itu langsung membuat suasana berubah mencekam.
Tatapan matanya jatuh pada tangan Rendra yang mencengkeram pergelangan Alya.
“Lepaskan tangan istriku.”
Deg.
Rendra langsung menoleh.
“Istrimu?”
Arsen berjalan mendekat dengan langkah tenang namun mengintimidasi.
“Mulai hari ini,” katanya dingin, “Alya adalah Nyonya Mahardika.”
Dan untuk pertama kalinya…
Rendra terlihat kalah.
Mobil hitam mewah itu berhenti di depan mansion terbesar yang pernah Alya lihat.
Rumah itu lebih mirip istana.
“Aku tinggal di sini?” tanyanya pelan.
Arsen membuka pintu mobil tanpa menjawab.
Pelayan langsung membungkuk hormat saat mereka masuk.
“Selamat datang, Nyonya Mahardika.”
Alya merasa tidak nyaman.
Semua ini terlalu cepat.
Terlalu mustahil.
Arsen melepas jasnya lalu berkata datar, “Kamarmu di lantai dua.”
“Kamarku?”
“Kita tidur terpisah.”
Alya diam-diam lega.
Namun beberapa detik kemudian Arsen mendekat.
Sangat dekat.
“Aku memang tidak tertarik pada cinta,” bisiknya rendah. “Tapi jangan membuatku cemburu.”
Jantung Alya langsung kacau.
“Aku nggak akan—”
Tiba-tiba Arsen mengangkat dagunya pelan.
“Karena kalau itu terjadi…”
Tatapan pria itu berubah gelap.
“Aku sendiri nggak yakin bisa menahan diri.”
Deg.
Belum pernah ada pria yang membuat Alya segugup ini.
Dan yang paling berbahaya—
Sebagian dirinya mulai menyukai perhatian Arsen.
Malam itu, pesta keluarga Mahardika berlangsung megah.
Semua mata tertuju pada Alya.
Wanita sederhana yang tiba-tiba menjadi istri CEO paling berpengaruh di kota.
Bisik-bisik sinis terdengar di mana-mana.
“Dia cuma perempuan biasa.”
“Pasti punya cara licik.”
“Mana mungkin Pak Arsen serius?”
Alya mencoba kuat.
Sampai suara familiar terdengar dari belakangnya.
“Kamu kelihatan cantik malam ini.”
Tubuh Alya menegang.
Rendra.
Pria itu berdiri dengan tatapan yang berbeda dari biasanya.
Penuh penyesalan.
“Apa lagi?” tanya Alya dingin.
Rendra menatapnya lama. “Aku salah.”
Alya tertawa kecil.
“Terlambat.”
“Aku masih cinta sama kamu.”
Kalimat itu membuat napas Alya tercekat sesaat.
Namun tiba-tiba—
Sebuah tangan melingkar di pinggangnya.
Arsen menarik Alya mendekat ke tubuhnya.
Possesif.
Dominan.
Dan sangat jelas menunjukkan siapa pemiliknya.
“Aku nggak suka,” ujar Arsen dingin menatap Rendra, “cara kamu melihat istriku.”
Rendra mengepalkan tangan.
Sementara Alya justru semakin gugup karena jarak tubuh mereka terlalu dekat.
Arsen menunduk ke telinganya lalu berbisik pelan—
“Permainan ini baru dimulai, Sayang.