Luna menggigit bibirnya perlahan, langkahnya sedikit ia seret, beberapa kali ia berhenti agar mengurangi rasa sakit di kakinya. Desah kecil tercipta dari bibirnya saat ia memaksa untuk tetap melangkah dengan kecepatan yang ditambah.
"Luna! Jalannya jangan kayak putri keraton gitu deh! Cepetan bisa dikutuk kita sama Sheila kalo telat!" Suara soprano Tara terdengar berkumandang di sepanjang koridor. Untung sudah sore dan bukan jam kuliah jadi suara Tara yang sudah mencapai 5 oktaf itu tidak menjadi pusat perhatian. Koridor sepi. Luna hanya membalas teriakan Tara dengan ekspresinya menahan perih dan sepertinya semakin bertambah perih mendengar suara Tara yang tajam menusuk itu.
"Makanya nek, kalo beli sepatu yang mahalan dikit donk! Biar tuh kaki nggak lecet-lecet." Omel Tara lagi dengan tampang kesal saat Luna tinggal berjarak setengah meter. Tampang Luna terlihat memerah, air matanya sedikit menggenang, kelihatan sekali kalau lecet di kakinya semakin parah.
"Sakit banget Ra." Luna setengah menunduk dan melepas sepatu model peep toe yang baru dia beli kemarin di sebuah butik murah seharga 35 ribu. Tangannya mengusap-usap bagian atas tumitnya yang terlihat merah dan mulai mengelupas kulitnya. Tara melotot setengah bergidik ngeri.
"Ya ampun Luna! Lo kayak orang kekuarangan duit aja sih, beli sepatu yang agak mahalan dikit kenapa?" Tara kembali mengomel.
"Ssshh! Bawel! Masih banyak orang kekurangan di luar sana, masih banyak yang butuh duit buat makan, masak untuk sebuah sepatu yang nggak bisa dimakan kita harus buang-buang duit." Balas Luna asal yang penting bisa menangkal omelan sang ratu comel, Tara. Dia tampak menyelipkan lipatan tisu diantara sisi sepatu bagian dalam dan bagian tumitnya yang lecet. Wajahnya kembali meringis menahan perih.
"Berani-berani lo nasihatin gue ya! Udah berapa pasang sepatu dan tas murah yang numpuk di kamar lo? Yang sekali lo pakai langsung rusak dan bikin kaki lo lecet? Bukannya itu sebuah pemborosan?" nada suara Tara meninggi dan memenuhi seisi koridor kampus.
"Udah ah, aku ini yang punya duit. Kamu nggak rugi juga kok." Luna manyun sambil mengikuti langkah Tara dengan berjalan setengah terpincang.
"Heh, justru gara-gara sepatu lo yang murahan itu lo malah bikin teman lo rugi. Kaki lo lecet, lo jadi susah jalan dan sekarang lo bakalan bikin si Sheila nyap-nyap karena kehilangan duit 150 rebu kalau kita nggak secepatnya nyampe di 21." Tara berkata setengah emosi dan tanpa jeda. Dia memang paling kesal kalau Luna mulai menciptakan sejuta alasan untuk menangkal setiap ucapannya.
"Telat dikit kan nggak apa-apa Ra!" Kali ini Luna setengah berlari dengan wajah meringis mengekor Tara yang langkahnya semakin panjang menuju parkiran kampus.
"Lo kayak nggak tahu Sheila aja. Dia mana mau masuk bioskop kalau telat. Najis tralala deh buat dia. Dia lebih memilih batal nonton dan kehilangan duit daripada kehilangan beberapa menit awal cerita dan jadi omelan penonton lain karena mengganggu. Cepetan!" Tara menoleh dan melotot marah pada Luna.
"Iya-iya, tapi singgah ke kos ganti sandal ya." Pinta Luna hati-hati, takut Tara menyalak lagi.
"Pokoknya gue nggak mau tahu sepatu gue yang kemarin itu lu harus terima, nggak usah cari alasan!"
"Nggak ah, Ra. Itu bukannya masih baru banget, kan baru dibeli Mbak Sarah dari Hongkong." Luna menggeleng cepat.
