"Mana Arjuna?" tanya Devon yang melihat Gaara duduk sendirian di food court seraya memainkan ponselnya.
Gaara mengedikan bahu. "Bentar lagi juga sampe," jawabnya kemudian menyimpan ponselnya di saku jaket.
"Kamu nggak apa-apa, Ga?" tanya Devon setelah duduk manis di seberang Gaara.
Gaara paham arah pertanyaan temannya itu. Tapi, dia bergeming. Entah jawaban apa yang akan dia katakan pada Devon.
"Memangnya apa yang ngebuat papanya Lova menemuimu?" tanya Devon to the point. "Arjuna mengatakan kalau papanya Lova dari kafe-mu tadi pagi. Lalu kau kelihatan bingung dan gelisah setelahnya. Memangnya apa yang terjadi?" tanya Devon panjang lebar.
"Dia ingin aku bersama Lova."
"Itu saja?"
"Iya."
"Atas dasar apa?"
"Lova terkena amnesia disosiatif. Dia ingat aku"
"Amnesia disosiatif?" Devon nampak berfikir. "Bukankah itu sejenis amnesia lanukar yang hanya ingat beberapa potongan memori," lanjutnya.
Tentu saja Devon tahu hal itu. Karena Agatha, adik perempuannya, sangat tertarik dengan dunia kedokteran. Tak jarang dia membaca artikel-artikel dan membicarakannya ketika sedang berada di meja makan.
Terkadang Devon menanggapinya hanya dengan anggukan atau gelengan saja. Tapi ternyata mendengar Agatha mengoceh ada manfaatnya juga. Seperti sekarang ini, misalnya.
Gaara mengangguk. "Aku membaca catatan medis milik Lova tadi pagi. Om Arion yang membawa dan menyuruhku melihatnya sendiri."
"Lalu?"
"Ya itu tadi. Dia ingin aku bersama Lova. Dan kau tau?"
"Apa?" sahut Devon cepat.
"Dia hanya ingin aku bersama Lova untuk sementara hahaha....." Gaara tiba-tiba tertawa sementara Devon mengerutkan dahi bingung.
Apanya yang lucu dengan hal tersebut? Devon masih tak paham apa maksud tawa Gaara.
"Arion itu papa macam apa? Memberikan anak gadisnya kepadaku hanya untuk sementara? Aku merasa dia mahluk laknat seperti papaku hahaha....." Gaara terus saja tertawa. Ralat, lebih ke menertawakan diri sendiri.
Rasanya lucu saja saat tahu kalau papanya bukan satu-satunya manusia yang menyandang gelar Papa Jahat Sejagad.
Alih-alih ikut tertawa, Devon malah semakin mengerutkan keningnya.
"Tunggu deh, Ga. Bukankah itu hal benar kalau papanya Lova hanya ingin mengikatmu sementara. Amnesia disosiatif itu bisa sembuh."
Gaara mencibir lalu menjawab, "Ya sudah. Tinggal tunggu dia sembuh. Lalu kenapa harus melibatkan aku? Dasar aneh!"
"Mungkin kau salah satu penyembuh untuk Lova. Selama Agatha mengoceh saat makan bersama di rumah, dia pernah mengatakan padaku kalau amnesia jenis itu bisa membuka ingatan yang seharusnya dia pendam dalam-dalam. Dan aku rasa itu masuk akal mengingat kau-" Devon menjeda kata-katanya karena expresi Gaara yang berubah total.
Jika tadi Gaara nampak santai. Kini lelaki itu nampak serius mendengarkan Devon.
"Apa?" tanyanya.
"Kau memperlakukan Lova dengan sangat tidak manusiawi."
Gaara membanting punggungnya ke sandaran kursi. Itu hal biasa bagi seorang Gaara Kusuma. Menolak wanita yang tidak tahu malu itu ya harus dipermalukan. Seperti itulah pola pikir seorang Gaara Kusuma.
"Aku melakukan hal itu tidak hanya pada Lova."
"Iya aku tau betapa brengseknya dirimu. Tapi setelah itu, Lova tak pernah ingin nampak lagi dihadapanmu."
"Nggak usah mendramatisir deh, Dev. Setelah kejadian itu, dia masih satu sekolah di SMA kita."
Bahkan beberapa kali saat berpapasan, Lova membuang muka. Dan Gaara biasa saja. Lova bukan hal menarik bagi seorang Gaara yang sangat penyuka good looking. Dan Lova? Ah, dia itu apa? Sudah Gaara patenkan jika Lova bukanlah apa-apa, dan tak akan menjadi siapa-siapa. Titik!
"Tapi setelah kejadian itu, dia kayak benci banget ke kamu, Ga." Devon mengatakan kebenaran yang ada.
Dia masih ingat betul betapa Lova benar-benar tidak ingin melihat Gaara. Di kantin, di lapangan basket, di parkiran, dan dimanapun itu. Devon bahkan menarik kesimpulan jika dimana ada Gaara, disitu Lova pergi.
"Memang itu tujuanku. Itu artinya aku berhasil."
