Albert membaca pesan itu tiga kali sebelum mengembalikan ponselnya kepada Akira.
Wajahnya berubah. Bukan pucat, bukan kaget—lebih buruk dari itu. Rahangnya mengeras dan matanya menjadi sedingin masa-masa ketika ia masih menyusun daftar orang yang akan ia hancurkan.
Akira mengenali tatapan itu. Ia sudah lama tidak melihatnya.
“Albert.”
“Kita pulang,” katanya pendek.
Mereka tidak bicara sepanjang jalan. Di luar jendela, pagi Minggu berjalan seperti biasa: orang berjualan bunga di depan pemakaman, anak-anak bersepeda, lampu merah, klakson. Dunia yang tidak tahu apa-apa.
Akira menatap perutnya sendiri. Empat bulan. Sudah cukup membulat untuk membuat orang memberi tempat duduk kalau ia naik lift bersama karyawan kantor.
Selama ini kehamilan itu adalah satu-satunya hal yang membuat mereka bisa tertawa di tengah semua berkas dan sidang. Malam-malam sibuk memilih nama. Albert yang tiba-tiba membaca artikel tentang imunisasi jam dua pagi. Sofia yang mengirim foto baju bayi setiap dua hari.
Sekarang kalimat dari nomor asing itu menempelkan kembali anak mereka ke benda yang paling ingin mereka tinggalkan: jaringan lama.
“Mereka hanya ingin menakuti kita,” kata Albert setelah pintu rumah tertutup.
Akira meletakkan tasnya di meja. Tangannya gemetar sedikit.
“Bagaimana jika benar?”
“Tidak benar.”
“Albert, dengar.” Suaranya naik, lalu turun lagi karena ia sendiri takut mendengarnya. “Semua yang kita anggap mustahil bulan lalu ternyata benar. Tantemu. Rina. Kaset itu. Kita terus bilang ‘tidak mungkin’, dan tiap kali ternyata mungkin.”
Albert berjalan mendekat. Ia berlutut di depan kursi tempat Akira duduk, sesuatu yang setahun lalu tidak akan pernah bisa dibayangkan siapa pun yang mengenalnya.
Telapak tangannya menempel di perut Akira, hati-hati sekali, seolah takut menekan terlalu keras.
“Anak kita bukan kunci apa pun,” katanya. “Dia hanya anak kita.”
Akira menunduk. Air matanya jatuh ke punggung tangan Albert.
“Aku cuma ingin dia lahir seperti bayi lain,” bisiknya. “Bukan jadi barang yang diperebutkan orang.”
“Dia akan lahir seperti bayi lain,” kata Albert. “Aku yang urus sisanya.”
Pak Surya datang sore itu membawa laptop dan map tipis.
“Nomornya sudah kami telusuri,” katanya. “Tapi hasilnya aneh.”
Ia memutar layar. Sebuah peta dengan enam titik menyala di kota berbeda-beda.
“Sinyalnya keluar dari beberapa lokasi sekaligus,” lanjutnya. “Dalam rentang waktu yang sama. Secara teknis, itu tidak mungkin dilakukan satu ponsel biasa.”
“Jadi?” tanya Albert.
“Jadi pesan itu kemungkinan dikirim lewat sistem lama. Bekas sistem komunikasi jaringan. Yang kami kira sudah kami matikan sepenuhnya waktu penggerebekan.”
Akira mengangkat kepala. “Kira?”
Pak Surya tidak mengelak. “Kami menyita server pusatnya. Tapi jaringan itu dibangun bertahun-tahun, dengan banyak cabang, banyak tangan. Ada bagian yang mungkin masih hidup dan menunggu perintah.”
“Menunggu siapa?” tanya Albert.
“Itu yang harus kita cari tahu.”
Pemeriksaan kandungan tetap dijalani seperti jadwal. Akira menolak menundanya.
“Kalau aku mulai menghindar,” katanya, “mereka menang tanpa melakukan apa-apa.”
Di ruang USG, suara detak jantung itu memenuhi ruangan—cepat, kecil, keras kepala. Dokter tersenyum sambil menggeser alat di perut Akira.
“Semuanya bagus,” katanya. “Ukuran sesuai usia, detak jantung kuat, air ketuban cukup. Bayi Bu Akira sehat.”