"Iya gue baru pake sekali tapi sepatu itu bukan gaya gue. Makanya gue nggak suka." Ucap Tara enteng. Beginilah kalau bicara dengan Tara yang memang berasal dari keluarga kaya raya.
Tara anak bungsu dari tiga bersaudara. Papanya punya perusahaan properti cukup besar di Yogya, Mamanya seorang dokter yang memilih buka praktek di rumah karena tidak mau meninggalkan Tara sendirian. Kakaknya yang pertama, Mbak Sarah, bekerja di Deplu dan sering melanglang dari satu Negara ke Negara lain, ini yang membuat Tara selalu punya stock mata uang Negara asing, dan juga selalu mendapat oleh-oleh dari setiap Negara yang pernah didatangi Mbak Sarah. Dan kakaknya yang satu lagi, Mas Robi, punya perusahaan EO di Jakarta yang lumayan sukses. Tara memang beruntung, dia bisa memilih di Negara mana saja untuk kuliah, tapi karena dia anak bungsu dan tidak bisa pisah jauh dari mamanya, dia lebih memilih kuliah di Yogya meskipun pernah mencoba hidup mandiri saat SMA di Jakarta.
Sedangkan Sheila, bisa dibilang cukup beruntung juga. Dia gadis cantik keturunan Tionghoa. Orangtuanya punya showroom mobil di jalan Magelang. Sebenarnya Sheila dan Luna sudah bersahabat sejak SMA. Luna sering nginap di rumah Sheila saat SMA dulu, karena tante Eta, mama Sheila, sering sekali memasak makanan yang enak-enak. Tante Eta tahu kalau Luna suka sekali Chinese Food. Dan di samping itu Tante Eta paling senang kalau masakannya di puji karena lezatnya. Luna memang pintar mengambil hati tante Eta.
Luna sendiri bukan berasal dari keluarga yang kekurangan tapi tidak juga terlalu berlebihan. Sedang-sedang saja, kalau kata lagu dangdut sih. Papa dan mama Luna adalah dosen di sebuah universitas. Luna punya kakak yang usianya terpaut 15 tahun. Sekarang sang kakak sudah menikah dan bekerja di Jepang. Mas Andra, kakak Luna itu, memang terobsesi pada Jepang sejak mulai remaja. Dari filmnya, bahasanya, komiknya, gamenya, negaranya, tekhnologinya, bahkan sampai cewek-cewek Jepang yang seksi-seksi itu. Tidak heran kalau akhirnya dengan segala daya upaya mencari beasiswa, Mas Andra bisa kuliah di Jepang dan akhirnya bekerja dan menetap di sana bersama Aimi, istrinya. Karena merasa kesepian tinggal di rumah, Luna memilih untuk ngekos. Hitung-hitung lebih hemat kalau ngekos dekat kampus karena kalau mau kuliah tinggal jalan kaki tapi intinya di kos Luna punya banyak teman, tidak seperti di rumah. Kesepian!
"Perlu ke kos dulu nggak ya?" Luna berkata setengah bimbang. "Tapi udah nggak tahan lagi nih pake sepatu ini." Sambungnya lagi sambil membuka pintu CRV Tara.
"Jadi gimana nih? Ke kos dulu nggak?" Tara mulai menyalakan CRV-nya.
"Tapi setelah dari kos trus kena macet gimana? Sekarang kan jam pulang kantor?" Luna kembali bimbang.
"Ya ampun Luna...cepatan mikirnya!" Tara memundurkan mobilnya, dan bersiap keluar dari parkiran.
"Ummm...ntar kalo telat Sheila ngamuk. Ya udah deh langsung aja...eh..eh bentar ke kos dulu aja." Luna meringis melihat pelototan Tara.
"Tapi......."
"Lunaaaa....yang benar kemana neh??!!!??"
"Ke kos aja!!!"
Tara memacu CRV-nya lumayan kencang. Benar seperti dugaan Luna, jalan Solo lumayan macet. Mobil merangkak cukup pelan, berkali kali Tara mendengus kesal dan memukul setir di depannya. Luna merapatkan duduknya ke pintu karena takut tangan Tara tiba tiba salah sasaran ke arahnya. Luna sadar dialah si biang kerok yang membuat mereka jadi terjebak macet seperti sekarang. Di tengah keheningan itu keduanya dikejutkan dengan lagu Fantastic Baby milik Big Bang yang bersumber dari tas Tara. Mereka saling memandang.
