Rio PoV
Nama Gue Mario Alphaleus Lawrence. Anak dari pasangan Jimmy Daniel Lawrence dan Tina Septiana Lawrence. Papa lahir dan besar di Manhattan, New york dan Bunda di Indonesia, tapi karena semua pekerjaan Papa ada di Manhattan akhirnya mereka memutuskan menetap di Manhattan. Gue bukanlah anak tunggal, Gue punya Saudara yang udah berkeluarga dan dia juga pewaris dari perusahaan milik Papa sedangkan Gue memilih membangun perusahaan Gue sendiri. Sebuah perusahaan swasta kecil yang menyediakan jasa detektif
Awalnya Gue cuma iseng menyelesaikan beberapa kasus saat Gue masih duduk di bangku SMA, tapi akhirnya gue mulai tertarik dengan dunia itu dan Gue pun menyelaminya. Saat kuliah gue punya ide buat bangun sebuah rumah para detektif jenius, Gue pun mengajak beberapa teman kuliah yang hoby nya mirip sama Gue untuk bergabung dan terciptalah perusahaan bernama Marios Brouner
Dan sekarang perusahaan Gue bahkan sudah bekerjasama dengan polisi setempat untuk menyelesaikan beberapa kasus yang terjadi. Kami menyelesaikan hingga sepuluh kasus perhari. Bisa dibilang perusahaan kami adalah gudangnya para detektif termasuk Gue sama tiga temen gue. Beda sama yang lain kami hanya mengurus satu kasus, itu juga kalau customer kami bisa membayar kami hahaha...
Ayolah…zaman sekarang siapa yang tidak memerlukan uang. Tentunya Gue masang harga yang layak untuk kualitas yang layak. Kemampuan kami tidak bisa diragukan lagi maka dari itu harga kami sangat mahal. Hanya orang berdompet tebal dengan masalah yang berlimpah yang bisa menyewa kami untuk menyelesaikan masalahnya
Deringan ponsel berbunyi. Gue yang sedang menonton TV merasa tergaggu. nama Dhanni di layar ponsel membuat gue berdecih. Ini manusia nggak bisa biarin gue liburan apa? Siapa sih bossnya sebenernya? Boss kok nggak bisa liburan(?)
Yah…asal kalian tau gue lagi liburan di tanah kelahiran nyokap Gue, Ibu Tina Septiana Lawrence yang terhormat. Yap…gue berada di Indonesia sekarang dan dengan tidak berperi ketemanan, si kupret Dhanni dari kemarin ganggu gue soal misi penting. Gue mengangkat panggilan dengan malas
“Awas saja jika kau mematikan paggilanku lagi seperti kemarin” belum mengucapkan apa-apa, Gue udah dapat ancaman dari Dhanni
“Iya iya baiklah…apa? Ada apa? Awas saja kalau tidak penting, aku akan menguburmu hidup-hidup”
“Kita dapat pekerjaan. Mencari Bandar narkoba”
“Terus?”
“Aku mendapat informasi dia masih kuliah”
“Terus?”
“Dia di semester tiga”
“Hm”
“Kau harus kembali”
“Itu saja? Kalau Cuma itu kenapa kau meghubungiku? Kemana pekerja yang lain? Tidur? Kencan? Makan siang? Oh…ayolah mencari Bandar narkoba itu mudah apalagi kalau kau sudah tau keberadaannya. Kenapa harus aku? Aku sedang berlibu—“
“Mereka membayar mulai dari $10.000 dan itu bisa bertam—“
“Aku kembali sekarang”
****
Normal POV
Jarum jam menunjukkan pukul dua pagi. Angel tidak meyangka jika dia menyelesaikan pekerjaannya secepat ini, biasanya dia baru selesai saat pukul tiga bahkan lebih. Sebelum ke rumah, Angel menyempatkan diri ke markas mereka. Dia mengambil ponsel dan mengubungi rekannya yang lain
“Kau sudah selesai?” Tanya Angel kepada seseorang di sebrang sana, dia kemudian duduk di sofa yang telah di sediakan
“Hampir, tinggal menunggu Adik tercinta mu itu buang air besar di toilet” jawab Eagle, yang dia maksud adalah wolf. Anak yang Angel pungut beberapa tahun silam
“Baiklah, cepat kemari”
“Baiklah, kami segera datang” Angel menurunkan ponselnya bersamaan dengan Nick yang datang dengan segelas teh hangat dan memberikannya untuk Angel
”Buat dirimu hangat”
“Terima kasih” ujar Angel, Nick hanya mengangguk singkat kemudian pergi dari sana
Angel memiliki rasa yang lebih pada Nick tapi seolah menutup mata dan telinganya, setiap perhatian Angel dianggap biasa oleh Nick. Nick dan Angel besar bersama-sama itulah mengapa Nick menjadi orang yang paling mengerti Angel. Nick adalah anak supir dari Ayah dan Ibu Angel.
