Setelah berkeliling dan tersesat beberapa kali, Scarlett dan Oliver akhirnya menemukan kelas F-81. Pintu kelas itu berwarna perak, dengan plakat sewarna bertuliskan 'F-81'. Tampaknya di dalam sana sudah ada banyak orang, Scarlett bisa mendengar banyak suara di dalamnya. Suara riuh rendah yang baginya familiar. Mungkin ini adalah suasana kelas yang normal, pikir Scarlett, sambil mengelus kusen pintu.
"Menurutmu ini kelas yang benar?" tanya Scarlett.
"Kurasa iya. Semoga," jawab Oliver. Pemuda itu langsung menggeser Scarlett dan membuka pintunya sendiri. Dari balik lengan Oliver, Scarlett mengintip isi kelas. Kelas biasa dengan meja dan kursi murid yang memenuhi ruangan, meja guru, papan tulis, dan juga keributan khas kelas. Oliver menarik Scarlett masuk, tidak memedulikan fakta bahwa gadis itu terhuyung dan hampir jatuh.
"Kurasa aku sudah bilang untuk pelan-pelan dan tidak menarikku sembarangan?" tanya Scarlett, masih kaget karena hampir jatuh.
"Masa?" Oliver mengabaikan Scarlett dan langsung duduk di kursi yang tersisa di pojokan kelas.
Scarlett ikut duduk di samping Oliver, bersyukur tidak perlu duduk terpisah dari rekannya itu. Scarlett mungkin membutuhkan Oliver untuk melakukan macam-macam hal yang tidak bisa dan tidak mau dilakukannya. Mereka bahkan baru saja duduk dan pintu kelas menjeblak terbuka untuk kedua kalinya. Seolah sama seperti permainan sebelumnya, guru itu masuk sesudah Scarlett dan Oliver. Melangkahkan kaki bersepatu hak tinggi dengan suara yang menggema, wajah angkuh dihiasi amarah, serta sebuah tongkat komando di tangannya, wanita itu masuk ke kelas dan berdiri di tengah-tengah. Rambut panjangnya yang berwarna hitam gelap bergerak seakan tertiup angin ketika ia berjalan, dan mata hijaunya tampak gelap dipenuhi amarah.
Scarlett tidak bisa mengira-ngira, masalah apa lagi yang akan dibawa gurunya itu. Lagi-lagi ia menyadari bahwa seisi kelas mendadak sunyi senyap ketika mendengar keletuk sepatu hak tinggi guru itu.
"Namaku Emilia," kata wanita itu, yang berusia sekitar pertengahan dua puluhan. "Aku guru kalian dalam permainan ini. Permainan kali ini adalah: mencari tahu siapa pembunuhnya."
Suara bisik-bisik terdengar riuh rendah, membuat Emilia menggebrak meja paling depan dengan tongkat komandonya—yang sepertinya sangat multifungsi.
"Diam kalian semua," perintah Emilia, yang juga menyerupai sebuah ancaman. "Salah satu dari kalian di sini adalah pembunuh dari seorang murid malang. Kalian tahu aturan disini, kan? Dilarang membunuh siapa pun di luar jam pelajaran. Sekarang ada seseorang yang melanggarnya. Menurut kalian hukuman apa yang cocok untuknya?"
"Mati!"
Scarlett sungguh terkejut akan kekompakan murid-murid dalam menghukum seseorang, meskipun banyak titik-titik penuh kengerian dalam dirinya juga.
"Benar," ucap Emilia seraya tersenyum sadis nan lebar, mengingatkan Scarlett akan Henry tadi. "Cari pembunuh itu sampai dapat. Dan aku sendiri yang akan menghukumnya."
Suara sorakan dan tepuk tangan terdengar, membuat Scarlett mempertanyakan kewarasan mereka. Meskipun kehilangan ingatan, Scarlett tetap tahu jika membunuh bukan sebuah perbuatan yang akan membuat seseorang mendapat penghargaan. Ia melirik Oliver di sampingnya—agak sulit karena pemuda itu ada di sebelah kanan—dan mendapati senyum di wajahnya. Oliver tidak berdiri, bersorak, atau bertepuk tangan, dia hanya tersenyum. Senyuman yang menurut Scarlett cukup menggelisahkan.
