Butiran besar hujan menerpa deras mengiringi hari-hari yang terus berlalu. Matahari mengitari bumi dengan rentangan dan jarak yang telah teratur dengan sempurna sehingga terciptalah musim-musim dalam kehidupan. Dengan regulasi siang dan malam, kondisi orang-orang pun berjalan silih berganti.
Sesosok tubuh dibalut kain-kain panjangnya tersenyum menonton kisah yang tergelar di langit siang. Mengulurkan tangan mungilnya ke udara, menangkap rintik yang menyapa, manyambut keperkasaan guntur dan berdansa dengan dentumannya. Ia memutar tubuhnya, menari, tertawa sebelum sebuah suara bariton dengan nada tegas menghancurkan kesenangannya. Berkali-kali.
“Jangan melakukan hal konyol itu lagi, ‘amirat. Affra akan membantu anda mempersiapkan diri anda. Ayah anda sudah menunggu.”
Sebuah tangan lembut meraihnya, menariknya dari kegembiraan hidup. “Berada seorang diri di luar sangat berbahaya bagi anda, ‘amirat.” Sebuah selimut tebal dililitkan ke tubuhnya. “Aku harus segera menyiapkan anda. Jika anda lupa, aku harus mengingatkan anda bahwa King Husain---ayah anda tak suka menunggu.”
“Kau tahu, Affra---terkadang kalian membuatku berpikir kematian mungkin jauh lebih baik dari pada kehidupan yang kalian cetak untukku.”
***
Mayor James Dalgliesh Brandon, Anggota militer terbaik. Kepala pasukan khusus paling mematikan dari United States Navy Sea, Air and Land (SEAL). Telah melayani lebih dari delapan belas tur tempur di dunia, salah satunya Afghanistan dengan resimen lintas udara ke-73 dan Ranger. Pasukannya adalah yang terbaik, tak gentar memasuki wilayah mengerikan yang ditakuti oleh pasukan lain, luar biasa dalam menangkal potensi ancaman, menumpas sasaran strategis, dan berkali-kali melakukan misi penyelamatan yang berbahaya. Di bawah komandonya, ia dan pasukannya telah berkali-kali menumpas pemberontakan sipil hingga melaksanakan misi khusus.
Misi khusus? Ya, Sang Mayor ditarik dari medan tempur untuk melaksanakan misi dari sang jenderal panutan. Ia telah melewatkan renungan panjang dalam perjalanannya kembali ke Amerika, dan mengambil kesimpulan bahwa menariknya dari medan tempur adalah tindakan yang konyol. Sang Mayor mengumpat dengan serentetan kosa kata tak lazim.
Saat itu selasa sore yang cerah dan para pembesar militer USA berkumpul di rumah sang jenderal. Ia berada di ruang pribadi, menyimak alasan sang jenderal memanggilnya pulang. Karena ia efisien dan bisa diandalkan. Karena ia yang terbaik di batalionnya. Karena penciumannya tajam. Karena analisanya akurat. Karena ia terbukti selalu berhasil menyelesaikan misi-misinya.
James mendesah mendengar deskripsi tersebut.
Untuk mengawal seorang putri, haruskah?
“Aku paham ini diluar gayamu, James, tetapi untuk sekali ini tolong lakukan. Aku tidak bisa mempercayakan anak sahabatku kepada orang lain. Kau yang paling tepat untuk melakukan ini. Hanya tiga bulan, James, setelah itu kau akan mendapatkan kembali kehidupanmu bersama pasukanmu---James, apa kau mendengarku?”
Liam Douglas McMillan. Sang jenderal perang dunia yang menyandang empat bintang di pundaknya, kepala staff Angkatan Darat Amerika Serikat dan terkenal paling ganas di dunia. Memiliki postur tubuh tinggi besar dan berwajah tegas. Menyandang statusnya layaknya seorang samurai menyandang pedangnya.
Sang Jenderal adalah seseorang yang sangat ditakuti, tetapi James telah terlatih menghadapi Sang Jenderal. Ia membalas tatapan tidak sabar pria paruh baya itu dengan sikap tenang, mengenyahkan semua keinginan untuk menyatakan pendapatnya. Tentang mengapa bukan Tim keamanan terbaik, salah satu Agen Khusus dari Tim Investigasi terbaik yang dimiliki negaranya. Kenapa harus dirinya? Seorang tentara perang ditarik dari medan tempur hanya untuk mengawal seorang putri dari kerajaan Umm Al Quwain.
Sialan.
“Yes, sir. Misi siap dijalankan.”
***
AKAL sehatmu sudah benar-benar hilang.”
Hampir semua anggota batalionnya di club malam Shelter menoleh ke arah Caleb Wide dan membuat pria tampan itu menyadari betapa keras suara yang keluar dari mulutnya. Tempat itu lebih ramai di akhir pekan, karena sekarang adalah jadwal rutin para anggota militer berpesta setelah kembali dari tur tempur mereka di berbagai belahan dunia. Malam menyelimuti kota New York yang tak pernah mati, para pria ingin minum beberapa gelas dan berakhir dalam pelukan wanita penghibur.
