Dunia memiliki sisi gelap yang tidak pernah menampakkan dirinya, terhitung dari apa yang telah diperbuatnya. Mereka telah menyembunyikannya dengan sangat baik. Tetapi tidak untukku, sejauh mereka menutupinya, aku pasti akan mengetahuinya.
“Baiklah, mari kita mulai saja ronde pertama dari pertunjukan ini. Kalian bisa memasang harga sebesar apa pun, sampai barang itu bisa dimiliki oleh kalian para hadirin semuanya,” teriak si pembawa acara yang berdiri di atas panggung.
Ini adalah kegelapan dunia, meski diluar sana terlihat damai. Namun mereka tidak tahu akan adanya penderitaan di sini.
Satu pemuda berambut hitam, duduk santai di kursi VIP yang berada di lantai dua. Memperhatikan semua orang yang ada di bawahnya, memandang mereka seperti sampah. Bahkan tidak menganggapnya sama sekali, meski begitu dia tidak pernah meremehkan hasrat mereka yang kuat.
“Gedung ini masih terasa busuk seperti biasanya, lalu orang-orang di sana menatap seperti binatang buas kearah panggung. Lebih tepatnya yang ada dibalik tirai merah. Aku mulai bosan mengikuti acara bodoh ini,” ujar si pemuda berambut hitam, dari balik bayang-bayang itu membuat wajahnya terlihat agak samar. Tetapi rambutnya terlihat jelas dengan gaya rumput liar yang terkesan keren.
Kemudian di belakang si pemuda, terdapat satu orang pria paruh baya yang terlihat sudah agak tua. Memiliki perawakan yang tinggi dan rambut putih yang khas seperti orang yang sudah tua. Memiliki kumis putih tipis yang menambah kesan maco. Pria itu menatap ke arah pemuda di depannya, “saya sudah mendengar itu, ratusan kali dari mulut Anda, tapi diri Anda sendiri tetap menghadiri pertemuan konyol ini, hmm... pertanyaannya mengapa?” balas tanya pria berkumis tipis tersebut, menatap tajam seseorang.
“Hanya satu jawaban dariku Forvos.” Menjeda sesaat kalimatnya, pemuda itu berdiri dari tempat duduknya dan berkata, “akan aku ambil semua kesenangan mereka.”
Sebuah kalimat arogan yang dilontarkannya, bagai musuh bagi setiap orang yang ada di dalam gedung tersebut. Dengan cahaya yang minim, sehingga sedikit sulit untuk melihat. Namun dipanggung itu, memiliki cahaya yang sangat terang. Seolah akan menunjukkan sesuatu yang hebat.
Lalu pemuda itu kembali duduk dibangkunya, matanya menatap kearah tirai. Ingin sekali dia mempercepat acara yang menurutnya membosankan ini. “Ayo mulai saja, acara lelangnya,” kata si pemuda.
Tak lama terdengar kembali sebuah kalimat yang terlontar dari si pembawa acara, "ini dia kontestan pertama, merupakan mantan seorang Putri bangsawan, yang sudah ditaklukkan, bahkan memiliki paras cantik jelita, emasnya bagai harta tak tergantikan, mari kita sambut... Putri Ronoa Vandis, Nona Muda dari kerajaan Vandis," sorot meriah pembaca acara, dengan suara keras, dan besar, hingga semua orang mampu mendengar ucapannya yang bersemangat.
Aku mendengar suara pembawa acara yang menggelegar diatas panggung, membuat para tamu mengeluarkan suara kagum dengan awalan huruf ‘o’. Itu sudah jelas, tetapi aku yang mendengarnya merasa ingin muntah ditempat. Seperti yang kukatakan sebelumnya, pertunjukkan ini membuatku muak.
Dari balik tirai merah, muncul seorang wanita yang disebutkan. Di mana parasnya memang sangat cantik, memakai gaun kuning cerah seperti rambutnya, mata biru seperti samudra. Om-om hidung belang yang menatap keindahan parasnya itu, mata mereka menjadi buta oleh hawa nafsu. Perasaan ingin sekali menyentuh wanita itu, menggebu-gebu dihati mereka.
