Pukul setengah delapan aku sampai dirumah dan rasanya rumah sudah sepi pasti kak Revan, Kak Arfan sudah pulang ke rumah mereka masing-masing dengan istri dan juga anaknya. Dan aku juga tak melihat mobil Kak Reihan sepertinya dia lembur dikantor kalau engga ya pulang ke apartemannya. Akupun langsung masuk ke dalam rumah dan terlihat Mami sedang menonton televisi dengan Bi Minah yang duduk dibawah dengan tangannya memijat kaki Mami dan mereka sibuk heboh menggosip sinetron yang ada ditelevisi ya tentunya sinetron kekasihku dong, karena Mami melihat Kevin ditelevisi dia merasa bangga
“aku salam engga dijawab ternyata sibuk yah liatin kegantengan kekasih aku” kataku dengan duduk disamping Mami dan menyalaminya
“idih kamu ke Gran banget”
“hahaha kan emang Kak Kevin gantengnya kebangetan”
“iya iya deh, ow hiya kamu baru pulang ngapain aja?”
“ya begitu deh, tanpa aku jawabpun Mami pasti udah tahu kan” kataku dengan manja memeluk Mami dari arah samping, Mamipun hanya memicingkan matanya dan menjawil Hidungku
“kamu ini yah, sebegitu Bucinnya sama Kevin, Mami harus nyuruh Papi untuk segera menikahkan kamu nih” kata Mami membuatku malu dan menyembunyikan wajahku dilengan Mami
“kalau aku sih mau aja Mi, tapi kan Kak Kevin lagi sibuk syuting Mi jadinya ya nikmati aja masa pacarana dulu”
“iya makanya inget pesan Mami dan Papi jangan kebabalasan”
“iya Mami tenang aja aku slalu inget kok”
“harus itu, owh iya Vir itu kok Kevin sama Salsa main sinetronnya mesra banget sih”
“ya gimana lagi Mi, mereka kan Cuma acting, aku percaya kok sama Kak Kevin dan juga Salsa, jadi Mami tenang aja”
“iya Mami juga percaya kok, tapi takutnya kan Salsa malah jadi suka sama Kevin”
“engga mungkin lah Mi, lagian nih ya Salsa juga udah punya Alan, engga mungkin lah suka sama Kak Kevin, udah deh Mami jangan nakut-nakutin aku, aku percaya sama mereka”
“iya iya deh, Mami kan Cuma tanya aja siapa tahu, tapi Mami percaya kok mengingat Kevin juga sama bucinnya kaya kamu” kata Mami dan akupun hanya menyengir tak berdosa
“owh iya Mi, kata Alya Papi nyuruh aku pulang lebih dulu ada yang mau dibicaraain penting sama aku, emang Papi mau ngomong apa sih?”
“Mana Mami tahu Vir, temuin sana Papi ada diruang kerjanya”
“ya udah deh Mi, akum au mandi dulu gerah habis itu nemuin Papi”
“inget jangan lama-lama mandinya”
“iya Mami paling ya tiga puluh menit”
“astaga kamu nih ya, Mandi apa lamanya begitu”
“yak an Mami tahu sendiri kan, ya udah aku ke kamar dulu ya Mi” kataku dengan mengecup pipi Mami dan setelah itu berjalan menuju kamarku yang berada dilantai dua, sungguh badanku sangat Lelah dan setelah mandi rasanya ingin langsung tidur namun aku harus menemui Papi terlebih dahulu karena pasti ada sesuatu yang penting yang ingin Papi katakana kepadaku.
Setelah merasa segar mandi, akupun langsung berjalan menuju ruangan Papi, kulihat waktu sudah menunjukan pukul setengah Sembilan dan sepertinya Papi belum ke kamar untuk istirahat mengingat biasanya Papi keluar ruang kerjanya pukul sebelas malam.