"Apa tidak ada petunjuk untuk kami?" tanya seorang murid tiba-tiba.
"Pertanyaan bagus, Nak," puji Emilia, meskipun nadanya datar. "Kalian semua silahkan ikut aku ke TKP. Permainan kali ini akan kita lakukan di luar kelas."
Seluruh orang nampaknya langsung bergerak cepat mengikuti instruksi Emilia, sama halnya dengan Scarlett dan Oliver—yang sebenarnya harus ditarik-tarik dulu sebelum mau pergi. Berada dalam sekitar tiga puluhan murid lain, Scarlett bisa melihat betapa banyak kemungkinan pembunuh di antara mereka. Semuanya orang-orang yang tidak ia kenal, bagaimana ia tidak bisa mencurigai mereka? Melirik Oliver yang terlihat santai seperti biasa, Scarlett memutuskan untuk mengamati TKP terlebih dahulu. Ia juga tahu kalau seluruh murid pasti mencurigai dirinya.
Selagi berjalan, Scarlett bisa mendengar banyak obrolan ringan maupun berat. Beberapa nampaknya takut karena ada pembunuh di antara mereka, atau hanya gugup jika harus menyerahkan teman mereka yang merupakan pembunuh pada guru pembunuh lainnya. Setelah sampai di tempat tujuan, Scarlett hampir tidak bisa melihat si korban karena terlalu pendek di balik makhluk-makhluk tinggi besar yang bentuknya beragam. Ia menyenggol Oliver dan berkata, "aku tidak kelihatan."
"Salah sendiri terlalu pendek," ejek Oliver acuh.
Scarlett menendang tulang kering Oliver, lalu membiarkannya mengaduh kesakitan sendirian. "Awas saja." Sementara Oliver tampak tidak peduli selain pada tulang keringnya yang tadi ditendang.
"Kalian bisa melihat korban di sini. Tempat ini bebas dikunjungi kapan dan siapa saja, asal masih merupakan anggota kelas F-81. Batas waktunya adalah empat jam"—terdengar berbagai keributan di antara murid-murid ketika mendengar batas waktunya—"silahkan mencari tahu siapa pengkhianat di kelas ini," kata suara Emilia, terdengar agak sayup-sayup, namun tidak adanya perasaan serta kelicikan dalam suaranya tetap terdengar jauh. "Akan kujelaskan beberapa hal tentang korban. Namanya Aries, umurnya tidak diketahui secara pasti. Ada pesan kematian yang tertulis di dekat mayatnya, silahkan kalian lihat sendiri. Tidak ada aturan khusus dalam permainan kali ini, asalkan kalian tidak melewati batas saja."
Scarlett tidak mengerti apa yang dimaksud dengan batas, sama halnya dengan seluruh murid di sekitarnya. Ia melirik Oliver—yang juga terlihat sama tidak mengertinya—dan tahu jika rekannya itu mungkin akan sama sekali tidak bisa diandalkan.
"Nah, silahkan mencurigai satu sama lain," kata Emilia dengan senyum di wajahnya. "Aku akan di sini kapan saja kalian membutuhkanku."
Emilia tampaknya sudah selesai menjelaskan hal-hal yang menurutnya penting untuk permainan ini. Baru saja ia selesai bicara, seluruh murid juga terlihat tidak sabar untuk menuduh satu sama lain.
"Hei, ada pembunuh di antara kita."
"Aku tahu, mungkin saja orang di sebelahmu."
"Heh, mungkin saja itu dirimu."
"Atau mungkin saja kau."
"Jangan asal tuduh dong."
"Lalu siapa lagi?"
Scarlett mendongak menatap Oliver—yang juga balas menatapnya hampir-hampir bersamaan—dan berkata, "aku—"
Belum selesai mengatakan sesuatu, tangan Scarlett sudah ditarik Oliver ke tempat yang tidak ia ketahui. Ketika mereka berdua berhenti, ternyata sudah cukup jauh dari kerumunan yang memenuhi TKP. Di sebuah lorong, Scarlett menyandarkan punggungnya di tembok, mengikuti pose Oliver di depannya. "Jangan menarikku lagi," kata Scarlett. "Aku tidak suka."
