Sari mulai mengajar di sekolah kampung dua kali seminggu, dan idenya datang bukan dari rencana perang mana pun — idenya datang dari Ara.
Anak gajah itu sudah cukup besar untuk kunjungan terbatas, dan Sari membawanya ke sekolah kampung dengan izin dan pengawalan penuh, untuk satu jam pelajaran tentang hutan yang tidak ada di buku sekolah mana pun. Dan Ara, dengan belalainya yang sudah mulai terampil mengambil daun dan menyentuh tangan-tangan kecil dengan hati-hati, menjadi duta terbaik yang pernah dimiliki pusat itu: anak-anak kampung berdiri mengelilinginya dengan mata yang tidak berkedip, dan Sari bercerita di tengahnya dengan cara bercerita orang yang mencintai pekerjaannya — tentang induk gajah yang menunggu anaknya, tentang jerat yang tidak memilih, tentang hutan yang memberi makan semua orang kalau dijaga dengan benar.
Persiapannya tidak sederhana, dan Sari mengerjakannya dengan ketelitian perawat: Ara dimandikan sampai bersih di pagi hari, tali kekangnya diperiksa dua kali, dan rute dari pusat ke sekolah dijalani lebih dulu oleh Bujang untuk memastikan tidak ada lubang, tidak ada anjing liar, tidak ada keramaian yang bisa membuat anak gajah itu kaget. Sekolah kampung itu hanya satu bangunan panjang beratap seng dengan tiga ruangan, dan anak-anaknya sudah berdiri di halaman sejak sebelum bel pertama karena kabar kedatangan Ara berjalan lebih cepat dari kabar apa pun di kampung itu. Ketika truk kecil pusat masuk halaman, suara anak-anak itu seperti sungai kecil — dan Ara, yang mendengar suara baru, sempat berhenti dan menempel ke Sari, sampai Sari mengusap kepalanya dan berkata pelan bahwa tidak apa-apa, mereka kawan.
Renung ikut di kunjungan pertama itu, berdiri di belakang kelas dengan tangan di saku, dan menyaksikan hal yang tidak pernah diajarkan di sekolah kedokteran hewan mana pun: tiga puluh anak kampung yang minggu lalu hanya tahu gajah sebagai perusak ubi, berlutut satu per satu menyentuh belalai Ara dengan ujung jari seperti menyentuh sesuatu yang suci, dan seorang anak perempuan kecil bertanya dengan suara serius apakah Ara punya ibu — dan kelas itu hening mendengar jawaban Sari, dan heningnya berbeda dari hening biasa, hening anak-anak yang sedang memahami sesuatu yang besar.
Dan anak-anak itu membawa cerita-cerita itu pulang.
Ke rumah-rumah panggung, ke warung-warung, ke telinga-telinga yang tidak bisa ditembus kalimat kopi: ibu-ibu yang mendengar anaknya bercerita tentang Ara dengan mata berbinar, bapak-bapak yang mendengar anaknya menjelaskan kenapa jerat sling itu jahat dengan kata-kata anak yang lebih tajam dari kata-kata dewasa. Generasi berikutnya kampung itu berpihak lebih dulu, dengan cara yang tidak bisa dibantah kalimat mana pun, karena tidak ada kalimat kopi yang bisa berdiri melawan anak kecil yang bercerita tentang gajah yang diselamatkannya di sekolah.
Sari mengajar lebih dari gajah. Ia membawa poster-poster pohon ara sebagai dapur hutan, membacakan cerita Tunggak yang hilang dan ditemukan dan pulang — diceritakan dengan cara anak-anak, tanpa peluru yang detail, dengan hutan yang menang di ujungnya — dan membawa pelajaran-pelajaran kecil yang melekat: bahwa satwa yang mendekat bukan musuh melainkan tetangga yang tersesat, bahwa melapor ke pusat lebih cepat lebih baik daripada memasang jerat, bahwa denai di kebun adalah jalan yang sudah lama ada sebelum kebun itu ada.
Ada cara-cara kecil Sari yang tidak tertulis di rencana pelajaran mana pun. Ia tidak pernah menyebut sindikat, tidak pernah menyebut perang, tidak pernah menyebut satu pun nama yang beredar di warung-warung — ia hanya bercerita tentang hutan seolah hutan itu tetangga yang pantas dikenal baik. Ia membawa kulit buah ara dan meminta anak-anak menciumnya, lalu bercerita bahwa satu pohon ara tua bisa memberi makan puluhan jenis binatang sepanjang musim, dan karena itu orang kampung dulu tidak pernah menebangnya. Ia mengajarkan anak-anak mengenali bunyi jerat yang putus — bunyi senar baja yang menegang, yang oleh anak-anak di pinggir hutan sering dikira bunyi ranting — dan berpesan satu hal sederhana yang diulangnya sampai tiga puluh anak itu hafal: kalau dengar bunyi itu di hutan, jangan dekati, lari pulang, kabari orang dewasa, dan orang dewasa menelepon pusat.
Di kunjungan-kunjungan berikutnya, tanpa Ara yang ikut, Sari membawa hutan ke dalam kelas dengan cara lain: jejak kaki yang dicetak dari tanah liat, bulu burung yang ditemukan di tepi denai, dan peta besar kampung yang dibentangkan di lantai — dan anak-anak itu diminta menandai tempat mereka pernah melihat binatang, dan titik-titik itu pelan-pelan membentuk garis yang membuat guru sekolahnya sendiri terdiam: garis denai yang melintasi kebun-kebun warga, jalan lama satwa yang sudah ada sebelum nenek moyang kampung itu membuka lahan. Renung datang sekali lagi di kunjungan keempat, dan menyaksikan anak-anak itu berdebat dengan serius tentang siapa yang lebih dulu ada di tepi hutan, kebun atau harimau — dan jawaban yang mereka temukan sendiri, tanpa disuruh, adalah jawaban yang oleh orang dewasa di warung masih diperdebatkan dengan kopi.
Dan satu anak, di minggu ketiga, mengangkat tangannya dan bertanya pertanyaan yang membuat Sari menceritakannya ke Renung malam itu dengan mata yang basah: "Kak Sari, kalau aku besar nanti mau kerja di pusat Kakak, boleh? Aku mau merawat Ara."
"Boleh," jawab Sari, di depan sekolah itu. "Sekolah yang benar, dan nanti kalau sudah besar, datang ke pusat. Kami menunggu."
Renung menuliskannya malam itu di buku catatannya dengan tangan yang hangat: Sari ke sekolah dua kali seminggu, dan perang warung berpindah ke generasi yang tidak bisa dibeli kopi. Anak-anak itu akan besar di kampung ini, menjadi pemilik kebun dan tetua balai kampung dan orang-orang yang menjawab telepon dari luar, dan mereka akan mengingat belalai Ara di tangan mereka dan cerita Tunggak yang pulang — dan kalimat-kalimat kopi yang ditanamkan di warung-warung akan mati di tanah yang sudah ditanami lebih dulu. Ini perang yang paling lambat dari semua front, dan yang paling pasti: kami tidak sedang memenangkan kampung hari ini. Kami sedang menanam kampung untuk dua puluh tahun ke depan.