Dia mengenakan pakaian berwarna serba hitam, dengan beberapa bordiran warna merah yang sudah pudar, penampilannya terkesan miskin, namun wajahnya yang indah dan berseri membuat penampilannya tidak terlalu menyedihkan.
Rambutnya yang cokelat lurus panjang di ikat kuncir kuda dengan tali merah yang menjuntai panjang dengan warna menyala, tidak seperti kain kusam pakaiannya.
Sepasang matanya berbinar indah dengan warna merah berbingkai bulu mata yang tebal dan panjang serta sedikit lentik, dia memiliki wajah yang cantik dan indah, hidungnya kecil dan mancung, alisnya ramping dengan lengkung yang lembut, bibir tidak terlalu tipis, berwarna merah muda alami.
Di bahunya terdapat sebuah bungkusan kain kecil berwarna hitam, dia tampak seperti gelandang kecil, daripada pengembara yang keren, namun sosok seperti itu tidak akan menarik perhatian siapapun di antara hadirnya ratusan orang.
Tubuhnya yang kurus dan pendek dengan mudah menyelinap di antara kerumunan orang-orang, dan dengan senyuman manis menghampiri seorang pedagang buah yang kiosnya tidak terlalu ramai yang di jaga oleh seorang bibi gendut yang terlihat ramah.
"Bibi, apakah ini benar desa Lanhua yang ada di kaki Gunung Shangyan?!"
Suaranya yang tinggi dan nyaring menarik perhatian beberapa orang, namun sang Bibi penjaga toko dengan cepat menjawab; "iya, ini adalah desa Lanhua."
Mendengar jawaban itu dia segera tersenyum dan berlari dengan penuh semangat menuju ke arah gunung yang menjulang tinggi, tempat di mana sekte Shenzhan berada, tempat berkumpulnya para pendekar dari berbagai daerah untuk menimba ilmu dan berlatih.
Hari ini Wei Qingge, gadis berusia 14 tahun yang hanya berbekal satu setel pakaikan tanpa sepeserpun uang datang ke tempat ini setelah perjalanan berbulan-bulan, untuk berlatih di puncak Shengyan.
Setelah berjalan melewati pemukiman dan sedikit hutan, akhirnya Wei Qingge dapat menemukan tangga pertama menuju puncak Shengyan, dan mulai menapaki nya satu persatu dengan hati yang gembira, tak peduli dengan kenyataan bahwa tangga itu menjulang tinggi bahkan hampir tak terlihat ujungnya.
Kakinya mulai bergerak cepat menapaki satu-persatu anak tangga, dengan angin yang berhembus kencang membuat pakaian dan rambutnya berkibar. Menyadari banyak bayangan yang bergerak di sekitarnya, Wei Qingge mengadahkan kepalanya ke langit, melihat banyak pendekar yang terbang dengan menapaki pedangnya. Ini menjadi jawaban atas keheranannya yang menyadari hanya dirinya seorang yang menaiki anak tangga, padahal ini adalah hari penting di mana pada pendekar anak di tes untuk menjadi salah satu dari 40 orang yang mendapatkan pembelajaran eksklusif selama setengah tahun di Sekte Shenzhan, yang di selenggarakan 3 tahun sekali.
Ketika matahari mencapai puncaknya, Wei Qingge mulai kehilangan energinya, dia baru mencapai setengah dari seluruh anak tangga untuk mencapai puncak Shengyan, sementara tesnya akan berakhir sore hari, dan dia sudah tidak dapat berlari kencang lagi, dan semua air perbekalannya telah habis, tapi Wei Qingge menolak untuk menyerah dan tetap menggunakan segenap tenaganya untuk terus naik.
Matahari bersinar terik, keringat sudah bercucuran membasahi seluruh tubuhnya, rasa haus mulai menyerangnya, namun kakinya masih tetap melangkah untuk naik lebih tinggi, keinginannya untuk belajar di puncak Shengyan menguatkan dirinya.
"Kenapa Kakek tidak membiarkan ku membawa Huowu, padahal itu pedangnku, aku bisa naik dengan mudah," gerutu Wei Qingge, dengan kedua alisnya yang menukik turun karena terik matahari.
