SUDAH jatuh tertimpa tangga, begitulah ungkapan yang cocok untuk Adhistia Naeswari atau biasa disapa Dhisti hari ini. Sudah telat masuk mata kuliah Falsafat Hukum, satu kelompok dengan orang-orang yang super pintar tapi tidak tahu etika, jinsnya terkena cat yang masih basah ketika duduk di bangku taman dan sekarang ia harus menunggu tanpa kepastian.
Xaviona Aresti, teman sekaligus penolongnya. Pertama kali kenal, gadis itu memang baik, kelewat baik malahan. Awal masuk kuliah, Dishti bingung mencari kontrakan atau kos-kosan untuk tempat tinggalnya namun berkat kehadiran dan jiwa sosial Viona, ia bisa menumpang sementara di rumahnya yang maha megah.
Ya, Viona adalah anak orang kaya tapi tidak sombong seperti cerita di film-film yang pernah ditontonnya. Beruntung Dhisti mengenalnya, siapa kiranya yang mau berteman dengan gadis seperti dirinya yang berasal dari daerah dan tidak gaul seperti kebanyakan penduduk ibukota. Sejak kejadian hari itu, keduanya berteman sepanjang kuliah meski mereka berbeda jurusan.
Tapi sudah hampir satu jam menunggu, Viona masih belum muncul juga. Dan untuk apa mengajaknya bertemu dadakan di kafe siang ini? Biasanya juga di kedai pinggir jalan, karena selama ini Viona tidak pernah membeda-bedakan tempat. Walaupun ia berasal dari keluarga berada, Viona diminta orang tuanya agar mampu mengatur keuangannya dengan baik. Yah, meski terkadang Viona boros juga kalau sedang lapar mata.
Gadis yang dinantinya, akhirnya tiba dengan senyum mengembang seolah hal tersebut akan membuat si penanti bisa terobati. Viona tersenyum tipis untuk menyapa Dhisti setelah itu ia menyeret kursi ke belakang, lalu duduk dengan sedikit anggun dan menaruh paper bag yang dibawanya di kursi kosong. Matanya memancarkan aura penuh misteri meski ditutupi senyum manis tapi Dhisti tahu hal itu.
Ada yang aneh, pikir Dhisti.
"Ada apa tho, Vi? Pakai acara ngajak ketemuan di sini?"
"Pesen dulu yang lo mau makan hari ini, Dhis!" Viona menyerahkan buku menu kepadanya setelah meminta pada pramusaji yang baru saja lewat di sekitar mereka.
"Tumben kamu ngajak makan di kafe begini? Kok aku curiga ya?" tanya Dhisti seraya memandang Viona untuk meneliti raut wajahnya.
"Lo jangan negative thinking dulu dong, Dhis! Udah sekarang pilih menu makan siang lo, yang mahal juga nggak apa-apa." Viona berkata mantap.
Tanpa bertanya lebih lanjut, Dhisti akhirnya menurut lalu membuka buku menu tersebut dan pilihannya jatuh pada spaghetti bolognese. Cukup untuk mengganjal makan siangnya yang terlewat. Puas memesan, keduanya memilih bertukar kalimat satu sama lain.
Kendati obrolan yang dibahas adalah seputar kuliah dan tugas-tugas kampus, tapi justru hal itu tidak nyambung sama sekali karena keduanya berbeda jurusan. Dishti masih menunggu gadis itu bercerita, namun Viona masih saja bungkam. Sampai akhirnya, makanan yang dipesan mereka tiba.
Sepertinya Viona tahu, kalau Dhisti sudah tidak sabar dengan maksudnya mengajak bertemu di sini. Kendati demikian, Viona menatap gadis berkacamata di depannya dengan sangat santai.
"Udah lo makan dulu aja! Setelah makan gue bakal cerita."
Keduanya menikmati makan siang dengan pikiran masing-masing. Di sisi lain, Dhisti bingung dengan topik yang akan disampaikan oleh Viona kepadanya. Sementara di pikiran Viona, ia berharap Dhisti bisa menerima apa yang diinginkannya. Apapun itu, akan ia lakukan agar Dhisti mau mengikutinya.
***
"Otak kamu di dengkul ya, Vi? Kenapa tho minta aku gantiin acara nge-date kamu itu?"
Keduanya sudah berada di kediaman Dhisti. Gadis itu tinggal di rumah kontrakan yang tidak jauh dari kampus. Ia memilih tinggal di sana demi memudahkannya pergi kuliah dan menghemat biaya transportasi, meski uang bulanannya cukup mahal. Setidaknya, ia masih punya tempat tinggal yang nyaman.
"Karena gue udah telanjur ketemu sama pujaan hati gue, Dhis. Please, mau ya?" Mata beningnya terlihat bersinar ketika Viona menunjukkan puppy eyes miliknya.
