Kalan membereskan laptop di atas meja serta mematikan proyektornya. Ia merapikan kertas-kertas di sana dan menumpukkannya di sebuah meja di sudut ruangan. Ia melirik jam tangannya. Masih ada waktu setengah jam lagi menuju pukul enam sore, rasanya cukup untuk mampir ke kos Luna mengantarkan martabak keju pesanannya. Matanya tak sengaja menangkap bayangan Tara yang masih bertahan di mejanya. Namun Kalan tak mencoba mendekatinya, rasanya sikap Tara yang ditunjukan selama tiga kali pertemuan ini menggambarkan bahwa batasan di antara mereka adalah pendamping dan peserta. Tidak lebih. Sebenarnya Kalan heran saat mengetahui Tara bergabung dengan pelatihan ini, dia mengira cewek itu begitu membencinya hingga berusaha tidak mendekatkan jarak di antara mereka apapun alasannya.
Kelas sudah sepi dan terasa aneh saat Kalan menyadari hanya ada dia dan Tara di ruangan ini. Kalan mencangklong tasnya dan berjalan keluar kelas, ia mencoba untuk memberikan senyum pada Tara namun sepertinya Tara lebih serius dengan buku di tangannya. Saat Kalan mencapai bibir pintu, suara Tara menahan langkahnya.
"Apa memang aku nggak pantas dimaafin?" beberapa detik Kalan mencoba berpikir bahwa kalimat itu tertuju padanya. Ia berbalik dan memandang Tara yang sedang juga memandang ke arahnya.
"Kenapa?"
"Apa aku nggak pantas dimaafin sampai Mas Kalan begitu dingin sama aku?" kembali Tara berkata. Sesaat setelahnya Kalan masih bingung, ia melangkah pelan ke arah Tara dan memandang cewek itu lurus-lurus.
"Aku nggak pernah marah sama kamu dan aku nggak pernah dingin sama kamu. Aku mengira kamu yang menjaga jarak sama aku."
"Apa menurut Mas Kalan nggak aneh kalau aku...Tara..." Tara menunjuk dirinya. "mau melakukan semua ini." Matanya mengarah ke sekeliling kelas.
Kalan tersenyum kecil.
"Ya, aku merasa aneh. Tapi..."
"Karena aku ingin dimaafkan." Potong Tara.
"Tara, dengar..." Kalan mengela napas. "kamu nggak perlu meminta maaf. Kamu nggak bersalah. Hak seseorang untuk menolak apa yang nggak ia suka. Jadi jangan melakukan hal yang nggak kamu suka untuk sekadar mendapat maaf dari seseorang yang sebenarnya nggak berhak untuk menyalahkan kamu."
"Mas Kalan masih menyukaiku?" pertanyaan Tara membuat Kalan terpaku. Rasa sukanya pada Tara dulu terlalu besar, mungkin terlalu besar untuk disingkirkan hingga tak bersisa. Ia akui masih ada rasa yang tertinggal, hanya sedikit dan itu tak berarti apa-apa. Luna sudah menyingkirkan semua rasa yang terbesar, yang tersisa ini hanya seperti debu yang masih bisa tersapu atau bahkan hanya perlu ditiup maka ia akan menghilang. Dulu pernah muncul dalam benaknya bahwa situasi ini akan tiba. Situasi di mana Tara berdiri di hadapannya dan mempertanyakan rasa suka Kalan padanya. Ada dendam kecil di lubuk hati terdalamnya bahwa ia mampu membawa Tara ke hadapannya dan berbicara seperti sekarang.
"Aku punya Luna. Dan dia sahabatmu. Rasanya nggak adil buat Luna kalau kamu bertanya seperti itu."
"Luna juga pernah menyukai Bintang."
"Aku tahu." Tara menggigit bibirnya kecewa dengan jawaban Kalan. "Aku tahu karena kami punya pengalaman yang sama." Sambung Kalan lagi.
"Mas Kalan nggak jawab pertanyaanku."
