Belanja!
Satu kata itu memberi Aire semangat di penghujung hari setelah ia menghabiskan tenaganya untuk kerja.
Padahal Aire hanya akan membeli flat shoes baru, tapi rasanya sebahagia itu. Begitulah kalau jarang belanja.
Dengan segera, Aire bereskan bekas kerjanya hari itu. Tidak lupa membuang cup strawberry milkshake-nya yang sudah habis sejak tadi. Dia kumpulkan semua pensil, pulpen, stabilo, spidol, dan penggaris, menaruhnya di sebuah wadah yang letaknya di sebelah kalkulator.
Oke, sudut kubikelnya sudah rapi.
Terakhir, dia menyiram satu pot tanaman kaktusnya dengan botol spray kecil.
Omong-omong soal kaktus, hadiah pemberian Sean kemarin masih dia simpan di loker kantor. Tidak dibawa pulang karena terlalu repot. Soalnya kan dia dan yang lain langsung pergi ke Hanamasa.
Tapi berhubung hari ini dia mau keliling mall bareng Ina, terarium sebesar kepala bayi itu lebih baik tetap tinggal di loker. Masa iya dia menenteng kaktus dari lantai 27 sampai ke PIM? Bisa-bisa dikira habis menang lomba merangkai tanaman.
Ya sudah. Senin saja dipikirkan lagi.
Padahal alasan sebenarnya bukan cuma soal repot. Aire hanya belum tau benda itu harus ditaruh di mana. Kalau tetap ditaruh di kubikel, orang-orang bakal bertanya lagi siapa pengirimnya. Kalau dibawa ke kos, dia bakal melihat kaktus itu setiap bangun tidur.
Dan melihat kaktus itu setiap bangun tidur artinya mengingat Sean setiap bangun tidur.
Ngga, makasih.
Aire menutup file kerjanya satu per satu, mematikan monitor, lantas meraih tas selempangnya.
"Tumben teng go, Re?" Bila menyembul dari balik sekat kubikel sambil memeluk tumbler. "Biasanya lo yang paling akhir keluar."
"Mau belanja," jawab Aire ringan.
"Sama siapa?"
"Ina. Anak kantin."
"Ih, aku ngga diajak?" Cila ikut menyembulkan kepala.
"Kamu belanjanya di GI, Cil," sahut Bila. "Aire mah paling muter-muter di rak diskon."
"Ya kali!" Aire melempar penghapus kecil yang ditangkis Bila pakai tumbler. Mereka tertawa.
Setelah pamit dan menerima titipan pesan 'jangan lupa oleh-oleh' yang jelas tidak akan dia turuti, Aire melangkah ke lift.
Di dalam lift, ponselnya bergetar.
'Kamu pulang jam berapa?'
Nama pengirimnya membuat Aire menghela napas panjang. Sean Abraham.
Aire menatap layar itu lama. Read. Tidak dibalas. Ceritanya balas dendam kecil-kecilan atas kejadian di depan lift tadi siang. Habisnya gimana coba? Orang yang bilang serius ingin kenal dia lebih dekat itu melewatinya begitu saja seperti melewati pot tanaman.
Pesan kedua masuk.
'Jangan pulang sendiri.'
Uh. Yang ini bikin Aire luluh sedikit. Karena dia tau maksudnya Tristan.
'Saya ngga sendiri, Pak. Sama teman.'
'Teman siapa?'
Aire mematikan layar ponselnya.
Lagi pula kenapa juga dia harus lapor? Tadi siang orang itu melewatinya di depan lift tanpa menoleh sedikit pun. Sekarang tiba-tiba mau tau dia pulang jam berapa dan sama siapa.
Manusia macam apa itu.
Pintu lift terbuka di lantai dasar. Aire menghirup udara lobi yang dingin, lalu mengibaskan pikiran soal Sean dari kepalanya. Malam ini jatahnya flat shoes. Bukan bos.
***
Ina sudah menunggu di lobi. Seragam kantinnya sudah berganti kaos putih dan rok jeans selutut, rambutnya dilepas dari kuncir. Begitu melihat Aire keluar dari lift, dia melambai heboh.
"Mbak Aire! Sini, mbak!"
"Udah lama nunggu?"
"Baru lima menit kok." Ina nyengir lebar, lalu mengangkat dompetnya tinggi-tinggi seperti sedang mengangkat piala. "Aku bawa tiga ratus, mbak. Cukup ngga ya?"
"Cukup lah. Yang penting jangan nyasar ke lantai yang wanginya parfum semua."
"Kenapa emang?"
"Lantai itu jebakan."
Ina tertawa sampai bahunya berguncang. Aire ikut terkekeh sambil menggiring cewek itu ke pintu keluar.
"Kondangannya kapan sih, Na?"
"Minggu depan, mbak. Di gedung."
"Kamu yakin mau datang?"
"Harus dong." Ina mengangkat dagu, sok gagah. "Aku ngga mau dikira nangis di rumah."
Nah. Aire suka semangat yang begitu.
Mereka berhenti di area drop off. Langit sudah oranye tua, lampu-lampu jalan mulai menyala, dan barisan karyawan pulang kerja memenuhi trotoar. Aire membuka aplikasi ojek online, mengetikkan tujuan, jarinya sudah siap menekan pesan.
Belum sempat, sebuah mobil hitam berhenti persis di depan mereka.
