VIONA kembali ke meja mereka dengan gusar. Tatapannya tidak tenang dan gerakan tubuhnya terlihat gelisah. Hal tersebut tentulah menarik perhatian Dhisti yang sedang mengaduk-aduk minumannya. Dhisti ikutan cemas melihat raut wajah sahabatnya.
"Kenapa, Vi? Sakit perut?"
"Kepala gue yang sakit!" sahutnya lesu diiringi dengkusan.
"Loh, kenapa tho? Mau minum obat? Aku punya ibuprofen nih," katanya seraya meraih ranselnya di kursi sebelah.
"Bukan pusing karena penyakit, Dhis. Tapi pusing ngadepin asdos lo." Dhisti mengernyit lalu jemarinya kembali ke atas meja.
"Memangnya kenapa?"
"Dia minta ketemuan nanti malam," ujar Viona memberitahu.
"Serius kamu, Vi?" Gadis yang ditanya mengangguk lemah. Kemudian Dhisti beralih pada steak yang sudah tersaji di atas meja, berusaha untuk tak acuh. "Yowes lah, kamu jujur ae, Vi. Kejujuran itu kalau lebih cepat diungkapkan lebih baik." Dhisti berkata bijak. Potongan steak sudah lolos dari tenggorokannya menuju aliran fungsi lain.
"Give me a hand," cicit Viona memelas.
"Big no. Pokoknya aku ndak mau berurusan lagi sama kencan-kencananmu itu. Aku juga mau punya pacar yang sesungguhnya dong. Lagi pula, kesehatan jantungku bahaya kalau terus dekat-dekat sama Pak Widhy tuh."
"Lho, memangnya kenapa?" Viona heran.
"Ya takut sekaligus malu tho, Vi, kalau sampai ketahuan bohong. Mata kuliahku loh yang jadi taruhannya."
"Iya-iya. Ah, lo mah itu lagi, itu lagi yang dibahas."
"Lho memang bener tho. Itulah dampaknya kalau nanti kebohonganku terbongkar. Saranku ya, Vi. Kamu segera sudahi urusanmu sama Pak Widhy. Katakan sejujurnya alasan kamu ndak bisa datang kemarin." Dhisti menyeruput lemon tea-nya dengan cepat karena belum selesai bicara. "Oh ya, kalau misalnya dia tanya-tanya tentang aku, kamu bilang aja ndak kenal. Oke!"
"Iya bawel."
"Pinter. Ayo makan, Vi, enak loh iki steak-nya. Besok makan di sini lagi ya?" rayu gadis itu yang berusaha menghibur sang teman bicara. "Kamu masih punya enam hari lho buat ngajak aku makan siang."
Ah, Dhisti memang pintar memutarbalikkan keadaan. Tapi inilah konsekuensi yang harus diterima oleh Viona, toh ia memang sudah berjanji kepada sahabatnya.
***
Viona mengedarkan pandangan saat tiba di kafe Loveland. Ia belum pernah melihat secara langsung wajah seorang Widhy Aryadinata, meski Dhisti beberapa kali mengatakan kalau lelaki itu mengajar di kampusnya. Di profile akun Dateperimen, wajah Widhy tidak terlalu jelas karena foto yang dipasang bukan head to toe melainkan sebagian wajah, itu pun hanya tampak dari samping saja.
Dhisti bilang auranya seram, kira-kira sesuai dengan yang diceritakan gadis itu atau tidak ya?
Viona melambaikan tangan kepada waiter yang lewat, ia ingin memesan minum lebih dulu sembari menunggu si tokoh utama. Tiba-tiba, sebuah suara mengalihkan atensinya ketika sedang berbicara dengan waiter.
"Selamat malam!" sapa lelaki itu dengan formal.
"Hai, lo pasti Widhy ya?" tanya Viona, perilakunya terkesan gerak cepat. Hal itu sengaja Viona lakukan karena ia tidak suka basa-basi. "Mau sekalian pesan?" tawarnya. Waiter masih menunggu di meja mereka.
"Americano saja," jawab lelaki itu lalu duduk di depan Viona. Setelah itu sang waiter pergi melakukan tugasnya.
"Jadi kamu yang bernama Viona?" Widhy mulai melakukan scanning wajah Viona melalui pendar matanya dengan penuh saksama.
Hasilnya? Sama persis dengan yang ada di foto profile Dateperimen. Rambut sebahu yang malam ini diikat, make up natural, dan wajah tegas yang terkesan boyish meski gadis itu memakai anting. Pakaian Viona malam ini hanya mengenakan jins dan t-shirt yang dibalut kemeja kotak-kotak menambah kesan casual.
Lalu, siapa gadis kemarin yang bertemu dengan Widhy? Melihat wajah Viona seperti tidak asing baginya. Ia pernah bertemu gadis ini, tapi di mana?
"Iya, sebelumnya sorry banget gue nggak datang ke Pre Date Meeting kemarin."
"Kenapa?" tanya lelaki itu cepat. Widhy tidak sabar dengan alasan gadis itu.
"Karena gue udah telanjur jatuh cinta sama cowok lain, dan gue pengin ngejar cowok itu."
"Apa kamu mencoba mempermainkan saya?"
