Wajah Daniel masih tampak terkejut setelah ia mengerem mobilnya secara mendadak. Namun bukannya merasa bersalah pada wanita yang hampir saja ditabraknya itu, rasa kesal justru muncul di dalam hatinya. Ia pun segera keluar dari mobilnya dan menghampiri wanita yang masih saja berdiri menghalangi mobilnya.
Wanita cantik berambut cokelat tua yang diikat dengan rapi ke belakang itu mengenakan kemeja putih berlengan panjang dengan rok pendek pas badan berwarna merah jambu. Jika saja Daniel tidak sedang diliputi emosi saat itu, mungkin saja ia akan teralihkan.
"Oh, ternyata kau punya mata juga?" sindir wanita itu dengan nada ketus.
"Apa maksudmu?" Daniel tampak tak terima dengan sindiran wanita itu. Biasanya ia tak akan berbicara dengan nada kasar terhadap wanita. Tapi wanita itu, setelah membuatnya emosi saat ia sedang sangat tergesa-gesa, kini malah menyindirnya dengan cukup keras.
Wanita itu langsung menunjuk ke arah lampu lalu lintas yang bernyala merah, sementara tangannya yang satu lagi terlihat memegang segelas kopi kemasan yang sepertinya masih panas. "Apakah kau tidak melihat lampu merah itu?"
"Aku melihatnya," jawab Daniel dengan entengnya, padahal ia memang tak melihatnya tadi. Selain bermaksud membela diri, ia juga tak ingin harga dirinya jatuh di depan wanita cantik itu.
"Jika kau melihatnya, kenapa kau tetap melajukan mobilmu? Kau bahkan membuatku menumpahkan salah satu kopiku!" seru wanita itu dengan wajah marahnya.
Daniel melihat ke arah tumpahan kopi dengan gelas kertas yang tergeletak di dekat kaki wanita itu. "Itu hanyalah kopi. Lagipula kau juga tak mau berhenti saat mengetahui ada mobil yang terus melaju!" Daniel tetap saja berusaha untuk membela diri. Menurutnya wanita itu juga salah karena tetap menyeberang saat ada mobil yang masih melaju. Akan sangat puas hatinya jika wanita itu mengucapkan kata maaf.
Wanita muda itu memutar matanya dan menghela napas dengan kesal, tak mampu berkata-kata lagi saking panas hatinya. Tiba-tiba wanita itu membuka tutup gelas kopinya, lalu segera menyiramkannya ke kap mobil milik Daniel yang maha mahal.
"Hei! Apa yang kau lakukan? Apakah kau tidak tahu harga mobil ini?" Suara Daniel semakin keras saja seiring dengan emosi yang seketika naik sampai ke ubun-ubunnya. Mobil impornya bahkan belum pernah mencium lumpur, dan wanita itu menyiramkan kopi yang terlihat masih panas ke kap mobilnya, membuat penampilan dua garis hitam yang iconic itu pun ternoda.
"Aku tak peduli dengan harga mobilmu itu. Yang pasti harga nyawaku lebih mahal dari itu!" Wanita muda itu menatap dengan tajam dengan alisnya yang mulai mengernyit, merasa heran dengan ucapan laki-laki yang ada di depannya. Laki-laki itu hampir saja membahayakan nyawanya tapi malah lebih memikirkan mobilnya.
Saat hendak membalas lagi perkataan wanita itu, terdengar bunyi klakson saling bersahutan dari mobil-mobil yang berbaris di belakang mobilnya. Rupanya lampu telah menunjukkan warna hijau. Beberapa mobil dan motor pun sudah mulai melaju lagi. Terdengar Mustang miliknya juga mengeluarkan suara klakson, dibunyikan oleh Cassey yang masih berada di dalam mobil memperhatikan pertikaian mereka sedari tadi.
"Jika kau tidak mempedulikan keselamatan orang lain, setidaknya kau harus lebih peduli dengan keselamatan pacarmu itu," nasehat wanita muda itu, sekali lagi dengan nada menyindir. Ia langsung berjalan pergi dan mempercepat langkahnya menyeberangi perhentian lalu lintas sambil tetap berhati-hati dengan kendaraan yang sudah mulai melaju dengan cukup kencang.
"Hei!" seru Daniel.
Namun tentu saja wanita itu tetap berjalan dan tak menggubrisnya. Suara klakson pun mulai terdengar semakin keras dan bersahutan di belakang mobilnya. Sebelum masuk kembali ke dalam mobil, ia menyempatkan dirinya untuk sekali lagi melihat ke arah wanita itu.
Awas saja, aku akan mengingat wajahmu dan mencarimu.
Daniel pun segera masuk kembali ke dalam mobil, disambut oleh wajah Cassey yang terlihat kesal.
"Untuk apa kau meladeni wanita itu?" tanya Cassey saat Daniel kembali menginjak pedal gasnya.
