Akira mulai belajar mengurus keperluan sang suami. Pada waktu pagi, ia membantu menyiapkan Albert sebelum berangkat ke kantor. Memilihkan pakaian, sepatu dan juga tas kerjanya. Meski masih sedikit kebingungan karena dia belum hafal letak barang-barang di rumah itu, tapi Akira tidak membiarkan tugas-tugas itu dikerjakan oleh pembantu. Ia merasa itu adalah bagian dari tugasnya sebagai seorang istri.
Setelah melihat sang suami sudah siap, Akira mengajaknya untuk sarapan. Tapi Albert menolak karena dia tidak terbiasa makan terlalu pagi. Albert juga mengatakan harus datang ke kantor lebih awal. Banyak pekerjaan yang sudah ia tinggalkan karena sudah tidak masuk kerja selama dua hari.
“Ayo, Al. Sedikit saja. Kalau kamu tidak mau makanan berat, setidaknya makan roti sebagai pengganjal perut,” bujuk Akira.
“Tidak perlu, Akira. Aku sudah terbiasa tidak sarapan,” tolak Albert dengan halus.
“Albert, kamu pasti memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di kantor. Kamu butuh banyak tenaga untuk itu. Jangan nakal, ayo buka mulut sekarang!” perintah Akira sembari memegang roti lapis cokelat untuk disuapkan pada Albert.
“Astaga, gadis ini,” keluh Albert namun tetap membuka mulut menerima suapan Akira.
Akira tersenyum senang atas keberhasilannya. Gadis itu menyuapi Albert dengan telaten sampai suapan terakhir. Akira sengaja memberikan perhatian sedemikian rupa karena berharap dengan begitu akan memudahkan dirinya untuk mulai belajar mencintai Albert. Dia berpikir usaha mencintai Albert adalah suatu keharusan ketika dia memutuskan untuk setuju menikah dengan laki-laki itu.
“Kau sudah puas?” tanya Albert setelah menghabiskan roti itu. Akira hanya membalas dengan anggukan dan tawa ringan. “Jangan lupa kamu juga harus makan tepat waktu. Banyak istirahat dan jangan melakukan sesuatu yang dapat membahayakan kandunganmu,” pesan Albert. Akira hanya patuh mengiyakan.
Albert kemudian berpamitan untuk berangkat ke kantor. Akira mengantarnya sampai depan pintu. Sebelum pergi, laki-laki itu sempat mencium kening Akira sekilas seperti rutinitas suami istri pada umumnya sebelum berpisah.
Akira hanya menikmati dengan rasa malu. Ia merasa harus mulai membiasakan diri dengan hal-hal seperti itu. Ia pun melambaikan tangan saat mobil Albert mulai bergerak keluar dari halaman.
Akira kemudian masuk kembali ke dalam rumah. Meski dia merasa bingung apa yang harus dia lakukan di rumah besar itu. Semua pekerjaan rumah sudah dilakukan oleh para pembantu. Akira berpikir harinya pasti akan terasa membosankan.
***
“Selamat pagi pengantin baru,” sapa Levin saat tak sengaja berpapasan dengan Albert di parkiran. Mereka tiba di kantor hampir bersamaan. “Sudah dua hari aku tidak melihat pak bos ini masuk kantor. Aku pikir hari ini kau masih akan mengambil libur dan menghabiskan waktu dengan istri barumu,” sindir Levin.
Albert hanya tersenyum menanggapi. Dia tahu Levin masih merasa kesal karena dia tidak memberitahu tentang rencananya untuk menikahi Akira.
“Tidak perlu menyindirku seperti itu. Kalau kau iri, ya menikah saja,” balas Albert.
“Apa rasanya menyenangkan memiliki seorang istri?”
“Ya lumayan. Setidaknya ada yang memperhatikan bahkan menyuapimu juga untuk sarapan pagi,” kata Albert sengaja membeberkan apa yang dilakukan Akira padanya di rumah.
“Sial kau!” umpat Levin atas sikap Albert yang menyebalkan. Albert pun tertawa melihat ekspresi wajah Levin dan mengajak teman baiknya itu masuk. Mereka kembali pada pekerjaannya seperti biasa.
Levin juga sempat membicarakan perihal asisten pada Albert. Apakah atasannya itu akan mencari pengganti Akira atau tidak. Hal itu ditolak oleh Albert dengan mengatakan bahwa dirinya tidak butuh seorang asisten. Dulu dia mempekerjakan Akira hanya sebuah kesengajaan sebagai bentuk balas dendam.