"Kau bisa melupakan itu sebentar," ucap Oliver, mengabaikan pernyataan Scarlett tadi. "Di sana terlalu ribut, aku tidak suka."
"Sama," Scarlett setuju. Ia menyilangkan kedua lengannya, lalu kembali bertanya, "apa yang akan kita lakukan di sini?"
"TKP pasti akan sepi setelah beberapa waktu, kita sebaiknya mengamati lagi setelah keadaan lebih baik," kata Oliver. "Selain itu, apa kau punya pandangan dalam kasus ini?"
Melihat Oliver yang terlihat dan terdengar cukup profesional membuat Scarlett menarik kata-katanya tentang rekan-tidak-akan-bisa-diandalkan tadi. Scarlett mendengus kasar sebelum menjawab, "ada beberapa yang bisa ditindaklanjuti."
"Misalnya?"
"Kita bisa mencari tahu informasi tentang Aries ini dari teman-teman sekelas yang mungkin mengenalnya," jawab Scarlett, menyuarakan pikirannya. "Kita bisa melihat pesan kematian Aries, tapi pasti berbentuk kode. Artinya kita harus memecahkannya terlebih dahulu."
"Betul sekali," kata Oliver. "Aku juga memikirkan tentang kamera pengawas. Pasti ada di setiap tempat di sekolah. Dan, mungkin pelaku melakukan kecerobohan di TKP, jadi kurasa menyelidiki TKP adalah hal yang harus kita lakukan."
"Tentu saja," kata Scarlett. "Kau berasal dari dunia ini, kan? Apa kau mengenal beberapa di antara mereka?"
"Tidak." Oliver menelengkan kepalanya sedikit sambil menggaruk lengannya.
"Tapi kenapa kau mengajak mereka mengobrol tadi?" tanya Scarlett tidak mengerti.
"Aku cuma bosan."
"Jangan berbohong, lho," kata Scarlett, sebelah matanya menatap Oliver super tajam. "Ini penting untuk kelangsungan hidup kita."
"Aku tidak bohong," ucap Oliver buru-buru. "Aku tahu konsekuensi kalau kita salah."
"Aku percaya," balas Scarlett, membuat ekspresi Oliver sedikit berubah—meskipun tidak disadari Scarlett. "Menurutmu siapa yang bisa dicurigai? Apakah—"
"Semuanya," kata Oliver dan Scarlett bersamaan.
"Oh, jangan lupakan Emilia," lanjut Oliver.
"Tentu," balas Scarlett, merasa kaget bahwa Oliver bisa melanjutkan kalimatnya. "Aku senang pikiran kita sama."
"Sebetulnya aku juga bingung, kenapa Emilia tidak menjelaskan segalanya termasuk kamera pengawas dan profil lengkap seisi kelas," kata Oliver. "Kita harus mencarinya sendiri, kan?"
"Mungkin itu akan masuk ke dalam penilaian tambahan," balas Scarlett. "Baiklah, kita harus pergi ke TKP dulu, lalu kita akan membagi tugas dalam menginterogasi teman-teman sekelas."
"Menurutmu mencurigai guru diperbolehkan?" tanya Oliver tidak yakin.
"Tadi sepertinya tidak ada aturan khusus, asal tidak melewati batas," jawab Scarlett. "Tapi aku tidak tahu seberapa jauh batas yang ada."
"Kalau begitu kita interogasi Emilia juga?"
"Itu harus dilakukan. Pasti tidak akan sia-sia."
"Kau mau menginterogasi teman-teman sekelas sendirian?" tanya Oliver. "Ah, kau mana mungkin berani. Iya, kan?"
"Sebetulnya aku berani, aku cuma jijik saja pada bentuk mereka," jawab Scarlett membela diri. "Tapi kita akan menginterogasi secara terpisah, lalu hasilnya kita diskusikan bersama nanti."