"Wanita itu telah menumpahkan kopi ke atas mobilku. Aku akan mencarinya," jawab Daniel dengan ekspresi wajah datar. "Aku akan mengantarmu pulang dulu."
"Sayang ...." Cassey seperti sedang merengek, minta untuk tetap ikut ke kantor ayah Daniel. Namun Daniel menatapnya tanpa kata dengan mata yang cukup tajam, masih berusaha untuk meredam amarahnya yang tadi menggebu. "Hah ... baiklah, baiklah! Antar saja aku pulang." Akhirnya ia pun menyerah.
Sepanjang sisa perjalanan itu, mereka lebih banyak diam sampai akhirnya Daniel menurunkan Cassey di depan rumahnya, yang terlihat cukup mewah. Cassey Syahrani, kekasih sekaligus adik angkatannya itu, merupakan seorang gadis dari keluarga sejahtera kalangan menegah. Termasuk kalangan umum di kampus elit mereka. Cassey memang cantik dan bertubuh sempurna, namun jika tanpa popularitas Daniel yang ia dompleng, ia tak akan bisa sepopuler sekarang. Usahanya untuk mendekati Daniel tidaklah sulit karena laki-laki itu memang terkenal hobi bergonta-ganti pacar.
Daniel segera melajukan mobilnya lagi dengan cukup kencang, tak menyiakan 526 tenaga kuda yang diemban oleh mesin mobil itu. Ia melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11.45. Sebentar lagi ayahnya akan istirahat makan siang. Ia harus segera sampai ke kantor sebelum ayahnya menghilang untuk makan siang bersama dengan rekan-rekan bisnisnya.
Tepat pukul 11.55 akhirnya mobil Daniel mulai memasuki area parkir The Synergy Building, sebuah gedung perkantoran berlantai 43, yang mana kantor ayahnya berada di lantai 28-32. Bercak kopi yang sudah mulai mengering masih tampak menodai kap mobilnya yang sudah terparkir dengan rapi di depan gedung.
Ia pun segera berjalan masuk ke dalam gedung yang terlihat canggih dan mewah itu dengan tetap mengenakan jaket denim dan celana jeans-nya, sangat kontras dengan orang-orang lain di sekitarnya yang mengenakan pakaian kerja profesional.
Ia berjalan memasuki area lobi, bermaksud menuju ke arah meja resepsionis. Dari kejauhan ia hanya dapat melihat bagian atas kepala para wanita yang bertugas di balik meja resepsionis berlapis marmer itu. Daniel pun terus melangkah dengan percaya diri menghampiri meja resepsionis, meskipun ini adalah kali pertamanya masuk ke dalam gedung perkantoran tempat ayahnya bekerja.
"Permisi," ujarnya pada salah satu wanita resepsionis yang duduk di kursinya. Wanita berambut cokelat panjang yang diikat ke belakang itu pun segera berdiri begitu mengetahui ada tamu yang datang, dengan sebuah senyuman yang sudah siap mengembang di wajahnya.
Baik Daniel maupun wanita itu sama-sama terkejut saat mereka saling bertukar pandang, dan senyum pun mendadak hilang dari wajah wanita itu. Resepsionis itu adalah wanita yang menumpahkan kopi ke kap mobil Daniel!
"Wah ... aku tak menyangka akan menemukanmu secepat ini," ujar Daniel sambil terkekeh.
"Mau apa kau kemari?" tanya wanita itu dengan nada ketus.
"Apakah begitu caramu memperlakukan tamumu? Gedung perkantoran ini sangat mewah dan canggih, seharusnya kau memperlakukanku dengan baik," sindir Daniel dengan wajah tak percaya.
"Apa maksud kedatanganmu ke sini?" Wanita itu masih tampak kesal dan tak mempedulikan ocehan Daniel.
"Aku ingin menemui Bapak Christian Evans," jawab Daniel dengan percaya diri.
Wanita itu terlihat sangat heran dan terkejut dengan maksud kedatangan Daniel. "Untuk apa seorang pemuda sepertimu menemui salah satu Direktur Prodigy Corporations?" Sebagai seorang resepsionis, ia tentu telah mendengar nama Christian Evans dan mengetahui posisi serta kantor tempatnya bekerja dari data yang ada di komputernya.
"Aku adalah anaknya." Daniel memasang wajah serius.
Wanita itu tertawa kecil dengan nada meremehkan. "Jika kau adalah anak Pak Chris Evans, maka aku adalah anak Pak John Carter." Ia menyebutkan nama CEO Prodigy Corporations, pemegang posisi tertinggi di perusahaan ekspor-impor tempat ayah Daniel bekerja.
Daniel menghela napasnya dengan cukup kesal. "Aku serius, Nona. Tolong segera hubungi Pak Chris dan bilang anaknya sedang menunggunya di lobi!"
"Ada apa ini, Natalie?" bisik seorang wanita, dengan jabatan supervisor tercetak di pin namanya, pada resepsionis tadi akibat suara mereka berdua yang terdengar cukup keras. Ya, Natalie adalah nama wanita resepsionis yang menumpahkan kopi pada kap mobil Daniel itu.