Angel hanya bisa tersenyum miris melihat punggung Nick yang kian menjauh. Dia sangat dekat tapi tak pernah bisa Angel jangkau. Mungkin selamanya Nick akan menganggapnya sebagai atasannya
“Carlos, Kau tadi hebat sekali. Pelurumu membunuh dua orang sekaligus” terdengar suara Eagle dari arah pintu. Angel menepuk jidat merutuki kebodohan Eagle. Untungnya Apartemen yang dia sebut Markas ini hanya dihuni oleh mereka, sehingga tidak ada orang yang bisa mendengarnya
Eagle dan Wolf pun tiba di ruangan dimana Angel berada “Tidak bisakah kau mengencangkan suaramu lagi? Siapa tahu ada orang yang mendengar dan kita pun masuk penjara?” ujar Angel sarkas, Eagle hanya menggaruk kepalanya merasa bersalah
“Hehehe…maaf, aku hanya takjub dengan Wolf. Kau tau dia membunuh dua orang dengan hanya mengandalkan satu peluru” ujar Eagle. Wolf sang bintang utama malah acuh tak acuh dan melenggang pergi ke belakang
“Kau juga seharusnya meniru dia”
.
.
.
“Nick!” panggil Wolf. jarang sekali Wolf mengajaknya bicara seperti ini, sepertinya ada hal yang penting yang mau ia sampaikan. Nick yang sedang membuat teh pun menghentikan aktifitasnya “Ya?”
“Bagaimana Kau dan Angel?” Tanya Wolf. Sebenarnya agak tidak nyaman mengatakan itu tapi Wolf tau jika mereka masing-masing memendam rasa yang sama hanya saja entah karena apa, Nick selalu menolak Kakaknya, Wolf agak khawatir kalau nanti Angel tersakiti karena Nick yang terus saja menghindar. Wolf sebenarnya bukan adik Angel hanya saja, Angel memungutnya waktu itu. Nick diam sambil memasukan beberapa balok gula dan mengaduk tehnya
“Baik” jawaban singkat itu tentu bukan jawaban yang ingin Wolf dengar. Wolf sudah menduganya kalau dia akan terus menghindar “Jangan salahkan aku jika aku menjauhkanmu darinya. Aku tidak ingin dia terluka” ujar Wolf kemudian pergi ke depan setelah mengambil dua kaleng minuman di dalam lemari es
“Justru aku berterima kasih padamu, aku tidak ingin dia terlibat masalah ini dan tau yang sebenarnya” Gumam Nick
.
.
.
