Sheila melirik Luna di sebelahnya, kemudian sama-sama tersenyum melihat lima orang ibu berceloteh tak henti-hentinya di depan mereka. Keduanya sedang menunggu hingga kapan ibu-ibu ini berhenti membanggakan anak-anaknya dan segera masuk ke mobil dan berangkat karena hari sudah semakin siang.
Mami menoleh sejenak ke arah Sheila dan Luna yang terabaikan di sudut ruang tamu.
"Kalian berdua ikut mobil tante Vina ya," seru mami. Sheila hanya mengangguk. Dan beberapa detik kemudian mami berdiri dan mulai berperan sebagai pemimpin. Luna menerima ajakan Sheila untuk ikut melakukan kunjungan bersama Mami dan ibu-ibu perkumpulan gerejanya karena jadwal bulan ini mereka kembali mengunjungi Rumah Klaris. Meski tanpa Kalan, Luna ingin sekali melihat sosok Ibunda Kalan itu.
"Yaaa dasar emak-emak, katanya mau berangkat jam sembilan nah sekarang udah jam berapa?" omel Sheila. Ia menoleh ke arah Luna yang hanya diam. "Kamu yakin mau ikut?" Sheila bertanya sekali lagi dengan pertanyaan yang sama.
Luna mengangguk yakin.
"Ayo anak-anak." Panggil mami.
Di mobil tante Vina, hanya ada Luna, Sheila dan anak tante Vina yang berusia dua belas tahun tahun, Tika. Tante Vina memilih bergabung dengan ibu-ibu lain di mobil Tante Dian. Dan sepanjang jalan menuju Kaliurang Sheila dan Luna harus bertahan mendengar semua lagu EXO idola Tika, belum lagi ditambah bonus suara Tika yang bikin sakit kuping dengan palafalan bahasa Korea yang ala kadarnya. Luna tak bisa menahan tawa melihat ekspresi meringis Pak Bun, si sopir, sepanjang perjalanan mereka. Sheila sudah sejak tadi ingin semaput, namun langsung mendapat pertolongan Luna. Luna memasang earphone ke kuping Sheila, paling tidak Sheila akan lebih survive dengan lagu-lagu Justin Bieber meskipun ia bukan fans JB sekalipun.
Saat seperti ini Luna jadi teringat Tara. Tara pecintaEXO dan Bigbang, penyanyi-penyanyi Korea itu, dan sebagai si pemilik mobil Tara tentu dengan sesuka hatinya memasang lagu-lagu mereka setiap kali jalan bersama Sheila dan Luna. Sheila sering protes dan bahkan mengancam mogok naik mobil Tara kalau Tara tidak mendengar rintihan hatinya. Sheila memang sedikit berbeda, selera musiknya lebih ke klasik atau musik-musik instrumentalia, semacam piano atau saxofon. Karena itu Tara sering menganggap Sheila ketuaan untuk usianya. Sedang Luna, tidak terlalu fanatik dengan satu jenis musik tapi kalau boleh memilih, ia lebih suka lagu dengan bahasa yang ia pahami karena itu daftar lagu di ponselnya lebih cenderung pada Justin Bieber, One Direction atau Taylor Swift. Untuk hal ini Tara pernah protes,
"Musik itu universal, bahasa bukan kendala, nggak harus ngerti lirik dulu lo baru bisa menyukai sebuah lagu."
Luna melirik Sheila yang benar-benar sudah KO dengan serangan Tika dan EXO-nya. Mobil memasuki halaman Rumah Klaris. Saat turun dari mobil Luna disambut hawa sejuk Kaliurang. Lima ibu bawel sudah terlebih dahulu masuk dan disambut seorang ibu berperawakan kecil namun punya senyum ramah. Luna dan Sheila dikenalkan dengan Bu Rita, ia pemimpin Rumah Klaris ini.
Beberapa penghuni Rumah Klaris sudah cukup mengenal Mami dan empat orang temannya. Mereka berbincang akrab. Mata Luna mencari-cari di antara penghuni Rumah Klaris, sosok yang ia kenal melalui cerita Sheila dan Kalan namun ia tak bisa menemukannya. Hampir semua penghuni Klaris adalah wanita dan hampir seluruh punya cacat tubuh. Namun senyum dan tawa yang mereka perlihatkan saat berbincang dengan Mami dan kelompoknya terlihat lepas dan tulus seperti menggambarkan bahwa tak ada beban yang berarti dalam hidup mereka.
