Satu gelas kopi dingin menemani Alena pada jam istirahat, di tangan kirinya ia memainkan ponsel sedangkan tangan kanannya memegang gelas kopi tersebut. Ia duduk tepat di dekat jendela cafe dan itu adalah tempat favoritnya. Matanya sangat intens menatap layar ponsel yang tak lain adalah sebuah aplikasi yang saat ini menjadi tempat favoritnya belanja online, barang diskonan pun terpampang rapi berderet membuat ia gemas ingin mencekout semuanya.
"Haduh, cape banget nyari nafkah. Rasanya pengen cepet-cepet dinafkahi."
Celetuk sahabatnya, Nura, yang secara tiba-tiba datang dan duduk di samping Alena.
"Kenapa sih lo? Dikejar anjing? Ngos-ngosan gitu?"
Nura menghirup oksigen dalam-dalam karena memang terlihat ngos-ngosan habis berlari.
"Dikejar customer. Gue harus jelasin sana sini, yakinin orang itu, yakin orang ini, pusing pala gue."
Nura terlihat mengacak rambutnya, sambil menyandarkan bahunya pada kursi.
Alena berniat menyeruput kembali kopinya, namun secara cepat diambil oleh Nura.
"Lo jodohin gue dong Len, cape gue jomblo terus."
"I-itu kopi gue, Nur."
Nura manggut-manggut, "iya gue ganti Lena, asal lo jodohin gue, gue mohon."
Alena berdecak pelan,"ck! Gue aja jomblo, mending buat gue kalau ada cowoknya."
"Ah lo mah, nggak asyik! Buat gue lah, sumpah gue udah ngebet pengen dinafkahi."
Alena hanya tertawa kecil sambil mengalihkan kembali pandangannya pada ponsel. "Lo kenapa mau jadi customer service? Itu kan tugas lo, harus jelasin ini itu, ya terima la, kerja mana ada yang nggak capek?"
"Ada, kok."
"Apa?"
"Jadi bos."
Alena berdecak kembali, "ck! Jadi bos juga capek tau, mikirin ini itu bahkan lebih capek dan pusing dari pada karyawannya."
Nura mengerutkan keningnya, "tau dari mana lo? Kayak pernah aja jadi bos? Ha ha."
"Itu yang lo nggak tahu, udah lah gue mau balik ke ruangan, lo nggak balik?" Alena berdiri dan memasukkan ponselnya pada saku celana.
"Enggak, gue mau disini bentar, mendinginkan kepala," Nura menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Iya, sampe dingin ya, soalnya bau hangus," ejek Alena sambil menutup hidungnya.
Sementara itu, Alena berjalan kembali ke ruangannya, karena letak cafe yang berada di depan Sun grup, tempat ia bekerja. Samar-samar ia mendengar pembicaraan para karyawan wanita yang membicarakan Jian, CEO Sun group. Alena hanya menggelengkan kepalanya, karena setiap hari harus mendengar teman-temannya mengagumi CEO muda nan tampan itu.
Ia membuka pintu dan ternyata sudah ada Jian dengan sekretaris dan ketua tim marketing online di sana.
"Itu dia Alena, Len ayo sini," pinta pak Reza yang menjadi ketua tim marketing online.
Alena pun duduk di samping pak Reza, pandangannya lurus menatap Jian yang saat ini tengah fokus menatap layar komputer milik Alena.
"Alena, saya lihat performa penjualan kita menurun di marketplace ini, ada apa ya?" Ucap Jian dengan nada bicaranya yang lembut.
Alena tampak terkejut, jika hal itu diketahui oleh CEO-nya. Ia tampak tidak karuan, dan beberapa kali menatap pak Reza yang juga meminta penjelasannya.
"Eum, begini pak, marketplace yang saya pegang ada dua, belum lagi w******p, jadi saya lumayan keteteran," jelasnya.
Jian mengalihkan pandangannya pada Alena, dan menatap intens gadis itu.
"Kamu udah kerja berapa lama?"
"Se-setahun pak."
"Harusnya profesional dong! Pegang kerjaan segitu aja keteteran." Nada bicara Jian mulai naik, terlihat dia sangat kesal.