"Kalau kau ketakutan tidak apa-apa kok, aku bisa menemanimu," ucap Oliver, meskipun keikhlasannya cukup diragukan.
"Tidak apa," jawab Scarlett buru-buru. "Aku bisa melakukannya. Aku tidak bisa terus-terusan bergantung padamu."
Lagi-lagi, ekspresi Oliver tampak berubah, namun Scarlett tidak sadar alias mengabaikannya. Ia menyeringai lalu berkata, "baiklah."
"Menurutmu TKP sudah sepi sekarang?" tanya Scarlett, jelas-jelas mengubah topik pembicaraan.
"Ini belum lama sejak kita pergi dari sana," kata Oliver sambil menaikkan sebelah alisnya heran.
"Aku tahu, tapi daripada kita terus di sini dan hanya membuat asumsi, lebih baik kita langsung pergi ke sana dan membuat analisis dari bahan yang kita dapatkan," ucap Scarlett sambil menelengkan kepalanya sedikit. "Kita pergi?"
"Ayo," ajak Oliver, langsung keluar dari lorong dan menuju tempat yang tadi ditunjukkan Emilia.
Di sana kini hanya tersisa beberapa orang saja, entah kemana semuanya. Emilia juga tidak terlihat dimana-mana, padahal katanya tadi dia akan berada di sana. "Menurutmu kenapa Emilia juga tidak ada di sini?" tanya Scarlett.
"Mungkin karena dia juga mengawasi kerumunan anak-anak lain," jawab Oliver. "Lagipula itu tidak begitu penting, kita lebih baik melihat TKP."
Keduanya berjalan santai ke arah tempat yang dipagari oleh tali tipis. Scarlett bisa melihat sesosok mayat berdarah-darah di dalam area yang dilingkari tali tipis itu, ia melanjutkan langkahnya, mengabaikan bau anyir darah serta lalat yang mulai mengerubungi mayat itu. Scarlett menyadari bahwa dia mungkin tidak intoleransi darah, karena dia tidak merasa mual melihat dan menyaksikan pembunuhan secara langsung. Menyadari hal kecil yang remeh ini, Scarlett menatap Aries si mayat yang terlihat masih segar.
"Apa kita boleh memegang mayat ini?" tanya Scarlett, entah karena kehilangan ingatan atau apa, ia tidak menganggap memegang mayat berdarah-darah adalah sebuah hal yang buruk.
"Tentu saja." Jawaban itu terdengar bukan dari Oliver, melainkan pihak ketiga yang tiba-tiba datang dengan tongkat komandonya. "Memegang, merubah posisinya, bahkan memeriksa luka di tubuhnya juga boleh."
Senyuman licik nan sadis di bibir Emilia tidak membuat Scarlett ciut, dia sudah menyadari bahwa seseorang seperti Emilia dan Henry hanya perlu diturunkan sedikit harga dirinya untuk ditaklukkan. Scarlett dan Oliver saling bertatapan sebelum akhirnya mengangguk satu sama lain. Keduanya memasuki area yang dilingkari tali tipis itu dan mulai melihat Aries si mayat lebih dekat. "Apa yang bisa kau simpulkan dari mayat ini?" tanya Emilia, ia berjongkok sambil bertopang dagu, memasang ekspresi bosan melihat Scarlett dan Oliver yang masih mengamati mayat.
Scarlett menyentuh darah yang berceceran, jelas sekali mengalir ketika Aries si korban sudah terjatuh ke lantai, darah itu masih segar. Jelas-jelas keduanya mengabaikan Emilia, namun guru mereka yang satu itu nampaknya memiliki kontrol emosi yang lebih baik dibanding Henry. Oliver ikut menyentuh mayat, mengecek mulutnya, bahkan menekan-nekan luka yang ada di tubuh Aries. Scarlett mendekat pada Oliver dan berbisik, "kukira Aries itu laki-laki."
Oliver terkekeh dan balas berbisik, "kukira juga begitu."
"Hei, hei, hei ... kalian berbisik-bisik, ya. Mau menyembunyikan sesuatu dari guru kalian?" tanya Emilia sok akrab.