“Banyak sekali batangan emas di bawah kasurnya. Aku tidak habis pikir, uang sebanyak itu dia dapat dari mana sedangkan jabatannya hanya seorang Walikota” cerocos Eagle menceritakan pengalamannya melihat bongkahan emas sebanyak itu secara live. Wolf datang dan melemparkan satu kaleng minuman kepada Eagle yang dengan sigap ia tangkap. Angel menyesap tehnya
“Aku kira setelah beberapa tahun ‘bekerja’ kau akan tau trik kotor para pejabat untuk memperkaya diri, ternyata tidak” ujar Angel sementara Wolf menjatuhkan dirinya di samping Angel. Di ruangan ini hanya ada dua sofa single dan satu sofa panjang yang cukup sampai empat orang. Eagle dan Wolf mengapit Angel di kanan dan kirinya
“Cih…maksudku itu sangat banyak. Jika pekerjaannya hanya korupsi itu mustahil, pasti dia punya pekerjaan lain” ujar Eagle, dan saat itulah Nick datang dengan membawa nampan berisi teh hangat “Sudah malam. Minum ini” ujar Nick. Eagle menatap teh dan minuman di tangannya bergantian akhirnya dia pun menaruh kaleng itu dan mengambil salah satu teh di atas nampan “Thank's Nick”
Sedang Wolf mengacuhkannya, Angel yang melihat itu lagsung menyuruh Wolf meletakan minuman dinginnya “Minum teh itu atau kau tidak bisa sekolah besok” ujar Angel. Yah… Wolf memang masih berstatus sebagai pelajar, dia duduk di bangku SMA. Selama ini Angel berperan sebagai wali fiktif Wolf
“Aku benci minuman hangat” ujar Wolf, Angel hanya mengangkat bahunya. Menurutnya Wolf sudah dewasa. Dia tau apa yang baik dan tidak baik untuk dirinya
“Oh…ya. Mengenai pria yang kau maksud Eagle, bisakah aku melihat profilnya?” Tanya Angel. Karena perkataan Eagle membuatnya ikut penasaran. Eagle memang selalu menyimpan profil lengkap dari target-target mereka. Eagle pun memperlihatkan profil orang yang dimaksudnya yang tersimpan dalam gawai miliknya. Angel meneliti foto dari target dan membaca tiap bait kata disana sampai dia teringat kalau dia mengenal orang itu. Angel tersenyum sinis dan mengembalikan gawai itu kepada Wolf. Wolf mengunggu jawaban Angel
“Dia anak buah Marcus. Pantas jika dia punya banyak uang” jawab Angel. Marcus adalah ketua gembong penjahat terbesar di Manhattan, pengikutnya sangat banyak bahkan sampai keluar Newyork. Dia orang yang berbahaya tapi Angel lebih berbahaya
“Cih…tidak ku sangka, pengikutnya sampai menembus pegawai pemerintah” ujar Eagle memberi komentar, tak habis pikir dengan Walikota itu, dia merusak kota yang di serahkan padanya. Untung Wolf sudah membunuhnya tadi
Angel tersenyum miring. Marcus memang sampah tapi antek-anteknya yang berkedok malaikat lah yang lebih dari sampah “Kita lihat saja, seberapa panjang sayapnya melebar”
“Kau akan melakukan apa padanya?” Tanya Eagle, dia merasakan aroma memunuh dari diri Angel “Aku ingin menggantikannya”
****
Jam menunjukkan sudah pukul tiga dini hari. Angin malam yang menusuk tidak mengurungkan niat Rio untuk pulang ke rumah, angin dingin itu menerpa wajah dan seluruh tubuhnya.
Sial sekali dirinya karena harus menunggu di pinggir jalan untuk sampai di rumah karena tidak ada taxi yang lewat “Gila…kesialan gue hari ini nggak tanggung-tanggung amat. Sampe dimari malem, berjam jam di pesawat diem kek patung liberti terus sekarang Gue nggak tau baliknya gimana” dumel Rio. Dia memang sudah terbiasa dengan bahasa Indonesia.
Rio mulai mencari nomor siapa saja yang bisa dihubunginya untuk menjemputnya di bandara tapi tidak ada satupun dari mereka yang menjawab panggilan darinya “Dhanni kampret. Katanya Gue suruh balik. Giliran Gue dah balik tu orang nggak ada tanggung jawabnya sama sekali” kekesalan Rio bertambah ketika dalang dari rusaknya liburan miliknya tidak bisa ia hubungi
Akhirnya setelah tiga puluh menit diselimuti angin dingin, terlihat taxi yang lewat. Segera saja Rio menghentikan taxi itu dan masuk kedalamnya
Setelah perjuangan yang panjang dan melelahkan Rio tiba di rumah megah miliknya. Satpam yang berjaga disana langsung membukakan gerbang begitu melihat Tuan mudanya pulang.
