Ia akan merebahkan kepalanya pada bantal kecil yang ia letakkan di belakang tengkuknya, seraya membiarkan air hangat yang terasa begitu nikmat meredakan otot-ototnya yang pegal, jika memungkinkan ia akan mengundang seorang wanita dari panti pijat untuk membantu merilekskan tubuhnya dan menghilangkan sakit kepala mengerikan yang melandanya sejak pagi hari.
“Apa kau menyukai pilihanku?” tanya Fatimah yang menggenggam lengan kiri James dengan erat. Pria itu cukup tangkas mengimbangi sang putri. Bagi siapapun yang melihatnya, mereka tampak seperti sepasang kekasih yang menikmati berjalan-jalan di sore hari dengan perasaan bahagia. Ah, inilah tujuan sang putri menikahi James. Untuk menyentuh pria itu tanpa dibebani dosa.
Setelah ritual pernikahan yang mereka lalui, Fatimah menolak keras untuk segera kembali ke pondok perlindungan. Ia meminta James membawanya berjalan-jalan di daerah Manhattan. Sang putri bertekad keras untuk mendatangi salah satu rumah parfume di wilayah itu, mendesak pelayan toko menyiapkan parfum yang diracik secara rahasia dengan mengkombinasikan bergamot mint, tanaman akar wangi jenis vetiver dan salah satu tanaman dari spesies gennus pogostemon. Sang putri menginginkan aroma petualangan yang kuat di tubuh sang mayor.
“Entahlah, My Lady. Aku tidak pernah menggunakan parfum saat menjalankan tugas,” meskipun suara James terdengar datar dan wajahnya rata bak topeng tanpa ekspresi, bantalan ibu jarinya mengusap lembut botol mungil di dalam saku jaketnya.
Fatimah menyeringai penuh percaya diri, “Aku cukup pandai dalam memilih aroma. Kau akan menyukainya, Mayor.”
“Itu ucapan paling pongah yang pernah kudengar, My Lady.”
Fatimah merasa sedang diingatkan oleh perkataannya sendiri. Bibirnya mencebik jengkel, “Sungguh, Mayor, tidak mengherankan kau belum menikah sampai saat ini.”
“Aku baru saja menikah, My Lady,” kata James dengan nada menegur. “Denganmu.”
“Seharusnya kau melingkarkan cincin di jari manisku.”
“Aku melingkarkan cincin di jari manismu, My Lady.”
“Yang disiapkan ayahku, tentu saja.”
James mendesah tanpa suara. Ia merasa perutnya tenggelam seperti batu kilangan. “Kau melamarku kemarin, My Lady---”
“Itu bukan alasan kau tidak menyiapkan cincin untukku.”
Astaga!
“Maafkan aku.” James mengatakan dengan nada memutus percakapan lebih lanjut.
Ini pekan terakhir di bulan Desember. Kota New York bersolek sangat rupawan layaknya putri Sang Earl yang siap melakukan debut pertamanya. Kerlap-kerlip lampu di setiap sudut kota, patung Santa Claus dengan pet merahnya, pohon Natal besar, patung makhluk-makhluk mungil bersayap, dan kereta kuda berhias, sungguh membuat seseorang seperti memasuki negeri dongeng impian. Kalangan wanita trendi ibu kota berkumpul, bertekad merayakan natal dengan menghabiskan uang untuk mencicipi menu makanan mewah dan bertaruh memenangkan persaingan merebut berlian langka yang dipamerkan di galery perhiasan mewah. Para pria berkumpul di meja, membicarakan pesta Natal, pasar saham dan mobil sport keluaran perusahaan otomotif yang memiliki nama besar di seluruh dunia.
“Apa kau selalu memberi parfum kepada pengawalmu?” James memecahkan kebisuan mereka, berkata sambil lalu saat matanya mengawasi dua pria dari arah berlawanan.
“Tidak. Hanya kau. Kau yang pertama dan satu-satunya.”
