Saat ini mereka semua sedang duduk diruang tamu tanpa ada yang berniat memulai pembicaraan, New hanya sesekali memandang Tay dengan kesal karena sejak membuka pintu tadi Tay tidak mengalihkan pandangannya dari New sedikitpun. Gunn yang menyadari itu berusaha untuk menenangkan kakaknya karena sudah membuat suasana semakin mencekam dan juga takut jika kakaknya kelelahan karena sejak keluar dari rumah sakit ia menolak untuk makan apapun. Untung saja Ibu New sudah pamit ke kamar nya sehingga tidak tahu kondisi ruang tamu nya saat ini.
Disamping New duduk seorang wanita yang tidak mengerti dengan keadaan saat ini. Wanita itu menyentuh pundak New karena New terlihat sangat kesal "New kamu kenapa?"
"Aku baik-baik saja" ujar New singkat.
Tay muak melihat interaksi New dengan wanita itu, membuat rahangnya mengeras.
"Siapa dia?" tanya Tay akhirnya, memecah keheningan yang sudah berlangsung terlalu lama.
New menoleh. "Apa?"
"Aku bertanya siapa dia."
"Tay."
"New."
Perempuan di samping New mengerjap bingung, menoleh bergantian ke arah keduanya.
"Maaf... apa saya mengganggu?"
"Tidak," jawab New cepat.
"Ya," jawab Tay di saat yang sama.
Gunn menutup wajahnya dengan telapak tangan.
***
"Namanya dokter Pat," ucap New akhirnya, dengan nada seseorang yang sudah kehabisan kesabaran. "Dia rekan kerjaku di bagian bedah. Dia mengantarku ke sini karena mobilku masuk bengkel kemarin."
"Kenapa dia masuk?"
"Karena aku yang mempersilakan."
"New."
"Tay, dia mengantarku empat puluh menit di tengah malam. Aku tidak akan menyuruhnya menunggu di mobil."
Tay memalingkan wajah ke arah jendela.
Dokter Pat berdehem canggung.
"Sepertinya saya sebaiknya—"
"Duduk saja, Dok," ucap Gunn cepat, jelas kasihan. "Saya buatkan minum ya."
***
Gunn membawa nampan dari dapur lima menit kemudian, dan menemukan ruang tamu itu sudah lebih sunyi daripada sebelumnya.
Ia meletakkan gelas di depan dokter Pat, lalu di depan kakaknya, lalu berhenti di depan Tay.
"Phi."
"Hm."
"Phi belum makan dari kemarin."
"Nanti."
"Phi Tay."
"Gunn."
"Kalau phi tidak makan, aku telepon Papa."
Tay menoleh dengan tatapan yang biasanya cukup membuat orang dewasa mundur selangkah.
Gunn tidak mundur.
Dan New—yang sejak tadi duduk kaku di sofa seberang—akhirnya bersuara.
"Bawa sesuatu yang lembut, Gunn. Bubur, atau sup. Jangan yang berat."
"Baik, phi."
"Dan Gunn."
"Ya?"
"Jangan yang manis."
Gunn mengangguk dan berlari ke dapur.
Tay menoleh perlahan ke arah New.
"Kamu masih mengingatnya?"
New tidak menjawab pertanyaan itu.
***
Dokter Pat pamit setengah jam kemudian.
New mengantarnya sampai ke pintu depan.
"New."
"Ya, Dok?"
Perempuan itu ragu sebentar.
"Kamu baik-baik saja?"
"Aku baik."
"New."
New menghela napas.
"Maaf soal yang tadi, Dok. Dia sedang sakit."
Dokter Pat memandanginya cukup lama.
"Aku sudah delapan tahun kerja denganmu," ucapnya. "Dan selama delapan tahun itu, kamu tidak pernah sekali pun terlambat, tidak pernah salah memberi dosis, dan tidak pernah gemetar waktu memegang jarum."
New menegang.
"Tadi tanganmu gemetar waktu memasang infus, New."
"Dok—"
"Aku tidak akan cerita ke siapa pun." Ia menyentuh lengan New sekilas. "Aku cuma mau kamu tahu bahwa aku melihatnya."
Pintu tertutup.
***
Ketika New kembali ke ruang tamu, Tay sudah tidak ada di sofa.
"Di mana dia?"
"Kembali ke kamar," jawab Gunn. "Marah."
"Marah kenapa?"
Adiknya menatapnya dengan tatapan paling datar sedunia.
"Phi, seriusan?"
***
New mengetuk pintu kamar itu dua kali sebelum masuk tanpa menunggu jawaban.
Tay sedang duduk di tepi tempat tidur dengan selang infus yang sudah dicabut sendiri dan kapas yang ditekan asal-asalan di punggung tangannya.
New berhenti di ambang pintu.
"Kamu cabut sendiri?"
"Aku bisa berjalan."
"Aku tidak bertanya kamu bisa berjalan atau tidak."
New menutup pintu di belakangnya, berjalan mendekat, dan merebut kapas itu dari tangan Tay.
"Angkat."
"New—"
"Angkat tanganmu."
Tay mengangkatnya.
New menekan kapas itu dengan benar, memasang plester baru, dan melakukannya tanpa satu pun kata selama hampir satu menit.
"New."
"Diam."
"Aku minta maaf."
"Aku bilang diam."
"Untuk yang tadi. Soal dokter itu."
New melepaskan tangan pria itu dan mundur selangkah.
"Kamu tahu apa yang paling membuatku marah hari ini?" tanyanya.
"Aku cemburu di depan orang."
"Bukan."
Tay mengangkat wajahnya.
"Aku berdiri di depan apotek kemarin sore," ucap New pelan, "dan seorang perempuan bernama Namtan memberitahuku bahwa sudah ada empat belas orang yang mati karena berdiri terlalu dekat denganmu."
Wajah Tay berubah sepenuhnya.
"Apa?"
"Dia bilang aku sebaiknya pergi ke luar negeri."
"Kapan?"
"Kemarin sore."
Tay berdiri terlalu cepat dan langsung terhuyung.
New menangkap lengannya.
"DUDUK."
"New, dengarkan aku—"
"DUDUK, TAY."
Pria itu duduk.
Dan New berdiri di hadapannya dengan kedua tangan terkepal, dengan napas yang sama sekali tidak teratur, dan dengan seluruh kalimat yang sudah ia susun sejak kemarin malam runtuh sekaligus.
"Empat belas," bisiknya. "Dan kamu tidak pernah menyebutkan satu pun."
Tay menunduk.
"Kalau kuceritakan, kamu akan pergi."
"MAKANYA."
Tay mengangkat wajahnya, kaget.
"Makanya kamu harus menceritakannya," ucap New, dan suaranya akhirnya pecah. "Supaya aku yang memutuskan mau pergi atau tidak. Bukan kamu."