Rio pikir kesialannya sudah berhenti sampai disini tapi ternyata tidak, pintu megah di depannya dikunci dari dalam “s**t!…ini sengaja ya pada ngerjain Gue? Mana sih kameranya? mana? Kalo mau ngeprank nggak lucu banget. Unfaedah banget ngerjain gue. Orang besar bukan artis juga bukan, kan nanti nggak bisa pansos, ngapain coba kerjain Gue” cerocos Rio kesal sedangkan Satpam itu menatap bingung Tuannya karena tidak mengerti ucapannya
“Apa kau punya kunci cadangan rumah?” Tanya Rio. Walau mustahil Tina memberikan Satpam ini kunci cadangan “Ya Tuan. Sebentar Saya ambilkan”
Rio melongo, sedetik kemudian dia merasa kesal, rasanya ingin memakan kepala orang didepannya ini. Kenapa tidak dari tadi satpam ini memberikannya kunci, Rio mengusap wajahnya kasar menahan amarah. Dalam hati dia melontarkan sumpah serapah kepada satpam itu “Ya Tuhan, berkahilah orang di depanku ini dengan akal dan pikiran tambahan, maklum bodohnya minta ampun, polosnya minta dicekik”
Rio pun akhirnya berhasil masuk ke dalam rumah. Rumah sudah tampak sepi, penghuninya mungkin sudah terlelap. Rio hanya menghela napas, jauh-jauh dari Indonesia dan pulang kemari tapi sama sekali tidak ada yang menyambutnya
****
"Kalian ingat Erika?" tanya Angel kepada wolf, Eagle, dan Nick
"Anak SMA yang tinggal tidak jauh dari sini kan?" ujar Eagle
"Ya. Kudengar dia diculik Wellington . Tua bangka itu selalu saja membuatku jijik"
Seorang pejabat yang Angel benci menculik gadis itu untuk dijadikan jalangnya. Sungguh p*****l yang menjijikan
Tentu saja Angel tau itu karena dia punya akses yang sangat luas ditambah dengan keahlian Eagle dalam bidang intel
"Oke kami mengerti" ujar Wolf
"Eits.....siapa bilang kalian akan bekerja sama? Eagle kau urus gadis itu dan Wolf kau culik anak pejabat itu"ujar Angel. Biar si tua itu merasakan bagaimana berpisah dengan anaknya
"Baik/Okelah"ujar Wolf dan Eagle bersamaan
Setelah berdiskusi dan memilih target berikutnya, Angel dan Nick akhirnya memutuskan untuk pulang. Mereka juga punya kehidupan sendiri, kehidupan yang lain. Bukan sebagai pembunuh tapi sebagai orang biasa
Setibanya mobil mereka di depan hunian megah milik Angel terlihatlah dua orang satpam disana yang membukakan pintu dengan wajah berseri. Angel turun sebelum mobil itu masuk ke dalam halaman rumah. Angel menghampiri dua satpam itu dan memberikan mereka sejumlah uang untuk menutup mulut
“Kalian ingat perjanjiannya” ujar Angel, mereka mengangguk. Ini adalah perjanjian Angel dengan satpam itu untuk menutupi rutinitas dirinya di malam hari, Angel akan memberi sejumlah uang untuk menutup mulut mereka. Itulah alasan wajah mereka selalu berseri jika Angel tiba-tiba pulang pada dini hari padahal mereka tidak pernah tau kapan Angel pergi dan mereka tidak tau apa yang majikannya dan bawahannya lakukan hingga pulang selarut ini
Angel tersenyum sinis kemudian kembali memasuki mobil. Nick pun melajukan mobil ke dalam rumah tepatnya di garasi bawah tanah rumah ini. Angel mengutak atik smarthphone berbentuk jam ditanggannya untuk memanipulasi CCTV di rumah ini khususnya ketempat-tempat yang akan Angel dan Nick lewati, membuatnya seakan Angel dan Nick tidak pernah kesana tapi CCTV itu masih dalam keadaan hidup. Setelah selesai barulah mereka keluar seusai memarkirkan mobil
“Ini sudah sangat malam. Mereka pasti sudah mematikan lampunya. Apakah Nona perlu bantuan Saya untuk naik ke atas?”
