Fajar setelah banjir itu datang dengan sungai yang turun dan langit yang bersih untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, dan kawasan itu bangun ke hari yang tidak sama dengan hari-hari sebelumnya.
Di tikungan, perahu-perahu yang menyerah berdiri terkait di tambatan dengan kandang-kandang kosong berserakan di geladaknya — pemandangan yang dibaca dari jembatan oleh warga-warga yang datang melihat dengan mata besar dan suara yang berbisik-bisik: armada itu, di siang bolong, dengan polisi di atasnya, dengan barisan orang-orang yang duduk di tepian dengan tangan terikat dan wajah-wajah yang menunduk. Dua puluh tahun jaringan itu berjalan tanpa lampu di atas air itu, dan pagi ini armadanya berdiri di siang bolong di bawah langit yang bersih, untuk dilihat semua orang.
Dan kabar itu berjalan lebih cepat dari fajar: ke Talang Rambai, yang menyambutnya di warung dengan sorakan yang berjalan dari meja ke meja; ke kampung-kampung seberang, yang membacanya dengan keheningan orang-orang yang mengenal wajah-wajah yang ditangkap di barisan itu; ke kota kabupaten, di mana kabar sebesar itu tidak pernah berjalan pelan — dan di gedung-gedung di sana, di meja-meja yang sudah lama dibaca mereka, orang-orang mulai membaca berita itu dengan kalkulator yang berbeda: jaringan sungai putus, buku besar hilang, dan satu pertanyaan yang berdiri di setiap meja yang pernah menerima bagian dari kolom-kolom itu — seberapa jauh dari namaku.
Di Talang Rambai, pagi itu warung membuka lebih pagi dari biasanya, karena tidak ada yang bisa tidur setelah kabar sebesar itu.
Pak Lurah Bahrum berdiri di tengahnya dengan wajah orang yang semalaman berdiri di jembatan dengan lampu yang ditutup, dan di hadapan warga yang berkumpul dari meja ke meja ia membacakan daftarnya dengan suara yang beberapa kali harus berhenti: delapan perahu, belasan tertangkap, belasan satwa keluar hidup semua, dan tidak satu pun warga kampung yang terluka. Sorakan datang berkali-kali, dari orang-orang yang sama yang dua musim lalu masih memperdebatkan apakah pusat itu kawan atau beban, dan di sudut warung ibu Bujang duduk dengan tehnya dan tidak bersorak — hanya tersenyum kecil ke arah gelasnya, senyum perempuan yang rumahnya pernah dilempari sling ke teras dan yang malam itu berdiri di tepian menyaksikan pelemparnya mengaku di depan seluruh tikungan.
"Dulu mereka bilang sungai itu bukan urusan kita," kata seorang petani tua, mengangkat kopinya ke arah jendela yang menghadap air. "Urusan orang-orang hulu, urusan orang-orang kota, urusan orang-orang besar yang tidak pernah kelihatan mukanya. Dan sekarang armadanya duduk di tambatan untuk kita lihat dari warung ini."
"Sungai itu selalu urusan kita," jawab Pak Lurah Bahrum. "Kita saja yang pernah dibuat percaya sebaliknya, supaya kita berdiri jauh-jauh dari jalan tolnya. Dan kemarin malam kita berdiri di jembatannya dengan kode di mulut, dan jalan tol itu mati di bawah kaki kita sendiri." Ia menyapu ruangan dengan pandangannya. "Ingat pagi ini baik-baik. Bukan karena kita menang — karena kita akhirnya berdiri di tempat yang benar untuk menang."
Wak Saleh tidak hadir di warung pagi itu, dan ketidakhadirannya dibaca berbeda-beda oleh meja-meja yang berbeda: sebagian membacanya sebagai malu, sebagian sebagai lelah, sebagian sebagai orang tua yang perlu waktu sendiri untuk meletakkan kepercayaannya yang salah selama ini. Ibu Bujang, yang paling berhak membencinya, justru yang menjawab paling pelan ketika ada yang menyinggungnya: "Biarkan dia dengan kopinya sendiri dulu. Orang yang memutar haluan selama itu tidak bisa berhenti dalam satu malam. Yang penting perahunya sudah tidak bergerak ke arah yang lama."
Dan di jembatan-jembatan, sampai lewat tengah pagi, warga masih berdiri berderet memandangi pemandangan yang dua puluh tahun tidak pernah mereka bayangkan: perahu-perahu besar bertambat dengan polisi di geladaknya, kandang-kandang kosong berserakan, dan sungai yang mengalir di bawahnya seperti sungai biasa — air yang tidak memihak, yang malam itu berpihak tanpa memihak, dengan berdiri diam dan membiarkan orang-orang yang membaca hakikatnya menutup dua tikungannya.
Anak-anak kampung berlari-lari di sepanjang tepian dengan kabar yang berubah jadi permainan, dan guru-guru mereka membiarkannya, karena ada kabar yang memang harus diwariskan dengan berlari, bukan dengan diam.
Di pusat rehabilitasi, pagi itu adalah pagi kerja yang tidak pernah berhenti: satwa-satwa baru di kandang-kandang cadangan yang dinilai satu per satu dengan Sari berdiri di daftar dan tidak tidur semalam, harimau tua yang makan dengan tangan gemetar di kandang terbesar, dan stok pakan gudang batu yang mengalir ke kandang-kandang yang bertambah dalam semalam. Dan di kantor kecilnya, Renung menulis laporannya dengan jendela terbuka ke pagi yang bersih, dan di bawah jendela itu, di kebun-kebun Talang Rambai, orang-orang keluar ke kebunnya dengan berita di mulutnya dan sesuatu yang baru di punggungnya.
Dan di kabar-kabar itu, satu yang berjalan dengan kaki yang lebih resmi dari semuanya: panggilan-panggilan pertama dari atas, dari tingkat yang lebih tinggi dari kabupaten, untuk penjelasan tentang satu operasi gabungan di dua tikungan dengan belasan tertangkap dan satu buku besar — dan kepala balai menjawabnya dengan berkas yang sudah berdiri, dengan Mahmud di sampingnya dengan relnya, dengan nama-nama yang sudah dikenali dan kolom-kolom yang sudah terbaca. Roda besar itu mulai bergerak, pelan dan berat seperti roda besar selalu bergerak, dan bergeraknya kali ini tidak bisa dihentikan meja mana pun lagi — karena terlalu banyak mata sudah melihat armada itu di siang bolong.
Renung menutup laporannya dengan satu paragraf terakhir yang ditulisnya dengan tangan yang akhirnya bisa berhenti sebentar: fajar setelah banjir datang dengan armada di tambatan dan langit bersih, dan kawasan membaca dua puluh tahun dalam satu pemandangan pagi. Roda besar sudah bergerak dengan berkas yang berdiri, dan kali ini roda itu bergerak di atas armada yang bisa dilihat semua orang di siang bolong — dan tidak ada satu pun meja di kabupaten ini yang bisa membuat armada itu tidak terlihat lagi.