Sambil melemparkan pandangan sengit ke arah pasukan militernya yang membuat seluruh anggotanya buru-buru kembali pada urusan mereka masing-masing, James memusatkan pikirannya kembali kepada sahabatnya---rekan terbaiknya di SEAL.
“Tidak seburuk itu, Caleb,” ia menggesek-gesekkan gelas bir di lututnya, tangannya yang bebas melingkar di punggung sofa. Entah mengapa nada suaranya berhasil terdengar tanpa emosi.
Caleb mengangkat kedua alisnya dengan terpana, menyilangkan kedua lengan berototnya di d**a. “Kau meninggalkan pasukanmu dan menjadi pengawal pribadi seorang putri, James,” kata Caleb dengan nada memperingatkan, “Ah—ya, tidak seburuk itu, Marinir.”
“Hanya tiga bulan, Caleb.”
“Oh, James Brandon---Pemimpin Batalyon Raider khusus, ahli dalam menerbangkan jet tempur, memiliki satu juta strategi dalam misi penyerangan bawah laut---
“Kita akhiri sekarang, Caleb,” James memotong, menarik perhatiannya pada gerombolan wanita yang baru masuk dan membaur dengan para prajurit. “Kau dan aku tidak akan membahasnya lagi.”
“Kau seharusnya bisa berbicara kepada Jenderal Liam.”
Sebelah alis James bergerak naik. “Caleb?”
“Dia ayah tunanganmu. Calon mertuamu---”
“Syed!” James membanting gelas birnya di meja. “Demi Tuhan, terkadang aku berpikir akan lebih mudah jika aku menendang kepalamu saja, Caleb.” Sang Mayor menggerutu.
Caleb mengangkat kedua tangannya, tetapi tidak terlihat menyesali perkataannya. Ponsel James berbunyi dan itu berhasil membuat aura ketegangan di wajah James mereda. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
“Blaire,” James menunjukkan layar ponselnya kepada Caleb. “Bisakah kau menutup mulutmu sebentar?”
Caleb memutar tubuhnya memunggungi James, “Bersenang-senanglah, Mayor,” katanya lalu bergabung bersama pasukannya dan siap menyambut pesta semalam suntuk.
***
Blaire menyerukkan wajahnya ke leher James, dan meraih selimut yang sudah jatuh ke pinggang, mengubur kelelahan dalam sentuhan kulit menyenangkan usai percintaan penuh gairah yang mereka lakukan. Tak seperti kemarin, pria itu tetap bersama Blaire untuk waktu yang lama, menyusupkan tangannya melalui leher wanita itu dan mengusap punggung polos tunangannya, puteri dari sang jenderal panutan.
Seperti biasa, James tak pernah benar-benar memeluk wanita. Dia b******k. Seratus persen, ya.
“Apakah kau masih memikirkan misi yang diberikan ayahku padamu?” tanya Blaire McMillan.
James menarik nafas. Sialan Caleb!
“Tidak sepenuhnya.”
“Kau memikirkan olok-olok yang dilemparkan anak buahmu di pup tadi?”
Kubunuh kau Caleb!
“Sedikit.”
Blaire menekankan ciuman yang kuat di leher James. “Aku bisa bicara pada ay---
“Blaire,” potong James dengan nada menegur.
“Okey,” Blaire mengangkat kepalanya dan mengubah posisi tubuhnya di atas James. Ia mengulurkan tangannya mengusap pipi pria itu dalam sentuhan kasih sayang. “Bisakah sekarang kau menempatkan aku sepenuhnya di mata dan di kepalamu, baby?” katanya dengan campuran wajah gelisah dan murung.
“Aku benci memikirkan kau berada disini, tetapi pikiranmu memiliki dunianya sendiri.”
James menyunggingkan senyuman menyesal, “I’m sorry, baby.” Ia mengangkat wajahnya dan menekankan ciuman yang singkat dan kuat di mulut Blaire. Wanita muda itu menyeringai gembira dan membalas sentuhan James dengan ciuman yang menggoda dan memuaskan.
“Katakan!”
“Apa?”
“Kau mencintaiku?”
James tersenyum geli, “Kau memiliki diriku, sayang, apakah kau masih menginginkan pernyataan tidak penting itu?” James menurunkan Blaire ke sisinya.
Sekali lagi. Dia pria b******k.
“Itu bukan pernyataan tidak penting. Itu kalimat romantis yang ingin didengar semua wanita, James,” Blaire dengan nada manja, memprotes.
James memperbaiki posisinya, “Kita memiliki hubungan intim yang indah, kau tidak membutuhkan kalimat apapun dari mulutku. Aku bisa saja membohongimu dan kau tidak akan mengetahuinya bukan?” James melihat Blaire melalui lirikan dan menekuk salah satu lengan berototnya di belakang kepala.
“Kau bukan pria seperti itu, James, kau tidak pernah berbohong. Jadi katakan, aku ingin mendengarnya.” Blaire menjalankan jemari lentiknya membentuk pola-pola abstrak di otot bisep pria itu.