"Bu Dewi kemana, Bu Rita?" tanya Mami, Sheila langsung menyikut Luna pelan memberi tanda bahwa yang ditanyakan Mami adalah ibu Kalan.
"Oh iya, Bu Dewi di rumah sakit. Sudah dirawat hampir lima hari, tapi tadi putranya, si Kalan, sudah ngasih kabar kalau ibunya sudah boleh pulang. Mungkin sebentar lagi."
Para ibu itu mulai ribut bertanya tentang keadaan bu Dewi, sakitnya apa, separah apa dan macam-macam lagi.
"Bisa jadi sebentar lagi Mas Kalan ke sini. Kamu nggak apa-apa?"
Luna menggeleng. Dan satu jawaban atas semua tanya dan ragunya selama ini kini sudah jelas. Ia pun tahu kenapa Kalan saat itu pergi tiba-tiba, ya, Ibunya sakit. Hati Luna terenyuh mengingat betapa kejamnya ia memperlakukan Kalan malam itu tanpa tahu bahwa cowok yang sangat ia sayangi itu sedang sangat bersedih. Luna mengatup wajahnya, ia mendesah karena sesal. Sekarang ia semakin lega, setidaknya kedatangannya ke sini bisa jadi kejutan untuk Kalan. Satu maaf tak cukup ia pinta dari Kalan. Dan mengetahui kalau Ibunya sudah membaik dan akan pulang membuat kegembiraan Luna semakin lengkap.
Sheila dan Luna yang baru pertama kali datang, diajak Mbak Santi, seorang pekerja di Rumah Klaris untuk berkeliling melihat-lihat seisi rumah. Rumah ini memang terlihat kecil dari depan tapi sebenarnya di bagian belakang sangat luas. Selain ada sekitar dua puluh kamar yang tampak rapi dan bersih terlihat dari depannya, di halaman belakang ada lima bedeng yang ditanami sayur-sayuran segar. Di pojok bagian belakang halaman ada kandang ayam yang cukup besar. Luna takjub melihat Mbak Santi memungut beberapa telur ayam dan memasukkan ke keranjang.
"Nggak marah ya si emak ayam itu kalau telurnya diambil?" bisik Sheila. Di dekat kandang ayam ada dua buah pohon duren yang sudah mulai berbuah, Sheila berjalan berjinjit di atas tanah yang sedikit becek mencoba menjauh dari bawah pohon duren.
Luna bisa merasakan betapa nyamannya tinggal di sini.
"Mbak, waktu Merapi Meletus, di sini nggak apa-apa?" Sheila membantu Mbak Santi memasukkan cabe segar yang baru dipetik ke dalam tampah bambu.
"Nggak apa-apa, cuma semua penghuni pernah diungsikan untuk berjaga-jaga, tapi rumah aman-aman aja kok."
Sheila meringis saat mencuci tangannya di bawah pancuran bambu di dekat kebun sayur, dinginnya air benar-benar membuat Sheila merinding.
"Kayaknya Bu Dewi udah pulang." Mbak Santi memberi kabar, Luna dan Sheila bisa menangkap riuhnya suara ibu-ibu di depan. Sheila memberi tanda pada Luna untuk segera ke sana. Jantung Luna berdebar. Ini pertemuan pertama dengan Kalan sejak malam itu dan tentu saja pertemuan saat ini dua kali lebih mendebarkan karena Luna pasti juga akan bertemu wanita yang paling dicintai Kalan. Ibunya.
"Lho? Tara?" Suara mami jelas terdengar. Sheila dan Luna saling berpandangan dan melangkah cepat ke dalam. Dan kedua lutut Luna serasa goyah saat melihat Tara bersama Kalan dan ibunya di sana.
Sheila langsung menggenggam tanga Luna. Dan di saat Luna sedang berjuang dengan kejutan yang luar biasa ini, mata Kalan menangkap kehadirannya. Begitu pula Tara.
Semuanya hening, semuanya membeku, Luna merasakan itu. Kupingnya tiba-tiba terasa tidak berfungsi sebagaimana mestinya, selain tangan Sheila ia tak tahu lagi harus berpegangan pada siapa, ini benar-benar di luar dugaannya. Kalan sudah membunuhnya dua kali.
Sheila memberi tatapan paling tajam ke arah Kalan dan Tara, dan seandainya tatapan itu bisa membunuh, Tara dan Kalan mungkin sudah mati berkali-kali.