"Nggak Tara. Rasa suka itu sudah nggak ada." Kalan cepat berbalik dan melangkah cepat sebelum jantungnya berdebar lebih kencang lagi. Mata Tara yang memandangnya begitu tajam sudah membuat segala penyangkalan dan pengabaiannya hanya jadi sia-sia.
"Mas!" Tara mengejar langkah Kalan. Namun Kalan terus melangkah, bayangan Luna yang muncul di benaknya membuat ia merasa sangat bersalah.
Tara menahan tangan Kalan saat cowok itu sudah duduk di atas motornya.
"Kenapa kamu lakuin ini, Ra?" Kalan memandang Tara dengan sinar mata yang kalah.
"Karena aku..."
"Jangan bilang kamu menyukaiku kalau kamu hanya ingin membalas Luna. Luna sahabatmu, Ra."
"Aku menyukai Mas Kalan bukan karena aku ingin membalas Luna."
Jantung Kalan berdegup.
"Rencana awalnya seperti itu tapi...selama pelatihan ini saat melihat Mas Kalan di depan kelas, saat tertawa, bercanda dengan peserta lain...entah kenapa aku..." tangan Tara perlahan terlepas dari lengan Kalan. Air mata Tara perlahan mengalir turun. Ia langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan berlari ke arah mobilnya.
Kalan turun dari motornya dan mengejar langkah Tara.
"Tara."
Tara masih menutupi wajahnya. Ia malu memandang Kalan. Sejak kapan ia jadi kehilangan harga diri seperti ini? Sejak kapan ia mengakui rasa sukanya pada seorang cowok bahkan pada Bintangpun ia dengan mudah membiarkan cowok itu yang mengakui rasa sukanya terlebih dahulu.
"Tara..." panggil Kalan pelan. Satpam EL tadi sempat keluar dari posnya saat mendengar suara Kalan memanggil Tara dan langkah cepat cewek itu ke mobilnya. Namun saat melihat Kalan, pak satpam itu pun kembali masuk ke posnya karena berpikir tak ada masalah serius yang terjadi.
"Supaya Mas Kalan tahu aku nggak pernah melakukan ini." Ia menyeka matanya cepat dan menyalakan mobilnya.
"Tara..."
"Aku mau pulang." Kalan mundur perlahan dan Tara menarik pintu mobilnya. Mobil itu bergerak keluar dari halaman EL. Kalan masih terpaku di tempatnya hingga mobil Tara berbaur dengan kendaraan-kendaraan lainnya dan menghilang dari penglihatannya. Ia kembali ke motornya dan menyadari bahwa hari sudah semakin gelap dan jam sudah menunjuk ke angka enam lebih tiga puluh menit. Sudah tidak mungkin lagi membelikan pesanan Luna karena Ibu pasti sudah menunggunya. Kalan mengeluarkan ponselnya.
***
Kalan memarkir motornya di halaman yayasan Klaris yang tidak terlalu luas. Dua buah lampu taman menerangi jalanan setapak menuju teras bangunan serta beberapa jenis bunga dalam pot yang Kalan tidak bisa mengenalinya kecuali mawar merah dan putih. Kalan merapatkan jaketnya saat hawa dingin Kaliurang mulai terasa mengigit permukaan kulitnya.
Pintu rumah terbuka dan seorang wanita berusia empat puluhan menyambut Kalan dengan senyum hangatnya.
"Ibumu udah nunggu dari tadi." Sapa Bu Rita, wanita yang mengurus yayasan ini. Kalan mengikuti langkahnya menuju sebuah kamar.
"Aku tinggal ya." Bu Rita menepuk lengan Kalan pelan sebelum meninggalkan Kalan di depan pintu kamar ibunya. Perlahan Kalan mengetuk pintu itu dan membukanya pelan.
"Ibu," sapa Kalan dan menghampiri wanita di awal empat puluhan yang sedang berada di kursi roda. Di pangkuannya ada rajutan yang belum terselesaikan. Sebuah kaca mata menggantung sedikit melorot di wajahnya. Ia tersenyum melihat Kalan. Dan senyumnya masih terlihat cantik.