"Angkat tuh telepon. Pasti Sheila udah kesal setengah mati." Tara menoleh ke arah Luna dan memberi tanda pada cewek itu untuk mengambil ponselnya yang berbunyi dari dalam tasnya. Luna segera merogoh tas Tara dan mengeluarkan ponsel Tara yang tipis banget itu yang harganya bisa buat beli lima sepatu Gosh yang ditaksir Luna waktu ke Mal sama Mbak Rina Minggu kemarin.
"Hola?!" Luna meringis dan menghindarkan ponsel agak jauh dari kupingnya. Tara menoleh sebentar kemudian tertawa kecil.
"Iya...iya Sheila sayang! Udah dekat ini. Nah ini barusan sih Tara mau masuk basement..."
"Sip bos!" Luna mengakhiri pembicaraan di ponsel.
Luna dan Tara segera meloncat turun dari CRV. Tara melirik jam tangannya. Keduanya melangkah cepat setengah berlari memasuki Mal Ambarrukmo. Tara hampir menabrak troli yang sedang didorong seorang Ibu, sedang Luna hampir menjatuhkan es krim dari tangan seorang anak kecil yang tidak sengaja disenggolnya. Keduanya hanya meringis malu sembari minta maaf.
"Mampus 8 menit lagi dan kita belum masuk Carrefour." Tara berkata setengah menjerit memandang jam tangan digital yang melingkar di pergelangannya.
"Emang harus ke Carrefour dulu?" Luna melirik Tara.
"Ya iya lah. Kudu beli minum donk!"
"Kenapa nggak di 21 aja."
"Bawel ah.....di atas kan nggak ada s**u kedelai." Tara segera menarik tangan Luna untuk berjalan lebih cepat memasuki Carrefour. Setelah mendapat yang diinginkan, Tara kembali menarik tangan Luna menuju kasir.
"Ya udah cepetan, kita naik lift aja." Tara memasukkan duit kembaliaannya dengan tergesa-gesa ke dalam tasnya.
"Kenapa nggak naik eskalator aja?"
"Lift lebih cepat dodol!"
"Tapi gimana kalau tiba-tiba liftnya macet?!" Tara melotot ngeri pada Luna.
"Ya ampun Luna, kalau sekali aja nggak bikin bingung orang bisa nggak sih?"
"Sorry, ya udah naik lift aja!"
"Udahlah! Pakai eskalator aja...lo bikin gue jadi takut beneran!" Luna tersenyum kemudian mengikuti langkah sahabatnya itu menuju eskalator.
"Darimana aja siiiiiiiiiiiiiiihh?" Sheila melotot marah pada Luna dan Tara yang baru saja datang.
"Ini si Luna, nongkrong di SAC kelamaan. Biasa nonton Of Mice and Man lagi." Tara menyalahkan Luna. Yang dituduh hanya tersenyum tawar.
"Luna...Luna...nggak bosan-bosan ya..." Gumam Sheila sambil geleng-geleng kepala dan melirik Luna di sebelahnya kemudian memberi tanda pada kedua sobatnya untuk segera masuk ke studio 1.
Luna memang favorit berat dengan novel dan film Of Mice and Man karya John Steinbeck, penulis asal Amerika itu. Sejak awal masuk Sastra Inggris hampir satu tahun yang lalu dan kenal dengan mata kuliah bernama Book Report, Luna sudah jatuh cinta dengan novel Om Steinbeck ini. Beda dengan Sheila dan Tara yang paling benci dengan mata kuliah ini. Bagaimana tidak mata kuliah yang mengharuskan semua siswa membaca dan me-review tiga buah novel sekaligus itu hanya bernilai 1 SKS. Penting banget nggak sih??
"Pentinglah nona-nona! Kalau nggak penting ngapain masuk Sastra?" Begitulah ucapan Luna saat Sheila dan Tara mulai ngomel masalah Book Report. Biasanya setelah itu kepala Luna kemudian ditoyor rame-rame oleh dua sobatnya.
"Luna!" suara seorang cowok membuat langkah ketiganya berhenti dan menoleh serentak. Ketiganya baru saja keluar dari 21 dan rencananya mau makan di Pizza Hut.
