“Apakah kau sudah merencanakan drama baru lagi?” Suara dingin dan menusuk itu membuat Krystal menundukkan kepalanya. Antara takut dan sedih karena ia berada di posisi yang tidak pernah ia inginkan sekarang. Memang benar, dulu ia ingin sekali menjadi vampir atau manusia agar bisa hidup dengan tenang tanpa harus khawatir tentang makanan dan tempat tinggal, tapi ia tidak menyangka semuanya bisa jadi serunyam ini.
“Maafkan hamba yang mulia,” ucap Krystal ketika mendengar panggilan para pelayan yang memanggil Lozo dengan bahasa seperti ini.
Lozo mengernyitkan kening, tidak biasanya Krystal memanggilnya seperti itu. Karena sebelumnya Krystal tidak pernah segan untuk memanggil namanya langsung atau kata-kata yang sangat menjijikkan untuk didengar, seperti sayang atau bahasa menjijikkan lainnya. Namun teringat tingkah gadis itu Lozo jadi berusaha memakluminya, mungkin dia memang sedang mencari perhatiannya.
“Kenapa kau memakai pakaian seperti itu?” Krystal menatap pakaiannya. Merasa tidak ada yang salah ia mendongak untuk meminta penjelasan, namun kepalanya kembali tertunduk setelah mendapatkan tatapan tajam dari mata merah pria itu.
Lozo berdecak, ia mendadak kesal ketika mengingat jika gadis ini baru saja pergi jalan-jalan dengan Onsky. Tambah kesal lagi karena dia hanya memakai pakaian dengan bahan tipis dan pendek yang biasanya digunakan ketika tidur.
“PELAYAN!” Krystal tersentak dan segera mendekat. Ia ingat jika Lozo adalah tuannya, berarti otomatis pelayan yang dipanggil itu adalah dirinya.
“Iya pangeran?” Lozo menatap Krystal bingung.
“Bukan kau bodoh,” umpat Lozo membuat Krystal mendongak sembari mengerjapkan matanya lucu. Lozo kembali berdecak. Sial! Dia terlihat sangat menggemaskan. Lozo melepaskan jubahnya dan memakaikannya untuk Krystal.
“Maaf pangeran?” Krystal menoleh melihat wanita-wanita di belakangnya. Pipinya langsung bersemu ketika menyadari jika ternyata yang Lozo panggil bukanlah dirinya, melainkan maid istana. Ia hendak berjalan mundur, namun Lozo menahan lengannya.
“Apa kalian mau kehilangan pekerjaan? Bagaimana bisa dia menggunakan pakaian setipis ini ketika keluar?” Krystal merinding, aura pria ini tidak main-main. Sangat menyeramkan. Bahkan sekarang ia merasa jika tangannya akan putus akibat cengkeramannya yang begitu kuat.
Para maid menatap Krystal sekilas lalu menundukkan kepalanya. “Maafkan kami Pangeran. Kami mengira jika Nona Krystal masih tidak sadarkan diri,” jawab Si Ketua Pelayan.
Lozo berdecih, ia menghempaskan tangan Krystal begitu saja. Krystal hampir saja jatuh jika ia tidak segera menyeimbangkan diri. Ternyata menjadi kucing selama 17 tahun juga ada gunanya.
“Apa kau pikir aku peduli dengan alasanmu? Atau aku harus membuat kalian tenggelam di Sungai Kesaksian?”
Mendengar kata Sungai Kesaksian para pelayan itu langsung besujud di depan Lozo. “Maafkan kami Pangeran,”
“Maafkan hamba Pangeran,” Mereka terus mengucapkan maaf bergantian.
Sungai Kesaksian adalah sungai paling keramat di Negara Grastisius. Siapapun yang akan dibuang di sungai itu harus membuat sumpah dan permintaan agar bisa langsung mati tanpa adanya siksaan. Namun sayangnya sangat jarang sekali yang mendapatkan itu. karena jika mengucapkannya dengan paksaan maka nantinya akan disiksa habis-habis oleh ikan-ikan selama berhari-hari sebelum akhirnya mati.
“Maafkan hamba Pangeran,” Wajah garang Lozo menoleh, sedikit terkejut mendapati Krystal juga ikut bersujud bersama dengan pelayan yang lain. Sebenarnya apa yang sedang gadis ini rencanakan?
“Cepat pergi ke kandang kuda dan suruh para penjaga melepaskan mereka. Sampai aku mengizinkan kalian keluar, kalian harus tetap berada di dalam. itupun jika kalian masih ingin hidup dengan tenang,” ucap Lozo.
“Kami akan mematuhinya Pangeran,” ujar mereka semua yang lalu berlalu pergi.
Krystal melirik sekitarnya, ia masih bersujud sampai sekarang. Melihat orang-orang pergi, ia juga ikut bangkit untuk mengikuti mereka.
“Mau pergi ke mana Krystal?” Krystal menghentikkan badannya lalu berbalik dengan kepala yang masih tertunduk.
