Kabar dari blok utara itu datang lewat radio balai di sore yang biasa, dan kabar itu mengubah satu hari penuh menjadi sesuatu yang lain: Sintung beranak dua.
Dua anak harimau, terlihat kamera jebak balai di blok utara, berjalan di samping induknya di denai yang tercatat — sehat, berbulu tebal, mengikuti induknya dengan langkah-langkah kecil yang sudah mulai belajar hutan. Dan kalung GPS Sintung terbaca di sekitarnya, stabil, dengan pola jelajah yang sudah menjadi pola harimau yang memiliki wilayahnya: blok utara itu bukan lagi tempat relokasi. Blok utara itu sudah menjadi rumahnya, dan di rumahnya itu ia beranak dua.
Radio balai itu sore harinya membawa rincian yang membuat kabar itu berdiri tegak dan bukan sekadar kabar baik: kamera jebak di sektor utara, tanggal dan jam yang tercatat, tiga puluh satu bingkai gambar — induknya lewat lebih dulu, berhenti, menoleh, dan dua anaknya menyusul dari semak dengan langkah yang masih ragu di tanah keras. Ukuran anak-anaknya diperkirakan dari tinggi bahunya terhadap induk: tiga sampai empat bulan, umur ketika anak harimau mulai diajak induknya belajar berburu. Petugas balai yang membawakan kabar itu menambahkan satu hal sebelum radionya mati: pola jelajah Sintung melebar sedikit di musim itu, dan itu pola induk yang sedang mengajari anaknya batas wilayahnya — harimau yang beranak tidak bersembunyi di satu titik, melainkan mengenalkan hutan.
Kabar itu merambat ke seluruh pusat sebelum radio selesai dimatikan. Jamil mendengarnya di bengkel kecil tempatnya mengubah jerat-jerat sitaan menjadi alat-alat pusat, dan berhenti bekerja beberapa saat dengan punggung ke pintu, dan ketika berbalik wajahnya sudah rapi lagi — tapi sore itu ia memasak kopi untuk semua orang tanpa diminta, yang oleh Sari ditafsirkan dengan benar sebagai pestanya orang tua itu. Tunggak mendengar keributan kecil itu dari kandangnya dan berdiri di jeruji dengan kepala miring, dan Item menggeram pendek menanggapi suara-suara manusia yang lebih hangat dari biasanya. Bagi Renung, kabar itu juga berarti satu hal yang teknis dan besar: blok utara terverifikasi mampu menopang harimau yang berkembang biak — bukan sekadar menampung, melainkan memberi hidup — dan itu artinya relokasi Sintung bukan keberuntungan satu kali, melainkan bukti bahwa hutan yang dijaga batasnya akan mengerjakan sisanya sendiri.
Renung membaca kabar itu dua kali, dan kemudian duduk di kantor pusat dengan radio di tangan dan sesuatu yang besar bergerak di dadanya.
Ia teringat parit itu — parit berbulan-bulan yang lalu, kawat sling berpilin tujuh yang melilit kaki belakang seekor harimau betina yang sudah berhenti menggeram karena habis tenaga, mata yang menatapnya tanpa takut dan tanpa harap, hanya menunggu. Ia teringat tangannya sendiri menghitung detak jantung harimau itu sambil memotong kawat dengan pemotong baja, menghitung dosis obat penenang seperti orang berdoa, dan teringat kalung GPS yang dipasangnya di leher itu sebelum harimau itu sadar dan berjalan ke utara dengan pincang yang perlahan hilang. Waktu itu tidak ada yang tahu apakah harimau itu akan hidup di blok utara atau mati di minggu pertama. Jamil waktu itu hanya berkata satu kalimat: kita tidak membebaskan harimau, Nung, kita mengembalikan haknya — haknya menentukan sendiri apakah dia akan hidup. Sekarang kamera jebak menjawab hak itu dengan dua anak yang berbulu tebal.
Dua anak harimau yang mereka selamatkan dari kandang kayu di gudang kelapa sawit tua — dua anak yang ditemukan terpisah dari induknya, di perahu, di malam pasang — dan induk mereka yang tidak pernah ditemukan, yang mereka takuti sudah diambil oleh jaringan yang sama. Dan sekarang kabar ini: dua anak harimau lahir di blok utara, di wilayah Sintung, dalam musim yang terlalu baru untuk anak-anak yang ditemukan di gudang itu. Anak-anak gudang itu bukan anak Sintung. Ada induk lain, di kawasan ini, yang kehilangan dua anaknya ke perahu sindikat — dan induk itu, siapa pun dia, masih di luar sana dengan dua anak yang sudah dibawa pulang ke pusat.
Dan Sintung, harimau yang mereka potong kawatnya di parit berbulan-bulan lalu, yang diberi nama dari pohon kecil di tanah keras — Sintung itu beranak dua di rumah barunya, dan dua anaknya berjalan di denai blok utara dengan kamera jebak sebagai saksi.
Dan di pusat, dua anak harimau dari gudang itu — yang kini sudah sebesar anjing kampung dewasa, yang bermain bergumul di kandang perawatan dan belum berani pada daging yang masih utuh — mendapatkan kabar itu dengan cara mereka sendiri: Sari menceritakannya kepada mereka sambil membersihkan kandang, dengan suara yang dipakai orang untuk bercerita kepada anak kecil, bahwa di utara ada induk yang menang, bahwa hutan itu masih memberi. Kedua anak harimau itu mendengarkan dengan cara anak harimau mendengarkan — tidak paham, tapi tenang — dan Renung yang menyaksikannya dari pintu kandang berpikir bahwa mungkin memang begitu cara kabar baik bekerja: tidak harus dipahami untuk menghangatkan ruangan.
"Semuanya berputar satu lingkaran penuh," kata Sari, membaca kabar yang sama dengan tangan menutup mulutnya. "Kita menemukannya di kawat, Bu. Dan sekarang dia beranak di hutan yang kita beri kepadanya. Itu bukan keberuntungan. Itu hutan yang membayar kembali, dengan cara yang hanya hutan yang tahu cara membayarnya."
Dan Renung menuliskannya malam itu, dengan tangan yang hangat di tengah musim perang: Sintung beranak dua di blok utara, dan lingkaran yang dimulai di parit dengan kawat di kakinya menutup dengan dua anak harimau di denai yang dijaga kalung GPS. Dan anak-anak gudang itu, yang bukan anaknya, menunggu di pusat untuk induk mereka sendiri yang masih di luar sana — dan suatu hari, kalau hutan mengizinkan, lingkaran itu juga akan menutup dengan cara yang sama. Hutan membayar kembali, Sari benar. Tapi hutan membayar kembali hanya kepada orang yang terus bekerja saat lingkarannya belum menutup. Kami terus bekerja. Lingkaran-lingkaran itu akan menutup satu per satu.