"Mas Bintang." Luna tersenyum lebar wajahnya tiba tiba memanas melihat sosok cowok yang baru saja menyapanya. Kemeja biru pucat lengan panjang yang ditekuk hinggu siku dan celana kargo coklat melekat ditubuh cowok yang berjalan semakin mendekat ke arahnya.
"Hai." Bintang melambai sebentar saat ia sudah berada tepat di hadapan Luna, Sheila dan Tara. Senyum Luna belum pudar. Ini sungguh mengejutkan setelah hampir tiga tahun mereka tidak bertemu tiba tiba Bintang sekarang berada tepat di depannya. Ia muncul dengan penampilan yang bisa bikin Luna jatuh cinta berkali kali hanya dalam satu menit. Dan perginya Bintang jugalah yang menjadi satu alasan Luna memutuskan untuk tinggal di kos. Tinggal di rumah tanpa Bintang yang jadi tetangganya sama sekali tak membuat Luna bersemangat.
"Kapan Mas Bintang pulang?"
"Kemarin. Ini lagi nemenin Putra sama Dinda main. Mereka lagi di dalam." Bintang menunjuk ke arah pusat bermain anak-anak di Mal itu.
"Kamu apa kabar?" Bintang menatap Luna cukup tajam dengan senyum tersungging di bibirnya. Luna berkali kali menggesek telapak tangannya ke celana jins yang ia kenakan, senyum yang sejak tadi awet menghiasi bibirnya tiba tiba dirasanya jadi kaku dan tak indah lagi, ia harus cepat cepat mengatup bibirnya sebelum wajahnya terlihat aneh di depan Bintang. Tara menyikutnya, Sheila mendesis tak percaya melihat kegugupan Luna yang terbaca jelas.
"Baik Mas. Uhm..." Mata Luna tak mampu lama-lama ia biarkan terperangkap dalam pandangan Bintang. "Mas, kenalin ini teman-temanku." Luna coba membuat pandangan Bintang teralih daripadanya. Bintang mengulurkan tangan pada Sheila dan Tara.
"Oh ya, Lun, kata Tante kamu sekarang ngekos. Dimana?" Luna tercekat mendengar pertanyaan Bintang.
"Dekat kampus."
"Minta nomor hpmu, lain kali kita janjian ketemu. Aku pengen dengar cerita dari kamu." Bintang mengeluarkan ponsel dari kantong celananya. Setelah mereka bertukar nomor, Bintang pun pamit kembali menemui adik-adiknya. Dan setelah Bintang menghilang, Tara langsung ribut.
"Itu siapa Lun? Gila ya! Lo nggak pernah cerita kalau punya kenalan sekeren dia?" Tara terlihat paling bernafsu. Sedang Sheila menatap Luna diam-diam dengan kelopak matanya membesar seakan berkata, 'Oh my God!' namun sebelum Tara menangkap bahasa isyarat Sheila itu, Luna cepat-cepat mengangguk kemudian menggeleng penuh isyarat agar Sheila tak membahasnya.
"Ayo cerita! Siapa si keren tadi?" Tara merengek dengan wajah yang dibuat sok imut. Luna hanya berdesis kesal kemudian meninggalkan Tara yang sok manja itu. Baru beberapa langkah Luna berjalan, ia tiba tiba berhenti dan berbalik seketika dan membuat Tara serta Sheila harus mengerem langkah mereka.
"Ada Mas Kalan, Ra." Tangan Luna bergerak pelan menuju satu arah. Tara mendesis tak percaya. Dan kira kira sejauh sepuluh meter di depan mereka, Kalan sedang tersenyum dan siap melambai ke arah mereka.
"Kenapa sih dia ada di sini juga?" sungut Tara yang langsung menarik tangan Luna dan Sheila untuk berbalik arah. Keduanya hanya bisa menurut tanpa bisa protes. Luna sempat menangkap bias kecewa di wajah cowok itu saat Tara memaksa mereka berbalik arah tadi.
