Lelaki bertato itu bernyanyi di hari ketiga, dan nyanyiannya bukan nyanyian orang yang diancam — nyanyian orang yang sudah menunggu seseorang menanyakan dengan cara yang benar.
Mahmud yang membacanya dengan benar: bukan dengan tekanan, dengan waktu. Dua hari pertama lelaki itu diam dengan wajah batu, dengan nama yang tidak ia berikan, dengan kepatuhan anak buah yang sudah dilatih. Dan Mahmud tidak menekannya — ia menempatkannya di sel yang jendelanya menghadap hutan, membawakan makanan dengan tangan sendiri, dan di hari ketiga meletakkan satu lembar di mejanya tanpa kata: foto kamera jebak dari hari-hari pertama, lelaki bertato itu di hutan dengan senapan anginnya, di pekerjaan menangkap hidup untuk bayi-bayi orangutan.
Dan lelaki itu membaca fotonya sendiri lama sekali, dan nyanyiannya mulai dari satu kalimat yang tidak ditujukan ke siapa pun: "Aku tidak pernah tahu mereka bayi-bayi itu untuk apa."
Ceritanya keluar setelah itu, pelan-pelan, dengan nama yang akhirnya ia berikan sendiri dan dengan umur dua puluh tiga tahun yang menjelaskan banyak hal: direkrut dari kota kecamatan oleh orang-orang yang membayar hutang judi kakaknya, dilatih menangkap hidup oleh orang-orang yang tidak pernah memberitahunya untuk apa, dibayar dengan uang tunai per pekerjaan, dan dijaga bukan dengan ancaman padanya — dengan ancaman pada kakaknya yang hutangnya sudah dibayar dan yang terus bekerja untuk mereka di tempat lain. Bukan anak buah ideologis. Anak muda yang dibeli di titik lemah keluarganya, seperti semua orang dalam jaringan itu.
Nyanyiannya menyerahkan jalur-jalur: perahu-perahu yang ia tunggui di sandar-sandar, gudang kedua di hulu yang pernah ia antar barang ke sana satu kali dengan mata ditutup sebagian jalan — tapi ingatan jalan orang yang membaca jalan tidak pernah sepenuhnya ditutup — dan jadwal-jadwal yang ia dengar dari pembicaraan-pembicaraan yang tidak dimaksudkan untuknya. Dan satu kalimat yang dibaca Mahmud dan Renung dengan perhatian yang penuh:
"Toba tidak pernah datang kalau belum pasti menang."
Ia mengucapkannya sambil memandang keluar jendela, ke hutan, dengan suara orang yang mengulang sesuatu yang ia dengar dari orang yang lebih tahu: "Mereka selalu bilang itu, kalau ada yang bertanya kenapa bandarnya tidak pernah kelihatan. Toba tidak pernah datang kalau belum pasti menang. Dia membaca dulu, menghitung dulu, dan hanya turun ke tempat yang sudah selesai dihitungnya. Seumur kerjaku untuk mereka, aku tidak pernah melihatnya sekali pun. Yang datang selalu perantara, dan perantara itu datang dengan jawaban yang sudah selesai — tidak pernah dengan pertanyaan. Orang yang mengirim jawaban yang sudah selesai adalah orang yang sudah membaca semua sebelumnya, dari jauh, dari tempat yang tidak kelihatan."
Renung mencatatnya di bukunya dengan huruf yang dingin: Toba tidak pernah datang kalau belum pasti menang. Itu berarti satu hal yang mengubah cara memburunya: dia tidak akan pernah bisa ditembak di tempat yang belum selesai dihitungnya. Satu-satunya cara menjemputnya adalah membuat satu tempat yang sudah selesai dihitungnya — satu tempat yang menangnya pasti, yang amannya pasti — dan tempat itu tidak dibuat dengan senjata. Tempat itu dibuat dengan umpan yang tidak bisa ditolak matematikanya sendiri.
Dan nyanyian lelaki bertato itu menyerahkan satu hal lagi, yang lebih kecil dan lebih penting dari jalur-jalur: dua nama perantara yang ia kenali wajahnya dan setengah namanya, orang-orang yang datang dengan jawaban yang sudah selesai — dan dua nama itu, dicocokkan dengan dua wajah yang sudah lama ada di catatan Bujang dari warung dan dari jalan-jalan konsesi, berdiri sebagai jembatan terakhir antara jalur sungai dan gedung-gedung di kota.
Pencocokan dua nama itu dikerjakan malam itu juga, dengan Bujang dipanggil dari kampungnya dan dibawa ke ruangan kecil yang sama, dan ia membaca dua setengah nama itu dengan mata yang menyipit seperti membaca wajah dari kejauhan. Yang pertama dikenalinya dari warung — lelaki dengan motor bagus yang datang dan pergi tanpa pernah membeli apa pun yang berharga, yang selalu duduk menghadap jalan, yang kopinya tidak pernah berganti karena ia tidak datang untuk kopi. Yang kedua dikenalinya dari jalan-jalan konsesi, dari masa pemandunya: orang yang menyerahkan jadwal dengan kata-kata yang sedikit dan uang yang pas, yang tidak pernah bertanya apa pun karena tidak pernah perlu bertanya.
"Dua-duanya perantara, Pak," kata Bujang. "Bukan orang yang memutuskan. Orang yang membawa keputusan yang sudah jadi, seperti membawa paket yang tidak boleh dibuka. Aku pernah jadi yang seperti mereka, di tingkat yang lebih rendah. Mereka ini tingkat di atasku dulu — yang tidak pernah menyentuh barang, hanya menyentuh orang. Dan orang yang hanya menyentuh orang adalah orang yang paling sulit difoto, karena tangannya tidak pernah kotor."
Dan dari dua nama itu, satu hal berdiri lebih jelas dari sebelumnya: jembatan antara sungai dan kota bukan satu orang besar yang berdiri di tengahnya, melainkan dua orang kecil yang berjalan bolak-balik dengan paket-paket yang tidak pernah mereka buka — dan orang yang berjalan bolak-balik adalah orang yang bisa diikuti, dicatat, dibaca jadwalnya, sampai paket-paketnya menunjukkan sendiri ke gedung mana mereka diantar, dan ke meja siapa di dalam gedung itu. Mahmud menutup pencocokan itu dengan satu perintah kecil yang tidak perlu diucapkan dua kali: dua wajah itu mulai diikuti dari jauh, tanpa disentuh, karena perantara yang tidak tahu dirinya dibaca adalah perantara yang terus berjalan ke gedungnya. Dan jadwal dua orang itu, seperti semua jadwal di jaringan ini, akan menyerahkan lebih banyak dari yang pernah diserahkan mulut mana pun.
Nyanyian itu selesai dalam tiga hari, dan lelaki bertato itu dipindahkan ke tahanan yang lebih aman dengan status yang diperjuangkan Mahmud, dan di buku catatannya Renung menulis penutup busur itu: satu wajah lagi dari jaringan itu bernyanyi, dan nyanyiannya menjembatani sungai ke kota. Dan satu kalimatnya berdiri di atas semuanya: Toba tidak pernah datang kalau belum pasti menang. Maka tugas akhir dari semua yang sudah dibangun ini bukan memburunya. Tugas akhirnya adalah membangun satu tempat yang menangnya pasti — dan tempat itu sedang dibangun, malam demi malam, oleh semua orang yang berdiri di garis ini.