Setelah sampai didepan ruangan Papi, aku langsung membuka pintu tanpa ketuk pintu karena memang sudah kebiasaanku, setelah pintu terbuka kulihat Papi sedang sibuk didepan leptop dan setumpukan berkas, merasakan pintu terbuka Papi langsung mendongkak dan menatapku akupun memberikan senyum manisku kepada Papi
“sini masuk jangan didepan pintu begitu ah” kata Papi, akupun masuk kedalam ruangan Papi dan menutup pintu setelah itu berjalan kearah Papi dan berdiri dibelakang Papi dan memeluknya
“Papi engga pusing apa lihatin kaya begituan, grafik begitu aku lihatnya aja pusing” kataku dengan masih memeluk Papi dengan manja
“udah biasa sayang, Papi ya engga pusing” kata Papi dengan mengelus pipiku lembut dan aku suka sekali jika sudah bermanja-manjaan sama Papi
“owh iya Pi, kata Alya tadi Papi ngirim pesan ke dia katanya ada sesuatu yang ingin dibicarain sama aku”
“iya memang Papi ingin bicara penting sama kamu”
“ngomong apa Pi”
“duduk disofa aja yuk jangan disini” ajak Papi dan akupun mengangguk, setelah itu aku dan Papi beranjak dan duduk disofa Panjang yang berada diruangan Papi. Papipun langsung duduk dan diikuti denganku yang langsung bersandar ditubuh Papi yang masih bagus walaupun sudah berumur dan dengan sayang papi mengelus rambutku dengan sayang
“kamu bahagia sama kehidupanmu saat ini sayang?”
“Bahagia dong Pi, emang kenapa Papi tanya begitu sama aku?”
“engga papa, Papi Cuma pengin tahu aja, kamu engga bosan setiap hari main-main terus”
“kenapa bosan, itu hal yang mengasyikan Pi” jawabku
“iya Papi tahu, tapi sayang sudah saatnya kan engga main-main lagi”
“maksud Papi?” tanyaku dengan mendongkak menatap wajah Papi yang masih terlihat tampan diusianya yang sudah tidak muda
“begini sayang, umur Pap ikan sudah tidak muda lagi dan Papi sudah ingin istirahat dari pekerjaan Papi dan menikmati masa tua Papi dengan Mami dan melihat anak dan cucu Papi Bahagia”
“itu ide bagus Pi, dan Vira setuju kalau Papi pensiun dari pekerjaan, lalu apa yang Papi pusingkan?”
“begini, setelah Papi pensiun Papi ingin kamu ikut membantu kakak-kakakmu diperusahaan sayang, setidaknya kamu memiliki kesibukan lain selain menganggu Kevin terus dilokasi syuting dan memiliki kegiatan yang bermanfaat” kata Papi membuatku terkejut dan langsung duduk dengan benar dengan menatap Papi
“Papi… Papi kan tahu kalau aku sama sekali engga tertarik bekerja diperusahaan Pi, dan juga menemani Kak Kevin dilokasi syuting itu engga ada salahnya kan, lagian dia biasa aja sih Pi”
“tapi Papi ingin kamu juga terjun diperusahaan yang dengan susah payah Papi bangun dari dulu sayang”
“Papi kan udah ada Kak Revan, Kak Arfan dan Kak Reihan, lagian ya Pi aku kan perempuan aku engga tertarik kerja diperusahaan Pi terlebih lagi setelah menikah aku ingin kaya Mami dirumah menunggu suami pulang kerja dan menjadi penyemangatnya” kataku dengan menatap Papi, Papi menatapku dengan tatapan yang sulit k****a dan akhirnya akupun memeluk Papi dari arah samping
“Pi…, jangan marah ya sama Vira sungguh Pi Vira engga tertarik masuk ke dunia bisnis dan juga dulu Vira kuliahnya jurusan desainer Pi, jadi Vira minta jangan memaksa Vira untuk kerja diperusahaan ya Pi, besok aja Kak Kevin yang bantuin Papi kerja diperusahaan setelah menikah dengan Vira pasti Kak Kevin mau Pi dia juga bercita-cita ingin kerja diperusahaan setelah kontrak dengan managementnya Pi jadi biar Kak Kevin yang bantu Papi aja ya, Vira udah nyaman begini, jadi Papi jangan marah ya sama Vira” kataku dan kurasakan hembusan nafas Papi dengan kasar dan setelah itu kurasakan juga kecupan dikepalaku
“ya sudah kalau begitu Papi engga akan memaksa kamu lagi”
“tapi Papi engga marah kan sama aku?” tanyaku dengan mendongkak menatap wajah Papi, Papipun tersenyum dan mencubit Pipiku dengan gemas
“mana bisa Papi marah sama Putri kesayangan Papi ini” kata Papi membuatku tersenyum dan mencium pipi Papi setelah itu aku memeluk Papi dengan sayang, ya beginilah Papi tidak pernah marah kepadaku sehingga membuatku makin cinta dan sayang sama Papi, Papi emang yang terbaik.