Hal itu membuat Alena, pak Reza dan sekretarisnya terkejut dengan perubahan nada bicara CEO nya.
"I-itu, so-soalnya, customer kita ba-banyak, Pak." Alena mulai panas dingin, kakinya bahkan bergetar, melihat Jian yang mulai menatapnya tajam.
"Nggak ada alasan! Kalau masih keteteran juga, ganti!" Ucapnya pada pak Reza, sambil beranjak pergi dari ruangan marketing.
Pak Reza hanya menatap sayu pada Alena, "Len, maaf, saya juga nggak…"
"Nggak pak, itu memang salah saya, maafin saya pak, saya akan berusaha lebih keras lagi."
Pak Reza menepuk bahu Alena pelan, "saya percaya sama kamu."
Pukul sembilan malam, Alena berjalan menelusuri jalanan. Ia sengaja memilih berjalan kaki, karena ingin meluapkan emosinya di jalanan.
"Ah sial! Jian, Jian Jian! Kenapa karyawan cewek semuanya pada cinta mati sama dia? Apa mereka nggak tahu kalau mulut dan matanya tajam, nusuk ke dalam hati gue sampe sakit banget rasanya, nyes banget!" Teriaknya di tengah-tengah suara kendaraan yang berlalu lalang.
"Dia nggak lihat apa, tangan gue dua dan jari gue sepuluh? Pasti lah ada keteteran dikit, mana ada gue nggak cape, cape lah! Sial! Kok gue jadi ngikut Nura pengen dinafkahi? Lelah banget cari duit, mana CEO nya kurang asem kayak gitu," sambungnya sambil menendang batu kecil.
Terdengar klakson sebuah motor mengarah padanya, Alena terlihat kesal dan berniat memarahi orang tersebut.
"Alena?" Ucap seseorang itu yang tak lain adalah seorang pria.
Alena menyipitkan matanya, dan menatap lekat pria tersebut yang tertutup helm.
"Ini aku, Yoga." Ucapnya sembari membuka helm.
Alena tampak terkejut, karena sudah delapan tahun tidak bertemu dengan mantan kekasih nya.
"Yo ... Yoga?"
"Iya, aku Yoga, yuk naik Len!" Ajak Yoga.
Alena menggelengkan kepalanya, "nggak usah Yoga, lagian rumah kita berlawanan arah."
Yoga tersenyum manis dengan ciri khas andalannya, "kita searah, bahkan satu komplek, tapi nggak deket banget sih sama rumah kamu."
Alena mengangguk pelan, "kamu udah nikah?"
Yoga tertawa mendengar pertanyaan dari Alena, "nikah sama siapa sih, Len? Jodohnya aja baru ketemu sekarang."
"Ha?" Alena tampak meminta penjelasan dengan ucapan Yoga.
"Yuk naik Len, ini helm nya."
Yoga memberikan helm pada Alena, namun ia tidak buru-buru memakainya, dan hanya menatap helm itu sambil berpikir, mengapa Yoga membawa satu helm untuk orang lain? Namun tak lama ia menepis pikiran negatifnya, memakai helm itu dan menaiki motor Yoga.
Di perjalanan, banyak sekali kenangan yang mereka bicarakan semasa mereka masih berpacaran, dari awal Yoga menyukai Alena, hingga percakapan yang membuat Alena terdiam.
"Maaf Len, waktu itu aku harus ninggalin kamu, karena..." Yoga menggantungkan ucapanya, dan Alena terdiam, sejujurnya dia juga ingin mendengar penjelasan dari Yoga, namun Alena terlalu takut jika penjelasannya menyakitkan.
"Udah, nggak usah dijelasin Ga, aku juga udah lupain semuanya."
Yoga tampak merasa bersalah, ia meraih tangan Alena untuk memeluknya, namun Alena menarik kembali tanganya.
"Len, aku minta nomor telepon kamu dong, kemaren aku hubungi nggak aktif."
Alena mengangguk pelan, "boleh."
Tak lama mereka sampai di depan rumah Alena, dan Alena pun turun dari motor Yoga.
"Masuk dulu, Ga."
"Enggak Len, lain kali aja, sekarang udah malem, kasian orang tua kamu mau istirahat, salam sama om dan tante ya."
