Penyergapan itu berjalan seperti yang dilatihkan di dua minggu yang tidak pernah dibaca siapa pun, dan berjalan dengan bunyi yang lebih kecil dari yang dibayangkan siapa pun untuk malam sebesar itu.
Dua perahu polisi hutan keluar dari gelap di ujung tikungan pertama dengan lampu-lampu menyala serentak dan suara Mahmud di pengeras yang membelah deru banjir: polisi, berhenti mesin, angkat tangan. Dan di detik yang sama, dua perahu di hilirnya menutup ekor antrean itu dengan lampu yang sama, dan armada itu — enam perahu besar dan lebih banyak di belakangnya, berbaris di tengah tikungan dengan muatan penuh — terjepit di antara dua ujung yang tertutup dengan air yang mengamuk di sisi-sisinya.
Tidak ada satu perahu pun yang bisa bergerak.
Renung menyaksikan sebagiannya dari anak sungai kecil dan mendengar sisanya dari radio yang berderu: perahu-perahu pertama mengangkat tangan dalam cahaya lampu-lampu itu — orang-orang antar barang, seperti yang dibaca Jamil, orang-orang dengan senjata untuk menakuti bukan untuk perang, dan tidak ada satu pun dari mereka yang pernah belajar melawan karena tidak pernah ditangkap dalam dua puluh tahun. Satu perahu di tengah barisan mencoba memutar di air yang sempit dan duduk di lumpur tepian, dan orang-orangnya mengangkat tangan sebelum satu tembakan pun diperlukan. Dan di perahu-perahu belakang yang masih di luar tikungan, dua perahu bala bantuan polisi yang menyusul dari hulu menutup jalan mundurnya, dan dua perahu itu menyerah di tengah air tanpa satu peluru keluar dari senjatanya.
Antrean itu menyerah perahu demi perahu, seperti yang dibaca Jamil: bukan dengan pertempuran, dengan kegelapan dan air dan dua ujung yang tertutup dan satu suara di pengeras yang memberi tahu mereka bahwa jalan tol tanpa lampu itu sudah sampai di ujungnya.
Di tepian, di bawah lampu-lampu yang akhirnya boleh menyala, prosesi penyerahan itu berjalan dengan tata yang sudah diatur Mahmud seperti tata kerja di meja pemeriksaan: satu perahu satu waktu, orang-orangnya turun dengan tangan di kepala ke barisan polisi yang menunggu, nama dicatat, tangan diikat, dan satu per satu mereka duduk di tanah basah menghadap sungai yang selama dua puluh tahun menjadi jalan pulang mereka. Tidak ada yang berteriak. Tidak ada yang mencoba berlari ke hutan, karena hutan di belakang tepian itu sudah dihitung juga dalam latihan dua minggu, dan di antara pohon-pohonnya berdiri orang-orang balai dengan senter dan kesabaran.
Renung membacanya dari radio dan dari potongan-potongan cahaya di seberang air: wajah-wajah muda yang terlalu muda, sebagian besar, orang-orang kampung dari seberang-seberang hulu yang dibayar per pelayaran dan tidak pernah diberi tahu ke mana barang-barang itu pergi setelah muara. Satu di antaranya, seorang lelaki kurus yang mungkin belum dua puluh tahun, berhenti sebentar di tangga perahunya dan menoleh ke kandang-kandang yang mulai diangkat, dan berkata ke polisi yang mengawalnya dengan suara yang terdengar sampai ke radio yang terbuka:
"Yang di kandang belakang belum diberi minum sejak kemarin sore. Saya tidak diperintah memberi minum. Tapi mereka haus."
Polisi itu menatapnya sebentar, lalu mengangguk sekali, dan kalimat itu diteruskan dari radio ke perahu medis, dan Jamil yang menjawabnya dengan suara datar yang menyimpan sesuatu di bawahnya: "Tercatat. Semuanya akan minum malam ini. Semuanya."
Dan di atas geladak medis, Sari sudah menyiapkan tempat-tempat air sebelum kalimat itu selesai — wadah-wadah kecil berbaris di bawah terpal peneduh, karena satwa yang keluar dari kandang kayu di air banjir tidak minum dari ember besar tanpa takut. Renung menyaksikan tangannya bekerja dengan ketenangan yang sudah bertahun-tahun dilatih di kandang-kandang pusat, dan membaca di sana hal yang sama yang dibacanya di dirinya sendiri: bahwa malam ini, di tengah dua puluh tahun yang menutup, pekerjaan mereka bukanlah pekerjaan besar — pekerjaan mereka adalah air minum yang tepat waktu, dosis yang tepat hitungan, dan mata-mata yang ditatap pelan supaya tidak takut. Malam itu tidak ada jam, hanya kandang yang datang dan kandang yang selesai, satu per satu, tanpa jeda.
Dan kemudian datang bagian yang menjadi milik perahu medis: kandang-kandang di air.
Perahu medis itu bergerak dari anak sungai kecil ke tikungan kedua begitu garis aman dibacakan, dan Renung berdiri di geladaknya dengan Sari dan Jamil dan menerima kandang-kandang pertama yang diturunkan dari perahu-perahu yang menyerah — kandang-kandang kayu basah yang diangkat dari bawah terpal-terpal itu, dengan mata-mata di dalamnya yang menangkap cahaya lampu dari setiap arah. Owa-owa yang berdesis dan memeluk jeruji. Kukang-kukang yang diam membeku dengan mata besar. Burung-burung paruh yang mengepak di kandang-kandang kecil yang bertumpuk. Dan di kandang yang lebih besar di perahu ketiga, satu harimau tua yang kurus, yang berdiri dengan kaki gemetar di jerujinya dan menatap cahaya dengan mata yang sudah lama tidak melihat apa pun yang baik.
"Perahu medis menerima!" teriak Sari di radio, dan kandang-kandang itu mulai berpindah tangan dari perahu-perahu yang menyerah ke perahu medis dalam air banjir yang mengamuk, dan Renung mulai bekerja dengan tas anestesi di tangannya dan daftar di kepalanya — yang ini terluka, yang ini dehidrasi, yang ini perlu dosis sekarang, yang ini bertahan — di atas geladak yang berguncang, di tengah malam yang menutup dua puluh tahun dalam satu tikungan.
Di atas air itu, dengan banjir mengamuk di sekelilingnya dan kandang-kandang kayu yang datang satu per satu dari barisan yang tertutup, Renung menulis di kepalanya satu kalimat yang akan ia tulis di bukunya nanti dengan tangan yang masih basah: dua puluh tahun mereka berjalan di air ini tanpa lampu, dan malam ini lampu-lampu itu menyala serentak di dua ujung tikungan, dan antrean itu menyerah perahu demi perahu tanpa satu peluru yang perlu keluar. Air tidak memihak, seperti kata Bujang. Tapi air mengingat — dan malam ini air yang mengingat itu berdiri bersama orang-orang yang berdiri untuk hutan.