“Aku datang untuk menemui Jendral Zarek!” Alvian beridir sombong di depan gerbang kerajaan esok paginya. Hari ini penampailannya jauh lebih rpi dan bersihdari pada sore keamrin, saat ia mengantarkan mayat yang sudah dimutilasi. Ia hampir saja memicu keributan jika Jendral Zarek tak datang cepat.
“Memangnya siapa dirimu, Pak Tua?” Penjaga yang berkulit cokalt karena sering tersengat matahari itu mencibir Alvian. Hampir semua orang di dalam kerajaan tahu tentang kejadian yang menghebohkan kemarin.
Alvian mendengus kesal, ia maju beberapa langkah alu menekan telunjuknya berulang kali di kening penjaga itu. “Kau pikir, dirimu siapa, hah?!” Ia mengembalikan pertanyaan itu.
“Enyahkan jari kotormu itu, Pak Tua!” Hardiknya, mendorong kasar hingga Alvian ajtuh terduduk.
Pria tua itu memang buka