“Aku cuma mau ikut jalan.
Nggak nyangka malah jadi penunjuk arah ke masalah.”
~ Nozomi Hoshiko
*•̩̩͙✩•̩̩͙˚˚•̩̩͙✩•̩̩͙˚*
Aku bahkan belum sempat melangkah satu langkah pun setelah Hiro mengizinkanku ikut.
Tiba-tiba saja, kerah belakang bajuku terasa ditarik.
“Hah—?”
Dalam satu gerakan ringan—terlalu ringan untuk ukuran tubuh sebesar itu—aku terangkat dari tanah. Dua jari Hiro mencengkeram bajuku seperti seseorang mengangkat barang kecil… atau seperti mengangkat anak kucing yang tersesat.
“A—aku jalan sendiri juga bisa—!”
Kalimat protesku menggantung di udara karena detik berikutnya, aku sudah berada di pundaknya.
Tinggi.
Sangat tinggi.
Aku terdiam beberapa detik, otakku butuh waktu untuk memproses pemandangan di depanku. Dunia tiba-tiba terasa… berbeda. Pohon-pohon yang tadi menjulang kini sejajar dengan pandanganku. Cabang-cabang yang biasanya hanya kulihat dari bawah kini bisa kuhitung satu per satu.
“Wah…”
Aku spontan memegang rambut ikal Hiro agar tidak jatuh. Rambutnya tebal dan hangat, tidak kasar seperti yang kubayangkan dari monster.
“Aku bisa lihat jauh sekali!”
Aku menoleh ke kiri. Ke kanan. Ke depan. Ke belakang.
Dari ketinggian ini, hutan terbentang seperti lautan hitam kehijauan. Garis-garis samar jalur hewan, aliran sungai kecil, bahkan perubahan kontur tanah terlihat jelas. Mataku—yang memang lebih tajam dari manusia biasa—menangkap detail-detail yang sebelumnya tak pernah kusadari.
“Ini seru!” seruku, benar-benar lupa bahwa aku sedang berada di atas bahu Raja Kaelvorn.
Kawanan mulai berjalan.
Langkah mereka besar dan cepat. Setiap hentakan kaki membuat tanah bergetar ringan. Anehnya, aku tidak takut. Justru rasanya seperti duduk di pundak orang dewasa saat kecil—aman, stabil, dan menyenangkan.
Aku mengayunkan kakiku pelan, seperti anak kecil yang tidak punya kekhawatiran apa pun.
Di tengah perjalanan, Hiro akhirnya bicara.
“Berapa usiamu?”
Aku menoleh ke bawah, berpikir sebentar. “Dua puluh satu.”
Langkahnya tidak berhenti.
Namun aku bisa merasakannya.
Itu.
Kejutan keempat.
Ia tidak bereaksi berlebihan. Tidak bersuara. Tapi bahunya sedikit menegang. Sangat sedikit. Jika aku tidak duduk di atasnya, mungkin aku tidak akan menyadarinya sama sekali.
“Jangan berbohong,” katanya datar.
Aku langsung menggeleng cepat, rambutku bergoyang. “Aku nggak bohong.”
“Tubuhmu,” lanjutnya, “dan caramu bicara… tidak seperti itu.”
Aku cemberut kecil. “Memangnya kenapa?”
“Usia itu,” katanya, “untuk manusia di dunia ini… sudah waktunya membangun rumah, memiliki pasangan, dan melanjutkan keturunan.”
Aku terdiam.
“…Oh.”
Aku mencerna kalimat itu pelan-pelan. Sangat pelan.
“Jadi… anak itu nggak turun dari langit?” tanyaku polos.
Langkah Hiro hampir saja terhenti.
Namun ia tetap berjalan.
“Apa kau benar-benar berusia dua puluh satu?”
“Iya,” jawabku mantap. “Sejak aku bangun, ya segitu.”
Jawabanku jujur. Setidaknya, itu yang kuingat.
Beberapa saat kemudian, aku bertanya balik.
“Hiro, kalau kamu berapa?”
“Dua puluh satu abad.”
Aku mengangguk. “Oh.”
Baru setelah beberapa detik berlalu, aku mengangkat kepala.
“Tunggu… abad?”
Ia tidak menjelaskan. Tidak menoleh. Tidak mengoreksi.
Kawanan terus bergerak menembus hutan.
Malam ini benar-benar gelap. Tidak ada bulan sama sekali. Obor-obor yang dibawa para prajurit hanya menerangi beberapa langkah ke depan. Bayangan pepohonan tampak bergerak, seolah hidup.
Aku bisa merasakan kewaspadaan mereka. Langkah-langkah menjadi lebih teratur. Nafas tertahan. Telinga mereka siaga.
Aku tidak tahu kenapa.
Jadi aku bersenandung.
Nada sederhana. Lagu yang bahkan aku tidak tahu dari mana asalnya. Suaraku pelan, tapi cukup untuk mengisi keheningan. Aku merasa senang. Duduk tinggi, digendong, ikut jalan-jalan malam.
Hingga sesuatu menarik perhatianku.
Aku menoleh ke belakang.
Ke arah selatan.
Mataku menyipit.
Jauh.
Sangat jauh.
Sekitar… sepuluh kilometer.
Namun aku melihatnya dengan jelas.
Gerakan. Banyak. Teratur. Mendekat.
Aku mengangkat tangan dan menunjuk.
“Hiro.”
Ia tidak berhenti, tapi nada suaranya berubah. “Apa?”
“Di sana,” kataku sambil menunjuk lurus ke arah gelap. “Ada yang datang.”
Kawanan Kaelvorn langsung bereaksi.
Beberapa prajurit berhenti. Obor diarahkan. Senjata diangkat.
“Apa?” salah satu dari mereka bertanya tajam.
Aku mengerjap. “Banyak. Jalan ke sini.”
Keheningan jatuh sekali lagi.
Dan di tengah malam tanpa bulan itu,
di pundak Raja Pemangsa,
aku menunjuk ke kegelapan—
tanpa tahu
bahwa yang mendekat
bukan sekadar bayangan.
*•̩̩͙✩•̩̩͙˚˚•̩̩͙✩•̩̩͙˚*
Di malam tanpa bulan itu, aku masih duduk tinggi—terlalu tinggi untuk seseorang sepertiku—menunjuk ke arah gelap sambil tersenyum, seolah bahaya hanyalah permainan petak umpet yang belum selesai.
Aku belum tahu siapa yang datang. Aku juga belum ingat siapa diriku sebenarnya.
Yang kutahu, langkah-langkah itu nyata… dan cerita ini baru saja mulai menggigit.