Kalan merengkuh ibunya.
"Ibu kira kamu nggak jadi datang." Kalan menarik kursi dan duduk di hadapan ibunya.
"Tadi kelasnya sedikit molor." Kalan meraih tangan ibunya yang dingin. "Kok tangan ibu dingin banget?" Kalan menggesek-gesekkan kedua belah tangannya dengan telapak tangan ibunya.
"Kaliurang kan emang dingin." Ibunya tersenyum lagi dan memandang putranya itu cukup lama.
"Bu, nanti kalau aku sudah punya rumah sendiri, ibu harus keluar dari sini dan tinggal sama aku."
"Ibu senang di sini kok. Lagian kamu harus menikah dan tinggal sama istri dan anak-anakmu." Ibunya berkata dengan suara lembut.
"Aku nggak pernah merasakan tinggal bersama Ibu. Ibu nggak sayang sama aku?" Wanita itu mengelus pipi Kalan.
"Ibu sayang banget sama kamu, itu nggak perlu diragukan lagi. Melihatmu tumbuh menjadi anak yang hebat seperti sekarang sudah membuat ibu bahagia luar biasa."
"Ibu kenapa sih? Kenapa selalu menolak aku. Aku ingin jadi hebat karena ibu. Aku ingin punya rumah yang besar dan nyaman karena aku ingin ibu ada di dalamnya. Kenapa ibu selalu menolak mimpiku?" Senyum perlahan memudar di wajah wanita itu. Ia menggenggam tangan Kalan erat-erat. Ia memandang putranya itu lekat-lekat.
"Kalan, jadilah hebat dan miliki rumah yang besar dan hangat. Kamu pantas mendapatkan itu, karena orangtuamu nggak pernah memberimu kehangatan rumah dan keluarga seperti seharusnya. Ibu nggak pernah menolak mimpimu, ibu ingin selalu berada dalam mimpimu. Tapi di sini, ini dunia ibu, dan selalu terbuka untuk kamu masuki. Ibu bahagia, Kalan." Kalan mengangguk pelan dan mencoba memahami relung terdalam hati ibunya.
Ya, di sini ibu punya teman, ibu punya pekerjaan yang dicintai di tengah keterbatasannya, di sini memang dunianya. Kalan tidak memaksa ibu untuk keluar dari dunianya. Karena belum tentu dunia yang Kalan ciptakan dalam impiannya bisa membuat ibu bahagia.
"Kamu tahu ibu selalu merasa bersalah padamu, seumur hidup ibu, karena kamu tidak pernah mendapat kasih sayang ibu sepenuhnya. Seharusnya ibu lebih berani demi kamu tapi kenyataannya ibu lemah, apalagi ayahmu tak ada bersama kita lagi. Ibu lemah, Kalan. Tapi kamu pemberani, kamu jadi anak yang sangat dewasa dan pengertian. Ibu sangat bersyukur pada Tuhan karena telah menganugerahi kamu sebagai anakku." Ibu membawa tangan Kalan dalam genggamannya mendekati wajahnya dan mencium tangan putranya itu.
Mata Kalan menghangat, ia menghela napas berusaha menahan gejolak perasaannya.
"Bagaimana kabar Luna?" Ibu tersenyum.
"Luna baik bu. Aku belum sempat membawanya kesini. Tapi aku janji nggak lama lagi ya Bu." Ibu mengangguk dengan senyum tak lepas dari bibirnya. Ada rasa bangga saat melihat putranya bercerita tentang gadis yang juga mencintainya. Ia teringat saat setahun lalu Kalan bercerita tentang seorang gadis lain namun sinar matanya sangat berbeda seperti sekarang. Dulu sinar mata itu tidak berbinar separti sekarang, dulu sinar matanya cenderung redup dan terluka.
"Baiklah, ibu akan tunggu kamu membawa Luna ke sini." Ibu menepuk punggung tangan Kalan. Kalan dan Ibunya menghabiskan waktu lebih dari satu jam untuk mengobrol tentang banyak hal. Setelah itu Kalan merapikan tempat tidur ibunya dan menggendongnya ke ranjang.
