Meski dalam keadaan bertarung menghadapai musuh yang kuat, Indra masih sempat-sempatnya mengucapkan terima kasih kepada Altran.
"Jangan lupa, anggota mu juga berhak mendapatkan kalimat itu," ucapan Altran membuat Indra tersenyum tipis.
"Semuanya ... terima kasih." Kini tanpa ragu lagi Indra mengerahkan kemampuan yang sedari tadi dia tahan.
"Berjuang Kapteeen!!" Semua anggotanya pun yang berada di luar gedung menyemangati Indra.
Seketika Ricky tersadar dari rasa takutnya, dia melihat ke sekeliling bahwa begitu banyak orang yang menderita kesakitan karena virus hitam sudah menjalar ke setiap pembuluh darah mereka.
"Aku ... aku harus menolong mereka dengan segenap kekuatan ini?!" Ricky melihat kedua telapak tangannya.
"Jangan ragu, bro!"
Bisikan Rocky bergema di dalam dirinya, kini Ricky berdiri meski di dalam hatinya selalu terbayang-bayang wajah kedua orang tuanya dan bahkan suara lembut mereka terus mendengung di telinganya.
"Ketika kamu melihat seseorang dalam kesulitan, bantulah dengan segenap hati mu." Perkataan seorang ayah dengan senyuman hangatnya terlintas dalam kenangan Ricky saat ini.
Mary yang melihat Ricky sudah terlihat baik-baik saja, dia ingin menghampiri namun terhenti langkahnya ketika melihat kemana Ricky berjalan.
"Semuanya ... mohon bantuannya," Ricky tanpa sadar dia mengucapkan hal yang dia sendiri tidak mengerti, namun Mary tersenyum dan menghampirinya.
"Apa yang kamu perlukan, sayang." Suara lembut dan menatap wajah Mary, mengingatkan Ricky pada ibunya, segera dia mengusap kedua matanya dan melihat kembali kearah Mary.
"Satukan genggaman tangan mereka yang ...." Ricky menunjuk ke arah orang-orang yang kesakitan terbaring di sana. Awalnya Mary tidak mengerti apa yang ingin di lakukan oleh anak kecil ini.
"Cepat ulurkan tangan kalian dan bergandengan!" Arter menggenggam erat tangan salah satu orang yang sudah benar-benar terlihat sekarat, dengan tangan gemetaran mereka yang kesakitan kini saling bergandengan tangan.
Mary, Yoga dan Kris bahkan Kapten Altran hanya bisa terdiam melihat apa yang di kehendaki oleh Ricky. Kali ini Ricky memulai dari Arter Brock dan telapak tangan kecilnya bersinar begitu juga Lifestone milik ilmuwan itu juga bersinar terang seakan mendapat energi tambahan.
Saat itu juga semua orang tertegun ketika melihat pusaran cahaya mengelilingi Ricky. Energi luar biasa di pancarkan dan perlahan virus hitam di setiap orang sakit kini memudar dan lenyap seketika tanpa ada bekas yang tersisa sedikitpun.
Namun di saat yang bersamaan makhluk Kill terdiam dan menoleh ke belakang, seakan dia juga merasakan aura luar biasa dari arah Ricky berada. Indra merasa ini adalah kesempatan bagus untuk menyerang dan memusatkan kekuatan penuh di pedang laser.
"Jangan memalingkan wajah di hadapan ku!" Tebasan pedang Indra dapat di hentikan dengan tangan kosong.
"Aku harus membawa!!" Tatapan tajam dengan senyum menyeringai, deretan gigi mengerikan Kill begitu nampak di hadapan Indra kali ini.
"Mustahil! Dengan kekuatan penuh di kedua pedang ku, dia bisa menahannya ... apa-apaan kekuatan makhluk ini!" Indra tidak menyangka bahwa kedua lengan Kill itu di selimuti oleh logam yang sangat keras.
Dengan terpaksa Indra melepaskan kedua pedangnya dan menghindari serangan ekor Kill yang hendak mengenai dirinya. Keadaan Indra sedang tidak baik-baik saja selain senjatanya, waktu kostum canggih yang di kenakan saat ini pun terbatas.