New York dan perayaan natalnya yang tak pernah berubah. Tetapi kali ini, James tidak merayakannya. Dan mungkin tidak akan pernah lagi merayakannya.
James nyaris tersenyum. Ia menolehkan kepalanya ke samping kanan. Satu pria lagi dengan penampilan yang mirip. “Mungkin sebaiknya kau juga menandai Red dan Smith dengan parfum pilihanmu, My Lady,” sarannya. Tidak sungguh-sungguh. Ia memusatkan perhatiannya ke arah kiri sang putri, dua pria lagi, James menoleh ke belakang. Satu pria lagi. Bagus. Enam begundal sialan dan ia hanya memiliki satu pistol dart berpeluru ganda di balik pinggulnya dan dua pisau kecil di sepatu ketsnya.
“Tidak,” tepis Fatimah cepat. “Hanya kau yang perlu kuketahui keberadaanmu. Aku tidak peduli jika Red dan Smith tidak pernah kembali padaku.”
Dada James dialiri kehangatan yang asing. Ada tegangan tak tertahankan yang seolah akan memakan jarak di antara mereka. Setiap rambut di tubuhnya bangkit saat ia dibanjiri kesadaran yang panas yang ditimbulkan dari alunan menggoda sang putri.
Celaka.
Dengan susah payah, ia mengalihkan pikiran terpesona yang menjejali otaknya. “My Lady---ia melirik ke arah kanan dengan kalkulasi cermat yang berbahaya---pada hitungan ketiga, membungkuklah.”
“Membungkuk?!” mata sang putri yang berwajah masam itu melebar. “Apa kau pikir---
“Tiga!”
“Oh, aku benar-benar tidak menyukaimu, Jamie!” Fatimah membungkuk dengan wajah memberengut.
Lalu sesuatu yang mengerikan itu terjadi. Peluru-peluru yang berasal dari pistol berperedam memecah udara. Disusul teriakan histeris para pemakai jalan. Dengan ketangkasan yang mengagumkan, sang mayor menarik kedua pisau dari sepatu ketsnya dan melesatkan lemparan yang mematikan ke arah dua begundal di sisi kanan dan kiri, tepat mengenai jantung dan tenggorokan,
“MAYOR BRANDON!” Fatimah bergerak limbung, ia kehilangan sang mayor. “JAMES!” tubuhnya bergoyang tak tentu arah akibat sambaran orang-orang yang berlarian untuk menyelamatkan diri. Ia akan terjatuh. Benar-benar terjatuh dan terinjak. Syarafnya merayap dengan perasaan ketakutan yang tiba-tiba. “JAMIE!
Dua letupan lagi, dua derakan di udara. Peluru-peluru berjatuhan di sebelah kiri James. Sial, tak ada waktu untuk mengisi ulang peluru. James meraih tangan sang putri dengan keras, menangkap sebelum terjatuh dalam gerak marinir terlatih. Ia menggendong sang putri dengan meraih pinggangnya.
“Oh, astaga! Apa yang kau lakukan, Jamie?!”
“Menyelamatkan kita.”
“Ti-tidak begini. Oh, astaga!”
“Tidak bisakah kau diam saja dan kaitkan tungkaimu di pinggulku, My Lady?!”
James melesatkan satu tembakan yang tidak tepat sasaran. “Setan alas!” umpatan keras lolos dari mulut James. Dia tidak mengerti dari mana datangnya begundal sialan dengan persenjataan yang lengkap.
“Peluk aku, My Lady!”
“Tidak mau. Oh, ya Rabb---ini mengerikan---
“Kita dihujani peluru, My Lady---dan memelukku adalah pilihan paling menyenangkan saat ini!” Jika situasinya berbeda, dia benar-benar akan membanting sang putri.
Para begundal muncul bergerombol, James tak memiliki pilihan kecuali melompat ke jalan raya. Bertarung dengan puluhan kendaraan yang terjebak dan bertabrakan, nyaris menggilas siapa saja yang berada dalam radius terdekat.