Sementara di atas angin, ada dua orang pemuda berpakaian putih dengan sulaman burung berwarna hijau menghiasi ujung pakaian mereka, masing-masing berdiri di atas pedang.
Satu orang tampak lebih dewasa dengan rambut terurai, di hiasi mahkota perak yang indah, dengan sepasang mata kuning keemasan, dia tampak anggun dan berwibawa.
"Ziyu, lihatlah, ada seseorang yang menaiki tangga."
Pemuda yang di panggil Ziyu yang terlihat lebih muda, dia langsung menundukkan pandangannya ke bawah, mendapati titik hitam berbentuk manusia yang bergerak naik di tangga puncak Shengyan.
Penampilannya tenang dan dingin, sepasang mata birunya bercampur dengan warna hijau, rambut hitamnya yang lurus di ikat kuncir kuda tinggi.
"Kurasa itu bukan orang gila yang naik tangga lagi, mana mungkin ada orang gila yang kuat naik sejauh itu." Ucap pemuda yang lebih tua, yang lebih muda hanya menganggukkan kepalanya sedikit sebagai respon setuju, tidak ada perubahan ekspresi pada wajah pemuda yang lebih muda.
"Ziyu, hampirilah dia, mungkin dia tidak memiliki tunggangan sehingga naik dengan kaki." Ucap pemuda yang lebih tua.
"Baik, Kak." Balas pemuda yang lebih muda, dia segera bergerak turun dengan cepat menggunakan pedangnya sebagai tumpuan, rambut dan pakaian ikut bergerak karena gerakan menukik turun yang cepat, setelan jaraknya dengan tanah telah dekat, dia melompat turun dari pedangnya dan menapakan kakinya di tangga sekitar 3 anak tangga di hadapan orang asing yang sedang naik tangga, sementara pedang terbang mendekat memancarkan kilat perak, dan dengan cepat tangan pemuda itu menangkap gagang pedang, kemudian memasukan pedangnya ke dalam sarung pedang di pinggangnya.
Wei Qingge menghentikan langkahnya, memandang orang asing yang tiba-tiba muncul di hadapannya, seperti Dewa yang turun dari langit. Kalau saja Wei Qingge sedang dalam kondisi yang tidak kelelahan saat ini, dia pasti sudah tersenyum lebar pada pemuda di hadapannya.
"Apa tujuanmu menapaki tangga puncak Shengyan?" Tanya sang pemuda, suaranya yang rendah terdengar menyegarkan di telinga.
"Tentu saja untuk pergi ke puncak Sekte Shenzhan, apakah kau ingin memberikan tumpangan untuk pengembara ini?" Ucap Wei Qingge dengan suara nafas tersengal-sengal.
Tanpa berkata apapun, Pemuda itu mengangkat tubuh Wei Qingge dengan kedua tangannya. Pedangnya yang memancarkan kilau perak terbang keluar dari sarung pedang yang ada di pinggangnya.
Wei Qingge yang kaget mencengkram bagian depan pakaian pemuda yang mengangkat dirinya, memandang wajah tanpa ekspersi itu dengan wajah kaget sehingga kedua matanya membulat.
"Hei, apa yang ingin kau lakukan!?" Teriak Wei Qingge, dia ingin memberontak turun, tapi dia terlalu lemah dan lelah saat ini, apalagi pemuda yang mengangkat tubuhnya tidak terlihat seperti orang jahat.
"Aku akan membawamu ke sekte," ucap sang pemuda, suaranya tenang dan terdengar dengan jelas ke dalam kedua telinga Wei Qingge.
Kakinya melompat tinggi, menapak dengan sempurna ke atas bilah pedang yang memancarkan warna perak berkilat karena cahaya matahari, dengan seimbang membawa Wei Qingge dengan kedua tangannya.
Dengan kecepatan yang sangat cepat, hingga Wei Qingge kesulitan untuk membuka matanya, keduanya bergerak di atas angin, keduan tangan Wei Qingge secara alami mencengkram bagian depan pakaian pemuda yang menggendongnya. Hanya butuh beberapa detik hingga akhirnya keduanya tiba di depan gerbang sekte Shenzhan, dan pemuda itu menurunkan Wei Qingge ke tanah.
Wei Qingge memandang pemuda yang membantunya naik dengan cepat dan mudah, penampilannya sempurna dari berbagai sisi, dan pemandangan bagian depan pakaiannya yang kusut tidak membuatnya kehilangan poin kesempurnaan.