Alena mengangguk pelan sambil menara Yoga melakukan motornya kembali.
"Pulang dulu ya, Len."
Alena menatap punggung pria yang dulu amat dicintai, pria yang menghiasi masa putih abunya dengan segala cerita. Namun harus berakhir di tahun ke tiga, Yoga tiba-tiba saja memutuskan hubungannya sepihak tanpa ada penjelasan apapun. Alena patah hati, dan untuk memulihkannya sangatlah tidak mudah, namun kali ini Yoga kembali hadir, ketika hatinya sudah sembuh.
Tengah malam sekitar pukul dua dini hari, Alena terbangun dari tidurnya. Tenggorokannya tampak kering, ia meraih gelas yang berisi air di mejanya.
Ponselnya bergetar, ia pun meraih ponselnya dan terlihat satu notifikasi pesan w******p dari Yoga.
Yoga
Aku nggak bisa tidur, kepikiran kamu terus. Udah lama nggak ketemu, kamu makin cantik aja, Alena.
Alena hanya tertawa kecil membaca pesan dari Yoga, pria itu masih sama, pandai menggombali nya. Ia pun membalasnya.
Alena
Ku kebangun denger suara ponsel, ternyata kamu, Ga
Yoga
Emang kamu pikir siapa? Pacar kamu?
Alena
Pacar apa sih, aku jomblo
Yoga
Kebetulan dong
Alena
Kebetulan apa?
Yoga
Aku juga jomblo
Dan percakapan mereka berlanjut, bahkan setiap hari Yoga mengantarnya pergi bekerja. Hingga mereka dekat kembali, Alena lupa jika ia pernah sakit oleh Yoga. Delapan tahun Alena menata hatinya, namun terlalu nyaman dengan pertemuan yang baru beberapa hari, hingga ia lupa sakitnya hati yang dipatahkan.
Yoga
Kamu lagi apa? Udah makan? Ini udah jam istirahat loh.
Satu pesan dari Yoga membuat Alena segera mengalihkan pandanganya pada ponsel.
Alena
Belum nih, masih di ruangan kerja.
"Alena."
Mendengar namanya dipanggil, Alena segera menyimpan ponselnya dan menghampiri Pak Reza yang datang tiba-tiba.
"Iya, pak."
"Barusan saya meeting sama Pak Jian, dan beliau meminta kamu untuk merubah semua deskripsi produk di marketplace agar lebih menjual lagi."
Alena tampak terbelalak, pekerjaannya sudah membuat ia keteteran ditambah lagi satu pekerjaan yang akan membuat kepalanya berasap.
"Tapi pak, semua deskripsi produk sudah dirundingkan sama pak Reza, dan bapak setuju."
"Saya memang setuju Len, tapi Pak Jian…. Saya juga bingung, kenapa tiba-tiba dia menyoroti kamu," Pak Reza terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya.
Alena menarik napasnya perlahan, ini benar-benar tantangan untuknya. Ia paham jika saat ini, posisinya sedikit terancam.
Kembali, Alena berjalan menelusuri jalanan dan meneriakkan nama Jian. Ia benar-benar sudah membenci CEO nya itu. Ketika dia berusaha mencintai pekerjaannya yang melelahkan, pemilik perusahaan mengoyakkan hatinya.
"Argh si Jian itu, nggak menghargai usaha gue, dan nggak tau kalau bikin deskripsi sebagus itu udah bikin gue telat makan dan banyak gadang, sumpah ya tu anak kam to pret!" Teriaknya.
Klakson sebuah mobil pun membuat Alena ingin melempar sepatunya.
"Sial! Berisik banget sih?" Alena menatap ke arah samping dan ternyata saat itu tepat di lampu merah, mobil Jian pun tepat di sampingnya. Ia bahkan melihat seorang wanita cantik bergelayut manja di bahu Jian, membuat Alena tersenyum sinis.
Alena mendelik dan memanggil taxi, ia tidak mau kemarahannya semakin memuncak karena melihat Jian.
Yoga
Udah pulang?
