SEMALAMAN Widhy hampir tidak bisa memejamkan matanya. Otaknya terus berputar memikirkan kejadian semalam. Gadis pemilik rambut pirang yang memiliki tingkah aneh sepanjang pertemuan mereka dengan berani menciumnya di dalam mobil. Bahkan Widhy belum sempat membalas, ah maksudnya Widhy belum sempat bertanya maksud gadis itu melakukannya.
Apakah Viona sudah terpesona dengan pertemuan pertama mereka semalam?
Bisa jadi, siapa kiranya yang berani melawan pesona seorang Widhy Aryaninata? Yah, walupun ia belum mempunyai jejak rekam kencan-kencanan. Iya, semalam itu adalah pertemuan pertamanya dengan seorang gadis. Maksud Widhy, pertemuan pertama ke tahap kencan.
Widhy yakin kencan ini akan berjalan sesuai dengan keinginannya karena Viona sudah membuktikannya semalam.
Widhy buru-buru mencari handphone-nya, ia ingin memastikan kejadian semalam merupakan bagian dari mimpi atau bukan?
Begitu sambungan sudah terhubung, yang ia tangkap justru bunyi krasak-krusuk.
Suara apa ini?
Beberapa saat kemudian, terdengarlah suara Dhisti yang menjawab malas-malasan.
Sepertinya Viona masih tidur.
"Viona, apa kamu masih tidur?"
"Heum ...."
"Kamu belum bangun?"
"Ini siapa sih, ganggu tidur aja? Masih ngantuk tau!" Dhisti berkata kesal, matanya masih terpejam. Tangannya mencari-cari selimut yang ternyata jatuh ke lantai.
"Saya Widhy."
"Widhy? Widhy siapa sih? Tukang ojek online? Maaf, saya nggak pesan."
Di tempatnya, Widhy mengernyit aneh dengan jawaban melantur Dhisti, sepertinya gadis ini benar-benar belum bangun dari mimpinya.
Tapi kenapa bisa menerima telepon?
"Widhy Aryadinata dari Dateperimen. Baru semalam kamu udah lupa? Apa kamu juga lupa udah mencium saya?"
Otaknya mulai berpikir meski netranya masih terpejam. Dan saat sudah berhasil menangkap memorinya, indra penglihatan Dhisti langsung terbuka. Dhisti bangun dan duduk, masih di atas kasurnya.
"Oh Mas Widhy ya? Ya ampun, saya kira siapa lho. Ada apa Mas menghubungi saya? Ini 'kan masih pagi."
"Saya mau nanya soal semalam."
Mampus aku.
"Oh!" Dhisti mengucek matanya untuk melihat jarum jam di dinding kamarnya. Waktu masih menujukkan pukul lima pagi.
"Saya cuma ingin memastikan jadwal Date Meeting pertama kita, itu benar Minggu depan?"
"Hah?" Dhisti mengacak rambutnya asal.
"Halo, kamu bisa dengar saya?" Widhy masih menunggu jawaban.
"Bisa kok, bisa." Dhisti menjawab cepat seraya menarik selimutnya yang jatuh.
"Terus kenapa nggak dijawab?"
"Saya pikir nggak perlu ada Date Meeting deh, Mas!"
Dhisti akan mencoba menolak sekali lagi, barangkali pertahanan lelaki bernama Widhy Aryadinata itu luluh.
"Kenapa?"
"Ya saya mau aja kencan ini batal!"
Mendengar hal itu, Widhy merasa harga dirinya terjun bebas. Belum apa-apa ia sudah ditolak kencan. Memangnya Widhy seburuk apa, sampai tidak ada gadis yang mau kencan dengannya? Lagi pula gadis ini sudah mencuri ciuman pertamanya. Widhy tidak akan membiarkan hal ini terjadi.
"Nggak bisa!" tukas Widhy penuh penekanan. “Kamu harus tanggung jawab karena udah mencium saya."
"Anggap saja itu kesalahan," kata Dhisti sedikit ragu dan takut.
"Kesalahan?"
"Maaf, teman kencan saya banyak. Jadi, sepertinya saya nggak akan bisa mengatur waktu kencan dengan Mas Widhy!" bohong Dhisti.
"Apa?" Widhy merasa dipermainkan.
"Pokoknya saya minta kamu batalin kencan kita, oke. Selamat pagi!" ucapnya dalam sekali tarikan napas lalu mematikan sambungan telepon. Dhisti langsung menyelimuti dirinya sampai kepala, semoga ia bisa benar-benar terbebas dari lelaki itu.
"Nggak bis—“ Interupsinya terpotong karena sambungan telepon sudah diputuskan sepihak oleh Dhisti.
Widhy merasa geram. Ia tidak pernah diabaikan seperti ini, dan sialnya lagi yang melakukannya adalah seorang gadis. Gadis cantik maksudnya, si pemilik pipi chubby. Napasnya naik turun seraya memikirkan cara selanjutnya.
Widhy mencoba kembali menghubungi nomor Dhisti namun nomor tersebut kini tidak aktif. Berani sekali gadis itu mempermainkan dirinya. Lalu ia berpikir tentang data aplikasi Dateperimen. Di sana pasti ada nomor telepon gadis itu, atau paling tidak ada menu chat lainnya yang bisa dihubungi.
Setelah membuka menu profile milik Viona, Widhy memperhatikan dengan teliti. Kenapa di dalam aplikasi rambut Viona pendek? Dan lagi, wajahnya hanya memakai make up natural, berbeda dengan Viona yang baru saja ditemuinya tadi meski matanya mirip. Apa memang Viona bisa terlihat sangat berbeda ketika sedang memakai make up?