"Kamu hati-hati ya pulangnya. Kalau mau ke sini jangan sering malam-malam." Pesan ibunya saat Kalan mengenakan jaketnya.
"Iya bu, nanti aku usahakan ke sini lebih siang lagi." Kalan menunduk dan mengecup punggung tangan ibunya sebelum melangkah keluar. Kalan menyapa beberapa penghuni yayasan saat melintasi ruangan TV. Mereka sudah sangat mengenal Kalan dan cukup akrab dengannya. Setelah berbasa-basi sebentar Kalan pamit pulang. Dalam perjalanan kembali ke Yogya yang menembusi udara dingin, pikiran Kalan masih tak lepas dari sikap Tara tadi sore. Memang Kalan pernah berharap Tara berbalik menyukainya, tapi itu dulu, saat Luna belum masuk ke hatinya.
Ia melajukan motornya lebih kencang, meliuk seiring jalan Kaliurang yang menurun dan berkelok. Ia tidak boleh membiarkan Tara masuk ke dalam pikirannya karena itu berarti mengkhianati Luna.
***
Luna berbaring telentang di ranjangnya menatap langit-langit kamar bercat putih yang sudah mulai pudar. Ia ingin marah tapi tidak tahu harus melampiaskannya kemana. Kalan tidak menepati janjinya dan hanya mengirim pesan yang sangat singkat.
Maaf Luna aku nggak bisa singgah..
Tak ada alasan apapun yang mengiringi pesan itu yang sekiranya bisa membuat Luna paham dan mengerti. Ia melirik ponselnya dan mungkin ini sudah lirikian ke seratus dan Luna yakin setelah ini ia pasti akan jereng seharian. Tapi tak ada satu pun pesan yang masuk. Ia menarik selimut hingga ke batas lehernya dan mencoba memejamkan mata.
Tapi ternyata matanya pun tidak mau diajak kompromi, keinginan Luna untuk segera terlelap dan bangun keesokan harinya dengan kekesalan yang sudah menguap. Ia menendang kembali selimutnya dan berjalan ke sudut kamar untuk menyalakan kipas angin, tiba-tiba ia merasa sangat gerah. Satu jam kemudian ia masih belum berhasil ke alam mimpi. Ia menyambar ponselnya dan mulai surfing internet. Membuka i********: dan mencari link-link berita yang menarik, namun matanya terpaku cukup lama pada captionTara di pada foto dari sebuah scene film Notting Hill yang baru saja ia posting.
Apa yang terjadi ketika hatimu tak lagi mampu mengingkari? Seperti kata Julia Roberts, 'After all...I'm just a girl, standing in front of a boy, asking him to love her..'
Luna berkali-kali meneguk ludahnya, hatinya berdebar pelan, apa maksud status Tara ini? Luna sangat mengenal Tara, statusnya selalu mencerminkan perasaannya itu. Ia tidak pernah mengutip kuot-kuot yang tidak berkaitan dengan perasaannya. Lalu siapa yang dimaksud Tara. Ah...pastinya Bintang. Luna mengangguk yakin. Ya pasti Bintang. Tapi apa maksud kalimat pertamanya? Ketika hati tidak lagi mampu mengingkari? Mengingkari apa? Ini sungguh membingungkan.
Mata Luna menelusuri semua komentar di pada foto tersebut. Dan ada beberapa komentar dari Vidia dan beberapa teman gengnya yang membuat Luna hampir tak mampu bernapas.
Ada apa Ra? Galau amat?
Tenang Ra, dia pasti akan sadar kok. Seiring waktu...
Ingat Tara, cinta pertama nggak pernah mati...
Luna menggigit bibirnya kuat-kuat menahan air matanya yang mulai menggenang. Sekali lagi ia menggeleng membantah semua suara hatinya.
"Nggak, ini nggak ada hubungannya dengan Mas Kalan. Aku yang terlalu sensitif. Aku yang terlalu ketakutan." Ia berkata tegas pada dirinya sendiri. Namun sekali lagi pikiran tidak dapat dikendalikan, semakin Luna coba menahannya semakin kuat luapan pikiran itu mendera.
