MALAM itu menjadi malam kandang-kandang di air, dan setiap kandang yang dibuka adalah satu dunia kecil yang menunggu di balik jerujinya.
Renung bekerja tanpa berhenti dari kandang pertama sampai kandang terakhir yang datang dari barisan itu, dengan Sari di sisinya dan Jamil yang mengatur arus kandang-kandang dari perahu-perahu yang menyerah, dan setiap kandang dinilai dalam hitungan menit dengan disiplin yang sudah menjadi ototnya: dibius atau tidak, dipindah bagaimana, hidup dengan perawatan atau perlu diakhiri penderitaannya dengan hormat.
Owa-owa datang berpasangan di tiga kandang — lima ekor, dua betina dengan anak yang memeluknya, dan Renung menilai mereka dari jeruji tanpa membius: dehidrasi dan stres, tapi kuat, dan satu betina muda yang tangannya terluka oleh jerat lama di lengannya yang sudah setengah sembuh salah. Kukang-kukang dibius ringan untuk dipindahkan, karena kukang yang stres di air yang berguncang adalah kukang yang mencelakai dirinya sendiri. Burung-burung paruh diangkat dalam kandang-kandang kecilnya ke ruang gelap di geladak dengan kain penutup, dan Sari menghitungnya dengan suara pelan yang menenangkan. Dan dua ular sanca panjang, dalam kandang-kandang kayu berlubang, dinilai oleh Renung dengan senter dan pengetahuan yang dibelinya dari bertahun-tahun: sehat, kuat, siap dilepas begitu air memungkinkan, dua makhluk yang tidak pernah tahu apa pun tentang perang di atas air ini.
Betina muda owa yang lengannya terluka itu mendapat perhatian pertama di geladak medis, karena luka jerat yang setengah sembuh salah adalah luka yang menunggu untuk menjadi cacat seumur hidup kalau dibiarkan lebih lama.
Renung membukanya dengan bius ringan di tengah guncangan perahu, dengan Sari menahan lampu dan Jamil menahan kandang, dan di bawah cahaya itu luka itu menceritakan riwayatnya dengan jujur seperti semua luka jerat selalu bercerita: bekas kawat di pergelangan, luka yang menutup di sekitar daging yang rusak, tangkai otot yang menyembuh pendek sehingga lengan itu tidak pernah lagi membuka penuh. Jerat di hutan, pikirnya, dengan rasa yang sudah tidak lagi memerlukan nama. Jerat kecil yang tidak membunuhnya, hanya mengambil sebagian dari tangannya dan membiarkannya hidup dengan kekurangan itu sampai orang-orang perahu menemukannya lemah di denainya dan menganggapnya barang.
"Bisa kubetulkan sebagian," katanya pelan, lebih ke dirinya daripada ke Sari. "Tidak penuh. Tapi cukup untuk bergelantung, cukup untuk memanjat, cukup untuk memeluk anaknya di dahan nanti. Sisanya harus dibayar tubuhnya sendiri dengan waktu."
"Mereka selalu membayar dengan tubuhnya sendiri," kata Sari, memegang lampu dengan tangan yang tidak bergetar. "Yang bisa kita bayar hanya waktunya."
Ia membersihkan luka itu, memotong jaringan yang salah sembuh dengan hati-hati, memasang jahitan-jahitan kecil yang akan membuka kembali arah sembuhnya, dan owa betina itu bernapas dalam bius ringannya dengan anak yang memeluknya bahkan dalam tidur obat — dua makhluk yang tidak tahu apa pun tentang tikungan dan armada dan dua puluh tahun, yang hanya tahu bahwa tangan-tangan yang memegangnya kali ini bergerak pelan dan tidak menyakitkan.
Dan ketika kandangnya ditutup kembali dengan kain peneduh dan tanda kecil yang ditulis Sari di papan daftarnya — owa betina, luka jerat lama, prioritas operasi di pusat — Renung berdiri sebentar di atasnya di geladak yang berguncang dan mencatat di kepalanya satu baris untuk buku catatannya nanti: jerat di hutan mengambil tangannya, dan jerat di atas meja mengambil hutan tempat tangannya bergelantung — dan malam ini, untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, dua-duanya dijawab dalam satu malam yang sama.
Dan harimau tua itu.
Ia berdiri di kandang besarnya di perahu ketiga dengan kaki yang gemetar, dan ketika Renung mendekat dengan senter yang diselubungi, harimau tua itu tidak mendesis — ia hanya menatap, dengan mata yang sudah lama dan berat, dan Renung membacanya dengan dada yang robek pelan-pelan: kurus sampai ke tulang-tulangnya, dengan luka-luka lama di beberapa tempat, dengan umur yang sudah jauh dan penangkapan yang sudah lama juga. Bukan tangkapan musim ini. Tangkapan bertahun-tahun, disimpan sebagai barang yang tidak pernah laku atau tidak pernah sempat laku, di kandang-kandang yang berpindah-pindah.
"Berapa lama kau di sana, kawan tua," kata Renung pelan, menilai tanpa menyentuh, dengan senter rendah dan suara yang pelan. "Berapa lama mereka menyimpanmu di kandang-kandang itu."
Jawabannya dibacanya dari tubuhnya: terlalu lama untuk rilis langsung, tapi tidak terlalu lama untuk diselamatkan. Harimau tua itu dinilai untuk perawatan intensif di pusat — makanan, obat-obatan, dan waktu — dengan satu keputusan yang dicatat Renung di buku kecilnya di atas geladak yang berguncang: tidak ada keputusan rilis malam ini untuknya. Yang ada: hidup dengan hormat dulu, dan keputusan-keputusan berikutnya datang dengan kesehatan yang kembali.
Dan di tengah malam kandang-kandang di air itu, satu kandang tercebur.
Bukan dari perahu medis — dari perahu yang duduk di riam, satu kandang kecil yang terlepas saat pemindahan dan jatuh ke air yang mengamuk di tepian, dan mengapung sebentar sebelum arus mengambilnya ke tengah. Di dalamnya, dari bunyi kecilnya, satu kukang. Dan arus banjir membawanya turun melewati perahu-perahu yang bekerja, cepat, dan Renung sudah bergerak sebelum memutuskan bergerak — dengan tali di pinggangnya yang diikat Jamil dalam satu gerakan, turun ke air di tepian yang dangkal, berjalan melawan arus yang menarik lututnya, dengan mata mengikuti kandang kecil yang mengapung turun di cahaya lampu-lampu.
Ia mencapainya di titik yang masih bisa dicapai, dengan air di dada dan arus yang menarik dengan seluruh tenaganya, dan mengangkat kandang kecil basah itu dengan dua tangan, dan tali di pinggangnya menariknya kembali dengan Jamil yang berdiri di tepian dengan seluruh beratnya menahannya. Dan kukang di kandang kecil itu hidup, basah dan membeku dan hidup, dan Renung menyerahkannya ke tangan-tangan yang menunggu sebelum membiarkan dirinya ditarik keluar dari air yang mengamuk itu.
Jamil menatapnya di tepian, basah kuyup dua-duanya, dan berkata dengan suara yang campuran amarah dan sesuatu yang lebih tua: "Kau ini persis ayahmu, sialan. Persis. Dan aku sudah memintamu jangan jadi pahlawan sendirian."
"Bukan pahlawan, Pak Jamil. Hanya dokter yang menghitung kandangnya." Renung menggelengkan air dari rambutnya, dengan tangan yang gemetar oleh dingin dan oleh sesuatu yang lain. "Dan hitungannya lunas malam ini. Semuanya keluar dari air. Tidak ada satu pun yang tertinggal di dalamnya."