Albert menatap layar hitam putih itu terlalu lama. Ketika keluar dari ruangan, matanya merah.
Tetapi kelegaan itu tidak bertahan sampai malam.
Bagian rekam medis rumah sakit menelepon pukul delapan. Ada yang mencoba mengakses data medis Akira siang tadi, dari terminal di lantai administrasi, memakai nomor identitas pegawai lama yang seharusnya sudah dinonaktifkan dua tahun lalu.
“Orangnya sudah pensiun,” kata kepala rekam medis. “Dan dia meninggal tahun lalu.”
Albert berdiri di ruang kerjanya sampai lewat tengah malam, menelepon satu per satu.
Keesokan paginya, rumah mereka berubah.
Kamera baru dipasang di setiap sudut. Sopir diganti dengan orang yang lolos pemeriksaan latar belakang. Pintu gerbang mendapat kunci ganda. Di rumah sakit, lantai tempat Akira memeriksakan kandungan dijaga petugas keamanan tambahan yang dibayar Albert sendiri, dan akses ke berkasnya dipindahkan ke sistem terpisah yang hanya bisa dibuka dua orang.
Akira berdiri di jendela kamar, memandangi dua laki-laki berjaket hitam yang berdiri di dekat gerbang.
“Rasanya seperti tahanan,” katanya.
Albert berhenti mengikat dasi. “Aku tahu.”
“Aku tidak marah,” kata Akira cepat. “Aku cuma... capek. Aku ingin keluar beli martabak tanpa tiga orang menunggu di mobil.”
Albert mendekat, memeluknya dari belakang, dagunya di bahu Akira.
“Satu bulan,” katanya. “Beri aku satu bulan untuk menutup semua lubangnya. Setelah itu kalau kamu mau beli martabak jam dua pagi, aku sendiri yang antar. Tanpa siapa-siapa.”
Akira tertawa kecil, untuk pertama kalinya dalam beberapa hari.
Sofia datang Rabu siang tanpa memberi kabar dulu, membawa map tebal berdebu dan wajah orang yang tidak tidur semalaman.
“Aku bongkar gudang rumah,” katanya sambil meletakkan map itu di meja makan. “Semua dokumen keluarga yang pernah dititipkan ayahmu ke pengacara lama, Kira. Aku baca sampai pagi.”
Ia membuka lembar demi lembar. Silsilah. Akta. Surat waris.
“Aku ingin kamu lihat sendiri,” kata Sofia. “Tidak ada apa pun di garis keturunan kita yang menghubungkan bayimu dengan jaringan itu. Tidak ada perjanjian darah, tidak ada gelar, tidak ada apa-apa. Cucuku hanya cucuku.”
Akira menghela napas panjang. Bahunya turun beberapa senti.
“Mereka hanya memakai ketakutan untuk mengendalikanmu,” kata Sofia sambil menggenggam tangan putrinya. “Itu yang mereka lakukan sejak dulu. Ke ibu Albert, ke Rina, ke aku. Ketakutan itu senjatanya, bukan kebenaran.”
Albert ikut membaca dari sisi lain meja, membalik halaman dengan tenang, sampai jarinya berhenti di lembar yang kertasnya berbeda dari yang lain. Lebih baru. Lebih putih.
Ia menariknya keluar.
Sebuah catatan tentang perjanjian lama. Bahasanya berbelit, penuh istilah hukum, tetapi satu kalimat di tengahnya tertulis cukup jelas: anak pertama dari keluarga Albert akan memegang saham tertentu atas nama pihak-pihak yang disebut dalam lampiran.
Sofia mengernyit. “Aku tidak ingat pernah melihat itu.”
“Karena ini tidak pernah ada di sana,” kata Albert pelan. Ia mengangkat kertas itu ke cahaya. “Kertasnya beda. Tintanya beda. Ini diselipkan belakangan.”
“Oleh siapa?” tanya Akira, meski ia sudah tahu jawabannya.
Albert meletakkan lembar itu di meja, tepat di tengah, seperti meletakkan bukti di ruang sidang.
“Damian,” katanya. “Dia tidak cuma menyimpan bukti untuk memeras. Dia juga menanam alasan. Supaya kalau dia jatuh, masih ada orang di luar sana yang punya sebab untuk mengejar anakku.”