Scarlett menatap Emilia tidak suka, "katamu tidak akan ada aturan khusus."
"Benar."
"Kalau begitu kami bebas mencurigai siapa saja?" tanya Oliver.
"Tentu saja."
Scarlett memberi isyarat Oliver agar berhenti bicara dan melanjutkan penelitian mereka.
"Astaga kalian berdua ini," balas Emilia dengan eskpresi gila yang kelihatannya tidak bisa ia tahan barang sedetik. "Aku sudah mendengar tentang kalian. Scarlett Schneider, dan rekannya Oliver Darke. Henry sangat kesal sekaligus kagum padamu, Scarlett. Akan sangat menyenangkan bila kau bergabung menjadi guru di sekolah ini."
Scarlett mengabaikan segala hal yang dikatakan Emilia kecuali nama belakang Oliver tadi. Ia menatap Emilia dingin dan berkata, "bisa beri kami ruang?"
"Oh tentu saja," jawab Emilia, kentara sekali sedang menutupi kekesalannya. "Silahkan saja. Aku akan melihat murid-murid lain."
Ketika Emilia sudah cukup jauh, Oliver tidak bisa menahan tawanya, membuat Scarlett bertanya-tanya apa alasan rekannya itu tertawa. "Kau tidak suka Emilia?" tanyanya setelah selesai tertawa.
"Tidak," aku Scarlett. "Dia pasti sama seperti Henry."
"Artinya kau juga tidak suka guruku," balas Oliver, menelengkan kepalanya dan melihat Scarlett sedikit miring. "Dia, kan, pemilik sekolah ini."
"Mungkin," jawab Scarlett tanpa berpikir. Ia belum pernah memikirkannya, dan ternyata bibirnya telah otomatis menjawab demikian.
"Tidak apa-apa, banyak juga yang tidak suka pada guruku," kata Oliver, sorot mata, nada suara, dan ekspresinya sama sekali tidak bisa ditebak sekarang, meskipun Scarlett tak pernah memperhatikannya.
Melihat Oliver yang seperti itu, Scarlett jadi merasa bersalah. Sepertinya dia salah mengartikan ekspresi wajah rekannya itu. "Maaf, aku tidak memikirkanmu sebagai muridnya," ujar Scarlett, merasa menyesal telah berkata secara tidak langsung bahwa dia tidak suka guru Oliver.
Ekspresi wajah Oliver kembali berubah, namun tetap tidak disadari Scarlett. "Lupakan saja, kenapa tadi kita melantur?" tanya Oliver diselingi kekehan di dalamnya, langsung mengubah suasana di antara mereka. "Kau sudah menemukan apa dalam mayat Aries ini?"
"Perkiraan waktu kematiannya sekitar nol sampai tiga jam yang lalu, dilihat dari mayat yang masih terasa lembek dan hangat. Sepertinya tidak ada adegan kejar-kejaran sebelum kematian." Scarlett masih tidak tahu kenapa dirinya bisa mengetahui semua fakta itu, ditambah seluruh kata-kata yang ia keluarkan juga. "Kalau memang ada aksi fisik yang besar sebelum kematian, tubuh akan semakin cepat mengalami kekakuan. Sebab kematian?"
Scarlett jelas sedang menguji Oliver, membuat rekannya itu juga ikut berpikir, dan sepertinya Oliver tidak terlalu keberatan. "Dibunuh. Tentu saja karena kita harus mencari pembunuhnya sekarang. Dan kurasa senjata yang digunakan adalah benda tajam dan benda tumpul sekaligus. Dari darah yang terciprat serta luka di tubuh korban. Menurutmu apa penyebab dia dibunuh?"
"Mungkin bertengkar dengan temannya. Kurasa di dunia ini mudah sekali mengangkat senjata di depan seseorang." Scarlett melihat mata dan bibir Aries yang terbuka, menatap entah ke arah kematian yang menjemputnya. Luka di tubuhnya ada di bagian kepala, perut, dan tangan. Setiap tusukannya tampak cukup dalam.
"Sepertinya dia mati karena kepalanya yang dipukul benda tumpul," kata Oliver. "Kalau tidak, untuk apa kepalanya dipukul?"
