RENUNG kembali ke pos jagawana tua itu sendirian, di sore yang bersih, dengan satu pahat kecil dan satu pukulan yang dibawanya dalam tas kecil, dan dengan satu halaman yang sudah ditulisnya dan dihapusnya berkali-kali dalam kepalanya sepanjang jalan menanjak itu.
Pos itu berdiri seperti selalu: dinding papan menghitam, atap seng, perapian batu yang dingin, dan balok besar di atasnya dengan dua ukiran yang sudah lama berdiri berdampingan — ANJANI, dari tangan ayahnya, dan J dari tangan Jamil muda, dua jagawana dari zaman yang berdiri di kayu yang sama. Dan di balik balok ketiga yang longgar, tempat kamera dan dua buku catatan menunggu dua puluh dua tahun, rongga itu sudah kosong — sudah menyerahkan simpanannya, sudah menyelesaikan tugasnya.
Renung berdiri di tengah pos itu sebentar, dan membiarkan dirinya membaca ruang yang sudah lama menjadi bagian dari kepalanya. Di sudut itu ayahnya dulu menulis buku catatannya di malam-malam, dengan lampu minyak yang dikenalnya hanya dari cerita-cerita tua Jamil. Di perapian batu itu dua jagawana muda dari zaman lain memasak air dan berdebat tentang hal-hal kecil yang tidak dicatat sejarah. Di balik balok ketiga itu sebuah kamera menunggu dua puluh dua tahun dalam gelap, dibungkus terpal dan kaleng, disembunyikan oleh tangan yang sudah tahu bahwa dirinya mungkin tidak akan kembali untuk mengambilnya — dan kamera itu menunggu dengan sabar, dan ditemukan oleh tangan yang benar, dan mengubah segalanya.
Pos ini, pikir Renung, bukan bangunan. Pos ini simpul dari tiga zaman: zaman ayahnya yang berakhir dengan tembakan di hutan, zaman Jamil yang berjalan dua puluh tahun di titik temu dengan buku catatan yang disimpan seperti janji, dan zamannya sendiri — zaman yang berdiri di sini sore ini dengan pahat kecil di tangan. Tiga zaman yang tidak pernah bertemu satu sama lain secara utuh, bertemu di kayu pos ini, di balok besar yang sama.
Ia membuka jendela papan yang macet itu — pelan-pelan, dengan tenaga yang diatur, karena kayu tua tidak suka dipaksa — dan sore masuk bersama angin yang membawa bau hutan sesudah panas: tanah yang hangat, daun sintung yang pahit samar, dan jauh di bawah sana, bunyi air kecil yang tidak pernah berhenti sejak sebelum pos ini berdiri. Jendelanya menghadap garis batas yang dulu difoto ayahnya — garis yang kini berdiri lagi dengan patok-patok beton baru di tanah yang benar. Dari jendela ini, pikirnya, ayahku dulu memandang garis itu dan memutuskan untuk tidak diam. Dan dari jendela yang sama, aku memandangnya berdiri kembali, dan keputusannya sudah selesai dijalankan.
Di lantai papan di depan balok itu, bekas-bekas kaki tiga zaman berdiri samar dalam debu yang tipis — dan Renung berhati-hati melangkah di sela-selanya, seperti orang yang berjalan di dalam rumah yang bukan hanya rumah.
Renung berdiri di depan balok besar itu lama, dengan pahat di tangannya, dan membaca ukiran ANJANI dengan mata yang tidak lagi perlu menangis untuknya — mata yang sudah sampai, bersamanya, ke meja sidang kecil dan patok-patok yang berdiri lagi di garis yang benar dan satu dermaga berkabut.
Dan ia mengukir di sebelahnya.
Bukan namanya. Ia sudah menimbangnya sepanjang jalan, dan keputusannya berdiri dengan tenang: ini bukan tentang nama, dan tidak akan pernah tentang nama — ayahnya tidak mengukir untuk nama, ia mengukir karena jagawana menandai posnya, dan pos ini sudah ditandai dua tangan dari dua zaman, dan tangan ketiga tidak perlu nama untuk berdiri di sampingnya. Maka satu kata saja, kecil, di sebelah ANJANI dan J, dengan pahat yang dituntun tangan yang mantap:
selesai
Satu kata kecil, untuk dua puluh dua tahun, untuk titik temu yang akhirnya berjalan pulang, untuk kamera yang menunggu di balik balok dan ditemukan oleh orang yang benar, untuk garis yang berhenti di dermaga berkabut dan garis yang berjalan terus di hutan yang dijaga.
Dan kemudian ia duduk di depan perapian yang dingin itu, lama, dan mendengar hutan.
Hutan itu berbicara dengan cara yang sudah lama ia kenali sejak pertama kali datang ke pos ini: bunyi-bunyi kecil di kanopi, angin di daun-daun, satu rangkong yang lewat jauh, dan di bawah semuanya, keheningan besar yang bukan kosong — keheningan yang penuh, keheningan hutan yang berdiri dengan benar di batasnya yang benar, dengan patok-patok baru di tanah yang benar, dengan satwa-satwa yang berjalan di denai-denainya lagi.
Dan Renung mendengarkannya sampai sore turun, dan sebelum turun dari pos itu, ia berdiri sekali lagi di depan balok itu, dan meletakkan tangannya di atas tiga ukiran itu — ANJANI, J, dan satu kata kecil selesai — dan berkata pelan, ke pos itu, ke ayahnya, ke hutan yang mendengar dari semua sisinya:
"Aku datang kembali ke sini bukan untuk menutup. Aku datang untuk memberi tahu: sudah selesai, bagian yang kau mulai. Bagian kami masih berjalan — ada Sari yang mengajar di sekolah, ada Jamil yang akhirnya pulang dari titik temu, ada Tunggak di blok yang ia pilih sendiri, ada kampung yang berdiri di tanahnya. Dan aku berdiri di pusat itu, di pos ini, di garis ini — bukan untuk menggantikanmu, karena tidak ada yang menggantikan jagawana. Aku berdiri di samping ukiranmu, dengan kataku sendiri, dengan caraku sendiri. Istirahatlah, Ayah. Pos ini sudah kujaga, dengan tangan-tangan yang berdiri bersamaku."
Ia turun dari pos itu di sore yang turun emas ke lembah, dengan pahat kecil di tasnya dan kata kecil berdiri di balok di belakangnya, dan tidak menoleh — bukan karena berpisah, melainkan karena pos itu tidak lagi tempat yang dihindari. Pos itu tempat yang sudah selesai ditandai, dan tempat yang sudah selesai ditandai bisa ditinggalkan dengan tenang, dan kembali kapan saja, tanpa dua puluh dua tahun di pundaknya.