Widhy melihat lagi nomor telepon gadis itu, dan faktanya nomor tersebut berbeda dengan yang ia punya. Tanpa berpikir panjang, Widhy menyimpan nomor yang ada di menu profile tersebut. Dan lelaki itu tersenyum penuh arti.
Kamu nggak akan lepas, Viona!
***
Dhisti menyampir ranselnya setelah menghabiskan selembar roti yang ia beri selai stroberi. Gara-gara ikut Pre Date Meeting, ia jadi gagal pergi ke mini market semalam untuk memenuhi isi kulkasnya. Beruntung, Dhisti masih punya sisa roti kemarin meskipun hanya tinggal selembar. Tapi, cukup untuk mengganjal perutnya sampai jam makan siang dengan Viona.
Berbicara soal Viona, Dhisti jadi tidak sabar untuk menemui gadis itu. Dhisti ingin Viona segera membereskan masalah ini. Mana hari ini Dhisti ada mata kuliah Hukum Perdata Internasional. Semoga saja, lelaki bernama Widhy alias asdosnya tidak akan mengenalinya.
Dhisti tidak bisa membayangkan kalau sampai ketahuan, masalahnya nilai kuliahnya yang akan jadi taruhan. Kalau sampai asdosnya itu memberikan nilai jelek bahkan tidak meluluskannya di mata kuliah tersebut, bisa bahaya. Dhisti tidak ingin mengulang mata kuliah, itu namanya pemborosan anggaran.
Dhisti menyisiri lorong kampus, kelasnya ada di ruang H-04. Sistem kuliah di kampus Buana Megantara mirip dengan sekolahan SMA, jadi kelas atau ruangan untuk satu mata kuliah yang bersangkutan tidak akan berpindah.
Dhisti melihat jam di pergelangan tangannya, lima menit lagi kelas akan di mulai. Langkah kakinya segera ia percepat, lantas setengah berlari gadis itu manaiki anak tangga. Hampir di undakan tangga teratas kepalanya menabrak sesuatu yang lembut tapi juga harum. Aromanya seolah membuat Dhisti terhisir dan ingin berlama-lama di sana, karena hidungnya bisa menghidu ada perpaduan woody dan juga mint.
Kalau saja Dhisti tidak mendengar helaan napas seseorang, mungkin saja ia masih betah membenamkan wajahnya di objek tersebut. Dengan berat hati Dhisti mendongak untuk memastikan peristiwa apa yang sudah terjadi kepadanya.
Matanya membulat sempurna, ringisan kecil terdengar samar-samar dari bibirnya. Alih-alih menyingkir, gadis itu justru kembali membenamkan wajahnya di sana. Sepertinya Dhisti akan terkena masalah lagi.
"Kamu masih betah ngusel-ngusel di perut saya?"
Dhisti tersadar dari imajinasinya sendiri. Ia menyingkir cepat lalu berusaha tersenyum agar lawan bicaranya bisa memaklumi.
"Maaf-maaf, saya nggak lihat." Lelaki itu sedikit menyingkir memberikan akses kepada Dhisti, untuk naik satu anak tangga lagi agar sejajar dengan dirinya.
"Kamu mahasiswi di sini?"
"Iya," jawab Dhisti rikuh.
"Lebih baik kamu segera masuk kelas!" titah Widhy kemudian. Dhisti mengangguk lalu pamit kepada lelaki itu. Dhisti tidak habis pikir, bisa-bisanya ia melakukan hal memalukan seperti tadi.
Tapi dia memang wangi.
Saat memasuki ruangan, kelas sudah terlihat ramai diisi mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Hukum Perdata Internasional. Dhisti memilih duduk di belakang karena kursi depan sudah penuh. Tiba-tiba ia penasaran dengan Widhy, akhirnya Dhisti bertanya kepada temannya soal pengajar yang bersangkutan. Dan ternyata, Widhy melupakan daftar absen mahasiswa sehingga membuat lelaki itu harus kembali ke kantor jurusan program studi.
Beberapa menit kemudian, lelaki yang belum lama ia hidu harum parfumnya muncul dari balik pintu berwarna cokelat pekat. Suara bising yang tercipta dari obrolan para mahasiswa seketika hening saat melihat kehadiran sang asdos.
Widhy langsung menyerahkan map absen kepada ketua kelas, agar semua mahasiswa bisa absen dengan cara tanda tangan. Sambil menunggu hal itu, Widhy menjelaskan materi yang akan dibawakannya hari ini.
Lelaki itu begitu fasih ketika menjelaskan materi yang dibahas. Sesekali Dhisti memperhatikan Widhy dengan tatapan kagum dan iri. Bisakah suatu hari ia menjadi tenaga pengajar? Setidaknya ilmu yang diperolehnya selama ini bisa tersalur, dan juga agar dirinya tidak melupakan pelajaran selama di sekolah.
Pikiran Dhisti masih melayang entah ke mana, sampai sebuah suara membuatnya kembali ke dunia nyata.
"Kamu, yang berkacamata dan pakai sweater berwarna krem." Dhisti menoleh ke kanan dan kiri saat mendengar ucapan dari Widhy. "Iya kamu," kata Widhy sekali lagi seraya menatap ke arah Dhisti.
"Saya, Pak?" Widhy memutuskan untuk menghampiri tempat duduk Dhisti. Ia berjalan cepat, penasaran dengan sosok mahasiswi yang terlihat tidak tertarik dengan penjelasan darinya.
Dhisti merasakan hawa panas dingin yang menjalar ke seluruh sel di saraf tubuhnya, dan mendadak ia tegang sekaligus khawatir. Dhisti takut kalau Widhy berhasil mengenali wajahnya. Bagaimana ini?
***
16 Mei 2020