"Gawat! Aku tidak bisa lagi menghindar, kecepatannya melebihi si kilat tadi." Indra membulatkan kedua matanya, bahwa dia benar-benar dalam keadaan terdesak. Pergerakan makhluk itu semakin cepat dan brutal ketika dia merasakan aura yang di pancarkan oleh Ricky tadi.
Cengkraman tangan Kill tepat mendarat di wajah Indra dan menghempaskan ke lantai begitu kerasnya hingga membuat retakan besar dan menimbulkan getaran pada bangunan itu. Pelindung kepala yang seharusnya kuat tanpa batas kini hancur hanya sekali hentakan saja, bahkan Indra mengalami pendarahan di wajahnya.
Suara gemuruh terdengar dan bahkan getaran membuat mereka yang merasakan tercengang ke arah bangunan di mana Indra bertarung melawan makhluk dari dimensi lain.
"Edwin dan yang lainnya, kalian tetaplah disini sampai bantuan datang. Aku sudah memberitahukan kepada atasan bahwa misi kita sudah selesai," ucap Kapten Altran
"Siap!!" Dengan serentak semua anggota mengucapkannya.
Altran bergegas ingin menghampiri ke sana, dia merasakan bahwa ada yang tidak beres di dalam gedung itu. Meski dia tahu bahwa Indra adalah orang yang tangguh tapi, bukan berarti dia tidak pernah mengalami hal sulit.
Altran dan Indra adalah rival sejak mereka masih dalam latihan militer angkatan bersenjata dahulu, meski begitu mereka berdua adalah pasangan yang tak terkalahkan ketika saling mendukung satu sama lain.
Makhluk Kill menganggap Indra sudah tak sadarkan diri lagi, ketika dia berbalik badan dan berjalan melangkah, tiba-tiba ekornya di tarik paksa oleh Indra untuk yang kedua kalinya.
"Jangan remehkan bangsa manusia, dasar makhluk jelek!!!"
Tubuh yang cukup tinggi dan besar mampu di tarik Indra dari ekor hingga terangkat dan melemparkan tubuh Kill sampai keluar menghancurkan tembok beton.
Hampir sampai Altran di tempat bangunan di mana Indra dan makhluk Kill itu bertarung. Namun langkahnya terhenti ketika Altran melihat makhluk dari dimensi lain itu terlempar sampai dinding tembok yang sangat tebal hancur olehnya.
"Ternyata aku salah besar telah mengkhawatirkan kau, dasar manusia berotot," gumam batin Altran, dia tersenyum tipis saat Indra keluar dari bangunan itu meski terlihat babak belur di wajahnya.
Waktu yang sudah hampir gelap bahkan misi penyelamatan mereka pun sudah komplete, di tambah penangkapan Arter Brock beserta barang bukti sudah di amankan. Namun ada hal yang sama sekali tidak terduga oleh mereka semua, kemunculan makhluk Kill kali ini menjadi tambahan yang harus mereka hadapi.
Indra dan Altran sudah menduga bahwa makhluk Kill yang datang dari dimensi lain, tidaklah mudah di kalahkan begitu saja. Makhluk itu kembali berdiri, namun kali ini tubuhnya terlihat mengeras.
"Kau yakin ingin melanjutkan pertarungan yang kedua? Dalam keadaan babak belur seperti itu..?" Tanya Altran sedikit mengejek dengan senyum tipisnya, raut wajah Indra terlihat kesal sembari dia mengusap darah di pelipis bibirnya.
"Berisik! Selama aku masih bisa berdiri jangan harap kau dapat mengalahkan ku." Indra bersiap dalam posisi bertarungnya.
"Heh, kalau begitu cepat kita selesaikan makhluk itu," ucap Altran, dia bersiap dengan senjata andalannya sarung tangan buas.
"Aaaaaarrrgghhhh!!!"
Raungannya sangat kuat hingga menimbulkan hembusan angin yang kencang. Kekuatan yang tak bisa di bayangkan oleh Indra dan Altran, namun mereka berdua sedikitpun tidak merasakan takut melainkan semangat semakin membara saat menghadapi lawan yang benar-benar kuat. Kekuatan armor di tingkatkan sampai batas maksimal, pertarungan sepasang rival yang seharusnya berlawanan namun kali ini mereka bekerjasama dalam menghadapi musuh dari dimensi lain.
"Al!! Tebas ekornya,"
"Cerewet!"