"Emoh aku. Lagi pula kamu yang daftar kencan, kenapa aku yang harus jadi korbannya?"
"Karena lo teman terbaik gue, Dhis. Kayaknya kata-kata korban terlalu sadis deh, Dhis." Viona masih membujuk.
"Memang kamu cewek tersadis!" tukas Dhisti tanpa ragu.
"Tapi baik 'kan?"
Yang benar saja, mana ada kata sadis berdampingan dengan kata baik?
"Iku sama aja bohong, pokoknya aku ndak mau bohong. Kata bapakku di kampung, bohong itu dosa." Dhisti berkata polos.
"Bukan cuma kata bapak lo kali, Dhis." Viona berujar dengan bibir mencebik. "By the way, lo udah bayar SKS semester ini?" tanya gadis itu hati-hati. Ia takut menyinggung perasaan Dhisti, walau bagaimanapun harga diri Dhisti sangat tinggi. Terkadang, Dhisti menolak bantuannya karena tidak ingin mempunyai utang budi.
"Belum, aku belum dapet kerja paruh waktu lagi nih. Mumet aku Vi, kalau mikirin uang kuliah." Dhisti mengacak rambutnya frustrasi, setelah itu memandang Viona dengan tatapan lesu.
"Kenapa lo nggak tinggal di rumah gue aja sih?"
"Vi, kamu dan keluargamu udah baik banget sama aku. Ya ndak enak lah kalau aku terus-terusan ngerepotin kalian." Dhisti membenarkan letak bingkai kacamatanya agar lebih nyaman.
"Padahal nggak apa-apa, Dhis. Gue 'kan nggak punya sodari cewek. Kita bisa ngobrol banyak kalau lo tinggal di rumah gue lagi," katanya. Dhisti bukan tidak mau, hanya saja ia merasa tidak enak kalau terus merepotkan keluarga Viona. Dhisti tidak ingin dianggap numpang hidup oleh orang lain, meskipun ia tahu keluarga Viona tulus membantunya. "Atau lo mau gue kasih kerjaan?" tawar Viona.
"Mau lah, asal halal ya?"
"Bantuin temen halal dong?" Dhisti mengangguk cepat, menunggu kalimat selanjutnya dari gadis yang hari ini mengenakan setelan berwarna nude.
"Kerjaan apa tho?"
"Gantiin gue di Dateperimen!"
"Ya Gusti, Vi. Emoh, aku emoh. Ojo maksa-maksa aku gitu lah, Vi. Apa aja, asal jangan bohong." Dhisti mengusek-usek kakinya di lantai geram dengan sikap keras kepala Viona.
"Yakin nggak mau? Gue udah beliin lo dress cantik nih seharga lima juta," katanya seraya mengeluarkan dress berwarna pink dari paper bag yang bertuliskan toko kenamaan. Jadi, di dalam bungkusan besar itu isinya baju mahal? Ah, Dhisti baru tahu. "Besok pas ketemu si cowok itu, gue kasih lo satu juta. Lumayan 'kan buat uang kuliah," ujar Viona memberondong. Gadis itu mulai melancarkan aksi bargaining position dengan Dhisti.
"Pantes ya tadi kamu ngajak aku makan di kafe, ternyata ada maunya." Viona nyengir namun tak lama gadis itu mendekat ke arah Dhisti.
"Masih kurang? Makan siang selama seminggu deh, gue yang traktir dan lo yang bebas pilih tempatnya," kata Viona seakan tak lelah memberikan tawaran.
Dhisti mulai berpikir dan ia mulai gamang. "Itu ... cuma ketemu aja 'kan? Nggak sampai kencan beneran?" tanya Dhisti ragu-ragu.
"Iya, besok 'kan Pre Date Meeting, jadi user boleh memutuskan mau melanjutkan atau menolak kencan. Tapi harus sama-sama sependapat. Kalau salah satu pihak menerima, ya berarti kencannya lanjut."
"Kalau cowoknya setuju gimana?"
"Nah ini misi kita, Dhis. Kita harus buat cowok itu menolak untuk melanjutkan kencan. Gue udah punya ide sih, lo tenang aja."
"Oh!" Dhisti menyahut meski separuh otaknya masih bingung.
"So, lo mau dong bantuin gue?"
Dhisti terlihat bimbang di tempat duduknya. Ia ingin menerima meski takut kualat karena harus berbohong. Tapi kalau tidak diterima, ia akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan uang. Dhisti 'kan harus membantu sekolah adiknya. Ya, meskipun hal tersebut masih menjadi tanggung jawab bapaknya di kampung. Tapi kalau Dhisti punya penghasilan, setidaknya ia bisa sedikit meringankan beban tanggung jawab itu.
***