Walaupun semuanya terjadi begitu cepat dan aneh, Wei Qingge tetap membungkukkan tubuhnya, dan berkata : "Terimakasih atas bantuannya, tuan muda."
Sementara pemuda itu hanya memandang sekilas remaja di hadapannya yang penampilannya sangat berantakan, dan melangkah pergi begitu saja. Membuat Wei Qingge menarik kembali beberapa penilaian positif yang di terapkannya beberapa saat yang lalu.
Sombong sekali, untung tampan. Pikir Wei Qingge, tapi dia tidak akan mempermasalahkannya, karena pemuda itu telah membuatnya sampai ke gerbang Sekte Shenzhan, tanpa peduli apapu dengan penuh semangat menghampiri penjaga gerbang yang mengenakan seragam berwarna hijau muda yang ada di sisi kanan gerbang.
Sementara para penjaga gerbang itu terheran-heran melihat sosok Wei Qingge, yang sekarang tampak kumal dan menyedihkan, seperti gelandang.
Kedua penjaga gerbang saling melirik, seolah memahami pemikiran satu sama lain.
Bagaimana caranya gelandang naik sampai ke puncak Shengyan?
Namun keduanya bukanlah orang yang bodoh, mereka tetap bersikap professional, dan salah satunya tetap tersenyum saat Wei Qingge datang menghampiri.
"Tuan, ini surat rekomendasi ku." Ucap Wei Qingge dengan senyuman ceria, sambil mengasingkan sebuah amplop surat berwarna cokelat dengan gambar pola burung berwarna hijau.
Penjaga gerbang itu menerimanya, dan memeriksa keaslian surat itu. Tentu saja suratnya asli, dia tetap tersenyum melihat anak remaja di hadapannya.
"Apakah kau di rampok di jalan nak?" Tanya sang penjaga gerbang.
"Tidak," jawab Wei Qingge dengan sumringah, karena dia sangat bahagia saat ini.
"Silahkan masuk, dan ambil jalan ke barat, di sana mendaftarlah." Ucap Sang penjaga gerbang.
"Terimakasih, tuan."
Wei Qingge segera berlari masuk, dan pergi ke jalan barat sesuai arahan. Pemandangan di dalam sekte tidak dapat Wei Qingge abaikan, ini pertama kalinya dia mendatangi tempat setenang, seindah, dan sedamai ini.
Bangunan-bangunan tinggi yang megah, tanaman dan pohon-pohon yang di tata dan terawat, bahkan udaranya terasa begitu sejuk, padahal hari telah mencapai tengah hari.
Menapaki jalan yang di susun dari batu-batuan yang di ratakan ke arah barat, Wei Qingge tiba di sebuah bangunan tinggi yang indah, banyak orang-orang berkumpul, mereka semua tampak keren dan bersih.
Langkah Wei Qingge terhenti, dia terdiam sebentar, kemudian menunduk melihat sepatunya yang telah kotor dan usang, pakaiannya yang sudah lama, bahkan memiliki tambalan dan jahitan yang terlihat di beberapa ujung pakaiannya. Apalagi tubuhnya yang berkeringat karena naik tangga pasti tidak sedap di hirup. Wei Qingge memutuskan untuk dia menjauh, dan duduk di kursi yang ada cukup jauh dari kerumunan orang-orang, masih ada banyak waktu baginya untuk menjalani tes, hari masih siang.
"Kakek salah, penampilan juga penting," gerutu Wei Qingge.
Kepala Wei Qingge tertunduk, Dia teringat kakeknya, dan ada rasa rindu yang mencubit hatinya, memancing air mata untuk keluar. Bagaimanapun juga, ini pertama kalinya Wei Qingge pergi jauh seorang diri, ke tempat asing, tanpa perlindungan siapapun.
"Tuan muda, bolehkan aku ikut duduk di sampingmu?"
Tangan Wei Qingge segera mengusap kedua matanya, membersihkan air mata yang hampir lolos keluar dari kedua matanya. Dia mengadahkan kepalanya, melihat sosok yang sebelumnya bicara.