“Hamba akan pergi ke kandang kuda Pangeran,”
Lozo berjalan mendekat. Krystal semakin menundukkan kepalanya ketika melihat sepatu hitam mengkilat itu terlihat di depannya. Tubuhnya semakin bergetar karena takut. Sungguh, Lozo jauh lebih menakutkan daripada kucing-kucing m***m yang sering mengganggunya.
“Apa kau pelayan? Siapa yang memberitahumu, hm?”
“Hamba ti—“
“Kau jauh lebih rendah daripada mereka asal kau tahu. Seluruh keluargamu itu rendahan, termasuk dirimu. Aku yakin kau pasti lebih mengetahuinya daripada aku,”
Tubuh Krystal menegang. Ia tidak menyangka kata-kata seperti itu dapat membuat dadanya berdenyut nyeri. “Maafkan hamba, Pangeran,”
Lozo mengetatkan rahang. Kenapa jadi seperti ini? seharusnya bukan begini respon Krystal. “Kaulah yang rendahan, apa kau lupa bagaimana keluargamu tewas satu persatu?” Itu yang seharusnya Krystal katakan, maka ia tidak akan segan menyiksanya dan menghisap darahnya sampai tidak tersisa setetes pun. Tapi apa itu tadi, “Maaf?” Apa benar jika gadis itu sudah kehilangan ingatannya?
Lozo berdecih, ia tidak harus terbuai dengan perubahan ini. Ia harus ingat bagaimana klan Krystal yang sudah menipu dan berkhianat pada keluarganya sampai ia harus kehilangan banyak orang yang ia sayangi.
“Tapi, karena kau menganggap dirimu sebagai pelayan. Maka, bersihkan seluruh penjuru istana ini dengan tanganmu, kau tidak boleh istirahat jika ada debu sedikit saja di istana. Tidak ada yang boleh membantumu, siapapun itu! Mengerti?!”
“Siap Mengerti!” Jawab para penjaga disekitar.
Krystal mengepalkan tangannya, lalu mengangguk. Ia tidak memiliki pilihan lain selain menurut. Mungkin ini memang takdirnya. Sedikit ujian atas terwujudnya permintaannya karena sudah memohon kepada Tuhan untuk menjadi manusia. Ya, dan ujian ini pasti akan segera berlalu. Apa ia masih boleh berharap?
.
.
.
Sesuai dengan perintah Lozo, Krystal benar-benar membersihkan hampir seluruh isi kerajaan sendirian ketika pria itu pergi ke sekolah. Seharian ini Krystal sama sekali belum makan, dan tenaganya mulai terkuras sedikit demi sedikit. Para pelayan hanya menyemangati Krystal dari kejauhan, karena mereka sendiri juga takut akan mendapat hukuman jika membantu gadis cantik itu. Sikap para pelayan juga mulai berubah, dari yang awalnya bersikap acuh kepada Krystal, sekarang mereka mulai bersikap baik setelah memastikan jika desas desus Makanan Cantik Pangeran itu mulai berubah.
“Apakah kau butuh bantuan, Krystal?” Krystal yang tengah mengelap piring menoleh, mengetahui yang bertanya adalah Onsky ia tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalanya pelan.
“Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri,” jawab Krystal yang sebenarnya sudah merasakan pusing sekarang, tubuhnya juga sudah benar-benar lelah setelah berjam-jam mencicil sedikit demi sedikit membersihkan kerajaan yang super duper besar ini.
Onsky menatap Krystal dengan tatapan penuh arti. Bukankah seharusnya gadis itu melemparkan piring-piring itu di lantai sekarang seperti yang terjadi di masa lalu? Semua perubahan ini terlalu mendadak dan sangat sulit untuk ditelaah dengan akal sehat. Ia mendengar sendiri jika gadis muda itu tidak mengalami amnesia dari dokter kepercayaannya, namun kenapa bisa sampai sejauh ini?
“Bukankah kau harus di sekolah bersama Pangeran?” tanya Krystal.
Apa mungkin ini adalah jebakan?
“Tidak. Kegiatan di sekolahan sudah selesai,” Krystal menganggukkan kepalanya paham
Krystal berhenti sejenak sembari mengepalkan tangannya kuat, berusaha menghalau rasa pusing itu. Krystal menggelengkan kepalanya lalu kembali melanjutkan kegiatannya. Semua yang Krystal lakukan terekam jelas di kepala Onsky. Hingga tiba-tiba ia terkejut melihat tubuh mungil itu ambruk di depannya.
.
.
.
Lozo buru-buru pulang dari latihan kekuatan ketika mendapat kabar jika kantong darahnya pingsan. Sebelumnya ia memang sudah memiliki firasat yang tidak baik, hingga tiba-tiba ia merasakan sakit di dadanya sebelum Onsky mengabarkan jika gadis itu pingsan karena kelelahan.
Lozo benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa seorang gadis yang biasanya mengacungkan pisau dapur ke arahnya jadi selemah ini? Kejadian minggu lalu dan hari ini sudah cukup untuk membuatnya kebingungan. Belum lagi sikapnya yang sangat penurut menambah perbedaan itu semakin ketara.