"Nggak! Serius deh," katanya sembari tangannya memberikan gesture menolak.
"Lalu siapa yang kemarin bertemu dengan saya? Kamu merencanakan Viona gadungan untuk bertemu dengan saya. Apa namanya, kalau bukan mempermainkan?"
Duh, Dhis. Bener deh, asdos lo kok nyeremin begini ya?
"Gue minta maaf atas kesalahan gue kemarin. Di otak gue cuma itu caranya supaya lo mau batalin kencan kita."
"Kamu bisa minta baik-baik." Widhy kembali menyahut. "Pokoknya kamu harus bertanggung jawab atas perbuatan kamu ini!"
"Ta... Tanggung jawab?" ucapnya terbata.
"Kamu tentu tahu, apa yang sudah kamu lakukan pada saya bisa disebut kasus penipuan dan kamu bisa dikenakan pasal 378 KUHP."
Apa lagi ini?
Viona melupakan satu hal, bahwa Widhy merupakan asisten dosen Fakultas Hukum. Tentu saja lelaki di depannya sangat mengerti tentang proses hukum.
"Atau kamu bisa saya laporkan atas pelanggaran UU ITE, karena sudah memberikan informasi yang salah tentang nama kamu dan Viona gadungan kemarin."
Widhy tersenyum samar, sementara gadis di depannya tidak bisa melihat itu karena Viona tertutup kabut ketakutan. Tentu tidak semudah itu melaporkan seseorang dengan dalih penipuan, butuh bukti dan juga saksi, tapi bukan itu tujuan Widhy. Ia ingin bermain-main sebentar dengan gadis yang sudah berani mempermainkan dirinya sekaligus membuang-buang waktunya.
"Cukup!" kata Viona terlihat cemas dan ketakutan. "Oke gue tanggung jawab, lo butuh uang berapa?" Sebelah mata Widhy menyipit mendengar pertanyaan Viona yang terkesan meremehkannya.
"Saya nggak butuh uang kamu. Saya mau dipertemukan lagi dengan gadis yang kemarin!"
"Hah?" Bola mata Viona seolah ingin keluar dari tempatnya saking terkejutnya mendengar permintaan Widhy. "Buat apa? Lagi pula udah gue batalin kencan kita. Gue juga nggak kenal sama dia."
"Tapi saya belum batalin, jadi kemungkinan kencan masih bisa berlanjut bukan? Coba kamu cek, saya sudah memberikan ulasan!"
Bak anak buah yang takut pada majikannya, Viona langsung menurut untuk membuka aplikasi Dateperimen. Dan benar saja, di sana Widhy sudah memberikan ulasan yang sangat eugh menggelikan bahkan rating dengan bintang lima diberikan kepadanya. Lebih tepatnya untuk Dhisti.
Cantik, seksi, menggoda dan menggairahkan. Tentu kamu idaman saya, Viona.
Berkali-kali Viona membaca pesan yang ditulis Widhy di kolom ulasan. Ia tidak percaya sama sekali. Menelan salivanya berkali-kali namun sulitnya minta ampun, seolah ada biji kedondong yang menghalangi kerongkongannya.
Menarik oksigen sebanyak mungkin lalu membuangnya perlahan, guna meredam kekesalannya terhadap makhluk kejam di depan matanya ini.
"Ah, saya baru ingat. Kamu itu teman Krystal 'kan?" tanya Widhy sembari meraih gelas Americano yang baru saja dibawa oleh sang waiter. Ia baru saja mendapatkan ingatannya, dan senyum samarnya lagi-lagi terpancar. Dalam benaknya, sekalian saja membuat Viona semakin terpojok.
"Kok lo tau?"
"Kamu nggak ingat saya? Kita ketemu waktu acara tunangan Bella dan Richard." Widhy berusaha mengingatkan pada gadis itu. "Masih nggak ingat? Mungkin malam itu kamu terlalu fokus sama pesona teman saya." Lelaki itu pelan-pelan mulai menyesap minumannya.
"Lo personil Walkman?"
"Betul." Widhy melihat Viona yang terkejut sampai mulut gadis itu terbuka lebar. Namun, bukan itu fokusnya malam ini. "Jadi, apa kamu bisa bertanggung jawab?" Viona kembali cemberut mendengar Widhy yang membahas topik utama mereka.
"Tapi gue nggak kenal cewek yang kemarin. Gue minta tolong secara random, dan dia bersedia karena gue kasih bayaran. Setelah kerjaannya selesai, we're lost contact."
"Yakin?" Viona mengangguk cepat. "Tapi saya nggak menerima penolakan. Saya mau kamu atur pertemuan saya dengan Viona gadungan itu!"
Aduh, gimana dong. Kenapa nih cowok ngotot banget mau ketemu sama Dhisti sih?
"Saya bisa lho kasih tahu kamu tentang Ansell. Hobinya, makanan favoritnya, sifatnya." Widhy menyilangkan kedua tangan di dadanya. "I know you are interested with him."
Duh, duh. Kok dia bawa-bawa pujaan hati gue ya? Ini sih namanya kesempatan. Tapi gimana nasib Dhisti?
***
17 Mei 2020