Penampilannya sederhana, namun indah, pakaiannya berwarna biru, rambutnya terurai dengan mahkota perak mengikat sebagian rambutnya. Rambut peraknya sedikit bergelombang, dengan sepasang mata biru seperti laut dalam, kulitnya putih pucat sangat kontras dengan bibirnya yang merah alami. Wajahnya terpahat dengan indah, dengan mata besar, dan alis yang terpahat dengan indah dan rapi, penampilan yang sangat mengagumkan.
"Silahkan, " ucap Wei Qingge, dengan senyuman tipis.
Pemuda itu tersenyum lembut, kemudian mengambil tempat duduk di samping Wei Qingge. Dia tampak sangat indah dan bersinar, membuat Wei Qingge semakin terpukul oleh kemewahan dunia.
"Kulihat sepertinya kau menangis tadi." Ucap pemuda yang duduk di samping Wei Qingge, suaranya lembut dan menyejukkan telinga.
"Apakah terlihat sekali aku sudah menangis?"
"Matamu memerah, hidungmu juga memerah, terlihat jelas kalau kau sudah menangis. Apakah kau di rampok di jalan?"
Ini kedua kalinya Wei Qingge mendengar kata di rampok, setidaknya ini masih lebih baik daripada di sebut pengemis. Wei Qingge tersenyum hingga gigi-giginya yang berderet rapi terlihat, kemudian berkata: "Iya, aku di rampok."
"Kau sial sekali," ucap pemuda itu.
"Iya," ucap Wei Qingge dengan senyum pahit.
"Namaku Shui Yuan dari sekte Bingyi, siapa namamu?"
"Namaku Wei Qingge, aku tidak berasal dari sekte manapun, aku seorang pengembara." Ucap Wei Qingge dengan mantap. kedua tangannya bertautan, dengan kedua pahanya menjadi tumpuan untuk masing-masing siku tangannya, rambutnya yang berantakan tampak sedikit keren saat ini.
"Pengembara muda yang kurang pengalaman, sampai di rampok."
Semua kata itu menyatu, membuat harga diri Wei Qingge sebagai pengembara sejak kecil terlukai, tapi apa yang di katakan pemuda bernama Shui Yuan itu memang tidak dapat di salahkan, ini salah Wei Qingge sendiri yang ngaku-ngaku di rampok.
"Meskipun aku pengembara muda, aku sudah sangat berpengalaman, dan aku tidak di rampok, aku kesal karena ada beberapa orang yang menuduhku di rampok, jadi aku membenarkannya, aku berbohong padamu, tuan muda."
Meskipun hanya 2 orang, sih. Batin Wei Qingge. Dia duduk pose angkuh, dengan dua tangan terlipat di depan d**a.
Shui Yuan tersenyum lembut, gigi-giginya yang putih berderet terlihat, dengan tangan yang indah menghalangi sebagian bibirnya. Kecantikan dapat membuat para wanita iri, walaupun Wei Qingge tidak terlalu mempedulikannya.
"Kau lucu sekali, " ucap Shui Yuan, tangannya yang ramping menyentuh pipi Wei Qingge, terasa sangat lembut, dan mencubit pipi Wei Qingge dengan keras.
"Ah!" Pekik Wei Qingge dengan cukup keras, saat Shui Yuan mencubit pipinya dengan kuat, bahkan membuat pipinya menjadi kemerahan.
Kedua mata almond Wei Qingge mendelik dengan kesal, "tuan muda, kau juga sangat cantik." Wei Qingge menekankan kata terakhir, berharap membuat Shui Yuan merasa kesal.
"Aku sudah sering mendengar pujian itu, terimakasih." Ucap Shui Yuan dengan senyuman yang indah dan cerah.
Wei Qingge melihat ke arah bangunan yang di gunakan untuk tempat tes sudah terlihat sepi. "Tuan muda Shui, sepertinya kita harus mendaftar tes sekarang."
Tangan Wei Qingge meraih pergelangan tangan Shui Yuan, dan menariknya berjalan menuju ke bangunan tempat tes. Shui Yuan berjalan mengikuti tanpa perlawanan, memandang Wei Qingge yang pakaiannya terlihat seperti gelandang, rambutnya cokelat di ikat tampak berantakan, dan tingginya lebih rendah dari Shui Yuan sendiri, membuat Shui Yuan teringat pada adiknya.