Dokter menjelaskan jika Krystal mengalami kelelahan dan mengatakan jika gadis itu belum makan seharian yang menyebabkan gadis itu pingsan, ini juga merupakan efek setelah gadis itu pingsan selama seminggu sebelumnya.
“Sepertinya akan lebih baik jika Nona ini istirahat selama beberapa hari sampai kondisinya pulih sepenuhnya, Dan saya juga menyarankan agar…” Dokter itu terdiam dengan wajah ragu harus mengatakan atau tidak apa yang dipikirannya.
Lozo mengernyit. “Agar apa?”
“Itu, agar pangeran jangan langsung menghisap darah nona,”
Lozo berjalan ke ruangan Krystal. Mendadak ia kesal mengingat ucapan dokter yang lagi-lagi mengatakan hal aneh tentang gadis sialan ini.
“Saya merasa jika Nona Krystal baru pertama kali mengalami semua ini. sebenarnya saya juga merasa jika tubuh Nona semakin lemah. Saya harap Pangeran bisa mengerti. Dan maafkan Hamba yang sudah mengatakan hal lancang seperti ini,” Itu yang Dokter ucapkan tadi. Sungguh, Lozo masih tidak bisa mengerti dengan drama ini.
Gadis itu masih memejamkan matanya dengan tenang. Keringat dingin mulai keluar menandakan jika kondisinya memang sedang tidak baik-baik saja. Perasaannya juga menjadi tidak karu-karuan sekarang, ia tidak tahu apa penyebabnya. Tanpa Ia kendalikan, tangannya terulur untuk menyingkirkan rambut putih yang menutupi wajah cantik Krystal.
Ya, Lozo baru menyadari jika gadis ini ternyata memang benar-benar cantik. Namun kenapa ia merasa Krystal yang sekarang sangat berbeda dengan yang beberapa waktu lalu? Bahkan Lozo juga merasa jika aura yang dikeluarkan juga berbeda. Atau Krystal pernah bertemu makhluk misterius yang berhasil merubahnya hingga 180 derajat seperti sekarang?
Seperti mimpi, perlahan kelopak mata itu terbuka menampilkan bola mata birunya yang teduh. Lozo sampai terpana melihatnya, dan tidak sadar dengan tindakannya.
“Pangeran?” Suara lirih itu berhasil membuat Lozo tersadar dan reflek menjauhkan tubuhnya. Pria itu berdeham, berusaha menetralkan rasa gugup yang baru pertama kali ia rasakan kepada gadis itu.
Dengan perlahan Krystal hendak mendudukkan diri. Lozo yang melihatnya spontan mendorongnya agar kembali tiduran. “Apa kau bodoh? Kau ingin ke mana dengan kondisi seperti ini?” omel Lozo.
Krystal mengerjapkan mata bingung. “Bukankah aku harus melanjutkan pekerjaanku? Aku baru membersihkan seperempat dari kerajaan,” ujar gadis itu.
Lozo menggeram rendah dengan tangan mengepal. Apa yang baru saja gadis ini katakan? Apa dirinya terlihat semengejamkan itu sampai membuat gadis yang sedang sakit untuk…? Argh, ia benar-benar kesal sekarang.
“Tidur! Itu perintah!” Dengan langkah kesal Lozo berjalan keluar dari kamar itu. suasana hatinya sedang buruk sekarang.
Bisa-bisanya seorang Krystal yang biasanya ia abaikan menjadi sosok yang memenuhi pikirannya sekarang. Aneh,
.
.
.
Onsky sebagai Ketua Keamanan memunculkan mata kuningnya untuk mencari tahu keberadaan penyusup yang mendekati istana. Matanya yang tajamnya mengalahkan elang itu segera menghilang bersama dengan pasukannya dan langsung muncul di taman belakang kerajaan.
“Menyebar!” teriak pria dengan pakaian serba hitam itu.
Onsky melakukan ikatan batin dengan Pasukan Keamanan lainnya untuk mencari satu persatu penyusup yang sudah kabur. Sedangkan Ia dengan kekuatan mengendalikan lawan memerangkap pria dengan pakaian ninja itu, namun sayangnya kecepatan pria itu meneguk racun lebih cepat darinya.
“Sialan!” pekik Onsky emosi. Ia langsung berkata kasar ketika anak buahnya juga tidak ada yang berhasil menangkap satu pun dari kelompok itu.
Menarik napas panjang, Onsky berusaha tenang. Ia berjalan mendekati pria itu, mulai menggeledah tubuhnya. Karena semua makhluk di dunia Vampir ini pasti memiliki identitas yang tidak pernah ditinggalkan, termasuk penyusup sekalipun. Onsky menarik salah satu sudut bibirnya ketika ia menemukan sesuatu yang pasti akan membuat sahabatnya senang.
Onsky menggunakan kekuatannya untuk menghanguskan tubuh itu, juga meninstruksikan anak buahnya untuk melakukan hal yang sama.
“Sepertinya aku akan mendapatkan hadiah setelah ini,” ujar Onsky dengan senyum penuh arti.
.
.
.