Kalan sudah tidak bisa mundur, ia mendorong kursi roda ibunya dan melintas di depan Luna dan Sheila, sedang Tara terpaku ditempatnya. Bu Rita mendekat,
"Bu, ini Sheila dan Luna. Mereka baru pertama kali ke sini." Sheila langsung mengumbar senyum dan mengulurkan tangan pada Bu Dewi, begitu pula Luna meski dengan berat hati. Ia tak pernah membayangkan Tara terlebih dahulu mengenal Ibu Kalan dibanding dirinya.
"Luna." Sekuat tenaga Luna memantapkan suaranya agar tidak ada yang membaca kalau sebenarnya ia ingin sekali berteriak dan menangis.
"Luna?" Bu Dewi menoleh dan mendongak ke arah Kalan. Dan Kalan mengangguk.
"Luna." Bu Dewi belum melepaskan tangan Luna. Wajah Kalan tegang namun dengan matanya ia berusaha mengirim pesan pada Luna, bahwa sekali ini Luna harus percaya padanya, akan ada penjelasan untuk semuanya ini. "Ibu senang bisa ketemu kamu. Kalan banyak cerita tentang kamu." Luna memandang Kalan tak mengerti.
"Ya sudah, Ibu ke kamar dulu ya." Bu Dewi menepuk pelan punggung tangan Luna dan tersenyum sangat hangat padanya. Kalan kembali mendorong kursi roda ibunya menuju kamar.
Sheila menarik tangan Luna untuk keluar dari ruang tamu dan jauh dari semua mata. Tara melangkah cepat menyusul saat melihat Sheila dan Luna berjalan keluar.
"Luna."
Hawa dingin Kaliurang semakin menggigit saat gerimis tipis mulai turun. Matahari seperti hilang lenyap padahal waktu sudah mendekati tengah hari.
"Luna!" panggil Tara sekali lagi.
Luna menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Gue minta maaf." Mata Tara berkaca-kaca. "Ini semua nggak seperti yang lo kira. Malam itu kebetulan gue ada di sana saat Mas Kalan mendapat berita Ibunya masuk rumah sakit. Ia bahkan nggak bisa mengeluarkan kunci motornya saking paniknya. Saat itu gue di sana, Lun dan gue menawarkan bantuan. Awalnya dia menolak karena dia memang sedang nungguin lo." Tara menyeka matanya dan melanjutkan.
"Di tengah ketakutannya ia terus ingat lo, karena takut merusak hari bahagia lo, dia nggak pernah bilang alasannya kenapa dia pergi tiba-tiba. Dan saat Ibunya siuman, saat ia melihat gue...lo tahu apa kata ibunya? Dia panggil gue Luna. Lo mengerti sekarang?"
Kemarahan Luna yang tadi membumbung tinggi setinggi Merapi perlahan luruh.
"Kalan cinta banget sama lo, dan gue...gue salah selama ini. Keras kepala gue, ego gue, semua keburukan gue...kalian tahu dan kalian coba semampu kalian mahamin gue tapi...gue memang bukan sahabat yang baik. Maafin gue Lun." Tara menunduk sambil terisak.
"La," ia beralih ke Sheila. "Maafin gue." Wajah Sheila yang sejak tadi tegang dengan tatapan tajam membunuh ala Ninja itu perlahan melembut. Ia sudah menduga Tara akan menyadari semuanya. Karena ia tahu hati Tara tak sejahat niat-niatnya. Sheila mendekati Tara yang masih sesunggukan dan membawa sahabatnya itu ke pelukannya. Tara menagis semakin keras. Luna pun sama, tangisnya pecah. Ia berjalan ke arah Sheila dan Tara, mereka bertiga berpelukan.
"Kalian..." suara Kalan membuat mereka melepaskan pelukannya. Tara dan Luna sibuk membersihkan wajah mereka.
"Aku minta maaf Mas." Luna bersuara. "Aku minta maaf." Sekali lagi Luna berkata. Kalan menghela napas lega. Baru saja beberapa menit lalu ia merasa sedang berjalan di atas bara api dan sekarang ia merasa seperti sedang melayang.
"Aku juga minta maaf." Kata Kalan sambil berjalan ke arah Luna, dan tanpa berpikir panjang lagi Luna berlari ke dalam pelukan Kalan. Sheila menggandeng Tara dan keduanya menjadi saksi kisah Luna dan Kalan berakhir manis.
Tara memandang Sheila sekali lagi dan bibirnya bergerak mengucap maaf. Sheila mengangguk dan kembali menarik Tara dalam pelukannya.
"Aku sama Luna kangen banget sama kamu. Kita kehilangan kamu." Bisik Sheila.
"Aku juga."