Akira duduk di dalam mobil Sera dengan pikiran kacau. Jalan menuju rumah aman dekat pelabuhan terasa panjang, melewati deretan gudang yang gelap dan tiang-tiang listrik yang berdiri seperti penjaga tanpa wajah.
Ia terus memikirkan suara ibunya melalui telepon. Selama bertahun-tahun, Akira percaya Sofia telah meninggal dan ia harus menerima hidup tanpa kehadiran ibunya. Ia sudah belajar melakukannya. Ia sudah berhenti menangis di tanggal-tanggal tertentu. Dan sekarang semua pelajaran itu dibatalkan dalam satu malam.
“Kenapa Ibu tidak pernah mencariku?” tanya Akira.
Sera tetap memandang jalan. “Dia selalu mengawasimu dari jauh. Tapi jika dia mendekat, orang-orang yang mengejar kami akan menemukanmu.”
“Aku berhak tahu kebenarannya.”
“Sofia tahu. Itu sebabnya dia membuat pesan dan meninggalkan petunjuk.”
Akira memalingkan wajah ke jendela. Di kaca, ia melihat pantulan dirinya sendiri: perempuan hamil dengan rambut kusut dan mata sembap, sedang dibawa oleh seseorang yang baru dikenalnya satu jam lalu.
Mereka tiba di sebuah rumah kecil berdinding papan di dekat pelabuhan. Bau laut dan solar tercium kuat. Sera memeriksa sekitar terlebih dahulu, menengok ke kiri dan kanan jalan, baru kemudian membuka pintu.
Di dalam, seorang perempuan duduk di kursi dekat jendela. Rambutnya telah memutih di bagian pelipis, wajahnya lebih tua dan lebih tirus, tetapi Akira langsung mengenalinya bahkan sebelum perempuan itu menoleh.
“Ibu?”
Sofia berdiri dengan tubuh gemetar. Air mata langsung memenuhi matanya ketika melihat Akira.
“Akira...”
Akira berlari memeluknya. Untuk beberapa saat, tidak ada kata-kata di ruangan itu. Ia hanya menangis di dada perempuan yang selama ini dikira telah pergi selamanya, menghirup aroma yang tiba-tiba ia ingat sepenuhnya, dan meremas punggung baju ibunya seperti anak kecil.
Sofia mengusap rambutnya berulang-ulang sambil berbisik, “Maafkan Ibu, maafkan Ibu.”
Namun, ketika pelukan itu berakhir, ada sesuatu yang lain naik ke permukaan.
“Ibu meninggalkan aku,” kata Akira. Suaranya datar.
“Ibu tidak punya pilihan.”
“Selalu itu alasannya.” Akira mundur selangkah. “Semua orang mengatakan tidak punya pilihan, tetapi aku yang harus hidup sendirian. Aku yang harus menjawab pertanyaan orang-orang. Aku yang berdiri di depan makam kosong setiap tahun.”
Sofia menunduk. Ia tidak membela diri.
Perempuan itu lalu duduk kembali dan menjelaskan semuanya dengan suara pelan. Setelah menemukan penggelapan dana, ia berusaha melaporkan paman Akira. Namun lelaki itu membalas dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan. Beberapa saksi meninggal dalam kecelakaan yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan, dan ancaman terakhir tidak lagi ditujukan kepada Sofia, melainkan kepada anaknya.
“Ibu memalsukan kematian agar mereka berhenti mencarimu,” katanya. “Sera membantuku berpindah tempat setiap beberapa bulan.”
“Kenapa Ibu tidak memberitahu Albert bahwa keluarganya juga menjadi korban?”
“Karena Albert masih muda dan dikelilingi orang-orang yang memanfaatkan kemarahan. Kalau Ibu datang membawa cerita seperti ini, dia tidak akan percaya. Dia hanya akan punya satu alasan lagi untuk membenci.” Sofia menghela napas. “Aku berharap kebencian kalian tidak pernah bertemu.”
Akira tertawa pahit. “Tapi kami bertemu. Albert menghancurkan hidupku karena mengira aku bagian dari kejahatan keluarga.”
Sofia memegang kedua tangan putrinya, menggenggamnya erat sampai terasa sakit.
“Ibu menyesal. Kalau tahu rencana balas dendamnya akan sejauh itu, Ibu akan mencari cara lain. Ibu akan keluar dari persembunyian. Ibu akan menyerahkan diri kalau perlu.”
Di luar rumah, suara kendaraan terdengar berhenti. Mesinnya dimatikan, lalu terdengar pintu mobil ditutup pelan-pelan. Terlalu pelan.
Sera menoleh ke jendela dan menyibak tirai setipis mungkin. Beberapa lelaki turun dan menyebar.
