Tristan tidak segera mengirim pesan. Ia membaca nama Derick Hewitt sekali lagi, kemudian menanyakan kepada Jason bagian mana dari keterangan itu yang sudah diperiksa.
Jawabannya tetap sama. Hubungan perkawinan tersebut berasal dari penuturan Robie.
"Aku mengenal seseorang dengan nama keluarga itu," katanya. "Mungkin tidak ada hubungannya."
"Kalau Anda mendapat keterangan lain, sampaikan asalnya dengan jelas."
Setelah panggilan berakhir, Tristan berjalan ke dapur tanpa tahu hendak mengambil apa. Cangkir pagi masih berada di dekat bak cuci. Ia mencucinya, mengeringkan tangan, lalu kembali ke meja.
Ia takut pada jawaban Caramella. Lebih dari itu, ia takut menjadikan ketakutan sendiri sebagai alasan untuk menyembunyikan pertanyaan.
Pesannya akhirnya singkat. Ada perkembangan tentang keluarganya yang mungkin berhubungan dengan seseorang yang dikenal Caramella. Ia ingin berbicara jika wanita itu bersedia, dan tidak perlu malam ini.
Balasan datang ketika ia sedang menutup map.
"Aku bisa menelepon sekarang. Apa yang terjadi?"
***
Caramella duduk di dekat jendela kamarnya. Susan sedang menonton di ruang tengah; suara televisi terdengar samar ketika panggilan tersambung.
Tristan tidak memulai dengan menanyakan keadaan ayahnya seolah sedang berbasa-basi.
"Ada satu nama yang disebut dalam pencarian mengenai orang tuaku. Derick Hewitt. Aku ingin memastikan apakah itu nama ayahmu."
Punggung Caramella menegang.
"Iya. Tapi kenapa namanya ada di sana?"
"Yang sedang dicari seorang wanita. Seseorang mengatakan wanita itu sekarang bernama Kristin dan menikah dengan Derick Hewitt. Keterangan itu belum seluruhnya diperiksa."
Caramella memandang pantulan wajahnya di kaca. Nama yang begitu dikenalnya terdengar asing ketika keluar dari mulut Tristan.
"Kristin memang istri ayahku. Mereka sudah tidak tinggal bersama."
Hening berlangsung beberapa detik.
"Aku perlu menjelaskan dari awal," kata Tristan.
Kali ini ia menyebut Joana. Ia menceritakan apa yang disampaikan Margaret mengenai dugaan keterlibatan wanita itu dalam kematian Karina dan George, kemudian pertemuannya dengan Jason. Ia berhenti beberapa kali agar Caramella dapat bertanya.
Ia tidak mengatakan Kristin sudah terbukti menjadi wanita dalam foto. Namun ia juga tidak mengaburkan alasan nama itu dicari.
"Jadi orang yang menipuku mungkin mengenal orang tuamu?"
Pertanyaan tersebut keluar sebelum Caramella memikirkan kata-katanya.
"Menipumu?"
Caramella menutup mata sejenak. Mereka ternyata masing-masing memegang bagian cerita yang sama sekali tidak diketahui pihak lain.
Ia menjelaskan pembayaran yang diminta Kristin, alasan penjaminan yang ternyata palsu, serta pengakuan terbatas yang diterimanya. Ia mengatakan sudah membuat laporan dan meminta nasihat dari pengacara lain.
Tristan mendengarkan sampai selesai.
"Aku tidak tahu ada hubungan dengan keluargamu," tambah Caramella.
"Aku tahu kamu baru mendengarnya sekarang."
Jawaban itu membuat tenggorokannya terasa sedikit longgar. Ia tidak menyadari betapa cepat dirinya bersiap membela diri sampai Tristan tidak menuduhnya.
***
Caramella bangkit untuk menutup tirai. Gerakan biasa itu memberinya beberapa detik untuk berpikir.
"Siapa yang mengatakan dia Kristin?"
"Seorang pria bernama Robie."
Ia berhenti dengan tangan masih memegang kain.
"Kristin menyebut nama itu kepadaku. Katanya dia memaksanya menikah."
Tristan mengingat penjelasan Jason tentang motif pribadi pemberi keterangan. Kini peringatan itu terasa lebih nyata.
"Jason juga mengatakan ada persoalan pribadi di antara mereka. Itu salah satu hal yang membuat keterangannya harus diperiksa."
"Aku tidak tahu apakah semua cerita Kristin tentang dia benar. Tapi kalau memang dia mengancamnya, itu juga harus dijelaskan."
"Iya."
Caramella kembali duduk. Beberapa hari lalu ia merasa seluruh persoalan Kristin dapat dipisahkan menjadi cek, pesan, dan kebohongan yang dapat ditunjukkan. Sekarang ada masa lalu yang bahkan tidak pernah dibayangkannya.
Ia ingin langsung menelepon ayahnya. Ia ingin bertanya sejak kapan Derick mengenal istrinya, siapa namanya dahulu, apa saja yang tidak diceritakan. Dorongan itu begitu kuat sampai ia mengambil ponsel dari telinga dan menatap layar.