Alena menatap ponselnya, ia baru ingat jika dirinya belum bertemu dengan Yoga dan itu sudah satu minggu. Alena ingin menceritakan semuanya pada Yoga, kekesalannya pada Jian yang semakin hari semakin memuncak. Namun, pria itu bahkan sering menghilang ketika Alena sudah membalas pesannya. Bahkan ia sering menghubungi Alena di jam yang tak menentu, dan itu tidak seintens saat pertama bertemu. Alena ingat, jika Yoga sering mengajaknya untuk bertemu di rumahnya namun Alena menolak dengan alasan sibuk. Hal itu membuat Alena merasa bersalah, ia pun membalas pesan dari Yoga.
Alena
Aku mau ketemu, aku mau ke rumah kamu.
Yoga
Untuk sekarang nggak bisa, Len
Alena
Kenapa? Bagus dong aku ketemu sama kak Reny.
Yoga
Aku kan tinggal di rumah kakakku, dan sekarang kakakku udah pulang dari luar kota. Jadi nggak bisa Len, yang aku mau itu kemaren-kemaren kita ketemu di rumahku ketika rumah sepi.
Alena mengernyitkan alisnya, pesan dari Yoga membuat ia berpikir keras. Kenapa justru Yoga tidak mau jika ia bertemu dengan kakaknya, padahal Alena dulu cukup dekat dengan Reny. Alena tidak membalas kembali pesan dari Yoga, ia menyandarkan bahunya pada jok mobil sambil memejamkan matanya.
Sudah tiga minggu, Yoga tidak ada kabar. Bahkan semua chat dari Alena tidak ada yang dibalas oleh Yoga. Namun, pria itu tampak online dan mengupdate status w******p nya.
Hari itu, hari minggu dan Alena bermalas-malasan di atas sofa. Ia menatap aplikasi belanja online yang menggiurkan.
"Belum mandi?" Tanya ibunya yang baru pulang dari pasar.
"Seperti yang ibu lihat," jawabnya santai.
"Hmm pantesan, keduluan sama mantan, anak ibu males orangnya, jorok lagi."
Alena beranjak bangun, ia tidak mengerti dengan ucapan ibunya.
"Apa sih bu? Mantan siapa? Mau apa? Kok keduluan."
Ibunya duduk di samping Alena sambil membuka sayur mayur yang baru saja ia beli.
"Yoga lah, siapa lagi?"
Alena semakin mendekati ibunya, "Yoga ngapain?"
"Tadi tuh ibu ketemu tante Lisa, katanya anak kedua dia mau nikah, nah bukannya anak keduanya itu Yoga, kan?"
Lisa adalah ibunya Yoga, dan dia adalah teman ibunya Alena sewaktu SMP.
"Serius, bu? Undangannya mana?"
"Belum selesai cetak, nanti kamu juga diundang, duh sayang banget ya, kalian dulu putus, coba kalau nggak putus, ibu sama Lisa udah besanan."
Jantung Alena tampak tak karuan, tanpa sepengetahuan ibunya. Alena sudah kembali menjalin hubungan dengan Yoga, dan kabar ini membuat Alena terkejut.
Ia pun dengan cepat menghubungi Yoga, memastikan kebenarannya.
Alena
Ga, jawab aku! Bales pesan ini secepetnya. Yoga, kamu bener mau nikah, terus hubungan kita gimana? Kamu bilang mau balik sama aku mengulang semuanya, tapi ini apa?
Alena menunggu balasan dari Yoga, ia terus menunggu chatnya dibaca oleh Yoga, namun belum juga ada balasan. Hingga pukul dua belas malam Yoga membalas pesannya.
Yoga
Maafin aku, aku nikah duluan ya, Lena.
Dan pesan itu belum dibaca oleh Alena, ia bahkan membaca pesan itu ketika rapat marketing. Karena lelah dengan pidato Jian, Alena menguap beberapa kali, sampai ia iseng membuka ponsel. Dan seketika petir bak menyambar dirinya, pesan singkat namun padat nan runcing menyayat hatinya. Lagi dan lagi Yoga mengkhianati kepercayaannya, bodoh dan kembali bodoh ia harus terlena oleh mulut Yoga.
"Monkey!" Teriaknya yang membuat Jian menghentikan aktivitasnya.
Semua mata tertuju pada Alena, terutama Jian yang tampak memukul meja.