"Orang ini ingin bertemu Pak Christian Evans dengan mengaku sebagai anaknya," balas Natalie dengan suara yang sengaja ia keluarkan sedikit keras untuk menyindir Daniel.
"Apakah ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya supervisor itu.
"Saya adalah Daniel Evans. Tolong hubungkan saya pada ayah saya, Chris Evans." Jawaban Daniel membuat supervisor resepsionis itu membelalakkan matanya. Natalie pun tak kalah terkejutnya. Ternyata benar laki-laki yang ada di hadapannya itu adalah anak dari salah satu Direktur Prodigy Corporations dari nama belakang mereka yang sama.
"Ba- baik," jawab supervisor itu dengan terbata. Ia segera menghubungi ayah Daniel dari telepon di meja resepsionis. Sementara itu, Natalie masih saja berdiri terdiam dengan wajah datarnya berusaha untuk menahan rasa malu sambil membuang muka dari Daniel, yang terlihat terus saja memandanginya dengan cukup tajam.
Supervisor itu menutup teleponnya setelah selesai berbincang dengan ayah Daniel di seberang telepon. "Pak Chris akan segera turun dan menemui Anda. Silahkan menunggu di lounge sebelah sana." Tangan wanita itu dengan sopan menunjuk ke arah sebuah ruang tunggu mewah yang ada di bagian samping lantai dasar itu.
"Baik, terimakasih," sahut Daniel.
Sebelum ia melangkah pergi, ia sempatkan untuk melihat ke arah Natalie yang sekali lagi berusaha untuk membuang mukanya, menghindari pandangan mata mereka saling bertemu.
"Buatkanlah kopi untuknya," pinta si supervisor.
"Sa- saya, Bu?" tanya Natalie dengan wajah tak percaya.
"Iya, siapa lagi? Teman-temanmu yang lain masih sibuk. Lagipula kau juga harus meminta maaf karena telah salah paham padanya. Cepatlah! Sebelum Pak Chris datang." Perintah supervisornya itu seperti sebuah paksaan yang sangat menyudutkan Natalie. Menatap mata laki-laki itu saja ia enggan, apalagi membuatkan kopi untuknya!
Namun tidak ada jalan lain. Jika ia masih ingin bekerja di sana, ia harus menuruti perintah atasannya. Ia pun berjalan menuju ke pantry yang ada di belakang area resepsionis, kemudian meracik kopi dengan wajahnya yang masih terlihat kesal sekaligus enggan.
Tak butuh waktu lama, karena ia tak membuatnya dengan penuh perasaan, kopi pun telah siap. Dan kini ia harus membawa kopi itu ke hadapan laki-laki tadi. Ia menghembuskan napas kuat-kuat untuk mempersiapkan dirinya sebelum berjalan keluar dari area pantry dan bertemu dengan laki-laki menyebalkan itu.
Daniel duduk menunggu ayahnya di sebuah sofa empuk nan lembut sambil menikmati nuansa lounge yang berdesain klasik, kontras dengan nuansa gedung keseluruhan yang modern dan canggih. Tiba-tiba seseorang datang berjalan ke arahnya, dan Daniel melihat Natalie membawa nampan berisi secangkir minuman.
Tanpa basa-basi, Natalie langsung meletakkan secangkir kopi itu di hadapan Daniel. Saat wanita itu membungkuk meletakkan kopinya, ia dapat melihat kecantikan di wajah wanita itu secara lebih dekat. Dilihatnya wanita itu memiliki mata yang bulat dengan bulu mata panjang, hidung yang mungil dan mancung, serta bibir yang juga mungil berwarna kemerahan. Tadi ia tak begitu memperhatikan itu semua karena tengah sibuk dengan emosinya. Kini ia justru sangat mengagumi pemandangan indah yang ada di depannya itu.
"Terimakasih. Akan lebih baik jika tadi kau memberikan kopi yang kau pegang untuk aku minum seperti ini daripada membuangnya ke atas kap mobilku," ucap Daniel sambil tersenyum saat Natalie telah meletakkan cangkir kopinya.
Apa-apaan laki-laki ini? Kenapa dia tiba-tiba tersenyum padaku seperti itu?
Natalie menatap dengan penuh keheranan pada Daniel. Tak mau terlalu ambil pusing, ia pun segera berjalan meninggalkan Daniel.
Daniel mulai menyeruput kopi hangat buatan Natalie. Sangat nikmat dan pas di lidahnya. Baru kali ini ia meminum kopi yang diracik langsung oleh seorang wanita secantik Natalie. Pacar dan mantan-mantan pacarnya tak pernah membuatkannya kopi sebelumnya.
Ia pun menyeruput kopinya lagi sambil melihat ke arah Natalie, pemandangan indah yang membuat rasa minumannya itu terasa semakin nikmat saja.