***
Kalan melirik jam di atas mejanya, sudah pukul satu dini hari dan matanya masih belum mau terpejam. Ia mencoba menutup wajahnya dengan bantal namun berakhir dengan dilemparkannya bantal itu ke lantai. Ia bangkit dan menyalakan lampunya lalu beranjak ke mejanya. Ia menyalakan laptop dan menuliskan sesuatu di sana. Jemarinya terus menari-nari di atas keyboard sepertinya semua kata yang ia tuangkan itu tak pernah ada habisnya. Setelah beberapa menit kemudian ia menyenderkan tubuhnya jauh ke belakang, tangannya bersedekap, matanya terpejam. Ia tak bisa menghindar untuk tidak melihat wajah Tara dalam benaknya. Bayangannya terus menari-nari menggodanya. Ia sungguh kesal dengan kenyataan ini, kenyataan bahwa ia hanya menjadi manusia biasa. Menjadi seperti kebanyakan laki-laki disaat ia merasa diinginkan. Egonya melesat dan melambung.
Ia memandang ponsel di atas mejanya. Ia baru ingat kalau ia tidak mendapat balasan pesan dari Luna. Ia meraih ponsel itu dan memeriksa isi pesan yang ia kirimkan ke Luna dan setelah membacanya ia menggeleng tak percaya.
"Tega kamu sama Luna." Bisiknya. Ia hendak mengetikan sebaris kalimat namun entah kenapa sepertinya selalu tak ada kata yang tepat yang muncul di otaknya dan akan ia tuangkan. Ia berdesis keras dan meninju tembok di sampingnya lalu mendorong jauh ponselnya begitu saja. Setelah mematikan laptopnya ia kembali ke ranjang dan memasang earphone. Maroon Five bisa diharapkan untuk meninabobokannya. Ia bernyanyi kecil mengikuti Adam Lavine dan mencoba memejamkan matanya.
***
Luna melangkah dengan tidak bersemangat menuju kampus, matanya terasa berat seperti digantung barbel berkilo-kilo. Ia mengucek matanya dan menguap. Seperti biasa Luna lewat gerbang samping yang membuat ia harus mlewati kantin. Langkahnya melambat saat melihat bayangan Tara menuju ke arahnya. Sahabatnya itu, ya kalau Tara masih menganggapnya sahabat, sedang bersama Vidia dan dua cewek geng Vidia dari kelas lain. Luna agak lupa namanya.
Saat keduanya tinggal selangkah lagi berpapasan, Luna sudah bersiap untuk melakukan hal yang ia harap tidak akan ia sesali.
"Tara." Panggil Luna. Empat cewek itu serentak berhenti. "Aku ingin bicara dengan Tara." Kata Luna lagi tapi kali ini matanya ia arahkan pada Vidia.
"Mau ngomong apa? Penting banget?" sahut Tara dingin.
"Ya penting." Luna merasa ada getar dalam suaranya. Ia sangat membenci sikap angkuh Tara padanya, yang ia perlihatkan di depan teman-teman palsunya itu. Tara tampak memberi tanda Vidia dan dua teman lainnya untuk meninggalkannya.
"Semarah itukah kamu sama aku? Sampai pada batas kamu melihatku seperti musuh terbesarmu seumur hidup? Sesalah apa sih aku sama kamu Ra?" getar dalam suara Luna semakin terasa.
Tara hanya diam tanpa memandang mata Luna. Ia melihat sekelilingnya dan merasa bahwa beberapa pasang mata sedang memperhatikan mereka.
"Kita bicara di belakang, gue nggak mau jadi tontonan kayak gini." Tara memutar tubuhnya dan berjalan cepat, mau tak mau Luna mengekorinya dari belakang. Tara melempar tasnya ke atas meja marmer dan duduk dengan sikap angkuhnya, Luna duduk di depannya.
"Hanya karena cowok kamu memperlakukan aku seperti ini?"
