BRAK!!!
Sebuah suara benda jatuh terdengar begitu kerasnya dari area parkiran depan gedung hotel. Bahkan saking kerasnya, suara benda jatuh itu sampai bisa mengalahkan suara iringan musik jazz yang mengalun di sekitar area resepsi pernikahan Bagas dan Farah.
Semua tamu yang ada di dalam gedung mendadak saling bertanya-tanya, membuat suara riuh bising yang begitu mengganggu suasana acara. Terlebih, suara teriakan orang-orang yang berada di luar seolah memicu perasaan panik bagi siapa saja yang mendengarnya. Para tamu yang ada di dalam gedung pun berhamburan keluar, untuk melihat sendiri apa yang sebenarnya tengah terjadi di luar. Termasuk Bagas dan Farah.
Dan begitu sampai di luar, betapa terkejutnya mereka, kini tepat di atas mobil pengantin yang sudah dihiasi pita dan bunga, tergeletak jasad wanita yang sudah berlumuran darah. Farah yang melihat itu pun histeris bukan main. Sementara Bagas, ia begitu syok, terlebih ketika menyadari kalau jasad wanita yang katanya terjun dari lantai delapan itu adalah sosok yang begitu dikenalinya, Miranti.
Bagas jatuh lemas terduduk, tidak tahu harus berbuat apa. Sementara mulutnya tak sadar terus bergumam mengucap nama sang mantan kekasih.
“Miranti ... i-itu Miranti ....”
Farah yang mendengar gumaman Bagas, ia menghampiri lelaki yang baru saja menjadi suaminya itu. Ia bukannya tidak tahu kalau jasad wanita itu adalah Miranti. Walau tidak pernah bertatap muka langsung dengannya, tetapi Farah hafal betul dengan wajah yang selama ini selalu ia tatap fotonya dengan penuh kebencian.
“Dia ...,” gumam Farah sedikit bergetar. “... kenapa dia bisa ada di sini? Bu-bukannya dia ... d-di Jepang?”
Bagas tertunduk lemah. “Dia tahu, Farah. Dia tahu soal pernikahan kita, entah dari siapa. Aku bahkan sempat saling tatap sama dia tadi. Bodoh! Harusnya aku jelasin semuanya lebih awal. Harusnya aku cegat dia pas dia naik ke atas tadi. Bukannya cuma diam pura-pura nggak kenal.”
Farah tertegun. “Apa ...? Di-dia ... tahu?” Kini, bola mata Farah terlihat mulai berkaca-kaca antara takut, bercampur dengan rasa bersalah yang tiba-tiba menghampiri dirinya.
“Apa Miranti berbuat seperti ini ...,” ucap Farah lagi semakin bergetar. “... gara-gara kita?”
Bagas menoleh sendu pada istrinya. Ia ingin menggeleng menepis rasa bersalah Farah. Tetapi tidak bisa karena ia juga merasakan hal yang sama. Alhasil Bagas hanya bisa memeluk Farah, menuntunnya berdiri menjauhi keramaian.
Walau itu adalah Miranti, sosok wanita yang pernah Bagas cintai, tetapi Bagas tidak mau ikut terseret dalam masalah. Apalagi di hari pernikahannya ini. Ia tidak mau pernikahannya dengan Farah di anggap sial oleh orang-orang karena jasad Miranti jatuh tepat di atas mobil pengantin yang rencananya akan mereka pakai untuk pulang nanti.
Kini, polisi serta wartawan mulai berdatangan. Suasana parkiran depan gedung hotel pun jadi semakin ramai. Para polisi sibuk mengamankan TKP, samar-samar Bagas sempat melihat mereka menemukan ponsel Miranti yang masih tergenggam di tangannya.
Sementara itu, para wartawan juga terlihat sangat gencar meliput jasad Miranti yang baru saja dimasukkan ke dalam kantung kuning. Sebagian lagi sibuk menanyai orang-orang di sekitar yang menyaksikan langsung bagaimana Miranti terjun dari lantai delapan. Dan sialnya, beberapa wartawan lain berhasil menemukan keberadaan Bagas dan Farah yang tengah buru-buru masuk ke dalam lift, pergi menuju area yang tidak mengizinkan wartawan untuk meliput.
Diam-diam Bagas menghela napas lega begitu ia berhasil lolos dari para wartawan yang mengejar mereka. Walau ia tahu ia harus tetap kembali untuk menghadap para polisi karena ia memiliki hubungan dengan Miranti. Itu bisa di pikirkan belakangan, pikir Bagas. Yang terpenting baginya saat ini adalah mengamankan Farah terlebih dahulu. Karena ia tidak mau nama Farah yang sudah terkenal sebagai designer muda berbakat tiba-tiba tercoreng hanya gara-gara hubungannya dengan Miranti.
Setibanya di kamar yang telah mereka sewa, Farah menggenggam tangan Bagas erat-erat. Pandangannya begitu cemas, tubuhnya juga masih sedikit bergetar.