Pria itu marinir terlatih, ia bergerak seperti ular kobra. Gesit, lihai dan tangkas menghindari serangan musuh. Ia melompati barisan mobil menuju sesemakan, berteriak dalam keadaan terekspos, memerintah kerumunan untuk mencari tempat perlindungan terdekat. Target utama adalah sang putri yang berada dalam gendongannya.
“Siapa mereka, James?”
“Perampok. Kurasa,” James tak mungkin mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.
“Apa peluru pistolmu mengenai salah satu dari mereka?”
“Beberapa orang. Kurasa.”
Fatimah menyeringai, “Kau pasti terlihat luar biasa.”
Oh, yang benar saja.
“Kita diserang, My Lady.” James memperingatkan dengan masam. “Oh, ya Tuhan---ini natal terburuk yang pernah kualami.”
“Kau bukan lagi bagian dari perayaan ini, Mayor.”
James melirik sinis gadis keras kepala dalam gendongannya. “Terima kasih sudah mengingatkanku, istriku.”
“Tidak usah sungkan, suamiku.” Fatimah terkikik.
Mereka diserang belasan musuh dan sang putri masih bisa tertawa!
Peluru menyambar seseorang di sebelah James, tidak mengenai organ vital. Jadi para penyerang bukan penembak yang cukup jitu. Tetapi fokus utama James adalah sang putri. Ia meninggalkan korban, melompat ke sebelah kiri, menjejak di tanah lunak. Sekali lagi, meraup sang putri dalam pelukan kuat dan aman sebelum merendahkan tubuhnya, dan meluncur jauh ke sebelah kanan.
“Jamie,” Fatimah membisikkan nama sang mayor saat ia menyeruk ke leher pria itu dengan kedua tangan merangkul erat punggung James, meletakkan kehidupannya pada pertarungan sang mayor.
“Tenanglah,” kata James di telinga Fatimah, suaranya membelai dengan kelembutan yang menenangkan. Seolah-olah sang putri adalah anak kuda yang biasa ia jinakkan saat ia melewati masa remaja di Alabama. “Apakah menurutmu aku akan membiarkanmu terluka, My Lady?”
Karena ia tak akan gagal lagi untuk melindungi seseorang di sisinya.
“Tentu saja tidak,” rasa gugup merambat di perut Fatimah saat ia memikirkan berada dalam belas kasihan pria kebal dan kompeten ini. James digerakkan oleh tanggung jawab, bukan oleh keinginan dasar pria itu. “Kau harus menjagaku tetap hidup. Aku ingin jatuh cinta, dipinang, menikah dan melahirkan anak-anak yang lucu.”
“Kau sudah menikah, My Lady.” James memperingatkan dengan nada masam ketika ia berdiri dan melompat melewati tanah berlumpur. “Denganku.”
Fatimah memberengutkan wajah. “Tapi kau tidak memberiku cincin.”
“Apakah cincin dariku begitu penting untukmu, My Lady?”
“Sungguh, Mayor, aku mengerti mengapa kau baru menikah setelah kulamar,” geram Fatimah.
“Terima kasih, My Lady.”
James memutar tubuhnya, menatap ke arah dua orang begundal yang berlari sambil mengisi peluru dan seorang lagi bergerak seperti bayangan. James mengarahkan pistolnya, membidik sementara satu tangannya mendekap sang putri. Satu peluru, tiga target. Peluangnya dalam keberhasilan ini hanya ‘satu dalam satu juta kemungkinan.’ Tetapi ia sudah pernah melakukan hal ini di Afghanistan.
Dua ratus meter dari sasaran, James melepaskan tembakan. Peluru mengenai begundal yang sedang memegang pistol, tepat di kepala. Tembus. Dan kemudian mengenai d**a begundal yang tepat berada di belakang begundal pertama. Peluru tersebut juga tembus, mengenai pohon elm. Pantulannya kemudian mengenai kepala bagian kiri begundal ketiga. Mereka tewas seketika.
