Pameran itu ditunda dua jam sebelum pintu galeri dibuka.
Masalahnya sepele dan memalukan: pendingin ruang pamer utama mati tepat saat kurator tamu dari Yogyakarta sudah berdiri di depan instalasi utama, dan tidak ada seniman yang mau karyanya dikagumi dalam ruangan yang menguap seperti angkutan kota. Sari Mahendra menandatangani surat penundaan dengan tangan yang rata, meminta maaf kepada tujuh undangan penting dengan suara yang lebih rata lagi, dan menyaksikan sembilan bulan persiapan digeser ke minggu depan seperti orang menyaksikan vas jatuh dalam gerakan lambat.
'Kita tunda, bukan batal,' katanya pada stafnya yang pucat. 'Karya tidak ke mana-mana. Pulang. Istirahat. Besok kita perbaiki.'
Stafnya — tiga orang muda yang dia rekrut sendiri dan dia besarkan seperti adik-adiknya — menatapnya dengan mata yang masih menunggu izin untuk kecewa. Sari memberikan izin itu dengan satu kalimat tambahan, lebih pelan: 'Kecewa itu wajar. Tunda itu bukan gagal. Kalian sudah bekerja sembilan bulan, dan sembilan bulan itu tidak batal karena satu kompresor.'
Mereka bubar dengan bahu yang sedikit lebih tegak. Dan Sari berdiri sendirian di ruang pamer yang gagal dibuka, di antara karya-karya yang sudah digantung dengan presisi museum, di bawah pendingin yang mati seperti janji yang berhenti di tengah.
Instalasi utama itu menatapnya balik: rangka kayu berbentuk denah rumah tanpa dinding, dengan satu lampu kecil menyala di tengahnya. Karya seorang seniman muda dari Solo. Judulnya 'Rumah yang Menunggu'. Sari yang memilihnya sendiri sebagai pembuka pameran — ada sesuatu di kerangka itu yang menyentuhnya, sesuatu tentang rumah yang tidak pernah selesai menunggu penghuninya.
Dia tidak tahu, sore itu, betapa tepatnya pilihan itu.
Kata-kata yang tepat. Kata-kata seorang pemilik galeri yang sudah belajar bahwa panik adalah kemewahan yang tidak boleh dipertunjukkan. Dia mengantar kurator tamu ke lobi, menjanjikan makan malam kompensasi, dan memeluk tanggung jawabnya sampai mobil terakhir pergi.
Baru setelah itu, di dalam mobilnya, Sari membiarkan bahunya turun satu senti.
Sembilan tahun menikah mengajarinya satu keterampilan yang tidak pernah masuk kurikulum kurator: menata wajah. Dia pulang lebih awal ke rumah yang sedang direnovasi di Menteng — rumah yang seharusnya menjadi babak baru mereka, kata Gilang, 'ruang keluarga yang lebih hangat untuk dua orang yang terlalu sibuk'. Rumah yang sekarang bau semen dan harapan, dengan plastik menutupi sofa lama dan lampu gantung yang belum dipasang.
Di kursi belakang, di dalam tasnya, ada kunci cadangan proyek. Gilang yang menyerahkannya sendiri tiga minggu lalu, dengan senyum yang waktu itu terasa seperti kemesraan: 'Supaya kamu ikut rasa memiliki renovasi.'
Sari memutar kunci itu di jarinya saat lampu merah. Ikut rasa memiliki. Kalimat yang aneh untuk rumah yang mereka beli berdua, dengan uang yang sebagian besar berasal dari galerinya — tapi Gilang selalu punya cara membuat hadiah terdengar seperti izin.
Sembilan tahun. Sembilan tahun yang dimulai dari rooftop kantor yang belum jadi, dengan lamaran yang tidak romantis menurut standar majalah tapi sempurna menurut standar Sari: Gilang dengan kemeja yang basah keringat, tanpa cincin — cincinnya tertinggal di laci — dan satu kalimat, 'kita bangun semuanya dari nol, Sar, kamu dan saya, dari nol.'
Dan mereka memang membangun dari nol. Galeri dari garasi sewaan. Perusahaan dari tiga karyawan. Rumah Menteng dari rumah kontrakan. Semua berdiri, satu per satu, sampai pada tahun ketujuh — tahun di mana semua yang dibangun mulai berdiri sendiri, dan dua orang yang membangunnya mulai berdiri sendiri-sendiri juga.
Renovasi itu ide Gilang. 'Rumah ini tua, Sar. Kita rombak. Kita buat ruang keluarga yang hangat, dapur yang layak, tempat untuk jamuan.' Sari menyetujuinya karena dia mengira, dengan naif yang akan dia sesali kemudian, bahwa membangun sesuatu bersama lagi akan mengembalikan mereka ke tahun-tahun pertama — tahun-tahun di mana 'kita bangun dari nol' masih berarti dua orang dan satu arah.
Dia tidak tahu bahwa ada orang yang merenovasi rumah untuk menghangatkannya kembali, dan ada orang yang merenovasi rumah untuk mencari alasan berada di dalamnya tanpa istrinya.
Jalanan sore itu macet seperti biasa, dan Sari melewatinya dengan radio pelan, dengan kepala yang masih penuh pendingin rusak dan undangan yang kecewa. Dia tidak merencanakan apa-apa. Tidak ada firasat, tidak ada pertanda. Hanya satu hari yang gagal dan satu rumah yang belum jadi, dan seorang istri yang pulang lebih awal karena tidak ada lagi yang bisa dia lakukan di tempat kerjanya.
Kalau saja dia tahu bahwa pulang lebih awal adalah bentuk keberuntungan yang paling tidak menyenangkan, mungkin dia akan memutar mobilnya ke kafe mana pun dan menunggu sampai malam.
Tapi dia tidak tahu. Dan itu yang namanya hidup: pintu-pintu penting selalu terbuka di hari-hari yang biasa.
*
Pagar rumah Menteng itu terbuka setengah. Truk vendor sudah pergi, tapi ada satu mobil yang masih parkir di sisi jalan — sedan putih yang bukan milik tetangga mana pun, yang Sari kenali dari hari wawancara desainer bulan lalu.
Karin Oktavia. Desainer interior yang mereka pilih berdua, yang portofolionya membuat Sari berkata ya di meja makan, yang pergelangan tangannya penuh gelang perak dan kepalanya penuh referensi majalah.
Sari menutup pintu mobilnya pelan-pelan. Bukan karena curiga — belum. Hanya karena hari yang gagal membuatnya ingin diam, dan rumah yang setengah jadi selalu memantulkan suara dengan tidak sopan.
Dari teras, dia mendengar tawa.
Bukan tawa mandor. Bukan tawa Gilang yang dia kenal — tawa meeting, tawa telepon, tawa yang dikeluarkan dengan takaran. Ini tawa yang lain. Tawa dua orang yang berdiri terlalu dekat di ruang keluarga yang dindingnya masih dempul, di antara scaffolding dan kabel yang menggantung seperti pertanyaan yang belum dijawab.
Sari berdiri di teras satu detik lebih lama dari yang diperlukan.
Kemudian dia mendorong pintu, dan membiarkan pintu itu berderit.