“Kita harus gimana sekarang, Bagas?” tanya Farah gusar. “Para polisi ... mereka pasti akan menemukan bukti kalau kamu pernah berhubungan dengan Miranti. Gimana kalo kamu di tuduh jadi alasan bunuh dirinya Miranti? A-aku nggak mau kamu sampai di penjara, Bagas. Aku nggak mau kita pisah secepat ini.”
“Hei, hei, kamu tenang dulu, Sayang.” Bagas menangkup pipi istrinya itu seraya menatapnya teduh. “Kita nggak akan pisah, aku juga nggak akan mendapat gugatan apa pun. Ingat, kematian Miranti terjadi karena kesalahannya sendiri. Bukan salah kita. Pokoknya kamu tenang aja di sini, biar aku yang menjelaskan semuanya ke mereka kalau pernikahan kita nggak ada sangkut pautnya dengan kematian Miranti.”
“Berarti sekarang kamu mau pergi temuin mereka?!” Farah berseru tidak terima.
Bagas mengangguk sambil tersenyum menenangkan. “Walau kita bersembunyi pun cepat atau lambat kita pasti akan dimintai keterangan. Karena Miranti bunuh diri tepat di acara pernikahan kita, jasadnya pun jatuh tepat di atas mobil pengantin kita. Kalau kita terus sembunyi, yang ada kita hanya akan mendapat tuduhan macam-macam dari masyarakat. Aku nggak mau cuma gara-gara hubungan aku dengan Miranti, karir kamu jadi taruhannya. Aku nggak mau kamu mendapat cap buruk dari orang-orang, Sayang.”
Mendengar itu, Farah merasa terharu. Ia pun memeluk suaminya itu erat-erat. “Makasih, Sayang. Di saat kayak gini kamu malah mikirin karir aku.”
“Pasti, dong. Karena mulai hari ini dan seterusnya, kamulah yang terpenting dalam hidup aku, Farah.”
Farah memeluk Bagas lebih erat. Sesungguhnya ia tidak tega membiarkan Bagas menghadapi para polisi dan wartawan seorang diri. Tapi ia juga tidak mau ikut campur, karena ia takut lisannya malah akan mengungkap hal yang harusnya tidak boleh diungkapkan kepada siapa pun termasuk ke Bagas sendiri.
Setelah beberapa menit, akhirnya Farah melepas pelukannya dari Bagas. Membiarkan suaminya itu melangkah pergi ke luar kamar, untuk menyelesaikan masalah yang kemungkinan besar akan membawa-bawa pernikahan mereka.
Tapi kemudian, suatu pertanyaan tiba-tiba terbersit dalam benak Farah. Ia pun menghentikan Bagas di kala lelaki itu baru saja hendak membuka pintu.
“Bagas,” panggilnya. Bagas menoleh sambil memberi isyarat 'apa' pada istrinya itu.
Untuk sejenak, Farah hanya memandang Bagas, tidak berani mengungkapkan pertanyaan yang begitu ingin ia lontarkan. Sejujurnya ia takut jawaban Bagas tidak akan sesuai dengan apa yang diharapkannya. Tetapi karena rasa penasaran lebih besar dari pada rasa takutnya, akhirnya Farah pun memberanikan diri melontarkan pertanyaan itu.
“Apa kamu sedih lihat Miranti bunuh diri?”
Bagas tertegun untuk sesaat. Tapi kemudian ia mengembuskan napas halus, lalu tersenyum. Ia pun menjawab, “Aku tahu kamu mengharapkan jawaban 'tidak'. Tapi tetap aja, biar bagaimanapun aku merasa sedih dan menyesal atas hal yang menimpa Miranti. Terlepas dia adalah orang yang pernah aku cintai, dia juga adalah orang yang tersakiti gara-gara ketidak jujuran aku, Far. Dan lagi kematian Miranti terjadi tepat di acara pernikahan kita. Apa pantas kalau aku nggak sedih? Setidaknya kita harus merasa sedih untuk acara pernikahan kita yang harusnya jadi momen bahagia, tapi malah jadi momen mengerikan kayak gini.”
Farah tertunduk. Walau jawaban Bagas agak menyakitkan bagi Farah karena dia mengungkit masa lalunya dengan Miranti, tetapi ucapannya memang benar. Mereka memang pantas bersedih karena pernikahan yang harusnya di kenang menjadi momen bahagia, kini akan terkenang menjadi momen suram nan mengerikan.
Gara-gara peristiwa ini, pasti tidak akan ada acara anniversary pernikahan mereka di kemudian hari. Karena jika mereka merayakannya, mereka hanya akan teringat pada kematian tragis Miranti yang sebenarnya terjadi akibat kesalahan mereka yang tidak jujur padanya sejak awal.
~~~
note : part berikutnya besok ya. bakalan jadi momen bawang. semoga aja aku bisa menuliskannya dengan baik. ?