“Mereka menemukan kita,” katanya.
Sofia segera bangkit dan mengambil tas kecil dari bawah meja. “Kita harus pergi melalui terowongan pelabuhan.”
Akira menolak bergerak. “Aku harus menghubungi Albert.”
“Kalau kamu menghubunginya, lokasi kita akan terlacak.”
“Dia suamiku. Dia berhak tahu aku aman.”
Sofia menatap Akira beberapa detik. Mungkin ia melihat sesuatu di wajah putrinya, sesuatu yang dulu juga ada di wajahnya sendiri. Ia mengangguk, lalu mengeluarkan sebuah ponsel tua dari dalam tas.
“Gunakan ponsel ini. Sinyalnya akan terlindungi selama beberapa menit. Jangan lebih.”
Akira menelepon Albert. Sambungan tersambung setelah dering pertama, seolah laki-laki itu memang menunggu dengan ponsel di tangan.
“Akira, di mana kamu?” tanya Albert cemas.
“Aku bersama Ibu.”
Albert terdiam lama. Di seberang sana hanya terdengar napasnya.
“Sofia masih hidup?”
“Iya. Kami sedang diburu. Jangan datang sendirian.”
“Aku akan meminta polisi membantu.”
“Jangan mengambil keputusan terburu-buru. Ibu punya bukti tentang keluargamu.”
“Aku tidak peduli bukti apa pun.” Suara Albert pecah sedikit. “Aku hanya ingin kamu kembali dengan selamat.”
Akira menutup mata. Kalimat itu membuat hatinya bergetar, dan untuk sesaat ia lupa sedang berdiri di rumah asing dengan orang-orang bersenjata di luar.
“Aku akan kembali. Percayalah kepadaku.”
Panggilan terputus.
Mereka masuk ke lorong bawah tanah melalui pintu papan di belakang dapur, tepat ketika pintu depan rumah didobrak. Suara kayu patah terdengar seperti tulang.
Sera berjalan paling depan membawa senter, sementara Sofia berjalan perlahan dengan bantuan Akira. Terowongan itu sempit, dindingnya berlumut, dan langit-langitnya meneteskan air payau.
Lorong tersebut mengarah ke bangunan tua di sisi lain pelabuhan. Dari kejauhan terdengar suara kejar-kejaran, teriakan, dan sesuatu yang jatuh menimpa seng.
Akira terus memikirkan Albert. Ia tahu laki-laki itu akan mengejarnya meskipun sudah dilarang. Albert terlalu terbiasa melindungi dengan caranya sendiri, dan itu satu-satunya cara mencintai yang ia kuasai.
Di ujung terowongan, mereka menemukan pintu besi terkunci. Sera mengeluarkan kunci dan memutarnya, tetapi dari luar terdengar suara sirene mobil polisi.
“Albert menemukan kita,” kata Akira.
Sofia tampak cemas. “Atau pamanmu.”
Pintu terbuka dengan bunyi berkarat.
Di luar berdiri Albert bersama dua polisi, jaketnya basah, wajahnya penuh kekhawatiran yang tidak lagi ia sembunyikan.
“Akira!”
Akira berlari kepadanya. Albert langsung memeluknya dengan kuat, lalu melepaskannya sedikit untuk memeriksa wajah, lengan, dan perutnya, memastikan tidak ada luka.
“Aku memintamu tidak datang,” kata Akira.
“Aku tahu. Tapi aku tidak bisa diam ketika kamu berada dalam bahaya.”
Albert kemudian mengangkat pandangannya ke arah perempuan yang berdiri di belakang Akira. Seluruh kebencian yang pernah ia rasakan kepada keluarga Akira tampak runtuh dalam satu tarikan napas.
“Anda benar-benar hidup,” katanya.
Sofia mengangguk. “Aku minta maaf atas semua kesalahpahaman yang membuatmu menyakiti Akira.”
“Saya menyakiti Akira karena pilihan saya sendiri,” jawab Albert. “Jangan ambil kesalahan itu dari saya.”
Tiba-tiba suara tembakan terdengar dari arah pelabuhan. Polisi berteriak dan mendorong semua orang berlindung di balik dinding beton.
Dari balik deretan kontainer, paman Akira muncul. Ia membawa senjata, dan tangan kirinya mencengkeram lengan Sera yang tadi berjalan lebih dulu memeriksa jalan keluar.
“Serahkan Sofia dan semua bukti!” teriaknya.
Akira berdiri di samping Albert, napasnya memburu. Untuk pertama kalinya mereka menghadapi musuh yang sama tanpa rahasia di antara mereka.
Albert menggenggam tangan Akira.
“Kali ini kita menyelesaikan semuanya bersama.”