Tanpa menunda lagi, sang pembawa acara memulai permainan awal. "Harga pertama dibuka dengan 10 Diamond!" terusnya pandangan pria itu memperhatikan ruangan besar, yang telah diisi dengan ratusan Manusia.
Semua orang mulai berebut, dari yang paling depan seorang om-om berambut cepak. Dia menawar, “Sebelas Diamond.”
Tidak kalah satu om lagi yang memiliki rambut gondrong menawar lebih tinggi. “Tiga belas Diamond.”
Satu lagi om yang tidak memiliki rambut alias botak, dia menawar harga lebih tinggi dari om yang sebelumnya. “Aku menawar dengan harga enam belas Diamond.”
Semua orang dibuat tercengang, karena harga sebesar itu di awal babak sangatlah berani. Beberapa orang besar tersenyum kecil, seolah menertawakan orang tersebut. Tidak jauh beda dengan satu pemuda yang duduk dibangku VIP. Di mana sebelumnya dia tidak terlalu tertarik dengan hal memuakkan di depan matanya. Tetapi beda lagi jika ada sesuatu yang membuatnya tertarik, karena wanita yang ada di atas panggung itu merupakan wanita yang dicarinya.
“Forvos, dia adalah orangnya-kan?” tanya Levandas.
Pria yang dipanggil, hanya mengangguk kecil seraya berucap dengan nada hormat. “Benar, wahai Rajaku Levandas.”
Levandas berpikir sejenak lalu mengeluarkan suaranya. “Heemmm, menarik. Sepertinya aku akan mengambilnya.”
“Sesuai perintah Anda,” balas Forvos.
Percakapan antara Levandas dan Forvos terhenti, mereka kembali memperhatikan wanita yang sudah berdiri diatas panggung tersebut. Lalu pelelangan yang hampir mencapai puncak itu, telah dipanasi oleh para bangsawan kelas menengah.
“Baiklah, penawaran harga tertinggi saat ini adalah dua puluh Diamond. Apakah masih ada yang mau menawar lebih tinggi lagi?” si pembawa acara menanyakan kepada para bangsawan di depannya, di mana mereka semua terdiam tanpa ada yang mau menaikkan harga lagi.
“Kalau begitu harga sebesar Dua Puluh Diamond terj—”
“Dua Puluh Satu Diamond.”
Suara keras memotong perkataan dari sang pembawa acara, sumbernya dari bangku VIP yang ada di lantai dua. Yang mana di sana merupakan tempat dari seorang bangsawan kelas tinggi. Karena suara itu, membuat para bangsawan kelas menengah terdiam tanpa melihat ke atas. Sebab di atas mereka merupakan orang-orang yang memiliki kedudukan lebih tinggi. Sehingga di antara mereka tidak berani hanya untuk mencuri pandang saja. Sementara bangsawan kelas tinggi lainnya, menatap kagum pada suara pemuda yang berani menawar harga lebih tinggi dari bangsawan lainnya.
“Seperti biasa, ‘dia’ pasti akan melakukannya lagi.” Perkataan dari pemuda berambut merah seolah menebak kalau akan ada penawar yang lebih tinggi dari sebelumnya. Sehingga raut wajahnya biasa saja dan tidak kaget ketika mendengarnya.
“Ooowwwhhh, sungguh luar biasa. Ini merupakan penawaran tertinggi di awal pelelangan b***k ini. Sepertinya tidak ada lagi yang berani menawar.” Pembawa acara itu diam sebentar, dia melirik kearah para bangsawan lainnya. Menunggu jika ada yang mau menawar dengan harga lebih tinggi, tetapi sekian lama menunggu tidak ada jawaban apa pun. Karena itu dia pun melanjutkan. “Baiklah, karena tidak ada penawar lagi. Maka wanita yang merupakan mantan Tuan Putri ini, telah terjual dengan harga Dua Puluh Satu Diamond.”
Duk duk duk*
Tiga kali ketukan palu dari si pembawa acara, menandakan kalau pelelangan tersebut telah mencapai final dan yang memenangkannya adalah seorang bangsawan kelas tinggi.