Bukan mobil yang biasa. Aire hafal betul mobil yang biasa. Yang ini kacanya jauh lebih pekat, sampai Aire hanya melihat pantulan wajahnya sendiri di sana.
Kaca jendela pengemudi turun setengah.
Sean.
"Masuk."
Aire membeku dengan ponsel masih menyala di tangan.
Di sebelahnya, Ina mencengkeram lengan Aire kuat-kuat. "Mbak. Mbak," bisiknya panik. "Itu... itu Pak Sean, kan? Pak Sean Abraham?"
"Iya."
"Kenapa Pak Sean manggil mbak?"
Pertanyaan bagus, Na. Aire juga ingin tau.
Cewek itu mendekat, menunduk sedikit ke arah jendela. "Pak, kok--"
"Kalian mau ke PIM kan?"
"Kok Bapak tau?"
"Saya tanya di kantin."
Di belakang Aire, Ina mendadak ingat sesuatu. Tadi sore memang ada yang bertanya padanya di kantin. Suaranya berat dan datar, pertanyaannya cuma satu kalimat, dan Ina menjawabnya sambil menunduk tanpa berani mengangkat wajah sedikit pun.
Sekarang dia paham kenapa tangannya gemetar waktu itu.
Ya Tuhan. Ina yang membocorkan.
"Pak, ngga usah repot--"
"Ngga repot."
"Nanti keliatan orang."
Sean mengetuk kaca jendela di sebelahnya dengan punggung jari. "Gelap."
Aire mengerjap. Oh. Jadi itu sebabnya mobilnya beda.
Jadi yang kemarin itu bukan gertakan? Orang ini betulan mengganti mobilnya cuma gara-gara Aire bersembunyi di balik tas?
"Aire."
"I-iya, Pak."
"Lima detik lagi saya turun dan bukakan pintu buat kamu. Di depan lobi. Rame."
Aire melotot. Ancaman macam apa itu?!
"Ina, ayo naik," ujarnya cepat.
"S-siap, mbak."
Ina naik ke bangku belakang dengan gerakan patah-patah seperti robot yang kehabisan baterai. Duduk di ujung paling pinggir, punggung tegak, kedua tangan menumpuk rapi di atas lutut, mirip orang yang sedang menunggu giliran wawancara kerja.
Aire duduk di depan. Mobil melaju halus meninggalkan gedung Imperio.
Hening.
Heningnya bukan hening yang nyaman, tapi hening yang bikin Aire ingin membuka pintu dan berguling keluar.
"Kamu yang antar makan siang waktu Aire di klinik?" Sean bertanya tanpa menoleh, matanya lurus ke jalan.
Ina tersedak udara. "S-siap! Betul, Pak!"
"Makasih."
Satu kata. Cuma satu kata. Tapi lewat spion, Aire bisa melihat mata Ina berkaca-kaca seolah baru saja dikasih sertifikat karyawan teladan.
Aire melirik Sean diam-diam. Laki-laki itu menyetir dengan santai, satu tangan di kemudi, wajahnya setenang biasa. Seolah mengantar dua perempuan pergi belanja adalah bagian dari jadwal direktur utama.
Padahal ngga.
Aire tau persis itu ngga ada di jadwal mana pun.
Dan sepanjang jalan tol yang macetnya minta ampun itu, kepala Aire cuma memutar satu kekhawatiran. Bagaimana kalau ada karyawan Imperio yang kebetulan juga ke PIM malam ini? Bagaimana kalau mereka melihat Aire, Ina, dan orang nomor satu perusahaan berjalan beriringan di depan toko sepatu?
Judul majalah gosip imajiner itu muncul lagi di benaknya. Kali ini dengan foto.
"Kenapa mukanya begitu?" tanya Sean sambil menginjak rem pelan.
"Ngga apa-apa, Pak."
"Bohong."
"Ngga bohong."
"Kamu kalau bohong, alis kanan kamu naik."
Aire refleks menutupi alis kanannya pakai telapak tangan. Di bangku belakang, Ina menahan tawa dengan cara batuk yang sama sekali tidak meyakinkan.
***
Empat puluh menit kemudian, mobil menurun memasuki basemen PIM.
Sean memarkir mundur dengan sekali gerakan mulus, mematikan mesin, lalu mencabut kunci.
Suara kunci dicabut itu entah kenapa terdengar seperti palu sidang.
"Pak," Aire menoleh cepat. "Bapak... mau ikut?"
Sean melonggarkan dasinya, melepasnya, lalu menggulung benda itu dan menaruhnya di dasbor. Kancing teratas kemejanya ikut dibuka. "Memangnya kenapa?"
"Kan kita mau belanja."
"Saya tau."
"Belanja baju."
"Saya tau."
"Bapak ngga ada kerjaan?"
Sean menatapnya. Lama. Cukup lama sampai Aire menyesal sudah bertanya.
"Sudah saya jawab kemarin," katanya akhirnya. "Saya bisa atur waktu."
Lalu laki-laki itu turun, memutari mobil, dan membukakan pintu untuk Aire seperti hal itu adalah kewajiban yang tidak perlu didiskusikan.
Di bangku belakang, Ina bicara dengan suara sangat, sangat pelan.
"Mbak."
"Apa?"
"Aku kayaknya mau pingsan."
"Jangan," bisik Aire cepat. "Kalau kamu pingsan, nanti yang gendong dia."
Ina langsung duduk tegak.
***
[]