"Mungkin untuk memastikan dia sudah mati?"
"Kurasa itu agak berlebihan."
Tidak juga, pikir Scarlett dalam hati, enggan menyuarakannya keras-keras. "Terserah. Ada bukti yang dijatuhkan pelaku di sekitar sini? Dimana letak pesan kematian yang dijelaskan Emilia?" tanya Scarlett.
"Kurasa pasti ada." Oliver mulai menatap sekitarnya. "Ah, ini dia."
4LW1i3. Scarlett tidak mengerti. Kenapa seseorang harus repot-repot membuat kode untuk pesan kematiannya jika ia ingin pembunuhnya segera tertangkap? Bagian dalam dirinya yang lebih cerdas langsung menjawab, agar tidak diketahui pembunuhnya, kan?
Oh iya juga, pikir Scarlett, mendadak malu pada dirinya sendiri. "Oliver, kau punya kertas? Barangkali kita bisa mencatat kodenya di sini."
"Ini dia." Oliver langsung menyihir sebuah kertas dan pulpen, lalu menuliskannya sebagus mungkin dalam kertas itu.
"Bagus. Sekarang sepertinya waktu yang tepat untuk melakukan interogasi," kata Scarlett seraya berdiri dan keluar dari area yang dilingkari tali tipis itu. "Ngomong-ngomong, bisakah kau membantuku mencari kamar mandi? Aku mau bersih-bersih dulu."
"Tidak masalah. Kurasa sudah waktunya juga aku membersihkan diri dari bekas darah akibat Henry tadi," jawab Oliver sambil melangkahkan kakinya duluan. "Tadi aku melihat kamar mandi kalau tidak salah."
"..."
Keduanya berjalan bersama ke kamar mandi, namun sepertinya Scarlett sudah tidak tahan dengan darah di sekujur tubuh dan bajunya akibat permainan Henry sebelumnya, jadi ia agak terburu-buru. "Oh iya," kata Scarlett sebelum masuk ke dalam kamar mandi. "Kau bisa membuatkan baju untukku? Kalau bisa yang sama persis seperti ini."
"Heh, kau banyak maunya, ya," komentar Oliver. Namun tetap saja ada kaus lengan pendek berwarna orchid dan celana jeans selutut sederhana yang tiba-tiba ada di lantai. "Ambillah kalau sudah bersih."
~•••~
Melihat kedua tangannya bersimbah darah yang bukan miliknya, Scarlett tampak tidak seterkejut yang ia bayangkan. Rupanya ia tampak biasa saja. Pembunuhan Aries si korban dengan tersangkanya adalah seisi kelas—apalagi yang orang-orangnya tidak ada yang ia kenal—jelas saja merupakan sesuatu yang baru. Scarlett juga tidak bisa menjelaskan ilmu-ilmu yang mendadak bisa dikuasainya, sesuatu yang muncul lebih dulu dibanding ingatan pribadinya. Ia tidak mengerti.
Rupanya di dalam kamar mandi ada kaca, Scarlett bisa melihat dirinya sendiri yang bersimbah darah dan tampak agak mengerikan. Setelah penutup matanya dilepas, Scarlett semakin sadar betapa anehnya dia jika hanya memiliki satu mata. Lubang menganga itu tampak benar-benar kosong, dan alasan dibalik menghilangnya mata Scarlett juga terlihat sangat misterius. Sebetulnya ada banyak pertanyaan dalam benak Scarlett, namun ia akan menahannya sampai akhir. Ia ingin fokus menyelamatkan hidupnya terlebih dahulu, karena ia tidak tahu apa hukuman yang diberlakukan Emilia jika salah atau malah tidak menjawab permainan ini.
Scarlett cepat-cepat ganti baju dan bersih-bersih karena batas waktu permainan hanya empat jam. Ia menemui Oliver di depan kamar mandi—yang juga terlihat sebersih ketika mereka pertama kali bertemu—dan melangkahkan kaki bersama menuju kelas.
"Anbillah," kata Oliver, menyodorkan buku catatan kecil dan pulpen. "Catat apa saja yang penting, lalu kita bisa diskusikan bersama."