“Tidak. Aku bisa sendiri. Lagipula ini sudah larut, kau perlu bangun pagi untuk bekerja bukan?” Nick mengangguk kemudian izin pamit undur diri. Angel langsung menjatuhkan dirinya diatas kasurnya begitu sampai dikamarnya. Dia menunggu satu menit untuk kembali menyalakan CCTV seperti biasa, satu menit adalah waktu yang dibutuhkan Nick untuk sampai ke kamarnya. Angel pun kemudian terlelap, hari ini begitu melelahkan
****
Pagi-pagi sudah terdengar suara gaduh dibawah. Dalam keadaan setengah sadar Rio menyumpahi siapapaun yang berbuat gaduh sepagi ini. Ayolah…apa mereka tidak bisa membiarkannya tidur? Rio baru saja tidur dini hari tadi, tolong mengertilah…sepertinya kesialan untuk kesekian kalianya akan menghampiri Rio hari ini
“ARRRGGHHH… pagi-pagi udah kek pasar ni rumah, nggak tau apa kalau gue ngantuk banget” kesal Rio, akhirnya dia pun memutuskan untuk turun, hanya untuk memberitahu mereka agar tidak berisik dan kembali tidur
Suara itu semakin keras terdengar dikepala Rio, denyutan di kepalanya pun kian terasa. Rio melongokkan kepalanya melihat ke bawah tepatnya ke meja makan di bawahnya. Kamar Rio memang berada di lantai dua
“BERISIK BANGET SIH KEK ONTA MAU LAHIRAN… Kak berhenti debat sama anak Lu. Malu, nggak etis banget berantem sama bocil kasian noh Bini Lu sampe pusing, dan Pa berhenti debat sama Bunda. Percuma Bunda maha benar disini” ujar Rio. Semuanya malah melongo melihatnya
Cling….
Sendok sayur yang dipegang Tina malah jatuh ke lantai. Sedetik kemudian mereka sadar dengan wajah yang sulit ditebak “Bun, itu Rio?” Tanya Let, Kakak Rio. Tina mengangguk dengan wajah kebingungan “Sepertinya begitu”
“Aku kira udah mati dimakan dugong” ujar Let dengan wajah yang sangat menyebalkan dimata Rio. Empat sudut siku-siku muncul di dahi Rio, rasa kantuknya raib seketika mendengar ucapan Let, tangannya terkepal menahan amarah
“Jadi Lu pengen gue mati hah?” sungut Rio. Dia memang lebih senang menggunakan bahasa Indonesia yang tidak formal jika berhadapan dengan Kakak atau Ibunya
“Hah? Apa? Aku tidak bilang seperti itu” ujar Let dengan wajah tidak bersalahnya.
Ashlyn, istrinya sudah tertawa sejak tadi begitupun Tina dan Jimmy tak terkecuali anaknya Blair yang ikut tertawa melihat Ibu, Kakek, dan Neneknya tertawa.
Ashlyn dan Jimmy memang kurang paham dengan ucapan Rio hanya saja ekspresi tidak bersalah Let membuat mereka juga tertawa. Walau sudah beberapa tahun hidup bersama Sang Istri yang notabennya orang Indonesia, Jimmy belum paham betul bahasa Indonesia yang menurutnya rumit. Tentu saja Jimmy berpendapat seperti itu, Bahasa Indonesia termasuk kedalam jajaran bahasa tersulit di dunia.
Rio mengusap wajahnya kasar. Let selalu saja membuatnya kesal. Tanpa mau meladeni mereka lagi, dia bergegas kembali ke kamar
****
Leta merasakan seperti ada lem perekat yang merekatkan kelopak matanya agar senantiasa tertutup. Tentu saja dia merasa seperti itu pagi ini karena dia pulang sangat larut–pagi
Tok…tok…tok…
“Nona…apa anda sudah bangun? Tuan dan Nyonya sudah menunggu anda di meja makan” ujar pelayan dari balik pintu kamarnya, dalam keadaan mengantuk Leta menjawab “Egh…baiklah aku akan segera turun”
Dengan malas Leta berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai, dia sudah siap dengan setelan formal untuk pergi kuliah karena hari ini dia mendapat kuliah pagi
Leta menuruni tangga. Tatapan lembut sang Nyonya rumah menyambutnya dengan hangat “Kemarilah…kita makan bersama” ujar Marry, Ibu dari Leta, Leta hanya membalas dengan senyuman kecil. Leta pun duduk di depan Saudarinya yang menatapnya kesal—Selena
“Apa kau sengaja membuat kita menuggu hah?” cecar Selena. Leta mengambil sandwich miliknya “Aku tidak menyuruhmu menungguku” jawab Leta santai
“Heh…itukah balasanmu kepada keluargaku yang telah menyelamatkanmu?”
