Kalimat itu menggantung di ruangan bersama bau kayu tua dan asap perapian.
Albert tidak bergerak. Tangannya yang memegang senter turun perlahan sampai cahayanya jatuh ke lantai, membentuk lingkaran kuning di atas papan yang sudah retak.
“Ulangi,” katanya.
Harlan tidak mengulangi. Ia justru menarik kursi berselimut kain putih, menyingkap kainnya, lalu duduk seperti orang yang sudah lama menyiapkan malam ini.
“Duduklah dulu, Tuan Albert. Cerita ini panjang dan saya sudah menyimpannya terlalu lama.”
Akira menggenggam lengan suaminya. Ia merasakan otot laki-laki itu mengeras di bawah telapak tangannya, tetapi Albert akhirnya melangkah maju dan berdiri di depan perapian.
“Bicara.”
Harlan mengatakan bahwa malam itu ia sedang berjaga di halaman ketika mendengar suara tembakan dari dalam rumah. Ia berlari masuk lewat pintu samping, menabrak meja di lorong, dan menemukan ibu Albert tergeletak di ruang kerja dengan luka tembak di dada.
“Lampu meja masih menyala,” katanya. “Kertas-kertas berserakan. Beliau masih memegang salah satunya.”
Ayah Albert berdiri di dekat jendela, memegang senjata, tetapi tidak menembak. Laki-laki itu sedang berusaha menyembunyikan senjata tersebut dari seseorang.
Albert mengangkat kepalanya. “Apa maksudmu tidak menembak? Kau baru saja mengatakan ayahku yang menembak ibuku.”
“Saya mengatakan orang yang kalian panggil ayah adalah orang yang memegang senjata itu,” jawab Harlan. “Selama bertahun-tahun saya menyimpan kalimat itu di kepala persis seperti itu, karena itulah yang saya lihat. Tetapi yang saya lihat dan yang terjadi ternyata dua hal berbeda, dan saya membutuhkan waktu lama untuk memisahkannya.”
Akira mengerutkan dahi. “Jadi Anda sengaja membuat kami salah paham barusan?”
“Saya sengaja membuat kalian tetap berdiri di sini sampai saya selesai bicara.” Harlan menatap api. “Kalau saya mulai dengan kalimat yang benar, Tuan Albert akan memanggil polisi sebelum kalimat kedua.”
Albert menarik napas panjang, menahan amarah yang sudah naik sampai tenggorokan.
“Siapa yang menembak?”
“Seseorang yang masuk melalui pintu belakang. Saya melihatnya, tetapi tidak mengenali wajahnya.”
“Kau melihat orang menembak ibuku dan tidak mengenalinya?”
“Ruangan itu gelap di bagian belakang. Dia bergerak cepat dan tahu jalan keluarnya tanpa meraba dinding.” Harlan mengangkat wajahnya. “Itu yang paling saya ingat, Tuan. Dia tidak mencari jalan keluar. Dia sudah hafal rumah ini.”
Albert menoleh ke arah lorong gelap di belakangnya, ke pintu dapur yang sekarang hanya berupa lubang hitam. Ia dulu bermain di lorong itu. Ia tahu persis berapa langkah dari pintu belakang ke ruang kerja.
Harlan melanjutkan. Ayah Albert saat itu berteriak agar ia mengejar, lalu berubah pikiran dan justru menyuruhnya menutup pintu. Laki-laki itu menyerahkan senjata di tangannya kepada Harlan dan memintanya menyingkirkan benda tersebut.
“Saya bertanya kenapa,” kata Harlan. “Beliau hanya menjawab satu kalimat. Kalau senjata ini ditemukan di rumah ini, semua orang akan berhenti mencari.”
“Dan kau menurut,” kata Albert.
“Saya menurut.”
Harlan mengaku membantu memalsukan sebagian laporan malam itu. Ia memindahkan beberapa barang, mengubah letak kursi, dan memberikan keterangan yang sudah disusun kepada petugas yang datang. Ia melakukannya karena takut keluarganya dibunuh.
“Sehari sebelumnya, istri saya menerima telepon,” katanya. “Orang di seberang menyebutkan nama sekolah anak saya, kelasnya, dan jam pulangnya. Tidak ada ancaman. Hanya itu. Setelah malam itu, saya tahu telepon tersebut bukan salah sambung.”