"Menurutmu berapa yang harus kita interogasi?" tanya Scarlett. "Ada banyak, apa kita tidak bisa memperkecil kemungkinannya?"
"Saat ini lebih baik mencari tahu siapa saja yang dekat dengan Aries. Dia kelihatannya gadis populer, wajahnya cukup cantik."
Scarlett kembali mengingat bentuk tubuh Aries yang memang manusia, sama halnya dengan dia dan juga Oliver. "Aku akan menghitung seisi kelas, lalu kita bagi dua, oke?"
"Boleh saja."
"Emilia juga kita interogasi?" tanya Scarlett. "Curiga saja tidak cukup."
"Aku tahu," jawab Oliver. "Untuk Emilia, ada baiknya kita interogasi berdua. Siapa tahu dia cerdas dan bisa berkelit kapan saja."
"Aku juga berpikir demikian," balas Scarlett. "Emilia bisa kita interogasi belakangan, kan? Teman-teman sekelas lebih dulu."
"Oh iya, bagaimana dengan rekaman kamera pengawas?" tanya Oliver.
"Aku akan meminta rekaman itu pada Emilia setelah ini, dia pasti tidak jauh dari kerumunan teman sekelas kita." Scarlett sadar kalau dia hampir melupakan rekaman kamera pengawas, padahal menurutnya itu sangat penting.
Mereka sudah sampai di depan kelas lagi, sementara Scarlett meneguk ludahnya kasar dan membuka pintu, Oliver tampaknya masih setenang biasanya. Suasana kelas sama seperti saat mereka masuk ke sana terakhir kali, hanya saja suara ribut itu adalah suara kericuhan yang disebabkan tuduhan satu sama lain.
Scarlett langsung menghitung jumlah murid. Tiga puluh satu, hitung Scarlett. "Lima belas masing-masing kalau begitu, sisanya nanti saja." Scarlett langsung menarik tangan Oliver ke arah Emilia yang duduk tenang di atas meja guru, tampak senang melihat keributan kelas akibat tuduhan satu sama lain.
"Eh, kalian datang lagi," kata Emilia. "Sudah selesai melihat mayatnya? Ada yang ingin ditanyakan?"
"Rekaman kamera pengawas?" tanya Scarlett. "Ada tidak?"
"Tentu saja." Emilia tertawa tanpa sebab, lalu memberikan kaset pada Scarlett. "Ini dia. Rekaman kamera pengawas seharian ini sebelum mayat ditemukan. Silahkan lihat di televisi ini. Aku suka melihat kinerja murid-murid pintar."
Scarlett menoleh pada televisi kecil di samping Emilia, lalu meminta Oliver memutar kaset itu dengan alasan aku-tidak-tahu-caranya. Televisi menyala dan memperlihatkan rekaman hitam putih dari lorong tempat Aries si mayat ditemukan.
"Oliver, bisa percepat sedikit?" tanya Scarlett.
Rekaman video dipercepat beberapa kali, dan tiba-tiba saja Aries sudah ada di sana. Mati bersimbah darah dengan kondisi tubuh banyak terluka. Lalu Emilia datang tidak lama kemudian.
"Kemana rekaman saat pembunuhnya ada di sana?" tanya Scarlett.
"Oh, kamera di lorong itu sering rusak dan mati sendiri. Jadi gambarnya barangkali tidak tertangkap," jawab Emilia acuh sambil memperhatikan kukunya yang dicat warna merah menyala.
Scarlett bertatapan dengan Oliver, gadis itu beringsut untuk berbisik pada Oliver, "jangan-jangan rekamannya dimanipulasi."
"Oleh siapa?" tanya Oliver balas berbisik.
"Kalau tidak kenapa? Kita harus memercayai Emilia?" Scarlett menarik Olive menjauh dari Emilia ketika sedang membicarakan gurunya itu.
"Itu bisa kita cari tahu belakangan. Lebih baik kita interogasi dulu teman-teman sekelas," saran Oliver.
Scarlett berpikir sejenak sebelum berkata, "oke. Kita lakukan itu dulu." []