“SELENA!” teriak Marry memperingatkan. Leta memang bukan anak kandung dari Marry dan Joe. Mereka mengangkat Leta sebagai anaknya. Bagi Marry, Leta seperti anaknya sendiri, tidak seharusnya Selena mengatakan hal itu
“Apa? Mom mau membelanya lagi? Silahkan. Kadang aku berpikir siapa anak kandungmu, aku atau dia?”
“SELENA JAGA UCAPANMU!”
“Marry tenanglah. Dia anakmu seharusnya kau lebih mengerti dia, dia hanya sedang kesal. Dan…Leta jangan memasukan perkataan Adikmu dalam hati ya” ujar Joe menengahi. Joe sangat menyayangi Selena, Leta memaklumi itu karena dia hanya anak angkat, sehingga dalam ucapannya Leta tau jika Joe sedang membela Selena
“Ya” balas Leta kemudian meminum susunya. Membereskan barangnya, untuk segera ke kampus. Bertepatan dengan Nick yang datang ke maja makan. Nick adalah orang yang dipercaya Joe untuk menjaga anaknya, sehingga Nick juga berperan sebagai supir jika anaknya hendak keluar
Mata Selena langsung berbinar melihat kedatangan Nick. Dengan cepat dia menghabiskan sarapannya dan menghampiri Nick “Ayo kita berangkat Nick” ujarnya sambil merangkul lengan Nick.
Nick terlihat risih tapi dia tidak bisa berbuat apapun, dia melirik Leta sekilas, Leta mengangguk sebagai tanda kalau dia juga sudah siap. Hari ini Selena akan berangkat sekolah sedangkan Leta berangkat berangkat kuliah
“Kalau begitu kami pergi dulu” ujar Selena. Nick membungkuk hormat kemudian Selena menarik Nick keluar
“Hati-hati dijalan”
.
.
.
“Nick aku ingin duduk di depan bersamamu ya” ujar Selena. Leta memandang kesal bocah di depannya, bisa-bisnaya dia terang-terangan menggoda seorang pria dewasa
“Maaf Nona, tapi Anda harus duduk di belakang untuk keselamatan Anda”
“Tapi kenapa?”
“Tinggalkan dia jika dia tidak ingin pergi” ujar Leta sarkas kemudian langsung memasuki mobil. Jika Nick terus meladeni bocah itu, bisa-bisa dia telat ke kampus
Selena memandang sinis Leta. Kenapa anak pungut itu selalu saja ikut campur masalahnya? “Nick ayolah…biarkan aku di depan ya” ujar Selena memohon.
Nick menghela napas kemudian mengangguk. Sebenarnya Nick tidak mau jika Selena duduk di depan tapi Nick tidak bisa membantah majikannya
Selena bersorak gembira kemudian langsung memasuki mobil. Sepajang perjalanan Selena terus saja merangkul lengan Nick, dan Nick sendiri hanya diam tak berusaha melepaskan diri dari Selena itu membuat Leta kesal dia pun memilih mengutak-atik ponselnya
to : Carlos
Kau sudah berangkat?
Ya
Baguslah
Ada apa?
Maksudmu?
Kau menghubugiku. Ada apa?
Kau memang selalu tau apa yang
kupikirkan
Aku mau kau berbuat sesuatu pada Selena
Baiklah
Leta tersenyum licik karena Carlos langsung mengiyakan perkatannya. Carlos satu sekolah dengan Selena membuat Leta dengan mudah menjahili bocah itu. Tanpa Leta ketahui Nick sempat melirik Leta dan melihatnya tersenyum licik. Pasti dia akan melakukan sesuatu pada adiknya, lagi
Mereka pun sampai di sekolah Selena dan Nick kembali melajukan mobilnya untuk mengantar Leta ke kampusnya
****
Carlos tiba beberapa saat yang lalu, dia langsung menuju kelas dan duduk di bangkunya di barisan belakang paling pojok. Carlos tidak suka keramaian, ia lebih suka menyendiri. Sampai saat ini pun dia tidak memiliki teman walau ada satu orang yang selalu mengusik hidup tenangnya di sekolah
“Selamat pagi semuanyaaa” teriakan menggema dari seseorang diambang pintu. Carlos menutup telinganya dengan earphone. Sungguh pagi ini dia tidak ingin di ganggu laki-laki bodoh itu. Dia Michael, teman yang membuat Carlos kehilangan suasana hening miliknya
Michael melirik kearah bangku belakang dimana Carlos duduk dengan sepasang earphone di telinganya kemudian tersenyum jahil. Dia mendekati Carlos dan duduk di bangku di depan meja Carlos “Pagi Carl. Hey kau sedang mendengarkan lagu apa?”