Ia juga mengatakan bahwa dialah yang membawa ibu Albert ke rumah sakit. Ia menggendong perempuan itu ke mobil, menekan lukanya dengan jaket, dan mengemudi sambil terus berbicara agar perempuan itu tetap sadar.
“Beliau sudah meninggal sebelum kami sampai,” kata Harlan pelan. “Saya tahu, tapi saya tetap bicara sepanjang jalan. Saya tidak tahu harus melakukan apa lagi.”
Albert memalingkan wajah ke jendela. Di kaca yang berdebu, ia melihat pantulan dirinya sendiri berdiri di ruangan yang sama tempat ibunya meninggal, dua puluh tahun kemudian, mendengarkan orang asing menceritakan menit-menit terakhir perempuan itu.
Akira mendekat dan berdiri di sampingnya, tidak mengatakan apa-apa, hanya menyentuh punggung tangannya.
“Kenapa Anda diam selama ini?” tanya Albert akhirnya.
“Karena orang yang memerintahkan pembunuhan itu mengawasi saya,” jawab Harlan. “Setiap kali saya pindah, dia menemukan saya. Dia tidak pernah menyakiti saya. Dia hanya memastikan saya tahu bahwa dia bisa.”
“Lalu kenapa sekarang?”
“Karena dia berhenti mengawasi saya dan mulai mengumpulkan anak-anak.” Harlan menatap Albert. “Ia membangun panti itu untuk mengumpulkan anak-anak sebagai alat tawar. Anak-anak korban jaringannya sendiri. Saya bisa hidup dengan kepengecutan saya selama dua puluh tahun, Tuan, tapi tidak dengan yang satu itu.”
Akira menelan ludah. Ia teringat anak perempuan berusia delapan tahun yang bertanya apakah dirinya orang yang membayar sekolah mereka, dan bagaimana anak itu menunduk ketika menyebut nama Tuan H.
“Mereka memakai nama saya untuk menakut-nakuti anak-anak itu,” katanya. “Apakah Anda tahu?”
Harlan mengangguk pelan. “Saya tahu.”
“Dan Anda tetap diam.”
“Sampai malam ini,” jawabnya. “Saya tidak meminta siapa pun memaafkan saya. Saya hanya ingin bagian saya selesai.”
Harlan lalu merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sesuatu yang dibungkus kain flanel. Ia membuka bungkusan itu di atas telapak tangannya.
Sebuah peluru.
“Saya mengambilnya dari lantai malam itu, sebelum petugas datang,” katanya. “Entah kenapa. Mungkin karena saya tahu semua yang lain akan dipalsukan, dan satu benda ini tidak bisa berbohong.”
Albert menatap benda kecil itu. Logamnya sudah gelap, tetapi bentuknya masih utuh.
Polisi yang menunggu di luar dipanggil masuk. Mereka memasukkan peluru itu ke kantong bukti, dan di kantor mereka malam itu juga, hasil pencocokannya keluar lebih cepat dari dugaan siapa pun.
Peluru tersebut cocok dengan senjata milik perusahaan keamanan keluarga Albert.
Bukan senjata yang dipegang ayahnya di dekat jendela. Senjata lain, dari gudang yang sama, dari daftar inventaris yang sama.
Albert menatap Akira, dan Akira balas menatapnya. Mereka sampai pada kesimpulan yang sama tanpa perlu mengucapkannya.
Bukti semakin menunjukkan bahwa ayahnya tidak bersalah. Laki-laki itu memegang senjata bukan untuk membunuh, melainkan untuk menyembunyikan sesuatu yang akan menyeret nama keluarganya. Tetapi masih ada orang dari dalam keluarga yang menggunakan senjata tersebut, seseorang yang bisa mengambilnya dari gudang tanpa dicatat, dan yang tahu jalan keluar rumah ini tanpa meraba dinding.
“Siapa yang bisa mengambil senjata dari gudang itu?” tanya Albert.
“Beberapa orang,” jawab Harlan. “Kepala keamanan. Dua orang gudang. Dan satu orang lagi yang tidak pernah perlu meminta izin kepada siapa pun.”
Albert menunggu.
Harlan menyebut nama pengawal pribadi ayah Albert saat itu: Darto.