"Kalau sekarang dia kena amnesia dan hanya kamu yang dia ingat. Bukankah itu berarti kamu memory yang paling ingin dia hapus?"
Gaara terhenyak, benar juga. Itu berarti Lova mencari dirinya tanpa kesadaran dalam arti yang sebenarnya. Lova hanya mengikuti arah sel syaraf otaknya bekerja.
Dan Arion, papanya itu pasti sangat menyayangi Lova sehingga dengan serta merta datang sendiri. Padahal, sebelumnya Affandi sudah dia tolak.
Dan tentang kata 'Sementara', apa maksud Om Arion itu dia hanya ingin Lova sembuh? Lalu setelahnya aku dan Lova menjalani hidup masing-masing? Kembali ke dunia masing-masing seperti sebelumnya? Apa seperti itu?
"Dasar manusia tak berperasaan!" umpat Arjuna yang langsung duduk di sebelah Devon dengan wajah kesal.
Gaara terkesiap kaget dengan umpatan Arjuna. Dia tersadar seketika dari pikiran-pikiran yang sukses membuatnya seperti menemukan sebuah jawaban.
Arjuna mengendurkan dasi yang terasa melilit lehernya. Lalu, menggulung lengan kemejanya. "Kalian itu kayak nggak punya tempat buat hangout. Aku survei di Surabaya timur dan kalian ngajak ketemu di disini. Wuah!! Kalian benar-benar teman yang sangat baik dunia-akhirat." Arjuna masih marah-marah.
Devon terkekeh, "Aku malas mengeluarkan mobilku dari basement," jawab Devon disertai tawa yang berderai.
Devon memiliki beberapa toko tas branded di mall tersebut, by the way.
"Aku mau cuci muka. Kalian tidak lihat kantong mataku ini bisa merusak wajah tampanku," ucap Arjuna lalu berdiri dan berlalu dari sana.
Sementara Gaara dan Devon saling pandang dan tertawa.
"Jika ada piala penghargaan untuk nominasi rasa pede berlebihan, Arjuna pantas mendapatkannya." ucapan Devon membuat Gaara terbahak.
Devon yang melihatnya sedikit merasa lega, setidaknya Gaara masih bisa tertawa.
"Dia pasti pemenang sepanjang tahun," timpal Gaara masih disertai tawa yang berderai.
"Bisa kau bayangkan dia memiliki satu lemari kaca besar dan isinya piala trophy semua."
"Piala penghargaan untuk kategori mahluk tuhan paling tampan?"
"Salah. Mahluk tuhan paling kepedean."
Keduanya bersendau gurau menertawai Arjuna. Menghibur Gaara sereceh itu.
"Dasar pembunuh!"
Plaaakkk!!
Gaara dan Devon sontak menghentikan tawanya dan menoleh ke asal sumber suara.
"Lova," gumam Gaara lirih.
Gumaman Gaara membuat Devon seketika menoleh padanya.
Gaara langsung berdiri saat melihat Lova jatuh ke lantai. Hanya berdiri dan mengamati, tidak berusaha mendekat. Dan Devon melakukan hal yang sama.
#
Suara teriakan disusul tamparan itu terdengar dengan jelas diantara percakapan Arjuna dan Regina. Pun dengan pengunjung mall lainnya.
"Enak sekali kamu. Anakku mati gara-gara kamu. Dan sekarang kamu malah jalan-jalan."
Regina segera menghampiri tempat dimana keributan itu terjadi. Dan Arjuna refleks menyusulnya.
"Lova!" Regina terkejut bukan main melihat Lova tersungkur dilantai dengan wajah ketakutan.
"Tante Fransiska! Apa yang tante lakukan?" teriak Regina tak kalah lantang.
Arjuna yang melihat itu hanya diam di tempat. Dia memasukkan ponsel Regina yang tidak bisa menyala ke dalam sakunya.
"Lova, kamu nggak apa-apa?" Regina mengecek keadaan Lova dengan rasa khawatir dan membantunya untuk berdiri. Lova terlihat syok.
Lova? Lova-kah dia? batin Arjuna saat melihat Lova sudah berhasil berdiri di sisi Regina.
Ah, iya. Regina kan teman Lova waktu SMA. Dia tak mengira jika mereka masih bersama-sama sampai sekarang.
"Tante! Gisela meninggal bukan karena Lova!"
"Lalu karena siapa, hah?" Fransiska melotot garang.
"Karena takdir, Tante. Kenapa tante menyalahkan Lova atas kematian Gisela. Pihak polisipun tau kalau Gisela yang menyetir mobil Lova waktu itu. Dan ini murni kecelakaan."
"Dasar anak muda tidak tau sopan santun. Beraninya kau mengatakan hal itu pada seorang yang lebih tua."
"Tante itu hanya tua di umur, tapi pikiran seperti anak TK. Kenapa tante menyerang Lova seperti ini? Apa salah jika aku menyerang balik?" tantang Regina.
"Gisela, meninggal?" gumam Lova lirih.