“DAMN IT!” terdengar raungan bak banshee gila dari gerombolan yang lain disusul tembakan membabi buta.
Bukan pakar. Juga tidak bagus.
James melesat secepat sapuan angin, menyeberangi tanah berlumpur menuju pohon oak tua. Bersembunyi bersama sang putri dari tembakan beruntun yang tak terarah. Fatimah tertawa, tiba-tiba merasa bebas, anonim disuatu tempat yang asing. Ia menarik diri dari James dan menengadahkan wajahnya ke udara, menghirup aroma kematian dengan senyumnya yang memikat.
James tercengang, terpana pada wajah muda, luar biasa cantik dan gembira. Sesaat ia teralihkan dari suara letupan peluru, teriakan geram dan umpatan keras para begundal. Ia hanya fokus pada wajah cantik di depannya, nyaris tak mengenal dirinya sendiri dari reaksinya terhadap wanita muda dalam gendongannya. Fatimah begitu hidup, seperti bunga Amarylis yang tetap mekar di musim dingin yang menggigit. Dibandingkan gadis pesolek yang mengikuti ajang pemilihan wanita tercantik sejagad dan berharap dapat membidik pria berdompet tebal, Fatimah jelas wanita muda yang berbeda. Gadis ini masih secantik pertama kali ia melihatnya, dan penuh kejutan seperti sebelumnya. Tertawa diantara hujan peluru, tertarik pada jumlah musuh yang James lumpuhkan, ketika wanita lain berburu gaun terbaru rancangan desainer ternama.
Dulu James berpikir medan perang adalah tempat yang paling cocok untuknya. Ia tidak suka setiap kali ia ditarik dari medan peperangan. Tetapi, untuk pertama kali dalam hidupnya ia tidak menyesal keluar dari zona nyamannya dan berada disini, disisi sang putri.
“Kita dihujani peluru yang nyaris membunuh kita dan kau tertawa, My Lady,” James mengingatkan dengan nada yang sengaja dirancang ketus. “Apakah kau sedang menertawai kematian?”
Jika ada seseorang yang pantas mendapatkan nobel atas kesuksesannya memadamkan semangat orang paling bahagia, maka Mayor James Brandon lah orangnya. Tetapi Fatimah mulai terbiasa mengabaikan sikap muram dan suara ketus sang mayor.
“Aku adalah burung dalam sangkar emas, James. Hari ini sangkarku terbuka, dan aku sedang mengepakkan sayapku sekarang. Apakah aku tidak boleh tertawa ketika aku melayang di angkasa dalam kebebasan?” Fatimah menjawab dengan nada menegur. Wajahnya memberungut masam.
Anehnya, James menyukai ekspresi cemberut sang putri. Ia mengintip musuh dari balik pohon, “Kau tidak seperti burung yang dikurung dalam sangkar emas, My Lady. Kau seperti binatang liar yang terikat, lalu dibebaskan,” gumam sang mayor, suaranya mengandung tawa.
Fatimah mendesah, “Mengenai hal itu, kau tidak keliru.” Ia merapatkan tubuhnya pada James, menempelkan dagunya di bahu kuat pria itu. “Aku tidak akan mendebatmu lagi, tapi bisakah kau beritahukan padaku situasi kita sekarang?”
James mendengus, “Lebih dari delapan belas pria bersenjata, empat di sayap kiri dan lima yang lain tengah melompati gundukan terjal dan mengarah pada kita,” pria itu mengisi peluru dengan satu tangan. Gerakannya metodis, dan mahir dalam melakukannya.
“Kesempatan hidup?” Fatimah berbisik, erat membungkus punggung James dengan kedua lengan mungilnya.
James menolehkan wajah pada Fatimah, rahangnya yang kasar menyentuh pipi sang putri yang selembut pualam. “Satu persen.”
Fatimah mengerucutkan bibir, “Aku bahkan belum pernah berciuman.”