Kemudian ia mengembalikannya.
"Aku belum tahu apa yang Ayah ketahui," katanya. "Aku tidak mau menjawab untuknya."
"Aku tidak memintamu menjawab untuk siapa pun."
"Kamu juga tidak bisa menganggap semua yang pernah dekat dengannya mengetahui hal yang sama."
Tristan menarik napas. Ada nada tajam dalam kalimat Caramella, dan bagian dirinya yang terluka hampir bereaksi terhadapnya.
"Aku sedang marah," akunya. "Tapi kemarahanku bukan bukti tentang ayahmu."
Caramella diam. Jawaban tersebut tidak menjamin percakapan mereka kelak selalu mudah, tetapi setidaknya ia tidak harus menghadapi pengadilan pribadi malam ini.
***
Tristan memandang foto Karina yang kini berada di atas meja. Sejak tadi ia menghindari menatapnya saat Caramella berbicara tentang Kristin.
"Aku tidak ingin membuatmu merasa harus membantuku supaya aku percaya kepadamu," katanya.
"Aku tetap bisa memberikan keterangan yang memang kuketahui."
"Kalau kamu bersedia, aku akan memberi tahu Jason bahwa aku sudah berbicara denganmu. Untuk menghubungimu langsung, aku akan menunggu persetujuanmu."
Caramella memikirkan itu. Ia terbiasa meminta orang bercerita dengan urutan yang jelas, tetapi malam ini urutan di kepalanya sendiri berantakan.
"Kirimkan kontaknya. Aku akan membicarakannya dengan pengacaraku terlebih dahulu, lalu menghubunginya. Jangan berikan nomor pribadiku kepada Robie atau orang lain."
"Tidak akan."
"Aku tidak punya ingatan tentang wanita bernama Joana. Jangan berharap aku bisa mengenali foto lama hanya karena mengenal Kristin sekarang."
"Aku sendiri tidak mengenalinya."
Kalimat terakhir diucapkan Tristan begitu pelan hingga Caramella hampir tidak mendengarnya.
Ia membayangkan anak tujuh tahun yang kehilangan kedua orang tua. Bukan pengusaha yang selalu tampak mampu mengatur sebuah ruangan, melainkan anak yang tumbuh bersama penjelasan yang ternyata tidak lengkap.
Ia merasakan kesedihan untuknya. Kesedihan itu tidak membuatnya lupa pada luka mereka sendiri, tetapi ia tidak ingin menahan kata-kata sederhana hanya karena hubungan mereka belum jelas.
"Aku ikut sedih kamu harus mengetahui semua ini dengan cara seperti itu."
"Terima kasih."
Mereka tidak berbicara beberapa saat.
Di ruang tengah, Susan mengecilkan suara televisi. Caramella mendengar langkah ibunya mendekat, kemudian menjauh lagi setelah pintunya tetap tertutup.
"Aku perlu berhenti dulu," katanya akhirnya.
"Baik. Aku akan mengirim kontak Jason saja."
***
Sesudah panggilan berakhir, Caramella keluar dari kamar. Susan menoleh dan segera menggeser bantal di sebelahnya.
"Ada apa?"
Caramella duduk, kedua tangan bertaut di pangkuan.
"Ada kabar tentang Kristin. Aku belum tahu seberapa banyak yang benar."
Ia menceritakan secukupnya, membedakan dugaan dari sesuatu yang telah dikonfirmasinya sendiri. Susan mendengarkan dengan wajah semakin serius.
Ibunya tidak mengatakan sejak awal telah mengetahui Kristin berbahaya. Ia justru bertanya apakah Caramella ingin minum sebelum melanjutkan.
"Air saja."
Susan mengambil dua gelas. Ketika kembali, Caramella sudah membuka catatan kosong di ponselnya. Ia menulis tanggal percakapan dengan Kristin yang masih diingat, lalu menandai bagian yang perlu dicocokkan dengan pesan.
Pada satu baris, ia menulis nama Robie.
"Aku hampir menelepon Ayah tadi," ujarnya.
"Kamu masih bisa memutuskan besok setelah beristirahat."
Caramella mengangguk. Malam ini ia tidak akan mencoba memperoleh seluruh riwayat perkawinan Derick melalui percakapan yang penuh keterkejutan.
Di apartemen sebelah, Tristan mengirim kontak Jason dan meletakkan ponselnya. Ia tidak meminta Caramella datang, meskipun mengetahui betapa dekat jarak pintu mereka.
Ia membuka pesan untuk Jason dan menuliskan hasil percakapan dengan hati-hati: Caramella mengonfirmasi hubungan keluarga yang disebut, bukan identitas Joana.
Setelah pesan terkirim, Tristan menatap foto ibunya sekali lagi.
Nama Kristin kini bukan sekadar catatan orang asing. Nama itu berada di antara dua keluarga yang sudah terluka sebelum mereka saling mengenal.
Namun untuk pertama kalinya malam itu, Tristan tidak merasa harus memilih antara mencari kebenaran dan mempercayai bahwa Caramella juga berhak mendapatkannya.