Regina segera menoleh pada Lova, dia mulai khawatir karena Lova memegangi kepalanya. "Lova, kamu tidak apa-apa."
"Gisela, meninggal?" katanya lagi.
"Lova! Gisela meninggal bukan karena kamu." Regina mencoba menenangkan Lova.
"Jelas itu karena kamu!" sahut Fransiska garang sambil menunjuk ke arah Lova.
"Tante! Bisakah tante diam?! Atau aku benar-benar akan menampar Tante!"
Tentu saja Regina ketakutan. Bagaimana ini?
"Lova!!" Regina semakin khawatir karena sekarang tubuh Lova limbung. Arjuna yang sejak tadi hanya diam menyaksikan, kini mulai melangkah dan akan membantu kedua gadis itu.
Namun didahului oleh seseorang yang sejak tadi juga memperhatikan dari sudut lain.
"Lova! Bangun! Lova!" Regina mencoba membangunkan Lova, tapi sia-sia. Kekhawatiran itu semakin membukit saja dihatinya.
"Minggir," perintah lelaki itu pada Regina. Tidak ada nada bentakan sama sekali disana. "Kita bawa dia ke rumah sakit sekarang. Telepon Dokter Daniel agar setelah sampai disana dia cepat di tangani."lanjutnya. Seakan lelaki itu sudah tau segalanya.
"Dev, kita pakai mobilmu saja," kata Gaara setelah mengangkat tubuh Lova.
Devon mengangguk dan segera pergi darisana. Sementara Regina masih diam ditempatnya hingga Arjuna menariknya berdiri.
"Iya benar. Mereka Gaara dan Devon. Aku tadi kesini memang untuk sekedar minum kopi bersama mereka."
Regina hanya mengalihkan pandangannya pada Arjuna. Dia tidak tahu harus berkata apa. Pikirannya semrawut, bagaimana jika Lova.....
"Dasar gadis muda kurang ajar!" umpat Fransiska.
Arjuna mencekal tangan Fransiska yang sudah akan menampar Regina.
"Nyonya, apapun masalahmu, jangan seperti ini. Memalukan." ucap Arjuna. "Lebih baik Nyonya pergi. Ah! Tidak. Kita yang akan pergi," lanjut Arjuna masih menggenggam pergelangan tangan Fransiska dengan kuat.
"Re, kamu ambil deh itu tas dan belanjaan kamu." Arjuna yakin itu milik mereka.
"I-iya." Regina masih diselimuti kebingungan luar biasa.
Arjuna masih menahan Fransiska yang kini meronta akan menyerang Regina lagi.
"Security...!!" teriak Arjuna yang langsung mendatangkan dua petugas keamanan mall tersebut. "Ck! Ngapain aja sih dari tadi kalian ini?!"
Arjuna melepas cekalan tangannya lalu menyerahkan Fransiska pada dua petugas keamanan mall tersebut. "Urus dia! Nyonya ini membuat seseorang terluka!" perintah Arjuna yang diangguki oleh dua petugas keamanan itu.
"Awas kamu Regina! Lova!!" teriak Fransiska saat dirinya mulai di gelandang petugas.
Regina menoleh pada Fransiska, namun Arjuna segera menariknya pergi dari sana. Menyusul Lova lebih baik daripada meladeni orang itu.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Arjuna khawatir.
"Aku nggak apa-apa. Cepetan ayo kita susul Lova."
Apa benar jika hal ini akan berakhir fatal dan akhir dari kehidupan Lova? Sungguh, ini diluar dugaan Regina.
#
"Dev kita harus cepat. Hidung Lova mengeluarkan darah," ucap Gaara seraya berlari membawa tubuh Lova ke mobil Devon.
Devon membuka pintu mobil bagian belakang. Membantu Gaara memposisikan tubuh Lova.
"Ga, tubuh Lova harus tegak. Jangan direbahkan begitu. Dia mimisan."
Gaara lalu duduk dan menarik tubuh lemas Lova agara menyandar pada tubuhnya. Menegakkan tubuh Lova sedemikian rupa dan sesekali mendongakkan dagunya.
Devon meraih tisu di dasboard mobil, "Sumbat sementara mimisan dia pakai ini."
Gaara membuat bulatan kecil pada tisu lalu menaruhnya di lubang hidung Lova. Tapi, percuma. Darah yang keluar sangat banyak walaupun wajah Lova sudah dia dongakkan.
"Dev! Buruan!" Gaara kelimpungan sendiri melihat begitu banyaknya tisu yang berceceran penuh darah disekitarnya.
Devon tidak mungkin tancap gas dengan kecepatan diatas rata-rata. Ini basement, okay! Rute parkiran mall se-elit Pakuwon Trans Center memang mirip sirkui drift, tapi tentu saja ini bukan untuk balapan.
#
maaf typo..
maaf kalau ada kesalahpahaman latar tempat. saya menerima kritik dan saran. coret-coret di kolom komen ya kak. terimakasih...
fb Naomi Pranestie
ig Naomi Pranestie