“Mari kita lanjut ke babak kedua dari pelelangan ini.” pembawa acara kembali menjeda perkataannya, ketika wanita yang sebelumnya kini digantikan oleh seorang wanita berambut hitam terurai panjang. Wanita ini mengenakan sebuah kimono hitam khas seorang permaisuri kerajaan. “Biar kuperkenalkan, dia merupakan seorang Tuan Putri dari kerajaan Tianho. Kerajaan ini telah runtuh dan Tuan Putri dijual sebagai jaminan kerajaan, sekarang dia menjadi b***k. Namanya Teyana Tianho, mantan Tuan Putri kerajaan Tianho.”
Kembali para penonton di sana berteriak ‘o’ dengan kagumnya. Karena paras dari wanita ini tidak kalah dari wanita yang pertama, daya tariknya sendiri terlihat dari dadanya yang cukup besar, sehingga penampakannya seperti seorang p*****r profesional. Tatapan hitamnya yang datar, seolah menatap semua orang di sana seperti sampah.
“Lelang ini dimulai kembali dengan harga sebelas Diamond.”
Semua bangsawan di sana langsung menawar dengan harga tinggi secara bertahap.
“Dua belas Diamond.”
“Tiga belas Diamond”
“Lima belas Diamond.”
“Enam belas Diamond.”
Mereka menjadi bersemangat karena nafsu yang menguasai ucapan dari mulut para bangsawan itu, tidak ada yang mau mengalah. Lalu bagaimana dengan Levandas, dia yang baru saja memenangkan satu wanita. Apa mau memperebutkan satu wanita lagi?
“Bagaimana menurutmu, Forvos?” Levandas bertanya pada pria paruh baya dibelakangnya, meski dia sendiri tahu jawabannya.
Forvos menatap sebentar kearah panggung, lalu dia menatap punggung Raja-Nya. “Kerajaan Tianho, merupakan kerajaan kelas menengah seperti Vandis. Seperti yang Anda perkirakan, mereka akan muncul di pelelangan kali ini. Jika saya harus menjawab, maka keputusannya sama seperti Anda.”
“Owh, kau memang tangan kananku yang sangat mengerti tentang diriku ini. Seperti yang kau katakan, aku tidak akan melepaskannya. Mereka semua hanya akan bermimpi saja untuk mendapatkan seorang bidadari.” Setelah perkataannya, Levandas mengeluarkan suara keras yang membuat para bangsawan di sana kembali dibuat kaget. “Dua puluh tiga Diamond.”
“D—dua puluh tiga Diamond katanya.” Kaget satu bangsawan di antara mereka. Yang mana para bangsawan yang lain juga berbisik-bisik tentang bertapa gilanya orang yang menawar tersebut.
“B—baiklah, ada yang mau menawar lebih tinggi lagi?” bahkan pembawa acara sendiri dibuat terbata ketika mendengar penawaran yang cukup gila itu. Lalu dia melanjutkan. “Tidak ada lagi, maka wanita ini didapatkan dengan harga Dua Puluh Tiga Diamond.”
Duk duk duk*
Palu kembali dipukulkan sebanyak tiga kali, dengan begitu wanita berambut hitam didapatkan kembali oleh Levandas.
“Dia memang gila, tapi tidak kusangka akan segila ini. Yah, melihat ini bukan hal yang mengejutkan lagi sih.” Si rambut merah berkata seperti itu lagi, dia memang sangat mengenal orang ‘itu’. Meski dari nada bicaranya, dia tidak menyukainya.
“K—kita mulai ronde ketiga.”
Forvos tertawa kecil, dia menatap lucu kearah pembawa acara yang masih tergagap ketika mendengar penawaran gila dari Raja-Nya. “Anda benar-benar sudah membuat para bangsawan terbungkam.”
“Forvos, kau ingat tujuanku bukan?” tanya Levandas.
“Tentu saja,” jawab Forvos yang sudah berhenti tertawa.
Levandas berdiri dari tempat duduknya, menatap kedepan dengan pernyataan. “Akan kuhancurkan, semua pelelangan budak.”