Indra tercekik oleh cengkraman Kill, dengan sigap Indra menendang kepala meski genggaman tangan makhluk itu belum terlepas. Dari arah belakang Altran mengaktifkan kamuflasenya dan memusatkan energi maksimal di sarung buas untuk menebas ekor yang sedari tadi sangat merepotkan. Namun Kill menyadari hal itu dan melemparkan tubuh Indra ke arah Altran, akan tetapi refleks Al menendang balik tubuh Indra sebagai pijakannya untuk melompat.
Ketika kamuflase di nonaktifkan Altran, secara mengejutkan kini dia menjadi 5 bayangan yang sama. Tehnik canggih yang di gunakan Altran mampu mengecoh makhluk itu, akhirnya Al mendapat peluang untuk menebas ekornya hingga terpotong dari bagian tubuhnya.
"Tak ku sangka, mereka dapat bekerja sama dengan baik."
"Hebat sekali."
"Sekalipun mereka adalah rival tapi ...."
Edwin, Kris, dan juga Yoga terpukau melihat aksi pertarungan Kapten Indra bekerjasama dengan Kapten Altran dalam menghadapi lawan yang kuat.
"Itu karna mereka berdua sama-sama tidak ingin kalah, di kala bekerjasama kekuatan diantara mereka justru semakin kuat," Ucap Prof Sheo Lee, membuat Ricky tertegun mendengarnya.
Setelah ekor Kill terpotong dari tubuhnya, sekujur tubuh yang semula keras kini perlahan melemah.
"Sekarang giliran kau, Indraaa!!!" seru Altran.
"Serahkan padaku." Dengan langkah yang cepat Indra berlari mendekati Kill, energi yang terkumpul di kepalan tangan kanannya mencapai kekuatan batas maksimal.
Sekalipun tubuh makhluk itu melemah, dia masih bisa memberikan serangan brutal ketika Indra hampir mendekatinya. Tangan yang lebar ingin mencengkram lagi, namun dengan gesit dapat di hindari oleh Indra dan mendaratkan pukulan dahsyat tepat mengenai bagian perutnya hingga Kill terpental cukup jauh menghantam beberapa bangunan di sekitarnya sampai hancur.
Di waktu yang bertepatan armor Indra sudah mencapai batas dan energi Lifestone sudah terpakai habis. Dengan deru nafas tersengal-sengal Indra hampir tersungkur, akan tetapi kakinya masih kuat menahan tubuh yang tak tergoyahkan, bahkan darah di bagian wajahnya masih nampak.
"Tak perlu sok kuat," Altran merangkul pundak Indra.
"Ahaha ...." Indra hanya bisa tersenyum, raut wajah yang penuh kemenangan.
Tak lama kemudian 2 pesawat besar datang, bantuan yang ditunggu-tunggu kini tlah tiba di lokasi. Sebanyak 68 orang yang bisa di selamatkan dan langsung di evakuasi masuk ke dalam pesawat.
Ricky dan Mary menyambut kedatangan Indra yang di rangkul oleh Altran. Indra hanya bisa tersenyum dan mengangkat tangan kirinya untuk menyapa Ricky dan juga Mary. Ricky berlari kecil ingin segera menghampiri dan memeluk Indra, namun hal yang tak terduga kembali terjadi dimana makhluk dari dimensi lain itu bangkit dan kali ini sekujur tubuhnya terbakar oleh panasnya terik matahari.
Makhluk itu melesat begitu cepat menghampiri dimana semua orang terkumpul untuk bersiap berangkat pergi dari kota mati ini. Tembakan beruntun di kerahkan agar menghentikan pergerakan Kill, namun dengan kekuatan yang tersisa dia berupaya mendekati dan sorotan matanya lagi-lagi menatap tajam kearah Ricky bahkan tangannya seolah ingin meraih.
Ricky sempat ketakutan, namun dia juga penasaran apa yang sebenarnya di inginkan oleh makhluk dimensi dari dunia lain itu sampai rela mati-matian seperti sekarang ini. Dengan tubuhnya yang terbakar bahkan semakin lemah dan tembakan pun terus menghujani tubuhnya.
"Cukuuup!!" Teriak Ricky. Mendengar Ricky berteriak seperti itu, Indra memberi isyarat untuk berhenti menembaki makhluk Kill.