12.00
Suasana kelas tampak sepi mengingat ini adalah jam istirahat. Semua siswa tampak berhamburan keluar kelas mengajak teman sebaya nya untuk menikmati jam istirahat. Menyisakan seseorang yang tampak kesepian di dalam kelas.
Dia adalah Arthanna Laodia Alexa yang kerap dipanggil Anna. Seorang gadis introvert yang suka menyendiri, pendiam dan cuek. Ia memiliki paras yang cantik, rambut berwarna merah musim gugur, juga kulitnya yang bersih.
Namun sayang semua teman di kelasnya menjauhinya dan kerapmembully dirinya. Ia sebenarnya tersiksa dengan kesendiriannya, ia juga ingin mempunyai teman tetapi ia tidak tahu bagaimana caranya.
***
Anna mengeluarkan sebuah kotak bekal makanan yang ia bawa dari rumah di laci mejanya. Ia berniat untuk memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya. Tetapi seseorang menyenggol lengannya hingga sendok yang berisi mie instan itu jatuh ke lantai.
"Upss maaf sengaja." ucap Arin meledek. Arin, salah satu teman kelas Anna yang mulai memasuki kelas.
Anna mengambil sendoknya yang tergeletak di lantai.
Seorang anak laki-laki berjalan tergesa melihat bawah "Eh siapa yang ngotorin lantai?" tanya Yosi selaku ketua kelas dengan nada ketus.
"Itu tadi makanan Anna yang jatuh Yos." adu Arin dengan seringainya.
"Anna cepat bersihkan! Aku gamau nanti kena marah guru karena kelas kotor." perintah Yosi dengan tegas. Sebenarnya Yosi tidak tega melihat gadis itu, namun ia melakukannya agar cintanya diterima oleh Arin yang terus-menerus menolaknya.
Anna hanya mengangguk pasrah menuruti perintah Yosi. Ia benci sekali dengan dirinya yang tidak bisa membela dan hanya diam saja.
"Yang bersih jangan lelet deh!" sahut Mia teman se-geng Arin.
"Pake senyum dong cantikk.." sambung Intan yang ikut-ikutan juga masih satu geng dengan Arin dengan nada mengejek.
Anna sudah tidak tahan, setelah selesai membersihkan lantai ia langsung membawa kotak bekalnya menuju toilet. Yah ini tempat yang paling nyaman menurut Anna. Anna perlahan menyuapkan nasi ke dalam mulutnya dengan air mata yang terus mengalir membuat rasa makanannya menjadi sedikit asin. Ingin rasanya ia ingin menghilang dari muka bumi ini.
"Ayah..ibu..Anna kangen kalian" gumam Anna dengan isakan tertahan.
Anna kembali mengingat peristiwa tragis 10 tahun yang lalu saat ia masih berusia 6 tahun. Insiden pembunuhan yang merenggut nyawa kedua orang yang paling disayanginya di depan matanya sendiri. Orang tuanya meninggal dengan kehabisan darah tetapi Anna tak mengingat kejadiannya dengan jelas dikarenakan saat itu ia masih kecil memorinya belum terbentuk sempurna. Anna memejamkan matanya untuk mengusir bayang-bayang yang terus menghantui dirinya.
Anna segera menghabiskan makanannya, karena 5 menit lagi bel masuk akan berbunyi. Sebelum keluar dari kamar mandi, Anna membasuh mukanya agar tidak terlihat kalau ia habis menangis karena Anna tidak suka memperlihatkan tangisannya di depan orang lain.
Ia bergegas menuju ke kelasnya tapi gawat ternyata gurunya sudah berada di dalam kelas. Anna harus menahan malu karena dilihat oleh semua siswa dikelas.
"Darimana saja kamu?" tanya Pak Reno dengan kerutan tegas di wajahnya.
Anna menundukkan wajahnya "Em..maaf pak saya habis dari kamar mandi." jelas Anna takut-takut.
"Kok lama, habis boker ya hahaha?" ejek Arin yang diikuti suara tawaan teman-temannya.
"Sudah kembali ke tempatmu. Jika besok kamu tidak masuk tepat waktu lebih baik tidak usah ikut pelajaran saya!" tukas Pak Reno dengan nada tinggi.
Anna berjalan lemas menuju kursinya yang terletak paling belakang. Namun seseorang menjegal kakinya hingga terjatuh.
Arin menampilkan ekspresi wajah bersalah yang dibuat-buat "Ohh..Anna maaf aku ga sengaja pissss." kata Arin membuat Anna harus mengelus d**a menahan gejolak amarah.
Ingin rasanya Anna merobek-robek mulut perempuan sial itu, namun apadaya ia tak memiliki kekuatan lebih ataupun dukungan dari siapa-siapa. Yang nantinya malah memicu masalah yang lebih besar. Akhirnya Anna memilih mengacuhkannya lalu duduk di bangkunya sendirian.