Kalan seperti mimpi buruk buat Tara. Cowok kakak tingkat mereka itu memang tak pernah lelah mengejar Tara. Sebenarnya Kalan tidak jelek, Luna pernah sekali terpesona dengan wajah cowok itu. Itu terjadi saat makrab setahun lalu, Kalan habis membasuh wajahnya dan tak ada kaca mata yang bertengger di sana. Luna mematung beberapa detik saat memandangnya karena tak pernah menyangka ada sebuah wajah tampan di balik kaca mata minus dan bahasa tubuh kikuk cowok itu. Tetes-tetes air yang menyusuri alis tebal hitamnya, turun ke hidungnya yang cukup mancung dan berakhir di dagunya yang persegi, menghilangkan jejak Clark Kent dalam dirinya dan sangat menonjolkan imej Superman. Tubuhnya juga tinggi. Tapi sayang Kalan terlalu kikuk bagi Tara yang miss gaul itu. Ia selalu mengenakan kemeja kotak kotak kalau ke kampus, sampai sering dijuluki salah satu tim sukses pak Jokowi. Cowok itu tak pernah lepas dari buku, saat mereka berpapasan di koridor. Kalau tak sedang bercengkerama dengan buku, ia sering terlihat asyik berdebat dan berdiskusi dengan pak Fajar, dosen mata kuliah Drama.
Luna juga tak menyangka Mas Kalan yang antik itu bisa tergila gila pada si Tara yang periang, yang masuk tipe cewek high maintenance, yang lebih suka menghabiskan waktu di mal dan salon dari pada perpustakaan. Tapi bukankah orang memang kadang tertarik pada lawan jenisnya bukan karena merasa mereka sama tapi justru karena mereka berbeda.
Sejak makrab, Kalan yang memang menjadi pendamping kelompok Tara selalu menunjukkan perhatiannya yang lebih pada sahabat Luna itu. Awalnya Tara senang-senang saja, karena Kalan bisa dijadikan tempat bertanya saat ada mata kuliah yang rumit, contohnya Book Report. Tara yang malas membaca, lebih senang mendengar isi novelnya dari Kalan, dan tentu saja cowok itu dengan senang hati membantunya mengerjakan semua tugas Book report. Dan setelah itu, Kalan terus menempeli Tara dan membuat Tara jengah dan lama lama mulai mencium sesuatu, kalau Kalan menyukainya. Padahal sebenarnya Luna da Sheila sudah berkali-kali mengingatkan Tara bahwa pasti Kalan menyukainya tapi Tara berkali-kali membantah, entahlah apa ia benar-benar tidak tahu atau hanya pura-pura tidak tahu selama ia masih bisa memanfaatkan bantuan Kalan.
Kalan pernah menyelipkan sebuah catatan pendek berisi puisi ungkapan hatinya dalam novel Old Man and The Sea yang ia pinjamkan pada Tara. Dan Tara hampir gila karena merasa cara itu sangat kuno. Dia bahkan membuang puisi itu tanpa membacanya sampai selesai.
"Dia pikir dia Romeo apa? Ihhh...menyebalkan." Tara bergidik ngeri dengan wajah jijik seakan sedang melihat bangkai tikus. Saat itu Luna dan Sheila hanya saling memandang. Luna tidak bisa menyalahkan Tara meski baginya Tara sudah terlalu berlebihan menghina apa yang dilakukan Kalan. Luna mulai iba pada cowok itu. Perlahan Tara mulai menjaga jarak dan akhirnya benar-benar menjauh. Ia tak pernah menyapa cowok itu saat bertemu di kampus, dan lebih parahnya lagi Tara selalu membuang muka dan berdecak setiap kali berpapasan. Tara bahkan sampai mengubah nomor hpnya agar tidak terus diteror dengan pertanyaan-pertanyaan Kalan kenapa Tara menjauhinya.
"Kenapa kamu harus menghindar, Ra. Bukannya Mas Kalan juga udah nggak ngejar kamu lagi." Seloroh Sheila saat mereka berbalik arah dan mencoba turun ke basement dengan lift. Ya, atas permintaan si nona manja, Tara, mereka akan merubah haluan ke Pizza Hut di jalan Sudirman.
"Tetap aja, gue malas liat mukanya. Bikin mimpi buruk aja." Dengus Tara.