Bibir sang mayor tertarik membentuk lengkungan geli. “Perawan suci, heh?” ia membidik dalam posisi miring, akurat. Oak tua berusia ratusan tahun menjadi tembok perlindungan. Sekali bidik, ia bisa menembus tiga musuh. Dua orang sisanya bisa ia selesaikan dengan suriken. Dan belasan lainnya?
Plan B.
Menceburkan diri ke sungai.
“Aku akan melepaskan tanganku. Tetap berpegang padaku, My Lady.”
Sang putri menyerukkan wajah ke leher James. Kedua kaki dan tangannya menahan bobotnya di tubuh James.
“Aku menyukai aromamu, Mayor.” Pelan, mata cantik yang buta itu terpejam.
James mendengus, merundukkan mata menatap Fatimah. “Genit.”
Fatimah menahan senyum dan berdecak. “Aku bercita-cita tidak mati sebagai perawan.”
Jika setiap inchi kulit wanita lain akan merasa ketakutan, Fatimah tidak.
“Dikabulkan,” James melesatkan satu tembakan dengan teknik pemantulan yang akurat. Secepat shuriken melayang ke arah dua begundal lainnya, tepat mengenai jantung. Disusul jerit kesakitan, lalu diikuti tembakan beruntun.
James menjatuhkan tubuh mereka ke tanah dan berguling ke arah gundukan batu. Menarik tubuh mungil Fatimah ke pangkuannya. Sungai di depan. Sepuluh meter, ia bisa menempuhnya kurang dari lima detik---jika sendiri.
Derap langkah mendekat. Mengandalkan pendengaran, James berhitung. Lima belas musuh, kurang dari dua puluh lima langkah, memencar. Baiklah, metode zig-zag. Dia bisa menghindari tembakan di kepala dan menumbalkan punggungnya.
“My Lady,” James berbisik. Suaranya terdengar tenang, dan berani. “Kita akan sedikit terluka.”
“Um, baiklah,” sang putri balas berbisik, “Asal jangan katakan kau akan mati.”
James mendengus.
“Kau bahkan belum menciumku setelah mengambilku dari ayahku.”
“Astaga!”
James mengetatkan lingkaran lengannya di punggung dan pinggul Fatimah. "Sekarang mulailah berhitung."
"Jadi, jumlah mereka semakin banyak?"
"My Lady."
"Kau keberatan jika aku membaca murothal? Aku memilikinya di kepalaku." Fatimah mendesah, "Aku selalu melakukannya setiap kali aku gugup."
"Baiklah. Lakukan saja." Dan James bergerak gesit berpindah dari satu titik aman ke titik aman yang lain dengan acak diiringi lantunan suara lembut Fatimah dalam melafadzkan ayat-ayat Tuhan-Nya. Peluru dilontarkan ke arah James. Ia terdesak, tetapi menyerah bukan kata yang dikenalnya. Lagi pula suara sang putri begitu indah jika ia harus berhenti sekarang.
Lalu suara tembakan dari arah lain.
Bibir James melekuk, membentuk senyuman puas. Ia berhenti di balik pohon oak berusia ratusan tahun dan merengsek ke tanah. Punggungnya bersandar letih pada batang pohon. Kedua tangannya mendekap pinggang sang putri saat ia berupaya menormalkan tarikan nafas dan detak jantungnya.
“Kita berhenti, Jamie?”
James membuka mata, sedikit menunduk, melihat sang putri yang menyerukkan wajah ke lehernya.
Situasi ini terasa...manis.
Sialan.
“Ya.”
“Kau menyerah? Kita akan mati disini?”
James tersenyum tipis, nyaris tak tampak. “Tidak. Dan tidak.” Ia berdiri dan mempertahankan posisi Sang Putri tetap berada dalam gendongannya.
“Tapi---
“Sir!”
“Your highness!”
Baiklah. Sepertinya kali ini James boleh membanggakan diri.
Red dan Smith. Dua prajurit pilihannya yang menjadi mahir di bawah pelatihannya.
Dan belasan begundal lainnya? Well----mati konyol.
***