"Hei jangan keras-keras nanti Anna denger."
Yah ini sudah menjadi makanan setiap harinya menjadi bahan gunjingan teman sekelasnya. Ia merasa sudah terbiasa namun kenapa setiap mereka melakukannya, ia masih merasa sakit hati. Ia berharap hatinya bisa diberikan anastesi agar kebal dengan segala rasa sakit hati ini.
***
Akhirnya pelajaran yang menyiksa Anna ini sudah berakhir. Anna bergegas keluar kelas, tetapi ia jadi kebelet ingin ke kamar mandi. Ia menaruh tas nya di depan pintu kamar mandi itu.
Segerombol anak perempuan berhenti di depan kamar mandi "Eh guys lihat deh itu kan tas nya si anak aneh sama cupu itu." bisik Intan sembari menunjuk ke arah tas Anna yang tergeletak di depan pintu.
"Eh iya, berarti dia di dalem kamar mandi." sahut Mia antusias.
"Tas nya buluk amat, udah berapa tahun gak ganti haha." tiba-tiba terlintas ide jahil di benak Arin.
"Gimana kalau dikerjain? Seru juga kan." Arin lalu memutar kawat pada pintu tersebut dan memberi papan tulisan 'Toilet Rusak' di depan.
"Haha rasain..yuk kita cabut." ajak Arin kepada dua temannya.
Anna sudah selesai dengan ritualnya, ia membasuh muka untuk menghilangkan rasa kantuk dan suntuk di mukanya. Anna pun membuka pintu kamar mandi tetapi macet tidak bisa dibuka.
"Lho kok gabisa dibuka...hoiiii bukain pintunya." teriak Anna dengan panik sembari menggedor-gedor pintu kamar mandi tak peduli jika pintunya rusak yang penting ia bisa keluar.
"Tolong siapapun aku terkuci di kamar mandi!!!" Anna berkali-kali menendang pintu itu, apakah ia akan bermalam di kamar mandi sekolah sampai pagi? Ah sungguh mengerikan.
Sudah lebih dari setengah jam berlalu, Anna melihat jam tangannya dengan gusar. Yang hanya bisa ia lakukan hanya memukul pintu sesekali dan berharap ada malaikat yang menolongnya.
Dirinya yakin yang melakukan ini adalah Arin, cewek ganjen itu.
'Apa aku telfon Felix saja? Tapi kan tas ku diluar! Aargh' batinnya frustasi. Ia berharap tasnya baik-baik saja diluar tidak ada yang mengambil atau membuangnya.
Anna merinding ngeri, ini sudah lebih dari pukul 6 sore. Kenapa tidak ada orang yang lewat sama sekali? Ah hidupnya sial sekali. Apakah tidak ada sedikitpun nasib baik yang menghampiri dirinya?
Tiba-tiba lampu kamar mandi mendadak mati membuat Anna menjerit keras dan menggedor-gedor kencang pintu.
**
"Baiklah latihan hari ini cukup sampai disini. Ingat jaga kesehatan karena sebentar lagi kita akan bertanding minggu depan." ujar Felix selaku Kapten Tim Basket SMA Xavier. Padahal Felix terpaut 1 tahun di bawah timnya. Namun karena kemampuan mainnya yang sangat bagus, ia langsung dijadikan Kapten oleh pembinanya.
"Siap Kapten."
"Sip dah tenang aja selama ada Kapten nasib kita mujur."
"Betul betul."
Felix mengelap keringat di wajahnya membuat beberapa anak perempuan yang melihatnya menjadi histeris. Felix menghembuskan nafas kasar ketika seorang anak perempuan menghampirinya.
"Felix nih aku bawa minum buat kamu." ucap Arin menyodorkan minuman dingin pada anak yang disukainya dengan senyun merekah.
Felix menggeleng "Kalau habis latihan sangat tidak baik langsung minum air dingin. Buat kamu saja." jawabnya lalu mulai beranjak meninggalkan gadis yang selalu mengganggunya.
Arin menghentakkan kakinya kesal padahal dia selalu berusaha mendekati Felix namun anak itu selalu menolaknya mentah-mentah.
"Mending buat aku aja Rin. Dari pada buat Felix, dia sudah dingin gaperlu kasih air dingin lagi." kikik Yosi walau sebenarnya ia sangat kesal karena Arin selalu mengejar-ngejar Felix.
Arin memutar bola matanya jengah lalu menuang air dalam botol tersebut ke dalam pot tanaman. "Tuh silahkan minum tapi berbagi sama tumbuhan." jengkelnya lalu meninggalkan lapangan sekolah diikuti dengan teman-temannya. Yosi hanya bisa menggeram kesal.
*
*