"Kasar amat sih kamu, Ra." Luna menghentikan langkahnya. Ia tidak tahan dengan kata kata Tara. Apa salah Kalan coba? Dia sudah mundur teratur kanapa juga Tara masih belum berhenti menghina cowok itu.
"Biarin! Coba lo yang ada di posisi gue, lo juga pasti gerah. Si Kalan lebih cocok ngejar lo dari pada gue, Lun. Pergaulan kalian kan sama, sekitar perpus dan SAC." Semprot Tara seenaknya. Mata Luna membulat kaget.
"Aku pulang sendiri." Luna menyentakkan kakinya kesal dan menepis tangan Sheila yang sedang menggandengnya, bersiap meninggalkan kedua sahabatnya. Dia sangat tersinggung dengan kata kata Tara barusan. Dengan kata lain Tara memposisikan dirinya diatas Luna. Kalau Luna dianggap cocok dengan Kalan yang sering ia hina-hina, artinya dia sudah merendahkan Luna juga. Inilah satu sifat Tara yang tak disukai Luna. Selama ini kalau Luna selalu menerima uluran tangan Tara bukan berarti Tara bisa memposisikan Luna sekehendaknya.
Sheila menarik tangan Luna lagi untuk menghentikan langkahnya.
"Udahlah Lun, kok gara-gara Kalan kamu sama Tara jadi berantem." Sheila mencoba membujuk Luna. Sedang Tara di sebelah Luna menunjukkan sikap arogannya kalau dia sedang marah. Ia tak pernah mau mengalah, dan biasanya berakhir Luna yang mengajaknya berdamai.
"Kalau selama ini kamu sering memberikan baju dan sepatu bekas kamu, bukan berarti aku juga bakal menerima setiap cowok yang kamu anggap sudah nggak kamu butuhkan lagi. Kamu nggak bisa seenaknya memberikannya sama aku." Luna sekali lagi menepiskan tangan Sheila dan berbalik meninggalkan mereka.
"Luna! Kok gini sih?" Luna masih mendengar suara memohon Sheila, tapi cewek itu sudah tidak peduli. Matanya memanas dan kemudian air matanya mulai menggenang. Selama ini, ia selalu menahan diri untuk tidak tersinggung dengan perlakukan Tara padanya. Ia selalu menganggap sikap Tara itu adalah sikap seorang sahabat dan Luna tak perlu merasa kecil hati apalagi tersinggung. Separuh isi lemarinya berisi pakaian-pakaian bermerek mahal pemberian Tara. Hanya beberapa yang benar benar baru, tapi sebagian besar adalah baju bekas pakai Tara, yang biasanya hanya sekali atau dua kali ia pakai terus ia mulai bosan. Luna sebenarnya enggan menerima, tapi Tara memaksa dan selalu berkata, "Ya ampun Lun, gue itu sahabat lo, bahkan lebih dari itu, kita udah kayak sodara, bukannya saudara selalu saling berbagi. Lagian baju baju ini cuma sekali atau dua kali gue pakai."
Luna menyeka matanya berusaha untuk tidak menangis lagi karena malu rasanya bila ada orang yang melihatnya berjalan sendirian di mal dengan mata sembab. Di luar sudah gelap, Luna berjalan cepat menuruni tangga Mal. Kaki kakinya bergerak cepat menuju shelter trans Jogja. Sebuah klakson mobil di belakangnya mengagetkannya.
"Mbak Luna!" mobil Honda Jazz hitam metalik berhenti di sebelahnya. Kepala Dinda nongol di balik jendela kaca mobil, cewek sepuluh tahun itu melambai. Luna cukup terkejut namun beberapa detik kemudian senyum simpul tercipta di antara wajah muramnya. Ia melambai sebentar pada Dinda dan matanya cepat menangkap sosok yang berada di balik kemudi.
"Kok sendiri Lun?" Sapa Bintang. "Ayo naik." Sambungnya lagi. Terdengar suara klakson mobil yang sudah tidak sabar mengantri di belakang untuk segera keluar dari halaman Mal. Putra membuka pintu dan Luna tak punya pilihan lain selain melompat masuk ke dalam. Dalam hati ia bersyukur karena ada Dinda dan Putra, seandainya hanya Bintang seorang di dalam mobil ini, ia pasti akan membeku selama perjalanan pulang.