"Maksud kamu, saya?!" Tanya Jian.
Alena pun sadar jika ia sedang menjadi pusat perhatian, tanpa basa-basi ia pun meminta maaf, "bukan pak, bukan bapak."
"Terus siapa?"
"I-itu ..." Alena tampak gelagapan.
Jian pun menghampiri Alena dan meraih ponselnya.
"Itu lah, jangan mainin ponsel kalau lagi rapat! Kamu keluar sekarang juga! Saya nggak butuh orang yang nggak mau kerja!" Bentak Jian tanpa memberikan ponsel Alena, ia bahkan melempar ponsel Alena pada tong sampah.
Alena terkejut, ponsel yang ia beli dengan kerja kerasnya dibuang begitu saja oleh Jian. Ia berdiri dan pergi dari ruangan meeting dengan air mata yang mengaliri kedua pipinya.
"Kita lanjut, jangan pedulikan dia,"sambung Jian.
Sedangkan Alena menangis di dalam toilet, ia benar-benar benci hidupnya. Ia pikir dengan bekerja di Sun grup tidak akan ada masalah sedikitpun, karena sudah satu tahun ia mencoba mencintai pekerjaannya walaupun membuat ia pusing. Namun kali ini, ia benar-benar sedang disoroti oleh Jian.
"Salah gue apa coba? Yoga nyakitin gue berkali-kali dan Jian, kenapa tiba-tiba seolah benci sama gue hiks hiks hiks," teriaknya.
"Kurang kerja keras gimana gue selama ini hiks, hiks, hiks."
"Lena, lo nggak Apa-apa? Sorry banget gue baru tau beritanya."
Nura mengetuk pintu toilet yang saat ini ditempati oleh Alena, Nura sendiri berada jauh di ruangan yang berbeda dengan Alena, maka jarang sekali mereka mengobrol di kantor.
"Lena, jawab gue, lo nggak apa-apa? Jangan bikin gue khawatir?"
Tak lama Alena membuka pintu dan dengan cepat memeluk Nura, ia menangis di pelukan sahabatnya itu.
"Maaf ya beb, gue nggak tau, gue terlalu sibuk."
"Nggak, Nur gue paham kok posisi lo, kita sama-sama pusing kerja di sini."
Nura melepaskan pelukannya, dan mengusap pipi Alena yang basah.
"Gue denger cerita dari Meylie, dan nyes banget gue sakit hati, lo diperlakukan kayak gitu sama si bos."
Alena mencoba menarik napasnya dan membuang secara perlahan.
"Nur, lo tahu Yoga, kan?"
"Iya, mantan lo itu, kenapa?"
"Jadi, gue sebenernya deket lagi sama dia, karena rumahnya pindah di kompleks deket rumah gue, kita pacaran lagi, tapi sampe tiga minggu nggak ada kabar, chat gue nggak di read dan nggak dibales, tapi gue denger kabar dari ibu, kalau dia mau nikah, dan parahnya dia dengan lancang ngomong kalau dia mau nikah duluan, hiks, hiks, hiks."
Penjelasan Alena membuat Nura membelak, "jahara banget itu cowok, dulu ninggalin lo, sekarang ninggalin lagi? Lo nya juga kenapa mau sama dia?"
"Iya gue bodoh, kenapa kemakan sama rayuan dia."
Nura mencoba menenangkan sahabatnya itu, ia tak memberi banyak komentar, karena saat ini Alena sedang tidak baik-baik saja.
Sementara itu, Jian dan sekretarisnya masih berada di ruang meeting. Namun, para karyawan sudah mulai keluar dari ruangan karena meeting sudah selesai. Petugas kebersihan pun mulai membersihkan ruangan, dan ada salah satu petugas yang akan membuang sampah, ia menatap ke dalam tong sampah dan terdapat ponsel di dalamnya.
"Maaf, pak ini ada ponsel, mau dibuang?" Tanyanya.
Jian pun menatap tong sampah itu,"tolong bawa kesini ponselnya."
"Baik Pak."