***
Hari ini aku menemani Kak Kevin syuting dipantai karena memang ada adegan dipantai, akupun duduk dikursi dengan melihat Kak Kevin kekasihku tengah berakting bertengkat dengan Salsa. Waktu sudah menunjukan pukul setengah satu yang artinya sebentar lagi waktunya break untuk istirahat.
Kulihat syuting selesai dan Kak Kevin berjalan kearahku, akupun tersenyum kepadanya dan melambaikan tangan diapun membalas senyumku, jika Kak Kevin senyum aku pasti rasanya ingin menyimpan Kak Kevin diaparteman aja soalnyanya dia sangat tampan dan aku engga mau senyumnya dinikmati banyak orang terutama kaum hawa.
“udah sampai dari tadi?” tanyanya setelah sampai didepanku dan langsung mencium keningku singkat
“sekitar dua jam lah disini” jawabku
“Maaf yah kamu nunggu lama pasti kamu bosan ya”
“sedikit sih tapi setelah lihat Kakak engga bosan lagi” jawabku membuat dia tersenyum dan mengusap rambutku lembut
“jangan senyum begitu deh”
“lah memangnya kenapa?”
“ganteng banget, aku engga mau banyak yang lihat kakak senyum, senyum kakak hanya boleh dinikmati aku aja” kataku membuat dia tertawa
“astaga sayang ya engga bisa begitu, masa kalau lagi syuting adegan Bahagia harus cemberut begitu”
“kecuali kalau lagi syuting, senyumnya bolehnya kalau Cuma ada aku”
“astaga kamu nih ada ada aja sayang, ya mana bisa begitu”
“habisnya kakak terlalu tampan”
“ya memang dari sananya udah tampan sayang”
“jadi engga rela bagi-bagi aku”
“hahaha emangnya kakak coklat silverking yang enaknya engga rela bagi-bagi” jawabnya membuatku tertawa dan diapun ikut tertawa
“ow hiya Kakak pastil apar kan, seperti biasa aku bawa makan siang buat kakak”
“aduh pacarku ini tahu aja kalau aku lapar”
“iya dong dan pastinya tadi pagi belum sarapan past ikan” kataku kepadanya, diapun hanya tersenyum tak berdosa dan akupun hanya mencibirnya
“kan aku langsung berangkat syuting mana sempat sarapan sayang”
“yak an aku udah sedian roti tawar, selai dan buah dikulkas kamu dan juga ada s**u kotak”
“lupa sayang, maaf deh”
“slalu begitu”
“jangan cemberut begini ih, jadi pengin cium nih” katanya dengan mencubit pipiku
“inget pesan Papi” kataku mengingatkan, diapun mengangguk paham, mengatakan Papi aku jadi ingat pesan Papi tadi malam, apakah ini saatnya mengatakan kepada Kak Kevin perihal permintaan Papi, kulihat Kak Kevin sedang meminum minuman, dan ya mungkin ini saatnya aku berbicara dengan dirinya
“Kak apa pendapat kakak tentang pernikahan?” tanyaku sontak membuat dia langsung terkejut dan tersedak hingga terbatuk-batuk.
“pelan-pelan dong kak” kataku dengan menepuk-nepuk pundaknya. Setelah dia merasa baikan diapun langsung menatapku
“kenapa kamu tiba-tiba tanya begitu sih sayang?” tanyanya
“aku kan tanya pendapat kakak, bagaimana tentang pernikahan”
“tapi kenapa tiba-tiba kamu bertanya begitu sih sayang, engga ada angin engga ada hujan”
“soalnya Papi ingin kita segera menikah” kataku dan sukses membuat Kak Kevin terkejut
“APA MENIKAH!!”