Tara menggerakan lehernya dan memandang Luna.
"Hanya?" kedua alisnya naik, suaranya terdengar sinis. "Oke gue akan bilang sama lo, seandainya lo jujur sama gue tentang perasaan lo sama Bintang tentu saja gue nggak akan menjadi orang jahat di mata lo karena pada akhirnya gue yang mendapatkan Bintang, seandainya lo nggak perlu sok menjadi malaikat dengan mengirim email pada Kalan, tentu saja gue nggak akan merasakan malu seperti sekarang. Semuanya berawal dari elo, Luna. Lo kira lo berbuat baik untuk gue tapi justru sebaliknya." Kedua tangannya mengepal.
Luna sudah habis kata untuk menjelaskan semuanya. Intinya Tara pernah memahami jalan pikiran Luna, kalau memang ia berpikir seperti itu tak ada lagi yang bisa Luna perbuat. Karena apapun itu akan percuma.
"Oke, aku tahu niat baik seseorang tidak akan selalu membawa hasil yang baik, tapi justru sebaliknya. Tapi yang perlu kamu tahu, Ra. Niatku tulus, sangat tulus. Karena menurutku itulah yang harus dilakukan seorang sahabat. Tapi sepertinya aku nggak bisa memaksa kamu untuk percaya atau memahami niat dan pikiranku."
"Ya, sekarang baru aku sadar kita memang nggak bisa saling memahami." Kata Tara tajam dan membuat air mata yang sudah sekuat tenaga Luna tahan mengalir turun dari sudut matanya.
"Kamu..menyukai Mas Kalan?" Luna mencoba memberanikan diri memandang Tara tepat di matanya. Cewek itu sedikit bergerak gelisah, matanya sejenak lari dari tatapan Luna.
"Kenapa lo nanya kayak gitu?"
Luna tidak menjawab dia hanya tidak berhenti memandang Tara, mencoba membaca ekspresi wajahnya.
"Lo nuduh gue mau ngerebut cowok lo?" kelopak mata Tara melebar, dia merasa sangat terhina dengan tatapan Luna yang tajam padanya yang ia terjemahkan sebagai tatapan menuduh.
"Aku nggak nuduh. Aku hanya tanya." Jawab Luna pelan.
"Tapi cara lo mandang gue seakan-akan gue udah ngerebut cowok lo yang berharga itu." Jawab Tara dengan nada angkuh dan membuat Luna kali ini yang mengepalkan kedua tangannya menahan perasaannya.
"Jawab aku Tara! semakin kamu kasar dengan kata-katamu semakin buat aku yakin kalau aku benar selama ini." Tak ada lagi rasa ragu dan takut di hati Luna. Sikap Tara semakin membuat ia ingin mengeluarkan semua isi hatinya dengan segala keberanian yang ia punya.
"Apa yang menurut lo benar? Tentang niat gue dapetin Kalan lagi? Lo gila? Lo pikir gue apa mau-maunya ngejar cowok yang nggak selevel sama gue!" amarahnya tampak lewat nada tingginya.
"Aku udah bilang, Ra. Semakin kamu kasar semakin aku benar." Kata Luna tenang namun suaranya benar-benar menusuk nurani dan ego Tara. Ia memukul meja di depannya lalu berdiri.
"Oke, kalau lo maunya gitu, mulai sekarang gue akan rebut Kalan dari lo, bukan karena gue cinta sama dia tapi karena gue benci sama lo!" suara Tara bergetar, ujung hidungnya bergerak-gerak, dan wajahnya yang putih itu memerah. Ia meninggalkan Luna dalam kebisuannya.
Perlahan Luna membuka jemarinya yang mengepal keras sejak tadi. Ia tak sadar kalau tangannya sedikit bergetar. Ia seperti baru mengalami mimpi buruk. Bertengkar hebat dengan Tara? Ya Tuhan, ia tak pernah membayangkan Tara menjadi musuhnya saat ini. Ia menelungkupkan kepalanya ke meja dan tak lama kemudian bahunya terguncang kecil.