Sore hari setelah jam kerja usai, Albert pulang ke rumah dengan tubuh lelah. Ia harus mengatasi beberapa pekerjaan yang menumpuk setelah dua hari ditinggalkan. Sesampainya di depan pintu, kedatangan Albert sudah disambut oleh sosok Akira yang berdiri dan sebuah senyuman di sana.
Akira langsung sigap mengambil alih tas kerja Albert dan menggandeng tangan sang suami untuk masuk. Dia sengaja melakukan perhatian-perhatian kecil itu. Bukan untuk mempengaruhi perasaan Albert melainkan untuk menumbuhkan perasaannya sendiri. Dia tidak peduli sekalipun Albert merasa heran dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah menjadi begitu perhatian.
Akira membawa Albert ke kamar. Melepaskan jas yang dikenakan Albert dan menyuruhnya untuk membersihkan diri. Akira juga sudah menyiapkan setelan baju ganti. Albert hanya menurut dan menikmati pelayanan yang dilakukan sang istri. Baginya tak mengapa selama itu tidak merugikan diri.
Setelah Albert keluar kamar mandi dengan wajah lebih segar, Akira pun menawarkan barangkali Albert ingin makan. Albert menolak dan mengatakan tubuhnya begitu lelah dan ingin rebah sejenak. Namun bukannya membiarkan Albert merebahkan diri, Akira justru meminta Albert untuk duduk di atas ranjang.
“Sekarang buka bajumu,” pinta Akira setelah dia duduk di belakang Albert.
“Kenapa? Apa yang ingin kau lakukan padaku, Akira? Apa jangan-jangan kau ingin menggodaku untuk melakukan hal itu sebagai ganti malam pertama kita yang tertunda?”
“Hei, bersihkan pikiranmu itu. Aku tidak berniat menggodamu. Aku hanya ingin memijatmu saja,” jawab Akira merasa heran dengan arah pikiran Albert.
“Memangnya kau bisa melakukan itu?” tanya Albert seakan meragukan.
“Kita buktikan saja, Pak Albert,” tantang Akira dan mulai membantu Albert untuk melepaskan kaosnya karena laki-laki itu hanya terlalu banyak bicara.
Perlahan Albert merasakan sentuhan lembut dari gadis itu. Tangan Akira mulai memijat-mijat punggungnya. Albert mulai menikmati pijatan Akira.
“Ternyata kamu cukup pandai juga. Apa kamu juga punya sertifikat untuk membuka jasa pijat?” seloroh Albert.
“Kenapa? Kamu ingin membukakan usaha panti pijat untukku?” balas Akira tak kalah seru.
“Tidak juga. Aku tidak mau jika tangan halus istriku ini menyentuh laki-laki lain,” jawab Albert seolah menyiratkan sikap protektif. Akira hanya mencebik tanpa dilihat oleh Albert. “Tapi sungguh, Akira. aku merasa aneh dengan semua sikapmu ini,” imbuh Albert dan mulai memutar tubuhnya menghadap Akira. Menghentikan pergerakan tangan gadis itu.
“Jangan mempertanyakan sikapku ini, Al. Anggap saja aku sedang latihan menjadi istri yang baik. Aku sedang belajar untuk mencintai suamiku,” jawab Akira serius.
Mendengar hal itu membuat Albert meraih kedua tangan Akira. Albert menggenggam dan mencium kedua punggung tangan Akira. Sikap yang ditunjukkan Albert membuat Akira terenyuh dan merasa begitu dihargai.
“Pelan-pelan saja, Akira. Jangan sampai kamu tertekan dan merasa terlalu memaksakan diri,” ucap Albert penuh pengertian. Ia membawa Akira ke dalam pelukannya. Tangannya bergerak membelai rambut dan punggung gadis itu. Di balik semua kelembutan yang Albert tunjukkan, dalam hatinya justru ia sedang menertawakan kebodohan Akira.
“Berusaha mencintaiku adalah kebodohan besar yang sedang kamu lakukan, Akira. Tapi tidak mengapa. Teruslah berusaha. Sebab nanti cinta yang kau tumbuhkan itulah yang justru akan melemahkanmu. Sementara aku akan menjadi orang yang paling menikmati ketika melihatmu tersakiti. Aku yang akan membuat luka. Tapi rasa cintamu sendiri yang akan membuat luka itu terasa jauh lebih perih,” batin laki-laki itu dengan senyum liciknya.