Petugas itu pun memberikan ponsel milik Alena pada Jian dan kebetulan saat itu ponselnya bergetar dan menyala, banyak notif dari pesan w******p yang menampilkan nama Yoga. Dengan sengaja Jian membuka ponsel Alena yang tidak menggunakan sandi. Ia membaca semua pesan dari Yoga, wajah Jian beberapa kali berubah ekspresi. Terkadang tersenyum sinis, tertawa dan menggelengkan kepalanya.
"Cowok begini yang bikin si Alena nggak fokus kerja? Berani menghamili dan mau lari dari tanggung jawab, ck!"
Jian memasukkan ponsel Alena ke dalam saku celananya, kemudian berjalan keluar dari dalam ruang meeting.
Seperti biasanya Alena berjalan kaki menyusuri jalanan kota, malam hari. Namun kali ini ia tak meneriakkan nama Jian.
"Tumben nggak teriakin nama saya?" Suara pria di belakangnya membuat Alena menghentikan langkahnya, ia tahu betul pemilik suara itu. Dengan hati-hati Alena membalikkan tubuhnya dengan kepala yang menunduk.
"Ini ponsel kamu." Jian memberikan ponsel Alena.
"Maaf, udah buang ponsel kamu tadi, saya cuma mau menertibkan karyawan saya, supaya bisa bekerjasama dengan baik," sambung Jian.
Alena meraih ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas, "makasih bapak sudah kembalikan ponsel saya dan maaf kalau saya lancang, tapi dari mana bapak tau kalau saya sering meneriaki nama bapak?"
Jian tertawa kecil, "saya sering ngikutin kamu setiap pulang kerja, saya cuma mau mastiin kalau karyawan saya pulang dengan selamat, kamu sering jalan kaki pas pulang kerja dan itu membuat saya khawatir, tapi ketika di ujung jalan kamu naik taksi, barulah saya lega."
"Jadi, Bapak sering jalan kaki ngikutin saya?"
Jian mengangguk pelan, "iya betul."
"Tapi kemarin itu… "
"Oh itu, yang kemarin itu saya lagi bareng pacar, makanya nggak jalan kaki, tapi saya tetap mengikuti kamu pakai mobil."
Alena hanya mengangguk pelan, ia merasa malu karena kelakuannya yang sering meneriaki bosnya ketahuan juga.
"Itu ada taksi, kamu naik gih, keburu malem." Jian melambaikan tangannya pada taxi.
"Iya Pak, makasih ya."
"Oh iya, kamu jangan patah hati lagi ya."
"Maaf? Gimana Pak?"
Jian hanya tersenyum dan membukakan pintu untuk Alena, sedangkan Alena meminta penjelasan pada Jian, namun Jian segera menutup pintu mobil.
Alena masih bingung dengan ucapan Jian, ia meraih ponselnya di dalam tas dan membuka aplikasi w******p. Ia terbelalak jika semua pesan dari Yoga sudah dibaca bahkan sudah dibalas, sedangkan hari ini ponselnya berada di tong sampah.
Ucapan Jian kembali terngiang, jika ia jangan patah hati lagi, itu tandanya… .
"Ah sial! Kenapa berani banget buka ponsel orang lain? Pake acara baca dan bales chat segala lagi, tapi kenapa tiba-tiba baik banget sih? Biasanya juga nusuk banget tatapan dan ucapannya."
Alena berbicara sendiri, kemudian membaca satu persatu chat dari Yoga, chat yang paling panjang pun ia baca dengan teliti.
Yoga
Alena, maaf aku benar-benar harus nikah sama dia. Sebenernya aku udah punya pacar, dan berniat lari dari tanggung jawab karena dia hamil. Aku lari ke rumah kak Reny dan menjalin hubungan lagi sama kamu karena mau menjauh dari dia, tapi nyatanya nggak bisa, aku gundah selama tiga minggu. Itu sebabnya aku nggak hubungi kamu, aku diancam pake golok sama bapaknya kalau sampe nggak nikahin dia. Aku minta maaf Len, maaf banget.
Alena menarik napasnya dan membuangnya perlahan, "sekarang lo jelasin, kenapa dulu nggak jelasin? Bodoh lo Alena, mau aja pacaran sama dia lagi, udah tau cowok kampret." Alena memarahi dirinya sendiri yang sangat bodoh menerima cinta Yoga kembali.