James tersenyum kecil seraya mengamati pantulan cahaya bulan yang jatuh di lantai marmer melalui celah pepohonan yang angkuh. “Tidurlah, sss kecilku.”
Blaire berdecak. “Kita sudah lama bersama, James, tetapi kau tidak pernah mengatakan kau mencintaiku.”
“Aku sudah pernah memperingatkanmu, Blaire. Tolonglah.”
“Ya Tuhan, James... bahkan setelah dua tahun kau masih tidak bisa mengatakan aku mencintaimu. Apakah itu begitu sulit?”
“Karena aku tidak tertarik dengan kalimat konyol itu. Kau memiliki diriku, sayangku. Sekarang tidurlah.” James memejamkan matanya. Jelas, mengakhiri pembicaraan. Ia pria jujur dan teratur.
Seorang pria b******k yang jujur dan teratur.
Blaire menghela nafas pasrah, “Aku mencintaimu, James.”
“Selamat malam, sweetheart.”
“Kau menyebalkan.”
“Dan sangat tampan.”
“Pria tampan yang menyebalkan.”
“Hmm.”
***
“Apa Blaire membuatmu sibuk semalaman? Kau terlambat sepuluh menit, James.” mata Sang Jenderal melirik sekilas kepada James yang baru tiba dan dengan segera mengambil posisi di sebelah Sang Jenderal.
“Maafkan aku, Sir.”
“Aku tahu kau tidak menyukai hal ini, tetapi aku percaya pada komitmenmu ketika kau sudah memutuskan untuk menerimanya. Itu mereka,” Sang Jenderal menunjuk melalui tatapan mata ke arah pesawat militer kerajaan yang baru tiba di landasan pribadi Sang Jenderal.
Beberapa pria berbadan besar dan berpakaian militer lengkap turun lebih dulu dan langsung mengambil posisi mengamankan. Seorang pria berpostur tinggi, dengan ekspresi wajah tegas, menarik dan berani menyusul di belakang para prajurit. Meski tak muda lagi dengan rambut hitam yang diselingi uban di sana-sini, tetapi senyum yang ia hamburkan ke arah sang jenderal---ia tak bisa disebut pria tua. Tidak dengan tubuh yang segar bugar dan sikapnya yang tampak sangat berpengaruh. Ia menggandeng seorang gadis muda di lengannya.
“Aku mengucapkan syukur kepada Rabbku untuk pertemuan kita lagi, Liam sahabatku,” suaranya dalam dan serak, senyumnya cerah, berkharisma. Pria itu melebarkan tangannya, merangkul Liam. Di saat yang sama sang gadis menarik tangan dan berdiam diri dalam posisinya. Tak menoleh. Tatapan matanya lurus. Kosong.
James fokus padanya. Gadis muda bertubuh mungil dan montok, memiliki sepasang mata yang indah, bibir penuh, dan pipi bundarnya merona merah muda terpapar sinar matahari. Penampilannya kaku, tetapi James telah terbiasa. Ia menghabiskan tahun-tahun di Timur Tengah dan bertemu dengan para wanita yang berpenampilan layaknya orang suci.
Liam terkekeh. “Aku senang akhirnya kau melibatkan diriku dalam urusanmu kali ini, sahabatku.”
Ekspresi pria itu menggelap. “Maafkan aku, Liam.”
“Tidak, Husain. Tidak. Aku selalu ingin melakukannya untukmu. Ah, ya, ini James,” Liam menelengkan kepalanya ke samping. James maju dan mengulurkan tangannya kepada pria bernama Husain. Husain menyambut uluran tangan pria menarik di depannya dan menjabatnya kuat.
“Your Highness,” sapa James hormat.
“Mayor James Dalgliesh Brandon. Dari unit SEAL, yang terbaik dipasukannya,” Liam memperkenalkan.
Husain menganggukkan kepalanya dan tersenyum penuh keyakinan, “Ini putriku, Fatimah Sagaipova. Jika Jenderal McMillan sudah menjelaskannya---Husain menahan kata-katanya saat kedua mata teduh-nya menatap lebih dalam ke arah putrinya.
James mengerti.
“Yes, Your Highness. Putri anda akan berada dalam perlindunganku.”
Husain mendesah lega, menatap kepada putrinya. Ia meraih tangan Fatimah dan menyampirkan di lengannya. “Mayor Brandon, arah pukul sembilan.”
Fatimah membalik posisi tubuhnya ke arah yang dimaksud Husain. “Mayor Brandon---
James mengernyitkan alis. Tatapan Fatimah tidak tepat ke arahnya.
“Semoga aku tidak merepotkan anda.” Ia meletakkan satu tangannya di d**a, dan menganggukkan kepala dengan sikap anggun.
Bahasa inggrisnya sempurna, tetapi ada yang salah dengan posisi tubuh sang putri.
James menatap gadis muda di depannya dengan bibir mengerut penasaran. “Suatu kehormatan bisa mengawal anda, My Lady.”
“Mayor Brandon---Husain tampak menarik nafas sewaktu mengamati pria tersebut---putriku tidak dapat melihat. Itu mengapa ia tak menatap tepat ke arahmu.”
Holy s**t!