“Immagination” jawab Carlos singkat dengan harapan Michael berhenti bertanya tapi itu seorang Michael, pria ter berisik di kelas. Dia tidak akan mungkin berhenti berkicau “Benarkah? Kau suka lagu itu? Aku juga suka tapi sekarang aku sedang menyukai lagu-lagu lawas”
Carlos hanya melirik sekilas. Tiba-tiba lagu yang diputarnya berhenti dan sebuah suara bel memenuhi gendang telinganya pertanda jika ada pesan masuk. Dengan segera Carlos membuka pesan itu yang ternyata dari Leta
Michael yang melihat Carlos berbalas pesan dengan seseorang pun merasa penasaran. Dia melongokkan kepalanya melihat ponsel Carlos “Ehem..ternyata…ehem…Carlos kita sudah mempunyai pacar, pantas jika dia selalu menolak perempuan” ujar Michael dengan suara yang lantang. Carlos langsung bangun dan menarik kerah baju Michael
“Apa saja yang kau lihat tadi?” Tanya Carlos dengan mata waspada. Gawat jika Michael sampai membaca pesannya dengan Leta. Michael terlihat biasa saja “Santai Bro. aku juga punya sopan santun. Aku hanya membaca nama kontaknya saja. Aku tidak membaca pesanmu dengannya”
Carlos menghela napas kemudian dia segera melepaskan tanganya dari kerah Michael dan pergi dari kelas. Michael menghela napas, tiba-tiba beberapa perempuan menghampirinya, Michael yakin mereka adalah para fans Carlos “Hey Mike, siapa gadis itu?” Tanya Lolita
“Iya siapa dia? Dan apa pesannya? Jangan mencoba berbohong pada kami” ujar Grace, dia teman Lolita. Mereka adalah fans fanatic Carlos, yang menurut mereka Carlos adalah milik bersama, jika ada orang yang sedang dekat dengannya maka para fans Carlos akan bertindak untuk memisahkan mereka
“Dia benar. Katakan dengan jujur atau kami akan membuat kau menyesal” ujar Lolita. Michael bergidik ngeri
“Wohoho…tenang dulu ladies. Sepertinya dia tidak bersekolah disini”
“Siapa namanya? Akan kucari dia” Ujar Lolita
“Scarlet. Namanya Scarlet”
“Lalu apa pesannya?” Tanya Grace
“Aku tidak tau”
“KATAKAN!”
“Aku tidak tau sungguh!”
Carlos sebenarnya bersembunyi di luar kelas, dia mendengar pembicaraan Michael, Lolita dan Grace membuatnya mendapat ide untuk mengerjai Selena. Dia pun mulai melaksanakan rencananya.
Carlos pun pergi mencari keberadaan Selena yang ternyata sedang berjalan di lorong antar kelas. Selena sedang berjalan sambil memainkan ponselnya, tentu itu adalah kesempatan emas untuk Carlos
Carlos sengaja menambrakkan dirinya dengan Selena sampai dia terjatuh ke lantai “Auh…” rintih Selena, ia hendak mengucapkan kalimat sakral pada orang yang tidak punya mata yang sudah menabraknya, tapi ketika dia mendongak dan melihat siapa orangnya, Selena mengurungkan itu
Karena kejadian itu mereka menjadi pusat perhatian. Carlos mengulurkan tangannya untuk membantu Selena berdiri. Bisik-bisik mulai terdengar di telinga. Wajar saja, Carlos tidak pernah menolong orang sekalipun orang itu terluka karenanya, melihat Carlos membantu Selena menimbulkan kecurigaan kalau ada sesuatu diantara mereka
Selena dengan wajah memerah menerima uluran tangan Carlos dan berdiri “Terima kasih” ujar Selena
“Hm. Berhati-hatilah lain kali” ujar Carlos singkat kemudian pergi dari sana. Sepeninggal Carlos, Selena langsung berteriak histeris. Bagaimana tidak, dia ditolong oleh pria paling tampan dan hits di sekolah
Sementara dari kejauhan Carlos menyeringai licik menunggu apa yang akan terjadi dengan Selena
To be continue